Marry The Star

Marry The Star
Bab 35 - Bertemu Radit


__ADS_3

Talisha memasuki rumah besar keluarga besarnya yang akan menjadi warisan untuknya. Jessica menunggu di halaman parkir karena Radit yang memintanya.


Karena khawatir dengan keselamatan Talisha, ia menghubungi Ezaz. "Halo, Tuan!"


"Ada apa?"


"Nona berada di rumah kedua orang tuanya."


"Jaga dan lindungi dia!"


"Saya tidak diizinkan masuk, Tuan."


"Aku segera ke sana!" Ezaz menutup teleponnya lalu memakai jas kerjanya dan meminta Dika menemaninya.


Di dalam mobil, Dika bertanya, "Kita mau ke mana?"


"Ke rumah orang tuanya Lisha!"


"Baik, Tuan!" Dika mengendarai mobilnya menuju rumah mertua atasannya.


"Dika, cepat!"


"Di depan jalanan macet, Tuan!"


"Cari jalan pintas!" perintahnya.


"Ya, Tuan."


Dika mencari jalan alternatif walaupun sedikit jauh.


Sementara di kediaman orang tuanya Lisha, mereka bertiga berkumpul di satu ruangan yang sama.


"Apa yang ingin kamu bicarakan pada Papa?"


"Kenapa Papa menunda pembayaran gaji karyawan?" Lisha balik bertanya.


"Papa lagi butuh uang," jawab Radit.


"Uang untuk apa?"


"Papa dan Mama membeli rumah di suatu pulau," jawab Radit.


"Rumah? Kalian selama ini tinggal di sini dan aku tidak mengusiknya," ujar Lisha.


"Kami mau rumah yang lebih besar," sahut Lidya.


"Rumah yang besar? Apa kurang besar rumah ini?" tanya Lisha.


"Tapi, kami ingin memiliki semuanya darimu!" ucap Lidya.


"Maksudnya?"


"Apa kamu tidak mengerti juga, Lisha?" tanya Lidya.


"Aku tidak paham, Ma."


"Mama menikah dengan papa kamu menginginkan hartanya dan sekarang kami ingin memiliki semua yang ada pada dirimu!" ujar Lidya.


"Kalian sungguh serakah!" suara bariton Ezaz membuat orang-orang yang ada di ruang itu menoleh.


"Kebetulan sekali ada menantu tersayang," Lidya tersenyum menyeringai.


"Kalian memanfaatkan kepolosan dari anak yatim piatu untuk menguras hartanya," ujar Ezaz.


"Kamu hanya orang baru di lingkungan keluarga kami, sepertinya dirimu juga ingin memanfaatkan Lisha!" tuding Lidya.


"Kalian tahu apa alasan dia menikahiku," ujar Lisha.


"Lisha, jangan katakan!" mohon Ezaz.


"Biar Mama Lidya tahu jika pria yang ia nikahi itu ternyata adalah orang jahat!" ucap Lisha.


"Apa maksudmu?" tanya Lidya.


"Apa Papa Radit mengenal Silvia Rosa?" Lisha menatap pria paruh baya itu.


Radit ingat.


"Papa, siapa dia?" tanya Lidya.

__ADS_1


"Aku tidak kenal, Ma!"


"Masih berani membantah," Lisha tersenyum sinis.


"Siapa Silvia Rosa memangnya, Lisha?" tanya Lidya.


"Beberapa puluh tahun yang lalu wanita itu hamil tanpa suami," tutur Lisha.


"Maksud kamu Papa Radit menghamilinya?" tebak Lidya.


"Ya."


Lidya terkejut mendengarnya, ia lantas mengarahkan pandangannya kepada suaminya.


"Itu tidak benar!" sanggah Radit.


"Wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki," tutur Lisha lagi.


"Apa benar itu, Pa?" tanya Lidya.


"Tidak, itu tak benar. Ini fitnah!"


"Untuk apa aku memfitnah Papa," ucap Lisha.


"Pasti pria ini yang mempengaruhimu!" Radit menunjuk wajah Ezaz dengan jari telunjuknya.


"Aku tidak dipengaruhinya, aku malah bersyukur menikah dengannya!" ungkap Lisha.


"Sejak kamu menikah dengannya, sikapmu berubah!" ucap Radit.


"Justru Ezaz yang selalu melindungi aku dari orang-orang yang ingin mencelakakan ku!" ujar Lisha.


"Benarkah?" Radit mengambil senjata api dari laci meja yang ada di ruangan tamu lalu mengarahkannya kepada Ezaz. "Apa dia sekarang masih bisa melindungimu?"


Lisha mendelikkan matanya begitu juga dengan Lidya.


Radit menarik pelatuknya dan menembak Ezaz.


Dengan cepat, Lisha mendorong tubuh suaminya.


Ezaz terjatuh begitu juga Lisha.


Radit terkejut melihat tembakannya salah sasaran.


