
“Lebih baik kamu jaga mulutmu itu,” suaraku tertahan karena geram.
“Kamu bahkan bukan siapa – siapaku yang berhak ngomong seperti itu ke aku.”
“Begitu juga kamu tidak berhak ngomong seperti itu ke aku.”
“Aku kira kamu telah membicarakan bayaranmu dengan Kakakku. Secara teknis kamu adalah pegawaiku dan aku bisa melakukan apapun yang kau mau.”
“Tapi tidak dengan aku. Aku katakan satu hal. Kamu,” aku berhenti sebentar untuk mengatur napasku yang sudah memburu ini.
“bahkan aku belum tahu namamu. Kau perlu lebih banyak belajar menghargai orang lain. Di luar sana, di luar rumahmu yang gedhe ini kamu bukan siapa – siapa. Dilihat dari penampilanmu tanpa rumahmu ini aku pikir kau bahkan tidak cocok menjadi sampah!”
“Tahu apa kamu tentang diriku. Dasar cewek!”
“Emang kenapa kalau aku cewek? Aku cewek gini sudah kerja keras ke sana kemari, bukan jadi anak tak berguna macam kamu” aku sangat tidak suka dipannggil begitu. Ucapannya sangat menghina seakan – akan seorang cewek seperti aku adalah sampah.
“Kamu terlalu banyak mulut,” Dia maju sambil meraih pundakku dan mendekatkan bibirnya ke mulutku.
“kurang ajar kamu!” aku berteriak keras sambil menampar pipi kirinya dan menghadiahkan tendangan di perutnya sampai dia mundur beberapa langkah. Kulihat ujung bibirnya berdarah. Air mataku sudah tidak bisa aku tahan. Tadinya aku tidak mau nangis di depan dia. Dia usap bibirnya dengan tangannya.
“Cewek sialan. Apa Ibu kamu tidak pernah mengajarimu bagaimana bersikap di hadapan cowok hah?!”
“Aku tidak punya Ibu !!” Air mataku sudah mengalir tidak dapat dibendung. Meskipun aku tinggal dengan seorang lelaki, maksudku dengan ayahku, bukan berarti aku tidak boleh menangis khan? Kemudian aku berlari menuruni tangga langsung menuju pintu depan.
Kulihat Kak Kevin berdiri di pinggir pintu dengan wajah menyesal.
“Maafkan aku.”
“Jadi ini yang Kakak bilang kalau aku akan menemui sedikit kesulitan?” aku benar – benar marah kepada Kak Kevin. Aku yakin dia mendengar semua yang terjadi di atas karena aku berbicara cukup keras. Mau saja aku tampar dia seperti aku menampar adiknya tadi. Bahkan kalau boleh, aku ingin menampar wajahnya lebih keras.
__ADS_1
“Biarkan aku membayarmu,” dia mengulurkan sebuah amplop kepadaku.
“Kamu mau membayarku atas semua penghinaan ini Kak ?! Aku tidak pernah dihina seperti ini dan aku gak akan membiarkan orang lain menghinaku seperti ini” Aku sedang marah dan aku tidak perlu bersikap manis di hadapan Kak Kevin.
“Kamu Kak, berbuat baik padaku karena kamu sudah merasa bersalah bahkan sebelum menghubungi aku. Kamu tahu kalau akan begini ini jadinya.”
“Maafkan aku May. Aku tidak berhak melibatkanmu dalam masalahku”
“Betul sekali Kak. Kamu sama sekali tidak berhak. Apa kamu pikir dengan ucapan maafmu yang segunung itu kamu bisa membuat perasaanku menjadi lebih baik?!” Aku berkata sambil menangis.
“Kamu juga sama bajingannya dengan adikmu Kak. Aku sama sekali tidak menyangka ternyata kamu seperti itu,” Aku mendorong tubuhnya yang besar dengan kuat.
Dia diam saja. Bahkan memandang wajahku saja dia tidak berani. Dan aku keluar dari rumah itu. Aku sempatkan menendang pagarnya dengan keras. Kerasa sekali sampai kakiku sakit. Lebih baik kakiku benjol daripada hatiku perih. Aku dengar dari belakang gerbang besar sedang dibuka. Kak Kevin menyusulku dengan mobilnya.
“Biarkan aku antar kamu pulang.”
