
Talisha mengikuti suaminya, "Apa kau takut selera padaku?"
Ezaz membalikkan tubuhnya. "Aku sama sekali tidak selera padamu!" Menekankan kata-katanya.
"Walaupun aku telanjang?"
"Ya."
"Aku curiga padamu, apa kau sebenarnya penyuka sesama? Atau benda kesayanganmu itu sedang bermasalah?" Sindirnya.
Ezaz mengeraskan rahangnya, mencengkeram erat lengan istrinya hingga membuat wanita itu menjerit kesakitan. "Jangan pernah memancing amarahku, Lisha!"
"Sakit, Zaz!" Memohon.
"Aku bisa melakukan lebih dari ini, jika kau berani berkata seperti tadi!" Merapatkan giginya.
Talisha hanya bisa diam dan meringis kesakitan.
Ezaz melepasnya secara kasar.
Talisha memandangi suaminya sembari memegang lengan tangannya yang tadi dicengkeram kuat.
Ezaz pun pergi ke kamarnya.
"Dia kasar sekali!" Gumamnya.
...............….......…...
Keesokan paginya, Talisha sudah duduk di meja makan menikmati segelas susu dan sepotong roti.
Ezaz muncul dengan wajah dingin.
Talisha tersenyum lalu berkata, "Aku hanya makan sedikit saja untuk menambah tenaga pagi ini!"
"Kita berangkat sekarang!" Ezaz berjalan lebih dahulu.
Talisha buru-buru menghabiskan sarapannya. Walau sebenarnya dia masih sangat lapar.
Di perjalanan menuju lokasi keduanya hanya diam, Talisha memandang jalanan sembari menyedot minuman susu dalam kemasan kotak yang sengaja ia ambil dari dalam lemari es.
Sesampainya di lokasi syuting, ia turun mengganti pakaiannya dan mengikuti arahan dari sutradara.
Talisha harus berlari, memanjat tebing dan melompat dari ketinggian 2 meter.
Sutradara berteriak memanggil nama Talisha agar memperagakan adegan melompat.
Dari atas ketinggian, dahi Talisha berkeringat ia mengepalkan tangannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Sementara itu Ezaz berdiri memperhatikan istrinya dari bawah. Dirinya juga merasakan khawatir, ia takut Talisha tak dapat melakukan adegan melompat dengan baik.
Sutradara berteriak untuk memulai adegan.
Talisha pun melompat tanpa teriakan, walau ditampung dengan bahan tak membuat tubuhnya sakit namun jantungnya berdetak kencang, dirinya harus tetap tersenyum menghadap kamera.
Seluruh orang yang ada di lokasi merasa lega, Talisha melakukannya dengan baik termasuk Ezaz tersenyum senang jika istrinya tidak mengalami cedera apapun.
Akhirnya syuting berakhir setelah adegan melompat tersebut.
Dena mendekati Talisha, menyodorkan handuk kecil dan air mineral.
"Aku tidak menyangka kau bisa melakukan adegan ini, padahal dirimu takut pada ketinggian," ujar Dena.
"Aku tidak ada pilihan lagi, ini adalah tugas untukku. Kalau ku tak bisa melakukannya, dia akan mengurungku di dalam rumah," bisik Talisha sembari bercanda.
Dena pun tertawa.
Ezaz bukan menghampiri istrinya, ia malah pergi menjauh.
Talisha yang tahu suaminya akan meninggalkan lokasi syuting, berlari mendekatinya. "Suamiku!" Teriaknya memanggil.
Ezaz menoleh dan mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
"Mau ke mana?"
"Aku mau kembali ke kantor!"
"Kau membiarkan aku pulang sendiri menggunakan taksi?"
"Kau bisa pulang menumpang mobil manajermu!"
"Aku mau ikut ke kantormu!" Pintanya.
"Tidak boleh!"
"Aku bosan di rumah," ujar Talisha.
"Memang tugas istri itu di rumah," kata Ezaz.
"Ya, memang tapi kau pulang tengah malam. Bagaimana kita bisa mempunyai waktu mengobrol?"
"Tak ada yang perlu diobrolkan, kau pulang dengan Dena saja!"
"Aku tidak mau, ku mau ikut dirimu!" Talisha merengek manja.
Orang-orang melihat percakapan mereka membuat Ezaz terpaksa mengiyakan.
Talisha tersenyum senang.
Keduanya pun meninggalkan lokasi menaiki mobil ke kantor Ezaz.
Talisha sengaja memegang lengan suaminya dan pria itu tak menolaknya.
-
EA Grup
Berjalan memasuki gedung, Talisha tak melepaskan tangannya dari lengan sang suami walaupun sebenarnya Ezaz sangat risih.
Talisha masuk ke ruangan suaminya yang sangat besar, foto-foto tertata rapi di etalase hias kaca.
"Apa ini Ibumu?" Tanyanya pada suaminya.
"Ya," jawab Ezaz tanpa menatap.
