
Ezaz menyuapkan sarapan ke mulut istrinya. "Kau harus sehat, agar kita bisa membuktikan siapa sebenarnya pria bertopeng itu," ujarnya.
"Kau akan tetap di sampingku, Zaz?"
Ezaz mengangguk mengiyakan.
"Aku tak tahu apa salahku pada mereka, sehingga ingin melenyapkan diriku. Apa dengan ku mati mampu menyelesaikan masalah di hatinya?" Lisha bertanya lirih dengan tatapan kosong.
"Aku menarikmu dalam pernikahan ini juga untuk membalaskan dendamku kepada ayah biologisku," batinnya.
"Zaz, apa aku bisa hidup tenang setelah masalah ini selesai?" Menatap suaminya.
Ezaz mengangguk.
"Apa kau mengizinkan aku bahagia?"
Ezaz bergeming.
"Zaz, aku ingin hidup tenang dan bahagia. Lepaskan diriku jika kau tidak mengharapkan ku lagi," ujar Talisha.
"Kau harus sehat dan kuat agar dirimu bisa menemukan kebahagiaanmu," ucap Ezaz.
Talisha mengangguk.
-
-
Ezaz mengajak Dena untuk bertemu di sebuah kafe bersama Dika. Ya, ia ingin mempertanyakan kebenaran ucapan dari para pelayan.
"Obat apa yang kau berikan pada kue pemberianmu?" Ezaz tanpa basa-basi.
Dena cukup terkejut dengan pertanyaan yang ada dihadapannya.
"Kenapa kau melakukan itu? Aku tahu kau sengaja mengirimkan seseorang untuk menakuti Lisha," tudingnya.
"Kita sama-sama ingin menghancurkan Lisha. Apa bedanya?" Dena balik bertanya.
"Aku hanya memanfaatkan dia untuk membalaskan dendam bukan menjadi targetku."
"Tetapi aku ingin dia menjadi targetku!" Dena tersenyum menyeringai.
Ezaz mengepalkan tangannya menatap geram.
"Kau sangat licik, Dena. Bukankah Nona Lisha sahabatmu? Apa kau tak pernah mengingat kebaikannya?" Dika bertanya.
"Kebaikan dia tak cukup membuat rasa sakit ku hilang," jawab Dena.
"Jika berani menyentuhnya lagi, aku tak segan untuk membuat kau dan keluargamu menderita!" Merapatkan giginya.
Dena tertawa kecil, "Apa kau sudah mulai jatuh cinta padanya?"
Ezaz terdiam tak mampu menjawab.
"Tuan Ezaz, sebelum dendamku terbalas. Aku tidak berhenti membuat dia menderita," ujar Dena.
"Kau akan menyesal, Dena. Jika berani menyakiti Nona Lisha," Dika mengingatkan wanita yang ada dihadapannya.
"Ucapan itu cocok untuk atasanmu, dia akan menyesal jika memilih kekasihnya yang sudah mengkhianatinya daripada istrinya," ujar Dena.
"Apa maksudmu?" Tanya Ezaz.
"Kau sungguh bodoh, Tuan!" Dena tersenyum jahat.
"Dena, maksudnya apa?" Dika juga bertanya.
"Melia itu selingkuhan Kevin, musuhmu!" Jawab Dena.
Ezaz mengepalkan tangannya. "Aku tidak percaya!"
"Ya sudah kalau tidak percaya," Dena beranjak berdiri. "Lebih baik Tuan menjaga Lisha dari musuh yang lebih berbahaya dariku!" Ia pun berlalu.
__ADS_1
"Apa maksud dari ucapannya itu?" Ezaz menatap asistennya.
Dika menaikkan kedua bahunya.
-
Menjelang sore hari, Ezaz kembali ke rumah. Sejak istrinya mendapatkan serangan dan teror dirinya lebih rajin di rumah. Ya, ia tak ingin Talisha dalam bahaya.
"Zaz, kamu sudah pulang," wanita itu tersenyum bahagia. Ia berjalan menghampiri suaminya baru saja keluar dari mobil.
"Ya, hari ini tidak terlalu sibuk," ujar Ezaz memberikan alasan.
"Apa kau sudah bertemu dengan Dena?"
"Dari mana kau tahu kalau aku bertemu dengan Dena?" balik bertanya.
"Aku mendengar percakapan dirimu dengan Dena sebelum berangkat ke kantor," Lisha menjawab.
"Ya, aku memang sudah bertemu dengannya."
"Lalu?"
"Apanya?" Keduanya kini berada di dalam kamar.
"Apa kau sudah menanyakan masalah obat tidur itu?"
"Dia memang melakukannya," jawab Ezaz sembari melepaskan dasinya.
"Baguslah dia berkata jujur padamu," ujar Lisha santai.
"Kau tidak terkejut sama sekali?" Ezaz bertanya.
