Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Kunjungan


__ADS_3

Nenek menanam labu di kebun belakang rumah, sekitar seratus meter dari tempat yang digunakan untuk kolam mujair. Waktu pertama kali aku ke rumah Nenek dulu, aku terkejut mendapatkan kalau ternyata labu tumbuh dari tanaman yang merambat. Selain dagingnya, Nenek sering menyimpan bijinya untuk dibuat kuaci, seperti biji bunga matahari.


Nenek menyuruhku mengambil sebuah labu yang cukup besar. Labu yang kulitnya sudah berubah dari hijau menjadi orange. Nenek ingin membuat kolak dan kue lumpur. Hari minggu seperti ini Nenek masih tidak bisa diam. Dia ingin bekerja terus setiap saat. Aku rasa Nenek mengidap workaholic. Penggilingan padi tampak lengang dibanding hari biasa yang bising karena mesin berjalan. Tidak tampak ada orang bekerja di sawah. Semuanya beristirahat di rumah masing – masing, menonton pertandingan tinju yang disiarkan langsung. Karena tidak semua orang di sekitar sini mempunyai TV, maka jadilah rumah Nenek ramai didatangi orang. Semuanya bapak – bapak yang ingin melihat tinju. Aku sebenarnya ingin ikut lihat juga, tapi tidak tahan karena semua orang disana merokok. Belum lagi kalau mereka tertawa, konser Linkin Parkpun tidak akan seramai mereka.


Kue lumpur dan kolak labu matang setelah beberapa jam sampai pertandingan utama tinju dimulai. Nenek membiarkan bapak – bapak itu mengambil sendiri langsung dari panci. Angin bertiup lembut berusaha mengeringkan tanah yang basah karena hujan semalam. Bapak – bapak masih ramai di depan TV. Hari minggu ini tidak ada sepupuku yang datang ke rumah Nenek. Aku harap tidak ada satupun dari mereka yang datang ke sini selama aku di sini. Aku tidak mau menjalani sakit hati berjam – jam dibanding – bandingkan dengan mereka.


Selesai membantu Nenek di dapur tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku bawa Imelda ke kolam mujair. Siapa tahu dia ingin mandi. Imelda berenang kegirangan di dalam air. Dia berenang ke sana – ke mari. Aku ambil tongkat panjang yang di ujungnya telah diberi semacam keranjang untuk membersihkan kolam dari daun – daun yang mungkin jatuh ke kolam karena angin. 


Nenek datang kepadaku membawa satu piring kue lumpur dan dua mangkuk kolak labu. Dia duduk di sebelahku, di bagian tanah yang sudah kering, mengambil alas daun untuk duduk.


“Kamu suka disini Har ?” mood Nenek sedang baik.


“Suka … kenapa Nenek tanya seperti itu ?”


“Tidak, hanya kadang – kadang aku melihat kamu seperti orang tersiksa ada di sini …” tentu saja aku tidak bisa berkata terus terang kepada Nenek karena batasan – batasan yang pasti kalian mengerti.


“Bukan seperti itu Nek. Hanya May merasa tempat ini terlalu sepi buat May. May sudah terbiasa tinggal di tempat yang ramai.”

__ADS_1


Nenek mengambil sebutir kue lumpur. Dia gigit pinggirnya sebagian. Mengunyah sambil memandang mujair yang sedang berenang.


“Nenek juga merasa seperti itu. Nenek pernah seusia kamu. Nenek pernah cerita khan waktu Nenek masih gadis dulu ?” aku mengangguk. Tanpa diberi tahupun aku tahu kalau semua orang pernah muda sebelum merasakan menjadi tua.


“Dulu Har, banyak orang muda berbondong – bondong ke tempat ini. Orang datang dari tempat – tempat jauh untuk bekerja di perkebunan atau pabrik gula. Banyak yang bisa menabung kemudian memebeli tanah untuk diolah sendiri. Untuk beberapa saat, Nenek merasakan tempat ini tidak benar – benar sepi lagi,” Nenek kembali menggigit bagian pinggir kue lumpur. Bagian yang sedikit gosong selalu lebih enak.


