
Ezaz kembali ke rumahnya ketika salah satu pengawal istrinya menelepon dirinya dan mengatakan bahwa wanita itu telah pulang bersama nyonya besar.
Sesampainya di halaman parkir rumah mewahnya, ia keluar dari mobil dan berjalan menghampiri 2 wanita beda usia itu.
"Kenapa Mama tidak memberitahu aku jika ke sini?" mendekati ibu kandungnya.
"Mama selalu meminta kamu membawakan istrimu ke rumah tapi tak pernah mau. Jadi, Mama datang tanpa memberitahumu," ujarnya lalu tersenyum pada Talisha.
"Aku belum sempat dan tidak memiliki waktu," ucap Ezaz.
"Makanya, Mama ke sini menemui kalian. Istri kamu sangat cantik sekali seperti artis," puji Silvia.
"Benarkah, Ma?" Talisha tersenyum.
"Dia memang artis, Ma," ujar Ezaz.
"Ternyata benar, putraku menikahi artis. Padahal dia pernah Mama jodohkan dengan seorang artis tapi ia tolak. Eh, sekarang dia malah menikah dengan artis juga. Kamu main di drama yang mana, ya?" tanya Silvia pada menantunya.
"Saya yang berperan sebagai gadis berkacamata dengan aktor Yoo Jae," jawab Talisha.
"Wah, pria tampan itu!" Silvia tampak antusias.
"Iya, Ma." Lisha tersenyum.
"Ma, cukup bertanyanya. Sekarang kita sarapan bersama," ajak Ezaz.
"Ayo, Lisha. Kita sarapan bersama, lain waktu kita bisa belanja dan keliling dunia bersama," ujar Silvia.
"Wah, aku sangat senang sekali, Ma."
"Nanti Mama akan mengajak kamu!" Silvia beranjak berdiri.
Talisha pun juga.
Ketiganya berjalan ke arah meja makan.
"Kenapa Mama pergi tanpa Papa?" Ezaz menarik kursinya.
"Papa Leo sedang keluar kota bersama Paman Galvin," jawab Silvia.
"Oh," ucap Ezaz.
"Mama dengar, Lisha sedang hamil. Tapi, kenapa tadi berlari-lari pagi?"
Ezaz dan Talisha tampak diam dan saling pandang.
"Ada yang salah dengan pertanyaan Mama?" tanya Silvia.
"Tidak, Ma," jawab Talisha.
"Lisha mengalami keguguran," Ezaz menjawab.
Silvia tak sengaja menjatuhkan sendoknya dan membuat suara piringnya.
"Maafkan aku, Ma," Lisha menundukkan kepalanya merasa gagal.
"Pasti kamu yang sudah membuat Lisha keguguran, kan!" Silvia mengarahkan jari telunjuknya kepada putranya.
"Tidak, Ma," Ezaz membela diri.
"Lalu, kenapa dia sampai keguguran?" tanya Silvia penasaran.
"Ada orang yang sengaja menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Lisha dan menyebabkan janin dalam rahimnya tak bisa di selamatkan," Ezaz menjelaskan.
Silvia lantas memegang tangan menantunya memberikan semangat.
Talisha menatap wajah mertuanya.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Silvia.
"Tidak tahu, Ma," jawab Ezaz.
"Kenapa kamu bisa tidak tahu?" Silvia bertanya lagi.
"Ya, karena memang aku tidak tahu siapa pelakunya, Ma."
"Mama dan Papa akan mencari tahunya," ujar Silvia
"Jangan, Ma!" larang Ezaz.
"Kenapa?" tanya Silvia.
__ADS_1
"Aku takut Mama juga mengalami hal yang sama seperti Lisha," ungkap Ezaz.
"Ada Papa yang selalu melindungi Mama," ucap Silvia bangga.
Ezaz tersudut dengan ucapan Mama Silvia.
"Papa Leo rela melakukan apapun untuk Mama," ujar wanita paruh baya itu.
"Wah, sungguh beruntung sekali punya suami yang begitu mencintai dan menyayangi Mama," puji Talisha.
"Ya, Mama sungguh beruntung memiliki Papa Leo," Silvia tersenyum bangga sembari menatap wajah menantunya.
"Apa Papa Leo cinta pertamanya Mama?" tanya Talisha.
Silvia terdiam sejenak mengarahkan pandangannya kepada putranya lalu kembali menatap menantunya kemudian menggelengkan kepalanya.
"Memang sih, cinta pertama belum tentu menjadi cinta terakhir bagi kita," ujar Lisha.
"Memangnya kamu mempunyai cinta pertama?" tanya Silvia.
"Punya, Ma. Sampai sekarang aku tidak bisa melupakan dia," jawab Talisha tersenyum sendu.
"Benarkah, siapa dia?" Silvia penasaran.
Wajah Ezaz tampak tak suka dengan pernyataan istrinya.
"Dia sudah lama pergi dari dunia ini, Ma," jawab Talisha.
Silvia tersenyum memberikan kekuatan, "Semoga saja Ezaz mampu menggantikan cinta pertamamu itu!"
"Semoga saja, Ma," harap Lisha tersenyum samar.
-
Tiga jam kemudian, Silvia berpamitan kepada anak dan menantunya.
"Mama, aku bakal merindukanmu!" Lisha memeluknya begitu hangat.
