Marry The Star

Marry The Star
Bab 23- Makan Pedas


__ADS_3

Dito tak terlalu menghiraukan ucapan office girl dan memang ia sengaja tidak ingin ke ruangan Talisha.


Sejam berlalu, Dito sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu memandang pintu atasannya. Entah kenapa perasaannya begitu khawatir, ia pun beranjak berdiri lalu melangkah ke ruangan direktur.


Baru saja memegang kenop, pintu terbuka. Talisha berdiri dengan wajah pucat dan rambutnya menutupinya.


"Nona, mau ke mana?" tanya Dito.


Belum menjawab, Talisha ambruk di tubuh asistennya.


Dengan sigap, Dito menahan tubuh wanita itu agar tak jatuh ke lantai.


"Nona!" Dito memanggilnya.


Talisha tak meresponnya.


Ia lantas menggendong tubuh Talisha dan membawanya ke sofa lalu menghubungi dokter terdekat dari perusahaan.


Tak lama kemudian, seorang wanita berusia 40 tahun datang dan memeriksa kondisi Talisha.


Dito melihat tubuh lemas tersebut dengan wajah cemas tampak juga Radit berada di ruangan itu juga.


Selesai memeriksa dokter menjelaskan kalau hal seperti ini wajar di kehamilan semester pertama.


Dito dan Radit mengangguk mendengarkan penjelasan dokter.


-


Talisha terbangun sejam kemudian, ia memegang kepalanya dan bingung dengan posisi tempatnya berada. "Kenapa aku di sini?"


"Nona tadi pingsan," jawab Dito masih berada di ruang kerja.


Lisha hanya diam.


"Lebih baik Nona pulang saja," saran Dito.


"Bisakah kamu mengantarkan saya pulang?"


Dito mengangguk.


Lisha berdiri namun hampir saja terjatuh, beruntung asistennya dengan cepat menampung tubuhnya.


Lisha menatap wajah Dito dan tersenyum kecil. "Terima kasih."


Lisha kembali terduduk.


"Nona?" Dito khawatir.


"Bisakah kamu memanggilkan karyawan wanita untuk memapahku ke parkiran?"


"Baik, Nona. Saya akan panggilkan," Dito pun keluar.


Tak lama pria itu muncul bersama seorang wanita muda dan membantu Lisha menuntunnya ke parkiran mobil.


Lisha duduk di kursi belakang penumpang sementara Dito menyetir.


Lisha sesekali memejamkan matanya menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang.


Dito melihatnya dari kaca spion.


Sesampainya di kediaman atasannya, Dito membukakan pintu untuk Talisha. Lagi-lagi wanita itu hampir terjatuh dan berhasil ditangkap olehnya.


"Terima kasih sudah mengantarkan saya pulang, kembalilah ke kantor biar pelayan saja," ujar Lisha agar Dito tak perlu ke kamarnya.


"Baik, Nona." Pria itu pun berlalu.


Dibantu pelayan wanita, Lisha dipapah. Sesampainya di kamar ia merebahkan diri dan meminta asisten rumah tangganya itu membuatkan sop hangat.


Selesai memakan sop hangat, Lisha tertidur.


-


Ezaz tahu istrinya menelepon sekali namun tak di jawabnya dan enggan menghubunginya kembali.


Sesampainya di rumah beberapa pelayan sibuk bolak-balik ke kamarnya.


Ezaz bergegas ke kamarnya dan benar saja, istrinya sedang terbaring lemah di ranjang.

__ADS_1


Salah satu pelayan menyuapkan bubur ke mulut Talisha.


"Kenapa denganmu?" tanya Ezaz.


"Letakkan bubur di sana," menunjuk ke arah nakas. "Kamu boleh keluar," pinta Lisha pada pelayannya.


"Baik, Nona." Wanita itu pun berlalu.


Ezaz duduk di samping istrinya.


"Aku tadi sempat pingsan di kantor," jelas Lisha. "Beruntung ada Dito yang menolongku. Ia memanggilkan dokter, menungguku hingga sadar dan membantuku membawa pulang," ujarnya.


Ezaz memandang istrinya.


"Seandainya aku tidak keluar dari ruangan mungkin tak ada yang tahu ku tergeletak di sana," Lisha menarik ujung bibirnya sebelah kanan.


"Tapi, kau tidak apa-apa 'kan?"


"Seperti yang kau lihat," jawab Lisha.


"Syukurlah kalau tidak apa-apa," ucap Ezaz santai, ia lalu ke kamar mandi.


Lisha kembali menyantap bubur.


Selang beberapa menit kemudian, Ezaz keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya tertidur. Tampak wajah pucat dan lemah.


Ezaz pun menikmati makan malam seorang diri.


Lisha terbangun dan berjalan ke arah dapur.


