
Talisha kembali ke kantor dengan perasaan tak menentu. Pikirannya kacau, suaminya ketahuan selingkuh.
Talisha mencoba mengatur nafasnya agar bisa tenang. "Sabar, Lisha. Dia menikahimu pasti karena sesuatu, kau harus membalasnya dan mencari tahu semuanya!" Menenangkan diri.
Dilain tempat, Ezaz juga merasakan hal yang sama. Hatinya benar-benar kalut dan bingung.
Melia yang berada di sampingnya meliriknya. "Kenapa kamu sepanik ini, sayang?"
"Siapa yang panik?" Pura-pura baik-baik saja.
"Wanita itu yang merebutmu bukan aku, jadi jika dia cemburu itu tidak masuk akal. Sudah dia yang merusak hubungan kita," ujar Melia.
"Bukan dia, Melia. Tapi aku yang memasukkan dirinya dalam hubungan kita!"
"Jika kamu memang mencintaiku, akhiri saja pernikahan kalian!"
"Aku tidak bisa," menolaknya.
"Kenapa?" Melia bertanya pada Ezaz yang sedang menyetir. "Kamu mulai jatuh hati padanya?" Menyindirnya.
"Aku tidak mencintainya," jawab Ezaz.
"Lalu apa susahnya melepaskan dia?"
"Dendam aku belum terbalas," ungkapnya.
"Dia putri dari musuhmu, bukankah dengan menyakiti dan mencampakkannya menjadi cara terampuh membalaskan dendammu?"
"Tapi kenyataannya berbeda," jawab Ezaz lagi.
"Berbeda, bagaimana?"
"Aku tidak bisa menceritakan ini kepadamu," jawab Ezaz.
"Kamu ingin main rahasia lagi kepadaku," Melia mulai kesal.
"Tidak, Melia. Kamu tak perlu memikirkan tentang dendamku, aku tidak ingin sesuatu hal buruk menimpamu," ujarnya.
Melia akhirnya pun diam.
-
-
Talisha lebih dahulu sampai di rumah, ia tak sabar ingin bertanya dan menyelesaikan semuanya.
Membersihkan diri lalu makan malam, suaminya juga belum pulang.
Ia pun memilih menunggu di ruang santai keluarga, agar tahu suaminya pulang.
Pukul 9 malam, Ezaz tiba di rumah.
Talisha kini sudah berada di hadapannya. "Aku tidak bisa tidur, sebelum kau menjelaskannya!"
"Baiklah, biar aku beritahu kamu. Wanita itu bernama Melia, dia kekasihku," jelas Ezaz.
Penjelasan suaminya membuat hati Talisha sangat sakit.
"Dia baru saja pulang dari luar negeri," lanjut Ezaz menjelaskan.
"Kenapa kamu memilih menikahiku?"
Ezaz tak bisa menjawabnya.
"Kenapa diam? Jawab!" Talisha berucap dengan nada tinggi.
"Kau ingin tahu, apa alasan aku menikahimu?"
"Ya."
"Semua karena papamu!"
"Papa?" Mengerutkan keningnya. "Papa Radit?" Tanyanya.
Ezaz tak mau menjawabnya lalu pergi meninggalkan istrinya.
__ADS_1
Talisha mengikuti langkah suaminya. "Aku belum selesai bicara, Zaz!"
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi!" Ezaz berkata tegas.
"Kau belum menjawab dari pertanyaan aku, apa salah Papa Radit kepadamu?"
"Kau bisa bertanya padanya," Ezaz menutup pintu kamarnya.
Talisha masih berdiri di depan pintu kamar suaminya. "Ada hubungan apa Papa Radit dengannya?" membatin.
Talisha lalu pergi ke kamarnya.
Sementara itu, Ezaz terduduk di ujung ranjang. Meraup wajahnya, ia hampir saja mengatakan sebenarnya.
...*******...
Makan malam dengan orang tua Talisha akhirnya terlaksana setelah beberapa kali sempat tertunda karena berbagai alasan.
Tampak Kakek Talisha bernama Bram hadir juga. Ia sengaja mengajak pria lanjut usia itu.
Kini enam orang berbeda usia berkumpul dalam satu meja makan.
Walaupun hubungan Talisha dan suaminya sempat memanas kemarin karena Ezaz ketahuan berselingkuh.
Besarnya keinginantahunya, Talisha menurunkan rasa egonya. Ya, dia akan mencari tahu maksud ucapan suaminya itu yang mengatakan papa sambungnya adalah alasan dia menikahinya.
"Ezaz, kami ingin sekali bertemu dengan orang tuamu. Kapan mereka punya waktu?" Lidya bertanya dengan lembut.
"Mereka tidak punya waktu, Tante," jawab Ezaz.
Lidya tersenyum tipis.
