Marry The Star

Marry The Star
Bab 24- Keguguran


__ADS_3

Keduanya tiba di bangunan tua, terparkir mobil yang ditumpangi Talisha di halaman.


Keduanya keluar, kemudian berlari mencari keberadaan Talisha.


Ezaz terus memanggil nama istrinya namun tak ada sahutan. Dika dan beberapa anak buahnya juga menyusuri bangunan itu.


Talisha terlacak berada di tempat ini dari GPS yang terpasang di mobil.


Ezaz mendapatkan telepon dari sopir pribadi istrinya bahwa ada seseorang yang menutup mulutnya ketika ia membuka kap mesin mobil.


Orang lain itu mengganti posisinya menjadi sopir tanpa diketahui Talisha


"Tuan....!" Seorang pria berlari terengah-engah menghampiri Ezaz.


"Apa kalian menemukan istriku?" tanyanya tidak sabar.


"Iya, Tuan. Di sana!" Pria itu menunjuk ke arah selatan bangunan di lantai dasar.


Ezaz pun berlari ke arah yang ditunjuk anak buahnya.


Dan benar saja, Talisha tergantung dengan seutas tali menjerat lehernya. Sebuah kursi sebagai penopang tubuhnya.


Wanita itu berusaha melonggarkan tali di lehernya agar bisa bernafas.


Ezaz berlari menghampiri istrinya. "Lisha!"


Wanita menoleh dan tatapan mengiba.


Ezaz meraih kursi tak jauh dari istrinya tergantung.


Menaiki kursi, menyeimbangkan posisi badan dengan istrinya lalu meminta pisau dari anak buahnya yang sengaja mereka bawa.


Ezaz memotong tali cukup lama karena Lisha terus batuk dan semakin melemah.


Akhirnya tali pun terpotong dan Ezaz menopang tubuh istrinya yang sudah lemas.

__ADS_1


"Zaz, perutku sakit sekali!" ucap Lisha terbata.


"Tuan, darah!" ucap Dika dengan suara sedikit keras karena terkejut melihat cairan berwarna merah mengalir.


Ezaz melihat ke arah kaki istrinya, dengan sigap ia menggendong Talisha yang terus menangis.


Mobil dikemudian sangat cepat, rumah sakit terdekat dari bangunan tua itu hanya berjarak 2 kilometer.


-


Ezaz menunggu Talisha yang sedang terlelap tidur. Ia terpaksa merelakan kehilangan calon bayi mereka karena istrinya itu mengalami keguguran.


Lisha belum mengetahui yang sebenarnya karena begitu sampai di rumah sakit ia sudah tak sadarkan diri.


Dokter tidak melakukan penguretan karena usia kehamilan Lisha belum memasuki 10 minggu.


Lisha terbangun 2 jam kemudian, ia mengedarkan pandangannya sekelilingnya. Suaminya tertidur di sofa, ia hendak berdiri dan memegang perutnya yang terasa aneh. "Zaz!"


Pria itu terbangun.


Dan benar, Ezaz terbangun ia mengucek matanya. Lantas, berdiri mendekati istrinya.


Talisha duduk lalu menangis. "Dia sudah membunuh calon bayiku, Zaz!"


Ezaz tak tahu mau berbicara apa, memeluk istrinya.


"Zaz, maafkan aku!" Tangisnya semakin meledak.


"Lisha, kamu tenanglah," ujar Ezaz.


"Bagaimana aku bisa tenang? Dia menyeret ku secara kasar, memukul bahkan menyuntikkan cairan ke dalam tubuhku," ucapnya terisak.


Ezaz mengepalkan tangannya.


-

__ADS_1


Pukul 8 malam, Ezaz membawa istrinya keluar dari rumah sakit. Mereka sengaja pulang pada malam hari untuk menghindari wartawan yang telah berkumpul sejak siang.


Lisha di dorong menggunakan kursi roda.


Sesampainya di rumah, Ezaz membantu istrinya menaiki ranjang.


"Aku mau menemui dan berbicara dengan Dika, jika kau ingin tidur duluan saja," ujar Ezaz.


Talisha mengangguk.


Ezaz keluar kamar dan menemui Dika di ruang kerja miliknya. "Sepertinya mereka semakin berani saja kepada kita," ujarnya.


"Apa mungkin kejadian ini ada hubungannya dengan Dena sahabatnya Nona Lisha?"


"Dena?"


"Ya, wanita itu memiliki dendam kepada Nona Lisha."


"Aku rasa tidak mungkin Dena melakukan hal senekat dan setega itu pada calon bayi kami," ujar Ezaz.


"Bayi kami?" Dika mengerutkan keningnya. "Tuan mengakuinya?" tanyanya.


Plak...satu pukulan melayang di kepala asistennya.


"Kau pikir aku tidak mau mengakui malam laknat itu?"


"Ya, saya pikir Tuan ...."


"Jangan berpikir aneh-aneh tentangku jika kau tak ingin ku potong gajinya!"


"Baiklah, Tuan."


"Awasi dan selidiki Dena!" perintahnya. "Beri laporan segera kepadaku!" lanjutnya.


"Siap, Tuan!"

__ADS_1


__ADS_2