Marry The Star

Marry The Star
Bab 32 - Mau Masakan Kau Saja!


__ADS_3

Talisha menyajikan semur daging dan tumis brokoli dihadapan suaminya yang sudah menunggu hampir 45 menit.


"Silahkan dimakan!" Lisha menampilkan senyumnya.


Ezaz mengambil nasi, lauk dan sayur yang dihidangkan.


"Aku mau ke kamar, selamat makan," ucap Lisha berdiri.


"Duduklah dan temani aku makan!" pinta Ezaz.


Lisha mengerutkan keningnya.


"Kenapa masih berdiri? Ayo duduk!"


Lisha kembali duduk.


Ezaz menikmati masakan buatan istrinya. "Dari mana kau belajar memasak?"


"Belajar dari Bi Yal," jawabnya. Bi Yal merupakan juru masak di rumah ini.


"Aku ingin kau memasakkan makanan untukku setiap hari," pinta Ezaz.


"Aku tidak bisa memasak tiap hari, Zaz. Pekerjaanku di luar rumah sangat menyita waktu," ujar Lisha. "Dan aku bisa masak jika hari libur atau memiliki waktu senggang," lanjutnya.


"Tapi, aku mau masakan kau saja!"


"Kau ingin masakan aku? Kau tidak sedang mengigau, kan?"


"Tidak," jawab Ezaz sembari terus mengunyah.


"Apa kau mulai jatuh cinta padaku melalui masakanku?" Lisha menatap suaminya yang begitu lahap.


"Apa aku juga menyukai Bi Yal, karena dia jago memasak?" balik bertanya.


Lisha mengerucutkan bibirnya lalu menyandarkan pundaknya di kursi dan melipat kedua tangannya di dada.


Ezaz mendongakkan wajahnya menatap istrinya lalu tersenyum. "Apa kau butuh pembuktian?"


Lisha menurunkan tangannya lalu menyandarkan dadanya di meja makan. "Maksudnya?"


"Tidak ada!"


Lisha menghentakkan kedua kakinya di bawah meja dan memasang wajah cemberut. "Kau selalu buat aku penasaran saja!"


"Memang hobi ku seperti itu!"


Lisha memiringkan bibirnya. Lalu ia bertanya pada suaminya, "Apa kau sudah tahu siapa pelaku teror di lokasi syuting?"


"Apa ini penting untukmu?"


"Ya, jelas penting. Dia hampir membuat nyawaku melayang, apa kau tidak sedih jika aku pergi?"


Ezaz terdiam sejenak memandang istrinya lalu melanjutkan makannya.


"Mungkin penggemar ku dan Kakek saja yang merasakan kesedihan jika aku pergi dari dunia ini," ujar Talisha.


"Jangan drama lagi, kau sungguh membuat selera makan ku hilang," Ezaz meletakkan sendoknya.


Lisha melihat ke arah piring yang sudah tak tersisa apapun.


Ezaz mengelap bibirnya lalu berjalan ke kamarnya.


"Tak selera tapi habis juga, dasar!" gerutunya. Lisha lantas menyusul suaminya di kamar.


...----------------...


Keesokan paginya, Lisha berangkat ke kantor seperti biasanya bersama Jessica.


Dito juga sudah hadir lebih dahulu di kantor menyapa atasannya. "Selamat pagi, Nona."


"Pagi juga," Lisha tersenyum.


Dito melirik wanita yang ada di sebelah Talisha sembari tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Lisha masuk ke ruangan dan Jessica menunggu di luar.


Dito tersenyum kala kedua mata mereka saling bertemu. "Kau masih mencurigaiku, Nona Pengawal?"


Jessica hanya diam.


"Apa kau tidak ingin minum sesuatu?"


Jessica tak menjawabnya.


"Hei, Nona. Apa kau begitu penasaran dengan aku?"


Jessica hanya memberikan tatapan tajam.


"Astaga, jangan menatapku seperti itu. Buat aku takut," ucap Dito tersenyum menyindir.


Jessica tetap bergeming.


-


Talisha keluar dari ruangannya, berjalan menghampiri pengawalnya. "Suamiku menunggu di parkiran, aku akan makan siang bersamanya."


"Saya akan temani Nona sampai ke parkiran," ujar Jessica.


Talisha pun mengiyakan.


Keduanya berjalan ke parkiran dan Dito menyusulnya beberapa menit kemudian.


Jessica berdiri menatap mobil Talisha dari kejauhan hingga menghilang dari matanya. Setelah itu ia bergegas meninggalkan tempat parkir namun langkahnya terhalang sosok pria yang dicurigainya.


"Apa kau tidak ingin makan siang, Nona Pengawal?"


"Tidak."


"Hei, ayo. Nona Lisha juga sudah aman dengan suaminya, apa kau tidak mengisi perutmu agar bisa menjaganya?"


Jessica sejenak diam, "Aku bisa mengorek informasi tentangnya dengan cara mendekatinya."