"Mama juga," ujar Silvia. "Lain waktu, kamu akan Mama kenalkan dengan Bibi Arum," lanjutnya.
"Ya, Ma."
"Iya, Ma. Aku akan menjaganya," ujar Ezaz.
"Kalau begitu, Mama pamit. Jika ada kesempatan Mama ingin bertemu dengan kedua orang tua kamu, Lisha," ungkap Silvia.
"Mereka sedang tidak di negara ini, Ma," ucap Ezaz.
"Oh, begitu. Ya, sudah lain waktu saja," ujar Silvia.
"Iya, Ma," ucap Talisha dan Ezaz menampilkan senyum memaksa.
"Kenapa kau berbohong pada Mama Silvia?" tanya Talisha pada suaminya selepas mertuanya pulang.
"Kau ingin mereka saling bertemu?" balik bertanya.
"Ya, kenapa tidak?"
"Kau ingin pria itu menjauhkan kita?" Ezaz menatap wajah istrinya.
Talisha mendengar pertanyaan suaminya, malah tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tampak bingung.
"Ya, memangnya kenapa Papa Radit memisahkan kita? Bukankah kau tidak mencintaiku?"
Ezaz terdiam.
"Jujur saja, suamiku," Talisha tersenyum menggoda.
"Aku tidak mencintaimu, Lisha!"
"Benarkah?" Talisha semakin mendekatkan wajahnya pada suaminya.
Ezaz pun tak menghiraukan istrinya dan malah melangkah pergi.
Talisha malah mengikuti suaminya yang berjalan ke arah balkon.
Ezaz duduk sembari memainkan ponselnya menikmati udara menuju siang hari.
Lisha juga duduk berhadapan dengan suaminya.
__ADS_1
"Apa kau tidak memiliki pekerjaan?"
"Seharusnya aku hari ini ke kantor, tapi mertua ku datang jadi malas mau pergi," jawab Lisha. "Apa kau tidak ke kantor?" lanjut bertanya.
"Jawabannya sama."
"Oh," Lisha tersenyum.
"Bisakah kau pergi dari hadapanku?" pinta Ezaz.
"Bisa," Lisha pun pergi.
Sejam kemudian ia keluar dari kamarnya berpakaian sangat rapi dan begitu cantik. Lisha lalu menghampiri suaminya yang masih berada di balkon.
Ezaz memandangi penampilan istrinya dari bawah ke atas. "Mau ke mana?"
"Aku ingin ke kafe. Di sini aku sangat bosan," jawabnya santai.
"Kau mau keluar dengan pakaian seperti ini?" Ezaz melihat istrinya menggunakan dress selutut tanpa lengan dengan rambut di kuncir ke atas.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Ganti!" pinta Ezaz.
"Hei, di mana salahnya?" tanya Talisha.
"Ini sangat terlalu menampakkan tubuhmu!"
"Bukankah ini sangat seksi?" Talisha menggoyangkan pinggulnya.
"Kau sangat begitu buruk!" serunya.
"Hei, bilang saja kau cemburu dan tak mau melihat tubuh istrimu yang seksi ini dilihat pria lain," Talisha menuding.
"Berapa kali aku bilang, kau bukan seleraku!"
"Wah, benarkah? Lalu kenapa kau sampai tergoda padaku waktu itu?"
"Bukankah pria hidung belang begitu juga?"
"Ternyata kau pria hidung belang, sudah berapa wanita yang kau tiduri?"
"Hanya kau!"
"Beruntungnya diriku menjadi wanita pertama menikmati tubuhmu," celetuknya.
"Ya, kau memang sangat beruntung. Sudah cepat ganti pakaianmu!"
"Aku tidak mau!" Lisha tak menghiraukan larangan suaminya dan memilih berlari kecil meninggalkannya.
"Lisha!" teriaknya memanggil.
Talisha tak mendengarnya dan terus melangkah.
Ezaz mengejarnya dan berhasil mendapatkan istrinya dengan sigap ia menggendong tubuh wanita itu, memaksanya ke kamar.
Lisha memberontak, "Turunkan aku, Zaz!"
Ezaz hanya diam dan terus berjalan, begitu sampai ia melemparkan tubuh istrinya ke ranjang.
Talisha berusaha bangkit lalu berdiri dan berlari ke arah pintu, Ezaz menarik perut istrinya dengan lengan tangannya membuat pria itu berhasil memeluknya.
"Zaz, izinkan aku keluar sebentar!" mohonnya.
"Tidak boleh sebelum kau mengganti pakaianmu!" ujar Ezaz.
"Baiklah aku akan menggantinya," ucap Talisha, ia lalu mendorong tubuh suaminya ke ranjang.
Ezaz yang didorong terkejut.
Talisha dengan cepat membuka pakaiannya di hadapan suaminya. Lalu berlari ke arah pintu kamar dan menguncinya, ia tersenyum menatap pria itu.
"Kau mau apa?"
"Kau melarangku pergi, jadi lebih baik kita berdua bersenang-senang," jawab Lisha.
Dengan gerakan cepat Talisha menimpa tubuh suaminya.
"Hei, apa yang kau......?"
Belum selesai bertanya, mulut Ezaz sudah dibungkam oleh Lisha dengan bibirnya.
__ADS_1