Seorang pelayan wanita mendekatinya lalu bertanya, "Apa Nona ingin makan sesuatu?"


"Kenapa kamu tahu kalau saya ingin makan?"


"Biasanya kalau wanita hamil muda ingin makan sesuatu yang dapat mengurangi rasa mual," jawabnya.


"Aku ingin sekali makan mie goreng yang super pedas," ujar Talisha.


"Nona, yakin?"


"Ya."


"Tapi, saya ingin sekali," ucap Lisha.


"Saya akan bicarakan hal ini kepada Tuan, Nona."


"Kenapa minta izin padanya?"


"Saya tidak mau disalahkan karena membuat makanan pedas buat Nona."


Lisha tersenyum pasrah, "Ya sudah."


Pelayan tersebut pun menghampiri Ezaz.


"Ada apa?"


"Nona Lisha ingin makan pedas," jawabnya.


"Buatkan saja!" titah Ezaz.


"Nona tidak bisa makan terlalu pedas, Tuan."


"Sudah buatkan saja," perintahnya.


"Baiklah, Tuan."


Pelayan pun membuatkan pesanan Talisha dan wanita itu menunggunya di meja makan.


Ezaz tak lagi di ruang makan, ia sudah selesai dan memilih ke balkon.


Talisha menikmati mie goreng super pedas membuat pelayan yang melihatnya menelan saliva.


Lisha menatap heran pelayan yang masih berdiri dihadapannya. "Kenapa masih di sini?"


"Saya khawatir dengan kondisi, Nona."


Lisha tersenyum lalu berkata, "Terima kasih sudah perhatian dengan saya."

__ADS_1


Pelayan wanita itu juga membalasnya dengan tersenyum.


Lisha menghentikan suapan ketiga, tubuhnya mulai beraksi. Wajahnya memerah, ia memegang ujung meja agar bisa menyeimbangkan badannya.


"Nona!" Pelayan tersebut mendekat.


Pelayan lain berlari memanggil Ezaz. Tak lama kemudian keduanya muncul.


Lisha sudah lemah dalam pelukan wanita itu.


Ezaz menggendong tubuhnya dan membawa istrinya ke kamar.


Mengangkat kepala Lisha dan memberikannya minuman.


"Terima kasih," ucap Lisha.


"Kenapa berani makan pedas jika memiliki alergi?"


"Aku lagi ingin, Zaz."


"Apa kau tidak memikirkan janin dalam perutmu itu?"


Lisha tertunduk bersalah.


......................


Talisha kembali memuntahkan isi perutnya pagi ini. Ezaz hanya memperhatikannya dari kejauhan sembari menyeruput tehnya.


Selesai membuang cairan di wastafel, pelayan menyuguhkan teh jahe hangat. Talisha pun menyesapnya perlahan.


"Jika tak sanggup ke kantor lebih baik di rumah saja," ujar Ezaz.


Lisha tak mendengarnya, ia malah mempercepat meminum teh jahenya dan bergegas menuju mobilnya.


Tubuh Lisha memang belum terlalu fit untuk ke kantor, namun ia malas berlama-lama di dalam kamar. Ia mengelus perutnya, "Nak, hari ini Mama akan bekerja jadi kamu harus tetap tenang, ya!"


Mobil berjalan pelan menuju kantor Mira Grup, tiba-tiba berhenti.


"Kenapa?"


"Saya tidak tahu, Nona." Sopir pun turun dari mobil dan memeriksa bagian mesin.


Tak lama kemudian ia masuk ke dalam mobil dan mengendarainya kembali.


Ezaz yang baru saja tiba di kantor merasakan perasaannya tak nyaman. Ia meminta Dika mengambilkan air mineral.


Meraih botol pemberian asistennya dan menenggaknya, perasaannya masih terasa cemas.


"Tuan, apa yang terjadi?" Dika melihat Ezaz memegang dada.


"Aku juga tidak tahu, Dika."


"Apa anda sakit?"


Ezaz menggeleng.


"Lantas kenapa?"


"Aku pun tak mengerti," jawabnya.


"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit untuk memastikan kesehatan anda?"


"Tidak perlu," Ezaz menolaknya. "Kamu boleh pergi," lanjutnya.


"Baiklah, Tuan."


Ezaz berusaha tetap tenang dan mengerjakan tugas-tugasnya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ia menjawabnya.


Wajah Ezaz berubah menjadi panik, ia lantas meraih kunci dan bergegas keluar dari ruangan.


"Tuan, anda mau ke mana? Sejam lagi kita rapat," ujar Dika.


"Tunda dan kau ikut aku!" perintahnya. Ezaz melangkah dengan cepat.


Dika pun bergegas menyusul.


Sesampainya di mobil, Ezaz duduk di samping pengemudi lalu memerintahkan asistennya melajukan kendaraannya.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi, Tuan?"


__ADS_2