
"Apakah kau ingin terus menggenggam tanganku?" Sindir Talisha kepada suaminya sesampainya mereka di mobil.
Dengan cepat Ezaz melepaskan genggamannya.
Talisha tertawa kecil melihat ekspresi suaminya yang gugup.
"Cepat masuk!" Titahnya.
"Iya, suamiku," Talisha tersenyum begitu manis.
Perjalanan menuju rumah, keduanya saling diam. Hanya Talisha yang sesekali melirik wajah suaminya dengan tersenyum.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Tidak ada," jawabnya.
Ezaz kembali memilih diam.
"Kapan aku kembali bekerja?" Tanyanya.
"Besok pagi."
"Syukurlah!" Talisha tersenyum girang.
"Sepertinya kau sangat senang sekali menjadi seorang artis," ujar Ezaz.
"Ya, aku sangat senang daripada mengurus perusahaan," ungkapnya.
"Kenapa kau tidak mau? Bukankah itu perusahaan milik orang tuamu?"
"Dari mana kau tahu itu perusahaan orang tuaku?"
"Dena," jawab Ezaz cepat, ia tak ingin ketahuan kalau sebenarnya dia sudah tahu tentang keluarga istrinya.
"Dasar mulut wanita satu itu, tak bisa diam!" gerutunya.
"Kau belum menjawab pertanyaan aku?"
"Mereka tidak memberikan kesempatan untukku belajar dan bekerja di perusahaan jadi aku lebih baik memilih menjadi artis."
Ezaz mengangguk pelan tanda paham.
"Jadi, besok aku akan bekerja di mana?"
"Sesuai bidangmu sebagai bintang iklan," jawabnya.
"Memangnya perusahaan milikmu bergerak di bidang apa?"
"Makanan dan minuman."
"Apa nama perusahaannya?"
"EA Food."
"Oh," ucapnya singkat. "Pertama kali aku melihatmu, wajahmu mirip pria brengsek itu!" lanjutnya.
"Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya," Ezaz membantahnya.
"Aku hanya mengatakan mirip, jadi kau tak perlu marah," ujar Talisha mengerucutkan bibirnya.
Kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah. Ezaz lebih dahulu turun dan disusul istrinya di belakangnya.
Talisha berganti pakaian, ia menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek menampakkan paha mulusnya. Ia berjalan ke arah meja makan dan bersiap menikmati hidangan.
Ezaz muncul dengan pakaian rapi dan membawa koper.
"Kau mau ke mana?" Talisha menghentikan berkunyah.
"Aku mau ke luar kota."
"Jadi, aku sendirian di rumah?"
"Ya."
"Baguslah, aku akan menyuruh Dena kemari untuk menemaniku."
"Kau tidak boleh membawa orang lain ke rumah ini!" Ezaz berkata tegas.
__ADS_1
Talisha memanyunkan bibirnya.
Ezaz melihat pakaian yang dikenakan istrinya. "Apa kau tidak memiliki pakaian lain selain ini?"
"Punya tapi kebanyakan di tempat tinggal aku yang lama."
"Aku tidak suka kau berpakaian seperti ini lagi!"
"Di rumah ini cuma kita berdua jadi kau tak perlu khawatir tubuhku dilihat pria lain," ujar Talisha.
"Kau merusak pemandangan aku saja!" Ezaz menarik kopernya berjalan ke pintu keluar rumah.
Talisha mempercepat langkah kakinya, "Tunggu!"
Ezaz membalikkan tubuhnya, "Ada apa lagi?"
Talisha meraih tangan suaminya dan mencium punggungnya.
Ezaz yang merasa tangannya dikecup sejenak terkesima.
"Aku melihat teman-temanku melakukan ini kepada para suaminya," ujar Talisha tersenyum.
"Tapi, aku hanya suami bohonganmu."
"Aku tidak menganggapmu seperti itu. Pernikahan ini sah bagiku dan sangat sakral, terserah dirimu bagaimana menilainya."
Ezaz terdiam mendengar penjelasan dari istrinya.
"Sudah sana pergi, jangan lama pulangnya. Aku takut sendirian di rumah sebesar ini," ungkapnya.
"Jangan mengatur urusan aku!"
"Iya, maaf," Talisha kembali melemparkan senyum.
Ezaz menaiki mobil dan meninggalkan rumahnya.
Talisha pergi ke dapur menghampiri pekerja di rumah itu, "Apa aku boleh bertanya pada kalian?"
"Tanya apa, Nona?" Wanita berusia 40 tahun menyahut pertanyaannya.
"Apa kalian tahu siapa orang tuanya Ezaz?"
"Begitu, ya."
"Ya, Nona. Kalau begitu saya pamit pulang," izinnya.
"Kenapa kalian pulang?"
"Selama Tuan Ezaz di rumah, kami diperbolehkan pulang," jawabnya lagi.
"Tapi, saya sendirian di rumah," ujar Talisha.
"Tuan Ezaz yang menyuruh kami tetap pulang."
