Marry The Star

Marry The Star
Bab 14-Kembali Sibuk


__ADS_3

Pagi ini Talisha sangat bersemangat karena dirinya telah menjadi seorang direktur di perusahaan.


"Sepertinya kau begitu bahagia," celetuk Ezaz.


"Ya, hari ini aku akan menjabat sebagai pemimpin perusahaan sekaligus hari ini akan bertemu dengan para pemain drama yang di mana aku menjadi bintang tamunya," ungkap Talisha menggebu-gebu.


"Pasti kau akan sangat sibuk di luar rumah," ujar Ezaz.


"Ya, begitulah," Talisha menyuapkan nasi ke dalam mulut.


Ponsel Talisha berdering ia melihat nama yang tertera lalu mengangkat dan menjawabnya. "Halo, Ma!"


Ezaz berusaha mendengar pembicaraan istrinya itu.


"Nanti aku akan memberitahunya, sampai jumpa," Talisha menutup teleponnya.


Ezaz diam dan tak mau bertanya.


"Orang tuaku mengajak kita makan malam. Apa kau mau?"


"Boleh juga."


"Mereka juga mengundang orang tuamu," ujar Talisha.


"Mereka tidak di negara ini," jawabnya berbohong.


"Baiklah, aku akan memberi tahu mama," ujar Talisha melanjutkan sarapannya.


Ezaz tersenyum sinis.


-


Mira Grup


Karyawan menyambut kedatangan Talisha sebagai direktur baru di perusahaan tempat mereka bekerja.


Talisha di dampingi pria yang masih muda sebaya dengan suaminya. Selama ini ia bertugas sebagai asisten papanya.


Pria itu melayaninya dengan sangat baik. Walaupun terlihat sangat dingin Persia seperti suaminya.


"Apa semua pria tampan sangat dingin?" Talisha membatin.


"Nona, jika ada yang ingin ditanyakan. Jangan sungkan untuk bertanya," ujarnya sebelum meninggalkan ruangan.


"Oh, tentunya," Talisha tersenyum.


Pria yang bernama Dito itu pun pamit keluar.


Meskipun belum ada penyerahan jabatan secara resmi namun Talisha sudah mulai menjalankan pekerjaannya.


-


-


Sepulang kerja, "Apa Nona ingin saya antar pulang?" Dito menawarkan diri.


"Tidak usah, saya dengan sopir pribadi saja yang sudah di siapkan suami," jawab Talisha.


"Baiklah kalau begitu, Nona." Dito tersenyum hormat.


Talisha pun membalas senyumannya kemudian ia meninggalkan gedung kantor menuju lokasi syuting drama yang akan dibintanginya.


Dena lebih dahulu tiba, tak lama kemudian Talisha pun datang. Berbincang dengan sutradara dan beberapa pemain serta di berikan naskah ia perlahan membacanya dan mendengarkan arahan dari sutradara mengenai peran yang ia mainkan.


Rencananya syuting akan dilakukan saat hari Sabtu dan Minggu karena ia libur bekerja. Lagian juga Talisha sebagai bintang tamu jadi scene untuknya tak terlalu menyita waktunya.


Pukul 9 malam, Talisha pun tiba di kediaman suaminya. "Sepertinya dia belum pulang, syukurlah." Dalam hatinya.

__ADS_1


Talisha pun pergi ke kamarnya.


...----------------...


Talisha melakukan rutinitas sehari-harinya. Namun, pagi ini ia tak melihat keberadaan suaminya.


"Apa Tuan sudah bangun?" Tanyanya kepada salah satu pelayan.


"Tuan tidak pulang malam ini, Nona."


"Dia ke mana?"


"Saya tidak tahu, Nona."


"Oh, ya sudah," Talisha tersenyum tipis.


Ia pun melanjutkan pekerjaannya hari ini berangkat ke kantor lalu sore harinya kembali ke rumah membaca naskah karena lusa ia akan mulai syuting.


Menjelang malam, tanda-tanda suaminya pulang belum tampak. Ia pun tak mau ambil pusing. Ia memilih kamar sebagai tempat mengusir rasa bosan dan jenuhnya.


Terbangun pukul 1 malam dan keluar kamar ia melihat Ezaz baru saja pulang.


Pria itu tersentak kaget kala berpapasan dengan istrinya.


"Baru pulang?" Tegur Talisha.


Ezaz memilih mendiamkannya.


"Dari mana saja?" Tanya Talisha lagi.


Ezaz tak menjawab.


"Ya sudahlah," Talisha memilih pergi ke dapur.


Talisha kembali ke kamarnya dan berusaha memejamkan matanya. Namun, tak bisa ia turun dari ranjang dan keluar.


Ia mendengar suara deritan pintu dari salah satu ruangan, penasaran ia berjalan ke arahnya.


Dengan memberanikan diri, Talisha masuk ke ruangan itu.