"Bagaimana jika kami mengunjungi mereka?" Kali ini Radit bertanya.
"Untuk apa?" Ezaz balik bertanya dengan nada ketus.
Bram hanya memperhatikan percakapan mereka.
"Orang tuaku sedang tidak menerima tamu siapapun itu," ujar Ezaz.
"Sombong sekali keluargamu, kakak ipar!" ketus Ghea.
Ezaz menatap gadis berusia 19 tahun itu.
"Ghea, bisakah mulutmu itu dijaga!" hardik Talisha.
"Kakak, suamimu itu nada bicaranya saja tidak ada lembutnya dengan orang tua kita. Kenapa Kak Lisha sampai bisa menikah dengannya?" Ghea tampak kesal.
"Mereka bukan orang tua kandungku," jawab Talisha.
"Ghea, cukup!" bentak Lidya.
"Mama selalu saja membelanya," protes Ghea.
"Sudah... sudah... kalian ini mau makan atau berdebat?" Bram mencoba melerai
Talisha dan Ghea akhirnya diam.
Radit menatap menantunya, "Aku perhatikan matanya mirip denganku. Siapa dia sebenarnya?"
Ezaz meminta kepada istrinya untuk menambahkan daging semur ke dalam piringnya. Talisha pun mengambilnya.
"Kamu suka dengan semur daging?" tanya Lidya. Karena ia melihat menantunya begitu lahap menyantap hidangan tersebut.
"Ya, Ma," Talisha menjawabnya. "Seminggu bisa dua atau tiga kali pelayan memasakkan menu ini," lanjutnya.
"Persis seperti Papa Radit," ucap Lidya tersenyum.
Ezaz tersenyum sekedarnya.
-
Selesai makan malam, Radit berdiri di balkon. Ia mengingat tingkah laku Ezaz hampir sama dengan dirinya dan seseorang dari masa lalunya.
__ADS_1
"Apa dia anaknya Silvia?"
"Pa..." Lidya mendekati suaminya.
"Ya, Ma."
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, Ma."
"Sejak makan malam tadi, kamu seperti memikirkan sesuatu," tebaknya.
"Itu hanya perasaanmu saja," ujar Radit.
"Semoga saja, aku harap kamu tidak menyimpan rahasia dariku," ucap Lidya.
"Tak ada lagi rahasia yang ku simpan darimu," ujar Radit.
Lidya tersenyum tipis.
"Bagaimana langkah kita selanjutnya?" Radit mengalihkan percakapan.
"Aku tidak tahu, bagaimana menguasai Mira Grup selama Papa Bram masih memegang perusahaan itu? Apalagi separuh saham milik kita telah lepas," jawab Lidya.
"Apa posisi jabatan Talisha juga dipengaruhi suaminya dan Papa Bram?" berusaha menebak.
"Entahlah, kita harus mendekati Talisha atau memakai cara lain," ujar Lidya.
"Cara apa?"
"Membuat Lisha menderita," jawab Lidya.
Radit tersenyum menyeringai, "Setelah itu aku akan mencampakkanmu!"
......................
Ezaz pagi-pagi sekali beberapa hari ini sering pergi ke kantor lebih awal hal itu membuat Talisha curiga.
"Kau ingin bertemu dengan kekasihmu itu, ya?" sindir Talisha ketika berpapasan di depan pintu.
"Itu bukan urusanmu!" Ezaz melangkah.
Talisha mempercepat langkah suaminya. "Jika kau ingin bersamanya, lepaskan aku!"
Ezaz berhenti lalu menoleh, "Aku tidak akan melepasmu!"
"Kau sungguh egois!" teriaknya.
Ezaz tak memperdulikannya.
-
-
Siang harinya, Ezaz yang sedang menikmati makan bersama dengan Melia mendadak mendapatkan telepon dari anak buahnya yang selalu mengawasi gerak-gerik istrinya. Wajahnya berubah menjadi cemas.
"Ada apa, Zaz?" tanya Melia.
"Aku harus pergi," jawab Ezaz beranjak berdiri.
"Kamu mau ke mana?"
"Lisha dalam berbahaya," jawabnya.
"Kenapa kamu jadi mempedulikannya?" Melia mulai protes.
"Karena dia sekarang istriku, jadi aku bertanggung jawab atas dirinya."
"Kalau begitu ceraikan dia, agar kamu tak perlu bertanggung jawab," ujar Melia.
"Melia, maaf!" Eza pun berlalu. Ia tak mau berlama-lama berdebat dengan kekasihnya.
Melia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
Ezaz mengendarai mobilnya ke alamat yang diberikan anak buahnya. Ia mempercepat laju kendaraannya. Entah, kenapa hatinya sangat begitu cemas.
__ADS_1
Ezaz turun dan berlari memasuki gedung tua.