"Di sebelahnya, ayahmu?"
"Ya."
"Tapi, kenapa kau tidak mirip dengan ayahmu?"
Ezaz menatap istrinya sejenak lalu menjawab, "Dia ayah sambung tapi sangat menyayangi dan mencintai aku melebihi anak kandungnya."
"Kau sungguh bahagia, ya!" Talisha tersenyum.
Ezaz menatap kembali istrinya lalu bertanya, "Memangnya kau tak bahagia dengan keluargamu?"
Talisha menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu, kenapa tujuh tahun terakhir ini mereka sangat membenciku dan ingin ku menjauh darinya."
"Mungkin ada alasan mereka untuk menyingkirkanmu!"
"Maksudnya?"
"Bisa jadi mereka menginginkan perusahaan orang tua kandungmu," tebak Ezaz.
"Itu hanya perusahaan kecil, untuk apa mereka ingin memilikinya. Aku juga tidak mempermasalahkan mereka mengambil keuntungan," ungkap Talisha.
"Dia sebenarnya bodoh atau memang tidak tahu menahu masalah bisnis?"
Talisha duduk di sofa, ia memainkan ponselnya.
__ADS_1
Ezaz kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sejam kemudian, Talisha sudah tertidur tanpa sadar kancing atas kemeja terlepas hingga menampakkan belahan dada miliknya.
Ezaz yang memanggil nama istrinya namun tak menyahut akhirnya mendekatinya, ia melihat bagian sensitif milik Talisha. "Apa dia sengaja ingin menggodaku?"
Ezaz membangunkan istrinya dengan menyentuh pipinya menggunakan bolpoin.
Talisha menggeliatkan tubuhnya dengan cepat ia duduk karena suaminya sedang jongkok menghadapnya.
Ezaz berdiri, "Apa ruanganku ini sangat nyaman sehingga kau tertidur?"
"Aku sangat lelah, jadi maaf kalau sampai ketiduran di sini," jawabnya.
"Kita pulang sekarang, tapi perbaiki kancing kemejamu!"
Talisha lantas melihat dadanya dan mendelikkan matanya, dengan cepat ia mengancingkannya.
"Kau sangat senang sekali memancingku, ya!" sindir Ezaz.
"Aku tidak tahu, kalau begini!"
Ezaz mendekati wajah istrinya. "Apa kau ingin kita melakukannya?"
Talisha mengangguk.
Ezaz tertawa menyindir.
Talisha menunduk menahan malu, entah kenapa dia bisa dengan mudah mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak akan menyentuhmu, karena kau bukan seleraku!" kembali mendekati wajah istrinya berkata dengan nada dingin.
Talisha menelan ludahnya.
"Jangan pernah mencoba menarik perhatianku!"
"Ya, aku tahu. Kita hanya menikah sementara!"
"Ya, benar. Tapi, aku tidak akan pernah melepaskanmu jika belum bosan," ujar Ezaz.
Talisha hanya diam dan tetap menundukkan kepalanya.
"Ayo pulang!" ajaknya.
Talisha berdiri, meraih tas dan ponselnya di atas meja lalu mengikuti langkah suaminya.
Sesampainya di rumah sudah malam, keduanya membersihkan diri di kamar mandi masing-masing. Talisha tidak ikut untuk makan malam, ia memilih mengurungkan diri di kamarnya.
Ezaz menikmati makan malam seorang diri, sampai ia selesai makan istrinya tak kunjung muncul. "Apa dia tidak lapar?"
Ezaz membersihkan mulutnya dengan tisu, ia hendak menghampiri istrinya untuk menanyakan alasan dia tak makan malam namun ia urungkan ketika tangannya hampir menyentuh pintu. "Aku tidak boleh menanyakan apapun kepadanya, nanti dia akan besar kepala!"
...----------------...
Pagi harinya, Ezaz seperti biasa menikmati sarapan. Lagi-lagi istrinya tak tampak. Ia lantas bertanya, "Apa dia sudah sarapan?"
"Nona Lisha dari tadi belum ada keluar kamar, Tuan."
"Apa tadi pagi makanan di meja ini semua habis?" tanya Ezaz lagi, siapa tahu Talisha keluar kamar untuk makan malam.
"Makanan masih utuh, Tuan. Hanya ada satu piring dan gelas kotor di meja," jawab pelayan yang bertugas menghidangkan makanan dan mencuci piring.
"Ya, sudah kembalilah bekerja," ujar Ezaz.
Karena penasaran, ia mendatangi kamar istrinya dan mengetuk pintunya berulang kali namun tak ada jawaban.
Khawatir, Ezaz lantas mengambil kunci cadangan dari kamar miliknya dan memaksa membuka pintu.
Matanya membelalak kala melihat tubuh Talisha tergeletak di depan pintu kamar mandi.
Dengan langkah cepat, ia mendekatinya. "Lisha, bangun!" panggilnya.
__ADS_1