"Lisha!" teriak Ezaz dan Lidya.


Ezaz mendekati istrinya dan memeluknya. "Lisha, bangun!"


Wanita itu tak merespon.


Ezaz yang panik lantas membopong tubuh istrinya ke mobil. Dika dan Jessica menyusul atasan mereka.


Dika menyetir dan Jessica duduk di samping pengemudi.


Radit menjatuhkan pistolnya, ia tampak ketakutan.


Lidya mendekati suaminya, "Kau lihatkan, dia terluka!"


"Bukankah kau ingin melenyapkannya?" tanya Radit dengan nada tinggi.


"Aku menginginkan hartanya tapi bukan kematiannya!" jawab Lidya dengan air matanya menetes.


Sementara itu, Ezaz terus mengusap rambut Lisha. "Kamu harus bangun!" ucapnya khawatir.


Begitu sampai di rumah sakit, Lisha segera dibawa ke ruang pengobatan.


Ezaz tampak mondar-mandir menunggu hasil.


Galvin dan Arum kebetulan berada di rumah sakit tersebut, lantas keduanya mendekati keponakannya.


"Zaz, apa yang terjadi?" tanya Galvin.


"Lisha terkena tembakan, Paman!" jawabnya dengan bergetar.


"Kenapa bisa?" tanya Arum.


"Nanti aku akan ceritakan, Bibi!"


Salah seorang perawat menemui Ezaz. "Tuan, pasien membutuhkan donor darah!"

__ADS_1


"Periksa saya saja!" ucap Arum.


"Tidak, Arum. Kamu sudah tua," ujar Galvin.


"Ambil darah saya saja, Suster!" ucap Ezaz.


"Mari ikut saya!" ajak perawat.


Arum mencubit lengan suaminya membuat Galvin terkejut dan menjerit kecil.


"Kenapa mencubitku?"


"Kau bilang aku tadi apa? Sudah tua? Apa kau pikir aku tak bisa mendonorkan darah?" omel Arum.


"Bukan begitu, sayang. Usia kita sudah lemah, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Lagian, ada Ezaz juga. Semoga saja darahnya cocok," Galvin menjelaskan.


"Tapi, aku tak suka kamu bilang aku tua!"


"Bagiku kau masih Arum ku yang lucu, cerewet dan cantik!" puji Galvin.


"Kau bisa saja!" memukul lengan suaminya.


-


Beberapa menit kemudian, Ezaz menghampiri paman dan bibinya.


"Apa kamu sudah memberitahu orang tuamu?" tanya Galvin.


"Belum, Paman."


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Arum yang penasaran.


"Papanya Lisha ingin menembakku tapi Lisha menolongku hingga dia yang tertembak," jelas Ezaz.


"Kenapa Papanya Lisha ingin menembakmu?" tanya Galvin.


"Karena dia adalah ayah kandungku, Paman."


"Apa!" Arum dan Galvin terkejut.


"Kamu menikahi adikmu sendiri?" cecar Arum.


"Tidak, Bi. Lisha bukan anak kandungnya, kedua orang tuanya Lisha sudah lama meninggal," jelas Ezaz.


"Huh, syukurlah!" ucap Arum.


"Apa Radit tahu jika kamu adalah putranya?" tanya Galvin.


"Tidak, Paman."


"Pantas saja kamu tidak mengundang kami ke acara pernikahanmu ternyata ini tujuannya," ujar Arum.


"Iya, Bi. Awalnya aku ingin menikahi Lisha karena itu tapi semua berubah ternyata dia juga dalam bahaya," jelas Ezaz.


"Kamu harus tetap berada di sampingnya," ujar Galvin.


"Ya, Paman."


Lisha di dorong menggunakan brankar menuju kamar rawat inap. Ezaz berdiri begitu juga dengan Arum dan Galvin.


Ketiganya mengikuti beberapa orang perawat yang mendorong brankar.


Para perawat memindahkan Lisha ke ranjang rumah sakit. Ezaz belum diizinkan masuk.


Begitu selesai, tamu pasien diperbolehkan menjenguk. Ezaz melihat tubuh istrinya tergolek lemas dipasang selang infus.


Lisha belum sadarkan diri.


Arum dan Galvin ikut masuk menjenguk, tampak terkejut.


"Dia gadis itu, Galvin!" ucap Arum.


"Ya, benar!" ujar Galvin.


"Dia gadis yang mendonorkan darah untuk ibumu dan pamanmu, Zaz." Ungkap Arum.


Ezaz menatap bibinya.


"Beberapa tahun lalu kami pernah bertemu dan ia menolong Paman Galvin saat kecelakaan," ujar Arum.

__ADS_1


Ezaz kembali memandangi wajah istrinya dan menangis. "Aku sudah menyakiti perasaannya, Bi!"


Arum lantas memeluk keponakannya dan ikutan menangis.


__ADS_2