Lisha menggelengkan kepalanya. "Dena sudah menghubungiku dan meminta maaf padaku," jelasnya.
"Pria bertopeng itu apa suruhannya dia juga?"
"Bukan, pria yang datang malam itu bukan suruhan Dena. Dia juga tidak tahu," jawabnya.
"Kau tidak marah padanya?"
"Dia sudah mengkhianatimu, Lisha."
"Ya, aku tahu tetapi lebih pengkhianat itu kau!" Talisha menatap tajam suaminya.
"Apa maksudmu?" Ezaz mengerutkan keningnya.
"Siapa kau sebenarnya, Zaz?" Talisha mendesis.
Ezaz hanya diam.
"Ada hubungan apa kau dengan Papa Radit?" Bertanya dengan tegas.
"Sial ....!"
"Katakan, Zaz?" Tanyanya dengan nada tinggi.
Ezaz tertawa kecil, "Jadi dia mengakui semuanya?"
"Ya!"
"Kau ingin tahu ada hubungan apa aku dengan papamu itu?"
Talisha mengangguk.
"Aku adalah anak yang tak pernah diakuinya!" Jawab Ezaz lantang.
Seketika Talisha terdiam, tubuhnya terasa lemas.
"Aku ingin menghancurkannya melalui dirimu!" Tampak air mata Ezaz berkaca-kaca.
Tanpa terasa air mata Lisha menetes.
__ADS_1
"Aku selalu bertanya pada mamaku, siapa ayahku dan di mana dia. Tetapi, jawaban apa yang ku dapatkan. Dia mengatakan kalau ayahku telah mati dan aku tidak percaya itu!" Ezaz terduduk di ranjang sembari menangis.
"Zaz!" Lisha memanggilnya lirih.
"Aku akan melepaskanmu!" Ezaz menghapus air matanya lalu berdiri.
Talisha menggelengkan kepalanya, " Tidak, Zaz!"
"Bukankah kau sudah tahu semuanya? Mira Grup juga sekarang menjadi milikku," ujar Ezaz.
"Mira Grup?"
"Ya, aku yang telah membeli saham yang dijual pria itu. Dan aku juga yang menyuruh anak buahku untuk memilihmu menjadi direktur utama," jawab Ezaz.
Lisha hanya diam tak menyangka jika suaminya yang ikut andil dalam jabatan dirinya.
"Jadi, aku akan melepaskanmu," ujar Ezaz.
"Jangan tinggalkan aku, Zaz!"
"Bukankah kau menginginkan ini? Lepas dariku?"
"Kau tidak boleh meninggalkan aku!" Jawabnya secara tegas.
"Aku tidak mencintaimu, Lisha. Kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik dariku," ujar Ezaz.
"Tapi, aku mencintaimu!" Berkata dengan terisak.
"Aku tak bisa mencintaimu, Lisha. Aku hanya mencintai Melia."
"Melia sudah mengkhianatimu, kau masih mengharapkannya!"
"Ya, dia juga begitu karena aku. Kita menikah sudah membuat hatinya hancur, Lisha."
"Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan aku?"
"Kau pantas bahagia," ujar Ezaz memegang kedua bahu istrinya.
"Aku hanya bahagia bersamamu, Zaz. Aku jatuh cinta padamu!" Ujung mata masih mengeluarkan air.
"Lisha, aku tak bisa!" Menundukkan kepalanya bersalah.
"Walaupun ada calon bayi kita?"
Mendengar kata-kata itu, membuat Ezaz mendongakkan kepalanya menatap istrinya.
"Aku hamil!" Lisha berucap lirih.
Ezaz tampak tidak percaya.
"Kau berpikir aku berbohong?" Lisha mengambil hasil pemeriksaan dari dokter di laci nakas dan menunjukkannya kepada suaminya.
Ezaz membukanya dengan cepat dan membacanya, tubuhnya terasa lemas sampai ia memundurkan beberapa langkah.
"Kau ingin seperti ayahmu yang tidak mau mengakui anaknya," menatap suaminya.
Ezaz menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa, Lisha!" berkata sekali lagi.
"Kau ingin melepaskan tanggung jawab ini padaku seorang diri?"
"Aku akan membiayai kau dan dia!"
"Aku tidak butuh itu, Zaz. Aku juga mampu membiayai hidupnya, tapi kami membutuhkanmu!"
"Lisha, jangan berharap apapun padaku!"
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan berharap apapun padamu lagi," Lisha membuka lemari mengambil kacamata hitam dan tas jinjing miliknya.
"Kau mau ke mana?" menahan langkah istrinya untuk keluar kamar.
"Aku akan mencari cara untuk menggugurkan kandungan ini," jawabnya melewati suaminya.
__ADS_1
Ezaz menarik lengan istrinya, "Kau tak boleh menggugurkannya!"
"Kenapa? Bukankah kau tidak ingin bersama ibunya? Jadi, untuk apa dia ada dalam rahimku?"