Marry The Star

Marry The Star
Bab 37 - Memberikan Pengakuan (Selesai)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


Ezaz mendatangi kediaman orang tuanya, hadir juga Galvin dan istrinya.


Ezaz datang bersama istrinya, mereka berenam duduk di ruang tamu.


"Apa yang ingin kamu katakan, Zaz?" tanya Silvia.


"Ada beberapa hal yang akan aku katakan, selama ini Mama dan Papa tidak pernah tahu alasan aku menikahi Lisha," jelas Ezaz.


Silvia dan suaminya saling pandang.


"Aku menikahi Lisha karena ingin membalas rasa sakit hati Mama pada seorang pria," ujar Ezaz.


"Lama kelamaan aku jatuh cinta kepada istriku ini, selama menikah dia selalu mendapatkan teror dan serangan sehingga kami harus kehilangan calon buah hati kami."


Lisha mengarahkan pandangannya kepada suaminya kemudian menggenggam tangannya.


"Lisha selalu berkorban untukku hingga ia hampir kehilangan nyawanya karena menghadang peluru yang di tembakkan ke arahku oleh ayah kandungku sendiri!"


Silvia yang awalnya melipat kakinya, mengganti posisi duduknya. "Maksudnya?"


"Aku sudah menemukan Papa Radit, Ma."


Silvia menggelengkan pelan kepalanya.


Leo melihat ke arah istrinya.


"Papa sudah menikah dan istriku ini yang merawatnya adalah dia," ujar Ezaz.


"Zaz, Mama tak mengerti dengan ucapan kamu!" ucap Silvia.


"Papa Radit dan istrinya selama ini yang mengurus dan merawat Lisha, Ma."


"Jadi, istrimu anaknya Radit?" tanya Leo.


"Bukan, Pa. Istriku adalah anak yatim-piatu, kebetulan istri Papa Radit pernah menikah dengan ayah kandungnya Lisha."


"Kenapa kamu menginginkan menikah dengannya?" tanya Leo.


"Aku pikir mereka menyayangi Lisha sehingga dengan menyakiti perasaannya bisa membuat kedua orang itu merasa marah dan benci ternyata semua berbeda. Mereka menginginkan harta yang dimiliki istriku."


"Kenapa kamu tidak mengatakan jika menantuku ini adalah anak yang dirawatnya?" tanya Silvia.


"Aku tak mau, Mama merusak rencanaku!"


"Dasar bodoh!" ucap Silvia. "Kenapa kamu sampai menyakiti dan melukai perasaan menantuku hanya untuk membalaskan rasa sakit hatiku?"


"Aku minta maaf, Ma. Tapi, akhirnya ku sadar jika dari awal Lisha mencintaiku bahkan dia berusaha menjadi istri yang baik," Ezaz menatap wanita yang ada disampingnya sambil tersenyum.


"Apa Papa kamu tahu jika dirimu adalah anak kandungnya?" tanya Leo.


"Tidak, kami belum sempat memberitahunya karena Lisha sudah keburu di tembak," jawab Ezaz.

__ADS_1


"Aku juga ingin memberitahu kalian lagi tentang siapa istrinya Ezaz," ujar Arum.


"Apa itu, Kak?" tanya Silvia.


"Beberapa tahun lalu suamiku terlibat kecelakaan dengan sebuah mobil yang dikendarai Lisha, beruntung gadis itu tidak mengalami cedera sedikit pun. Namun Galvin mengalami luka serius, ia menawarkan untuk mendonorkan darahnya sebagai permintaan maaf dan ia bersedia bertanggung jawab."


"Akhirnya, Galvin menerima darah dari Lisha. Beberapa hari kemudian ia datang untuk mendonorkan darahnya kepada Silvia yang sedang menderita anemia, ia lakukan karena aku memaafkannya. Setelah itu kami tak pernah berkomunikasi lagi, karena aku tidak tahu jika Lisha adalah seorang artis."


"Ketika Ezaz menikah aku tak sadar jika wanita yang ia nikahi gadis yang menolong suami dan adik iparku."


"Kenapa tidak bisa tahu lagi Ezaz, jika kamu menikahi seorang malaikat?" tanya Silvia.


"Maafkan aku, Ma."


"Mama harus menghukummu!" ucap Silvia.


"Ma, aku sudah mengaku salah. Jangan hukum aku!" pintanya.


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengannya, Silvia?" tanya Galvin.


"Tidak, Kak. Aku tak mau melihat wajahnya lagi!" jawab Silvia tegas.


"Tapi, dia harus tahu jika Ezaz adalah putranya," ucap Galvin.


"Biarkan kami saja yang berbicara," saran Lisha.


"Terserah kalian, tapi Mama tak mau bertemu dengannya," ucap Silvia.


...----------------...


Lisha dan Ezaz kini duduk berhadapan dengan Radit.


"Untuk apa kalian lagi ke sini?"


"Kami hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada Papa," jawab Lisha.


"Menyampaikan apa?"


"Aku telah bertemu dengan Silvia Rosa dan putranya kini menjadi suamiku," jawab Lisha lagi.


Radit tampak terkejut, "Tidak mungkin!"


"Aku adalah putramu yang tak diakui," ujar Ezaz dingin.


"Kalian pasti berbohong!" sentaknya.


Ezaz lalu menunjukkan beberapa lembar foto-foto kebersamaannya dirinya dengan Silvia.


Radit yang melihatnya mimik wajahnya berubah, ia menatap Ezaz dengan sendu.


Ezaz lalu berdiri berusaha menahan rasa emosi, rindu dan sedih yang menjadi satu di dalam hatinya. "Ayo kita pulang, Lisha!"


"Jangan pulang, Zaz. Papa ingin memelukmu!" ucap Radit.

__ADS_1


Ezaz tak menghiraukannya, ia pun berjalan lebih dahulu. Lisha bergegas menyusulnya tanpa berpamitan kepada Radit.


Di dalam mobil Ezaz tampak dingin, Lisha yang duduk di samping suaminya menyentuh bahu pria yang menatap ke arah luar.


Ezaz pun menoleh, ia lalu memeluk istrinya dan menangis.


Lisha mengelus pundak suaminya.


"Kenapa rasanya sesakit ini ketika dia harus tahu semuanya?"


"Itu lebih baik, Zaz. Daripada menyimpannya," jawab Lisha.


Ezaz melepaskan pelukannya, menatap istrinya.


Lisha menghapus air mata suaminya.


"Terima kasih," ucapnya.


"Jangan bersedih lagi, mana Ezaz yang dingin dan sombong," sindir Lisha.


Ezaz tertawa kecil.


"Ayo kita pulang!" ajak Lisha.


"Kenapa buru-buru?"


"Aku sudah lapar," jawab Lisha.


"Baiklah, aku juga sudah rindu dengan masakanmu!"


Maklum, hampir sepekan ini pasca penembakan terjadi. Lisha tak bisa melakukan aktivitasnya secara lancar termasuk memasak.


Makanya Ezaz begitu semangat ketika istrinya kembali bisa memasak.


Selama perjalanan pulang ke rumah, Ezaz tak hentinya mencium punggung tangan istrinya. Ia begitu sangat bahagia bersama wanita itu.


(End)


...----------------...


Terima Kasih Buat Dukungannya Walaupun Jadwal Update Tak Menentu.


Sekali Lagi Terima Kasih Banyak...


Jangan Lupa Mampir ke Karyaku yang Lainnya Berjudul :


- Pesona Ayahku


- Fall in Love From The Sky


- Menikahi Putri Konglomerat


Happy Selalu 🌹

__ADS_1


__ADS_2