Ezaz sadar kehadiran istrinya lantas bergegas menutup laptopnya. "Sedangkan apa kau di sini?" Hardiknya.


"Aku melihat ruangan ini terbuka," jawab Talisha santai.


"Jadi, sesuka hatimu masuk ke ruangan ini tanpa seizin ku?" Sindirnya.


"Sorry."


"Sekarang keluar!" Pintanya dengan nada dingin.


Talisha pun keluar tanpa membantah.


...----------------...


Pukul 6 pagi, Talisha sudah bersiap-siap berangkat ke lokasi syuting. Ezaz yang baru ingin keluar untuk berolahraga menatap heran istrinya yang membawa tas besar.


"Kau mau ke mana?"


"Aku mau syuting," jawabnya.


"Sebanyak itu membawa perlengkapannya?"


"Ya, kemungkinan akan pulang malam hari," jawabnya.


"Oh."


Talisha pun pergi berpamitan kepada suaminya.

__ADS_1


Ezaz melanjutkan langkah kakinya keluar rumah untuk berolahraga. Setelah itu dirinya melanjutkan sarapan.


-


Berhubung hari libur, Ezaz memilih menemui kedua orang tuanya. Selama mereka menikah ia tak pernah mengenalkan istrinya kepada keluarga besarnya.


Walaupun kedua orang tuanya memaksakan ingin bertemu dengan Talisha, ia tetap tak mau.


Ezaz berpikir untuk apa mengenalkan seseorang yang tidak ia cintai kepada keluarga besarnya. Itu hanya membuat Talisha semakin besar kepala dan bangga.


Cintanya hanya untuk Melia, wanita yang sudah mencuri hatinya 3 tahun yang lalu. Mereka sudah menjalin hubungan serius selama 2 tahun belakangan ini, namun karena urusan karir dan cita-cita terpaksa Ezaz melepasnya pergi ke luar negeri setahun lalu.


Melia, wanita pekerja keras ia tak mau di cap sebagai model yang hanya mendompleng nama besar kekasihnya. Ia ingin membuktikan kepada pada pembencinya kalau dirinya mampu.


Ezaz masih menatap foto kekasihnya di ponsel. "Aku masih mencintaimu, Melia!"


Dika dapat melihat wajah atasannya itu dari kaca spion. "Apa Tuan merindukannya?"


"Ya," jawabnya lirih.


"Sepertinya Nona Melia akan tiba di negara ini seminggu lagi, sedangkan misi kita menghancurkan keluarga Nona Talisha belum berhasil," ujar Dika.


"Melia seminggu lagi ke sini. Bukankah dia mengatakan kalau akan kembali dua bulan lagi?"


"Masalah itu saya tidak tahu, Tuan."


"Bagaimana jika Lisha tahu hal ini?" Ezaz tampak bingung. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.


"Bukankah Nona Melia sudah tahu anda menikah?" Dika balik bertanya.


"Ya, aku tahu. Tapi, bagaimana Lisha tahu dari Melia yang sebenarnya?" tampak khawatir.


"Anda harus bergerak cepat, sebelum Nona Melia mengatakannya," saran Dika.


"Ya, kau benar."


-


-


Ezaz tiba di rumahnya pukul 10 malam namun istrinya belum juga pulang. Talisha tadi pagi berangkat bersama Dena. "Kenapa jam segini dia belum pulang juga?"


Ezaz pun memilih ke kamarnya, ia menghubungi Melia yang masih berada di luar negeri. Ia ingin memastikan apa benar wanita itu akan kembali ke tanah air.


"Hai, sayang. Kamu apa kabar?" sapa Melia dari kejauhan melalui panggilan video telepon.


"Aku baik-baik," Ezaz tersenyum begitu hangat.


"Apa istrimu tidak di rumah?"


"Dia sedang di luar lagi syuting," jawabnya.


"Baguslah kalau dia lagi di luar, itu artinya kalian tidak sering berjumpa dan itu hanya membuat aku semakin cemburu," ujar Melia.


"Melia, aku dan dia tidak saling mencintai. Jadi, kamu jangan khawatir," Ezaz berusaha menyakinkan.


"Bagaimana aku tidak khawatir? Kekasihku menikahi wanita lain, di saat aku lagi jauh. Kalian tidak satu kamar, kan?"


"Tidak, Melia. Aku ingin menjaga perasaan kamu," jelas Ezaz.


Cahaya lampu dari arah pagar memantul di jendela kamar Ezaz, ia mengintip dari sela-sela gorden ternyata istrinya yang datang.


"Siapa, sayang?" tanya Melia.


"Dia sudah pulang, besok kita lanjutkan lagi."


"Tapi, aku masih rindu kamu," Melia merengek manja.

__ADS_1


"Melia, jangan sampai dia tahu hubungan kita," mohonnya.


"Ya, baiklah. Sampai jumpa," Melia menutup teleponnya.


__ADS_2