
Pasrah...
Ya, Ezaz memilih tetap setia bersama istrinya demi calon anaknya. Apalagi ini juga karena kesalahannya, kenapa tak menolak Talisha saat berhubungan intim di hotel waktu itu.
"Kau janji tidak akan menyakiti dan meninggalkan aku?" menatap wajah suaminya.
Ezaz mengangguk.
Talisha tersenyum.
"Aku mau mandi, jangan pernah berpikir untuk membuangnya!" Ezaz menyentuh pipi istrinya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku janji akan menjaganya," Lisha kembali melemparkan senyumnya tampak matanya tersirat kebahagiaan.
Ezaz tersenyum tipis, "Aku mau mandi!" ia meraih handuk lalu berjalan ke kamar mandi.
Ya, sejak kejadian Talisha di gedung tua itu. Ezaz memilih tidur sekamar dengan istrinya.
Talisha menatap dan mengelus perutnya. "Nak, akhirnya ibumu ini menang," lirihnya tersenyum puas.
Tak sampai 20 menit, Ezaz keluar dari kamar mandi dan Talisha duduk di ranjang menikmati buah potong sembari menonton televisi.
Ezaz menyugar rambutnya kelihatan sangat tampan membuat istrinya tersenyum.
"Apa kau ingin makan buah?" Lisha menawarkannya.
"Tidak," jawabnya.
Lisha meletakkan piring di nakas lalu kemudian turun dari ranjang. "Aku akan menyiapkan makan malam untukmu!"
"Tidak perlu," Ezaz menolaknya.
"Kenapa?"
"Aku akan makan malam dengan Melia," jawab Ezaz.
Cemburu...
"Oh, baiklah," tersenyum tipis. Ia lalu menaiki ranjang dan menikmati siaran televisi kembali.
Ezaz berdandan sangat rapi, Lisha sesekali memandang suaminya.
Sabar....
"Aku berangkat, ya!" pamit Ezaz.
"Ya, hati-hati. Sampaikan salamku untuknya, katakan padanya jangan lupa mengembalikan suamiku," ujar Talisha menyindir.
Ezaz memilih tak menanggapinya.
Talisha mengepalkan tangannya, "Pakai cara hamil untuk menjeratnya saja tak ampuh. Dasar!" berdecak kesal.
-
Melia tersenyum ketika melihat Ezaz datang, ia berdiri dan memeluk kekasihnya itu.
Ezaz tampak dingin tak sehangat biasanya.
"Kamu kenapa sayang? Apa istrimu itu berbuat masalah lagi?"
"Ya."
"Apa yang telah ia perbuat?" Melia penasaran.
"Dia hamil," jawab Ezaz singkat.
Melia tampak syok mendengarnya. "Bukan kamu yang menghamilinya, kan?"
"Ya, karena aku suaminya."
Melia tampak kecewa, "Sudah berapa kali aku katakan jangan pernah menyentuhnya. Kamu sungguh tega, Zaz!"
"Aku tidak bisa menghindari pesona kecantikan yang ia miliki, Melia."
__ADS_1
Wanita itu semakin kesal.
"Aku terjerat dengan permainannya," ujar Ezaz.
"Cukup!" Melia mengangkat telapak tangannya di hadapan wajah kekasihnya.
"Aku minta maaf, Melia." Menatap dengan wajah sendu.
Melia menarik nafasnya perlahan lalu pelan-pelan dihembuskannya. "Aku tahu pasti wanita itu yang memulai menggodamu. Aku tidak mempermasalahkannya!"
"Kamu tidak marah, Melia?"
"Tidak," jawabnya. "Bukankah kamu hanya mencintai aku?" tanyanya.
Ezaz tersenyum.
"Aku tidak peduli dia hamil anakmu selama hatimu milikku," ujar Melia.
"Aku semakin yakin, kamu adalah wanita yang baik," Ezaz melemparkan senyumnya.
"Aku memang wanita baik, sehingga rela melepaskan kekasihnya bersama wanita lain," ujar Melia penuh bangga.
"Terima kasih," Ezaz meraih minuman di hadapannya dan menyeruputnya.
-
-
Ezaz tak berlama-lama bersama Melia, hanya sejam di restoran ia kemudian bergegas pulang ke rumah. Biasanya dia sangat senang apabila selalu berdua dengan kekasihnya itu.
Entah kenapa dirinya sekarang lebih nyaman bersama istrinya walaupun ia tak mencintai wanita itu.
Ezaz masuk ke kamar melihat televisi masih menyala, Lisha tertidur tanpa tertutup selimut. Tampak piring bekas makannya masih ada di atas nakas.
Ezaz mematikan televisi, memperbaiki selimut istrinya dan membawa piring ke kotor ke dapur.
Kembali ke kamar mengganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Tanpa sadar, tangan Talisha menyentuh wajah suaminya.
...----------------...
Ezaz terbangun, di sisinya sudah tak ada lagi istrinya. Ia pun membersihkan dirinya, bersiap ke kantor.