“Tidak perlu. Kamu pikir cewek tidak pantas keluar malam atau jalan sendiri di tempat sepi khan ?! Kamu salah Kak Kevin. Cewek – cewek jaman sekarang sudah tahu bagaimana menjaga dirinya dengan baik. Jangan kamu kira semua cewek itu sama. Lemah, tak berdaya, manja, selalu minta diantar ke mana – mana. Aku bukan orang seperti itu.”
“Untuk apa hah? Mengobati rasa bersalahmu? Yang kau pikirkan adalah membuat hatimu nyaman. Kamu bahkan sama sekali tidak peduli padaku. Kalau kamu mau sedikit saja peduli Kak, paling tidak kau beri tahu aku bagaimana adikmu itu. Bahkan namanya saja tidak sempat kamu beri tahukan,” aku berjalan marah. Marah sekali dan kecewa. Aku sudah terlanjur banyak berharap dari pertemuanku dengan dia tempo hari. Bodoh sekali aku tidak mau mendengar apa kata Jell, Trisakti dan terutama Papa.
Kak Kevin terdiam lagi sambil mengiringi langkahku di dalam mobilnya. Tampak sekali wajahnya yang memelas. Aku tidak mau melihat wajahnya. Takut aku nanti menyesal karena kasihan melihat wajahnya.
“Aku bukan orang pertama yang diperlakukan begini oleh adikmu khan ?”
“Hah ….” Kevin mendengus. “Sebelum kamu ada beberapa yang lain. Mungkin tiga orang dan semuanya tidak ada yang berhasil.”
Aku menyeringai sambil tetap berjalan. Udara malam yang dingin tidak aku hiraukan karena aku cukup panas oleh rasa marah.
“Kamu akan mengerti kalau kamu ada di posisiku May. Aaron adalah tanggung jawabku.
__ADS_1
“Jadi nama adikmu itu Aaron …” sergahku.
“Aku ingin yang terbaik buat dia. Aku berharap dia bisa melewati ujian kali ini dengan baik. Bukan setengah – setengah.”
“Tanggung jawabmu ? Memang kamu tidak punya orang tua apa ?!”
“Mereka berdua sudah tidak ada May. Aaron adalah satu – satunya keluargaku.”
Amarahku sedikit menyusut. Aku merasa tidak enak dengan dia kalau begini. Omonganku perlu lebih dikontrol. Tapi bukan berarti aku sudah tidak marah. Aku tidak punya Papa. Papa sering sekali melewatkan waktu dengan aku. Tapi sering sekali aku ditinggal Papa bekerja. Tapi itu bukan berarti aku harus menjadi orang brengsek macam Aaron itu.
“Maafkan aku Kak. Hidupku sendiri berat dan aku rasa aku bukan orang yang tepat untuk kau libatkan dalam masalahmu. Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya. Kamu juga gak kenal aku Kak. Rasanya aku bukan orang yang tepatr buat membantu kamu dan Aaron. Aku tidak mau.”
“Aku yang salah May. Kamu mau aku antar pulang ?”
“Tidak. Terimakasih,” sebuah angkot melintas dan kulambaikan tangan kiriku. Aku naik kemudian pergi. Aku lihat mobil Kevin tetap mengikutiku. Mungkin dia ingin memastikan aku baik – baik saja.
“Kakak gak perlu ikuti aku dengan mobilmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri” melalui handphone aku hubungi dia.
“Aku hanya khawatir” suaranya terdengar serius. Aku lihat melalui kaca angkot.
“Aku akan lebih marah kalau kamu tetap membuntutiku seperti itu.” Mobil Kak Kevin berbalik arah.
Aku masih di dalam angkot. Merasakan geronjalan – geronjalan di jalan yang tidak rata. Melewati jalan dengan lampu berbabagi warna. Membawa sakit hati dan penghinaan di wajahku. Aku harap aku tidak bertemu mereka berdua sepanjang sisa hidupku. Aku jadi merasa sangat bersalah kepada Papa. Aku bersalah telah meragukan ucapan Jell dan Trisakti. Aku merasa sangat bersalah. Aku ini gadis bodoh. Aku putuskan untuk menyimpan hal ini dari Papa, tapi aku akan menceritakan hal ini kepada tiga sahabatku. Trisakti, Jell dan … Imelda.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang