Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Kami Berhadapan


__ADS_3

Hari rabu jam enam malam aku sudah ada di depan rumah Kak Kevin. Tidak salah lagi kalau ini rumahnya. Aku baca sekali lagi alamat yang diberikan Kak Kevin. Rumah Kak Kevin ada di salah satu daerah elit di kota Malang. Pintu gerbangnya besar dan aku jadi merasa kecil di depannya.


Di halaman rumah juga kulihat Peugeot Kevin dengan manis diparkir selain beberapa mobil yang lainnya. Papa kerja keras siang dan malam, satu mobil saja dia tak punya. Tapi Kak Kevin? Mobilnya berjejer – jejer.


Aku tekan tombol di rumah itu dan tidak lama kemudian seseorang datang membukakan pintu. Seorang Ibu setengah baya dengan baju sangat sederhana. Dia tersenyum sopan, akupun balas tersenyum sopan.


“Mbak May?”


“Betul Bu”


“Sudah ditunggu Mas Kevin di ruang tamu.” Bisa kalian bayangkan seorang cowok yang kalian taksir sedang menunggu kalian ?! Aku mengikuti ibu itu memasuki pintu utama ke ruang tamu. Rumah ini rumah besar. Perabotannya indah dan semua tampak mahal. Sebuah lampu kristal besar digantung di langit – langit. Beberapa lukisan bertengger manis di dalam bingkai warna hitam. Sambil berjalan aku sibuk memikirkan apa yang akan aku katakan ke dia nanti. Mungkin ungkapan – ungkapan pintar seperti;


“Rumahmu bagus. Gaya klasik yang kamu usung sangat mewakili kepribadianmu,” Wikksss, mendengarnya saja membuat aku kepingin muntah. Sangat tidak sesuai dengan kepribadianku. Atau kalau tidak begitu aku akan menyapanya seperti ini,


“Selamat sore Kak Kevin, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adikmu,” mungkin itu yang lebih wajar.


Lebih masuk ke dalam kulihat Kevin duduk sambil membaca koran dan segera berdiri mengulurkan tangan padaku. Aku sambut tangannya dan kurasakan kesejukan menjalari tubuhku. Sampai – sampai kurasakan kalau pipiku merona.


“Tidak susah khan cari rumahnya ?”


“Kalau rumahnya kecil pasti sulit cari rumahnya Kak.” Kalimat yang aku persiapkan barusan sama sekali tidak melintas di benakku. Tiba – tiba saja semuanya hilang.


Kak Kevin tersenyum. “Kamu bisa aja May. Duduk dulu May.”

__ADS_1


Aku lalu duduk di salah satu sofa yang ditunjuk Kak Kevin. Sofa ini sangat lembut, empuk. Rasanya aku bisa terperosok ke dunia lain waktu duduk karena saking empuknya. Mungkin sekarang Kak Kevin hanya melihat ujung rambutku karena seluruh badanku rasanya melesak dalam sofa super empuk ini.


“Aku harus beri tahu kamu kalau mungkin saja kamu akan menemui beberapa kesulitan dengan adikku. Tapi jangan khawatir karena sebenarnya dia adalah anak baik yang berhati lembut. Santai saja maka semuanya akan berjalan dengan baik,” Kata Kak Kevin. Tapi sebetulnya aku merasa ada nada agak kuatir dalam caranya berbicara. Dia berbicara terlalu hati – hati, seperti ada yang disembunyikan.


“Ah tidak apa – apa Kak. Aku sudah biasa memberi les pada orang yang berbeda-beda karakter nya. Pasti tidak ada masalah” aku berkata supaya terlihat pintar dan dewasa di depan Kak Kevin. Setidaknya, itulah yang terpikir dalam benakku. Dia harus melihat aku sebagai cewek dewasa percaya diri yang bisa dijadikan pendamping hidup. Eyyaaaaaaa….


“Aku antar ke kamarnya sekarang yah May” Kak Kevin berdiri dan kuikuti. Berjalan melalui ruang makan menuju sebuah tangga dengan pegangan besi yang diberi warna hitam dengan kombinasi emas. Membuatnya tampak kokoh. Rumah ini sangat besar. Luas seluruh rumahku rasanya tidak ada apa – apanya disbanding dengan ruang tamunya. Sekali lagi, aku merasa sangat kecil di sini.