Selesai berpakaian ia berjalan ke arah ruang makan, istrinya telah berada di sana melemparkan senyum kepadanya.
"Aku sudah menyiapkan sarapan pagi untukmu hari ini," ujar Talisha.
"Tak perlu menyiapkannya," ucapnya ketus.
"Aku hanya ingin menjadi istri yang baik saja," ujar Talisha menyeruput jus alpukat.
"Kau mau ke mana dengan pakaian seperti itu?"
"Aku mau ke kantor, sudah lama ku tidak bekerja," jawab Talisha.
"Oh," Ezaz berucap singkat.
Lisha yang sedang menikmati sarapan berdiri lalu berlari ke arah wastafel membuang seluruh makanan yang baru saja ia masukkan ke dalam perut.
Lisha mengikat rambutnya dan memegang perutnya, berjalan pelan ke meja makan.
Seorang pelayan wanita membawakan secangkir teh hangat kepada Lisha, "Silahkan di minum, Nona."
"Terima kasih," Lisha meraih cangkir tersebut dan menyeruputnya.
"Apa Nona ingin saya membuatkan teh jahe?" Tawar wanita paruh baya itu.
"Tidak usah, terima kasih," jawab Lisha.
"Jika Nona ingin saya akan buatkan," ucapnya.
"Ya," Lisha tersenyum.
__ADS_1
Ezaz kelihatan santai melihat wajah istrinya pucat.
Lisha memperhatikan sikap yang ditunjukkan suaminya begitu cuek dan masa bodoh.
Lisha lantas berdiri lalu berpamitan kepada suaminya, ia berjalan keluar menuju mobilnya.
Ezaz hanya menatap punggung istrinya dari kejauhan.
Mobil dikendarai seorang sopir jadi Ezaz tak terlalu mengkhawatirkannya.
Lisha tiba di Mira Grup pukul 9 pagi, para karyawan menyapanya.
Dito berdiri dan menyambutnya dengan sapaan begitu dingin.
Lisha memasuki ruangannya, memeriksa beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Asistennya juga datang membawa berkas yang harus ditandatangani olehnya.
Lisha tanpa sengaja melihat sebuah tato bergambar matahari terlukis di pergelangan tangan asistennya seketika bayangan penyerangan beberapa minggu lalu terlintas di benaknya masih terngiang jelas juga serangan dua hari yang lalu di kediamannya.
Dito hendak keluar dari ruangan.
"Tunggu!" Ia memanggil asistennya.
"Ya, Nona."
"Sejak kapan kamu memiliki tato seperti itu?"
Dito dengan cepat menutup pergelangan tangannya yang menampakkan tato miliknya dengan menurunkan kemejanya.
"Dito, saya bertanya kepadamu!"
"Ini sejak tujuh tahun lalu, Nona."
"Oh," Lisha tersenyum. "Ya sudah kembalilah bekerja," lanjutnya.
"Baik, Nona." Dito pun keluar.
Lisha menyandarkan punggungnya di kursi lalu memijit pelipisnya. "Kenapa tatonya persis seperti pria bertopeng itu?"
Perut Lisha kembali bergejolak ia berlari ke toilet yang ada di ruang kerjanya. Memuntahkan isinya, tubuhnya semakin lemas, ia sampai memegang dinding sebagai penyanggah.
Berjalan tertatih ke kursi kerjanya, ia meraih ponselnya dan menghubungi suaminya namun pria itu tak menjawab panggilannya.
Lisha menelpon bagian pantry dan meminta office girl membuatkan teh hangat untuknya.
Selang 10 menit kemudian, seorang wanita muda mengantarkan pesanan Talisha. "Nona, ini tehnya!"
Talisha mendongakkan kepalanya, menatap karyawannya yang baru saja tiba. "Letakkan di sini!" menunjuk meja kerjanya.
Wanita itu pun mengikuti perintah atasannya.
Talisha meraih cangkir teh dan menyesapnya.
"Wajah Nona terlihat sangat pucat," ujar wanita itu.
"Saya lagi hamil," Lisha berucap sembari tersenyum tipis.
"Oh, pantas. Tetapi sebaiknya Nona beristirahat saja," saran karyawannya itu.
"Saya bosan di rumah," ucap Lisha tetap tersenyum.
Wanita itu mengangguk, ia tak bisa memaksa atasannya untuk mengikuti sarannya. "Kalau begitu saya pamit, Nona."
"Ya, terima kasih," ucap Lisha lemah.
Office girl keluar dari ruangan direktur utama, ia lalu melangkah ke meja Dito. "Tuan, sepertinya Nona Direktur sangat lemas sekali. Saya takut jika dia pingsan," ujarnya.
"Memangnya kenapa dengan dia? Apakah sedang sakit?"
"Katanya dia sedang hamil," jawabnya.
"Saya akan ke ruangannya," ucap Dito.
"Kalau begitu saya kembali bekerja, permisi!" Pamitnya.
__ADS_1
Dito mengiyakan.