Marry The Star

Marry The Star
Bab 36 - Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Lisha terbangun. Ezaz yang menyadari tubuh istrinya bergerak bergegas mendekatinya.


"Lisha!" sapanya dengan senyuman.


"Zaz, kau tidak apa-apa 'kan?"


"Aku baik-baik saja," Ezaz kembali tersenyum.


"Syukurlah!" Lisha tersenyum samar di balik bibirnya yang pucat.


"Apa kau ingin sesuatu?"


"Aku haus, Zaz." Lisha menjawab lemah.


Ezaz membantu istrinya duduk lalu meraih gelas kemudian mengarahkannya ke bibir wanita itu.


Lisha menyeruput air putih beberapa tegukan saja.


"Terima kasih, Zaz!"


Ezaz meletakkan gelas kembali ke nakas.


"Zaz, maafkan mereka 'ya!" ucapnya lirih.


"Kenapa kau yang meminta maaf?"


"Kau hampir saja terluka karena mereka."


"Jika aku tidak di sana, kamu pasti menjadi sasaran kejahatan mereka."


"Ya, memang sungguh jahat. Apa kakek tahu hal ini?"


"Ya, tadi dia datang menjengukmu. Kedua orang tuamu juga sudah ditahan."


"Semoga saja itu bisa membuat mereka jera!"


"Semoga saja," ucap Ezaz.


Lisha kembali merebahkan tubuhnya ia memegang lengan kanannya yang tertembak.

__ADS_1


"Kenapa kau menolongku?"


"Aku akan melakukan hal yang sama kepada orang lain," jawab Lisha.


"Apa kau sudah hebat sehingga menolong orang lain?"


"Aku hanya ingin berbuat baik, Zaz."


"Meskipun harus mengorbankan nyawamu!"


"Mungkin."


"Kau ingin meninggalkan aku sendiri?"


"Bukankah kau tidak menginginkan aku di dekatmu?" balik bertanya. "Semuanya sudah berakhir, Mama Lidya dan suaminya juga telah ditahan, kau sudah melampiaskan dendammu. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan," lanjut mengungkapkan.


"Kau bilang sangat mencintaiku," ujar Ezaz.


"Ya, aku sangat mencintaimu tetapi dirimu tak pernah mencintaiku. Aku tidak bisa memaksa perasaanmu untuk membalas rasa ini karena akan membuatmu tersiksa," Lisha berkata sambil menahan sakit di lengannya.


"Justru, jika kau pergi aku akan tersiksa," ucapnya.


Lisha tertawa kecil.


"Jangan mencoba menghiburku, Zaz!"


"Aku tidak menghiburmu tapi aku serius!" menatap mata istrinya lebih dalam.


Lisha yang mendapatkan tatapan mengalihkan pandangannya.


"Jangan pernah pergi meninggalkan aku!"


Lisha kembali menatap suaminya. "Kau tidak sedang mengigau, kan?"


"Tidak, Lisha. Maafkan aku!"


Lisha mengerutkan keningnya kemudian tertawa lepas.


Ezaz tampak bingung.

__ADS_1


"Aku pikir kau tidak bisa meminta maaf dan menyatakan cinta ternyata...."


Ezaz kelihatan salah tingkah.


"Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit ini?"


"Aku tidak tahu."


"Aku tak sabar ingin bergelut denganmu!" Lisha tersenyum.


Ezaz juga tersenyum, ia lalu memberikan kecupan di kening istrinya. "Aku mencintaimu!"


Lisha mendorong tubuh suaminya, "Kau mencintaiku karena aku menolong, kan?"


Ezaz menggelengkan kepalanya. "Aku memang sudah jatuh cinta padamu, namun terlambat menyadarinya."


"Aku sudah tahu kau mencintaiku, dari perhatianmu yang selalu khawatir padaku. Hingga kau memberikan pengawal untukku bahkan kau datang cepat ketika aku butuh bantuan," ungkap Lisha.


Ezaz tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke istrinya.


Lisha juga menunggu.


Hendak mendaratkan ciuman di bibir istrinya, pintu kamar terbuka.


"Maafkan Mama baru sempat datang, menantuku!" Silvia membawa keranjang kecil buah.


Ezaz menghela nafas pasrah, mamanya datang disaat ingin mengecup bibir istrinya.


"Mama sendirian?" tanya Lisha.


"Tidak, Papa Leo tadi lagi di parkiran," jawab Silvia. Ia lalu melihat kondisi menantunya. "Kenapa kamu sampai terluka begini? Ke mana saja suamimu?"


"Ma, nanti saja ku jelaskan. Lisha baru sadar," sahut Ezaz.


"Kamu tidak ingin Mama marahi, kan?" tuding Silvia.


"Bukan begitu, Ma."


"Lalu apa?"

__ADS_1


"Ma, biarkan Lisha tenang dan sehat baru aku akan menjelaskan," janjinya.


"Baiklah, Mama akan menunggu janjimu itu!"


__ADS_2