“Ini kamarnya. Aku sudah kasih tahu dia kalau kamu akan datang hari ini. Silakan masuk,” kemudian Kak Kevin berjalan meninggalkan aku. Bagaimana mungkin dia tidak memperkenalkan aku lebih dulu ke adiknya supaya suasananya nanti tidak kaku? Rasanya aneh. Mata ibu yang membukakan pagar tadi juga kurasa aneh. Seakan – akan matanya hendak berkata;


‘betapa malangnya gadis ini.’


Tapi Matahari tidak menyerah dengan mudah. Segalanya harus dicoba dulu. Apalagi ini hanya perasaan yang belum tentu benar. Ku tempelkan telingaku di pintu kamar itu dan aku dengar suara musik yang sepertinya sengaja diputar keras – keras. Setelah beberapa kali mengetuk dan sedikit menggedor, aku dengar suara dari dalam. Suara itu pelan tenggelam dengan suara music yang sangat mengganggu ini.


“Masuk !!!” kasar sekali. tidak enak didengar telinga dan membuatku sedikit berjingkat. Sedikit ragu – ragu tapi aku bulatkan hatiku. Aku tidak boleh mengecewakan Kak Kevin. Harus aku hadapi apa saja yang ada di depanku. Aku pegang handle pintu dan kubuka pintu coklat itu pelahan.


“Siapa kamu ?” Dia bertanya ketus.


“Apa?” aku tidak bisa mendengar jelas apa yang dia katakan.


Cowok itu, adik Kak Kevin, memakai celana pendek dan singlet saja di sana. sepertinya udara ac yang dingin tidak membuat dia kedinginan. Aku rapatkan jaketku.


“Kamu siapa?” dia bertanya lebih keras dan baru aku mengerti.

__ADS_1


“Aku May. Matahari. Aku akan menjadi guru privat bahasa Inggrismu. Apa boleh dimatikan musiknya?” ujarku menunjuk – nunjuk player yang ada di sana. Dia ambil remote lalu dia matikan musiknya. Aku bernapas lega.  


“Oh jadi kamu yang akan ngajari aku Bahasa Inggris?.” Dia memandangiku beberapa saat, mulai dari kaki sampai kepala.


“Kamu sudah pernah ke luar negeri? Kamu pernah sekolah di luar negeri?” dia bertanya ketus. Aku sudah merasa tidak enak. Aku tahan – tahan saja perasaanku. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku di sini, lalu cepat – cepat pergi. Bagaimanapun juga aku sudah janji sama Kak Kevin.


“Belum. Aku belum pernah ke luar negeri. Tapi aku pernah …” belum sempat aku selesaikan kalimatku dia langsung potong,


“Kakakku bilang kalau kau cukup pintar. Tapi bagaimana kamu bisa pintar Bahasa Inggris kalau ke luar negeri saja kamu belum pernah,” dia berkata dingin.


“Aku suka nonton tayangan Bahasa Inggris. Kalau ada bule aku juga berusaha ngobrol sma mereka,” aku mencoba bersabar.


“Nonton aja gak mengalami langsung? Bule – bule itu kasihan kali sama kamu. Bahasa inggris belepotan juga kalau bule datang ke sini pasti maklum,” dia melompat ke atas kasurnya lalu mulai membuka –J buka HPnya seperti aku tidak ada di sana.


“Jadi aku sarankan kau jangan buang – buang waktumu disini karena aku sama sekali tidak butuh orang – orang macam dirimu.” dia berkata seakan – akan marah terhadap sesuatu.


“Maaf ?” aku mencoba bertanya kembali apa maksudnya. Dia sudah banyak menghina aku. Ini adalah kesempatan terakhir buat dia sebelum aku benar – benar meledak di sini.


“Tidak aku sangka Kakakku benar – benar salah memilih orang. Selain bodoh ternyata kau juga mempunyai gangguan pendengaran. Masa bisa aku menerima orang sepertimu menjadi guruku. Aku tahu jalan yang mudah. Anggap saja kau sudah melakukan tugasmu, minta uangmu dari kakaku, dan segera pergi dari sini. Mudah bukan?” kata – katanya ringan sekali. Seakan – akan sudah sering dia mengatakan itu. Dia berdiri, memandangku tepat di mataku. Seperti orang marah dan seperti orang yang menantang berkelahi. Tapi hatiku tertusuk dan aku bukan orang yang sangat sabar. Kami berhadapan, saling bertatapan. May bukan orang yang lemah. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2