"Nona Pengawal, apa kau masih memikirkan sesuatu?"


Dito tersenyum.


Keduanya makan siang di restoran tak jauh dari kantor dan jarang sekali di kunjungi karyawan Lisha yang menghabiskan waktu istirahat di tempat itu.


"Spaghetti bolognese dan air mineral," ucap Jessica pada pelayan.


"Sama sepertinya," sahut Dito.


"Baiklah, mohon di tunggu." Pelayan pun berlalu.


Jessica hanya diam sembari mengedarkan pandangannya.


Dito menatap wanita yang ada dihadapannya sambil tersenyum.


Jessica tampak cuek dengan tatapan yang diarahkan kepadanya.


"Kau sebenarnya cantik, kenapa memilih menjadi pengawal?"


Jessica tak menjawab.


"Kita tidak di kantor, bersikaplah seperti manusia biasanya. Anggap saja kita teman," ujar Dito.


Hingga makanan dihidangkan Jessica tetap masih diam.


Keduanya mulai menyantap makanannya.


"Sudah berapa lama menjadi seorang pengawal?"


"Baru dua tahun," jawabnya dingin.


"Masih terlalu singkat," Dito tersenyum sepele.


"Kau meragukan kemampuanku?"

__ADS_1


"Bukan, orang yang ingin kau jaga dan lindungi adalah seorang artis dan istri pengusaha. Jam terbang pengawal yang menjaganya belum terlalu lama," sindirnya.


"Kau ingin mencari masalah denganku, Tuan?"


"Tidak," jawabnya santai.


"Jangan berbicara apapun jika tak ingin wajahmu babak belur," ucapnya.


Sementara Lisha begitu bahagia suaminya mengajak makan siang bersama dengan kedua mertuanya.


Silvia memeluk menantunya begitu hangat.


Keempatnya memesan makanan sembari menunggu pesanan datang mereka mengobrol.


"Ezaz, sangat baik 'kan padamu?" tanya Silvia pada Lisha.


"Ya, Ma."


"Syukurlah," Silvia tersenyum.


"Kami ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuamu, Lisha." Ungkap Leo.


Lisha menatap suaminya.


"Tidak perlu, Pa." Sahut Ezaz.


"Kenapa, Zaz?" tanya Leo.


"Nanti kalian akan terkejut," jawab Ezaz.


"Mama tak mengerti dengan ucapan kamu, Zaz?" Silvia menatap heran putranya.


"Aku akan mempertemukan kalian, tapi setelah ini jangan pisahkan kami," ujar Ezaz.


Pernyataan Ezaz membuat Lisha tersenyum bahagia. "Aku tahu kau mulai mencintaiku."


"Memisahkan? Memangnya kalian melakukan kesalahan apa hingga kami harus melakukan itu?" tanya Leo.


"Ma, Pa, jangan bicara apapun tentang orang tuanya Lisha. Mari makan saja, ada waktunya kalian akan bertemu dengan mereka," ujar Ezaz.


Silvia dan Leo mengangguk paham.


Makanan disajikan, keempatnya menikmati makan siang bersama tanpa membahas orang tua Lisha lagi. Silvia malah menceritakan masa kecil Ezaz, membuat pria itu sedikit kesal dengan ibunya.


Di lain tempat, Jessica dan Dito selesai makan siang. Keduanya meninggalkan restoran bersama karena menggunakan satu mobil yaitu kendaraan yang mengantarkan dan jemput Lisha.


Ketika Jessica hendak membuka pintu mobil terdengar suara tembakan.


Dito yang berada di samping Jessica menarik tubuh wanita itu untuk jongkok dan berlindung di balik mobil.


Dan benar saja bukan hanya sekali melainkan 2 tembakan sekaligus.


Orang-orang di sekitar berteriak histeris dan panik.


Setelah suasana telah hening, Dito dan Jessica berdiri mengedarkan pandangannya.


Kaca mobil bagian depan dan bagian penumpang sebelah kiri tampak retak terkena tembakan beruntung peluru tak menembus.


Jessica menjepret kaca mobil lalu mengirimkannya kepada pimpinannya.


Mereka tak memberitahu hal ini kepada Ezaz karena sedang bersama orang tuanya dan istrinya.


Takutnya akan membuat Talisha ketakutan dan semakin trauma.


Orang-orang pada berkerumun melihat mobil yang di tembaki.


Tak ingin semakin mengundang orang berkumpul, Dito dan Jessica segera meninggalkan restoran.


"Mereka pikir Nona Lisha ada di dalam mobil ini," tebak Dito.


"Ya, aku berpikiran sama."


"Kau harus berhati-hati, aku sarankan untuk mengganti mobil yang berbeda," usul Dito.

__ADS_1


"Ya, aku akan sampaikan pada Tuan Ezaz. Tapi, terima kasih telah menolongku tadi," ucap Jessica.


"Sama-sama," Dito tersenyum.


__ADS_2