Talisha menghela nafas pasrah. "Ya sudah," ia memaksakan senyumnya.
-
-
Malam harinya, selesai makan Talisha mengedarkan pandangannya sekelilingnya. Bulu kuduknya mulai merinding. Ia lantas pergi ke kamar dan menghubungi Dena untuk menemaninya mengobrol walaupun hanya lewat gawai.
Pukul 9 malam, Talisha mengakhiri panggilannya karena baterai ponselnya melemah.
Selesai menelepon, Talisha meraih remote televisi dan memutar siaran drama. Ia mulai menikmati acara media elektronik itu.
Karena sudah terlalu lelah menonton televisi, ia akhirnya tertidur.
Ezaz tiba di rumah pukul 12 malam, sebagian lampu di beberapa bagian tampak padam. Ia mendengar suara televisi dari kamar istrinya. Ia mencoba memanggilnya namun tak ada sahutan.
Ezaz memberanikan diri memasuki kamar istrinya, ia melihat Talisha sedang terlelap tidur.
Meraih remote di ujung ranjang lalu mematikan televisi yang masih menyala. Sejenak memandangi wajah istrinya dan memperbaiki selimutnya.
Ezaz membalikkan badannya hendak menuju keluar.
"Tolong, jangan sakiti aku. Apa salahku?" Dengan suara terisak.
__ADS_1
Ezaz kembali menatap istrinya. Ia pun mendekatinya.
Talisha tampak berkeringat, "Ku mohon pergilah!" Mengigau.
Perlahan tangan Ezaz menyentuh wajah istrinya. "Lisha!" Panggilnya pelan.
Talisha pun terdiam dan kembali tertidur nyenyak.
Ezaz berdiri lalu pergi menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia membersihkan diri setelah itu merebahkan diri. "Apa dia selalu bermimpi seperti tadi?" Gumamnya.
...----------------...
Talisha sengaja bangun pagi, ia akan menyiapkan sarapan buat suaminya. Ya, hari ini ia memasak nasi goreng dengan toping telur ceplok dan sosis. Karena menurut ART, Ezaz senang dengan menu makanan itu.
Talisha tersenyum ketika masakannya selesai ia masak. Kini ia menghidangkan 2 piring di atas meja.
Ezaz pun mendekati meja makan.
Talisha melemparkan senyuman lalu menyapanya, "Pagi, suamiku!"
Ezaz tak membalasnya.
"Pagi ini aku membuatkan sarapan untukmu. Mari kita makan bersama!" Talisha menarik kursi buat suaminya.
Ezaz duduk lalu menatap nasi goreng yang ada dihadapannya kelihatannya sangat enak.
"Aku jamin, kau pasti menyukainya," Talisha memuji dirinya sendiri.
Ezaz mulai mencicipinya, satu suapan ia berhenti dan berusaha menikmatinya. Lalu memasukkan kembali ke dalam mulutnya.
Talisha menunggu komentar dari suaminya dengan cara menatapnya.
"Kenapa kau tidak makan?"
"Ini aku mau makan!" Talisha menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Ezaz masih menikmati nasi goreng buatan istrinya.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak," jawab Ezaz tanpa sadar.
"Terima kasih," Talisha tersenyum senang lalu melanjutkan makannya dengan semangat.
Ezaz terbengong, ia tak sadar telah memuji masakan istrinya.
"Aku boleh pergi bersamamu?"
"Tidak."
"Suamiku, masa kamu tega membiarkan aku ke perusahaan seorang diri. Mobilku tidak di sini dan ku juga tak tahu di mana tempat dirimu bekerja," ujar Talisha.
"Kau bisa pergi dengan di antar sopir," sarannya.
"Suamiku, tolonglah!" Talisha berdiri dan berjalan lalu duduk di sebelah Ezaz menarik lengan baju pria itu.
"Aku tidak bisa, jangan menganggapku sebagai suami sungguhan," Ezaz mengingatnya.
"Suamiku, terserah dirimu berpikir apa. Anggap saja aku temanmu meminta tolong. Bisa, kan?" Talisha menunjukkan wajah memohon.
"Baiklah, cepat ganti pakaianmu!" Ezaz akhirnya mengiyakan permohonan istrinya.
Talisha tersenyum senang, dengan hati riang ia pergi ke kamar dan mengganti pakaiannya.
Beberapa menit kemudian, Ezaz terus menatap jam di ponselnya. "Kenapa dia lama sekali?"
Dua puluh menit kemudian, Talisha keluar dari kamar dan menghampiri suaminya. "Ayo kita pergi!"
Ezaz memperhatikan pakaian yang digunakan istrinya. Dress berwarna coklat di atas lutut tanpa lengan tangan tampak sedikit belahan dada. Memakai anting dan rambut di kuncir.
"Kenapa ada yang salah dengan pakaian aku ini?"
"Ganti!" perintahnya.
"Aku terbiasa dengan pakaian seperti ini," jelas Talisha.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak suka!"