“Tapi sekarang yang terjadi sebaliknya Har. Yang muda – muda enggan untuk tinggal di tempat sepi seperti ini. Berbondong – bondong mereka ingin pergi keluar dari sini. Kebun tebu tidak ada yang mengurus. Banyak yang dijual dijadikan rumah. Yang dulu sawah sekarang sudah berubah menjadi rumah. Yang tersisa hanya orang – orang tua,” siapa yang bisa menyalahkan orang yang ingin pergi dari sini ? Akupun tidak tahan. Kalau tidak terpaksa aku hanya akan ke sini hari sabtu saja. tidak untuk tinggal dalam waktu yang lama. Nenek mengigit lagi kue lumpurnya. Sekarang tinggal separuh. Aku basuh tangan dan aku ambil sebutir kue lumpur. Lezat, tidak kalah lezat dengan yang terbuat dari kentang. Aku mainkan kakiku di kolam, membuat mujair yang tadinya mengumpul sekarang semburat mencari bagian yang lebih gelap.


“Kamu tidak ingin tinggal disini suatu saat nanti ?” bagaimana aku bisa bilang tidak tanpa menyinggung hati Nenek ?


“Ah Nenek. May masih ingin sekolah dulu …”


“Sifatmu mirip dengan sifat Papamu. Keras kepala. Seperti  Nenek juga. Mungkin keluarga kita dipenuhi dengan orang – orang keras kepala yah …” Nenek tersenyum. Aku juga tersenyum, sekadar menyenangkan hati Nenek


“Karena banyaknya orang yang keras kepala di keluarga ini, Nenek sempat berpisah dengan Papa kamu …” Nenek enggan menyendok kolaknya. Tanpa aku tanya, mungkin cerita tentang Mamaku akan aku dapatkan saat ini.


“Kakek kamu ingin Papamu sekolah di kota. Mengambil jurusan pertanian. Kami sama – sama berpikir kalau tanah dan penggilingan yang kita punya ini akan lebih baik kalau ada orang yang berilmu mengelolanya. Yah Papamu itu…” hatiku berdetak sedikit cepat.

__ADS_1


“Papamu waktu itu menentang. Kira – kira sembilan belas tahun umurnya….ah … mungkin lain kali Har” Nenek tiba – tiba pergi ke dapur, meninggalkan aku yang bertanya – tanya. Aku masih penasaran. Tapi aku tidak akan membiarkan hal ini meguasai hidupku. Aku masih punya hidup yang lain dari pada merana setiap hari memikirkan siapa ibuku. Aku tidak begitu memerlukan dia karena segala yang aku perlukan sudah aku dapatkan dari diri Papa. Tiba – tiba saja aku begitu merindukan Papa. Aku ingin cepat – cepat bertemu Papa.


Aku rasakan di saku celanku HPku bergetar. Aku harap ini Papa. Begitu aku lihat nomor yang ada di layarnya aku tahu kalau itu bukan Papa. Ternyata, nomor Jell.


“May, rumahnya di mana sih ? kami sudah di dalam angkot nih !” Yah Tuhan. Kenapa aku bisa lupa begini. Hari ini Jell dan Trisakti datang mengunjungiku. Kami sudah membuat janji sabtu kemarin sepulang sekolah. Mereka berdua ingin menghiburku yang sedang dilanda kesusahan ini.


“Kalian sudah ngelewati pabrik gula belum ?”


“Pabrik gula ?” sepertinya Jell bingung. Aku dengar suara kecil, suara Trisakti bilang “sudah … sudah …”


“Sudah,” kata Jell.


“Kalau gitu bentar lagi deh. Aku nunggu kalian di pinggir jalan. kalau kalian lihat aku langsung berhenti aja !” aku segera pergi ke jalan. Siapa tahu angkot mereka sudah dekat. Benar saja, baru sebentar aku sampai di jalan, sebuah angkot berhenti memmunculkan wajah Jell dan Trisakti yang kepanasan. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2