
Papa menelponku berkali – kali. Pada waktu jam dimana seharusnya di sekolahku istirahat siang, Jell dan Trisakti menelponku. Selain itu, puluhan pesan WA masuk ke HPku. Di saat seperti ini, aku rasanya ingin sendiri. Tidak juga sih, aku merindukan Aaron. Mungkin ini yang dinamakan belahan jiwa. Setiap orang menrindukan orang lain yang bersedia menautkan jiawanya. Tapi dia sakit.
Maka aku diam saja di sana. aku tidak merasa lapar, tidak juga haus. Rasanya tenang, merasakan angin membelai wajahmu, melihat hamparan rumput yang luas dan kota Malang di dasar ‘mangkok’. Di sini sepi, jarang sekali terdengar suara mobil lalu lalang atau motor yang berlomba adu cepat. Hanya aku dengar suara daun – daun pohon yang saling bergesekan, suara burung yang kadang – kadang datang, dan suara music penjual es krim yang biasanya lewat di perumahan – perumahan. Dan suara music es krim itu semakin mendekat dan mendekat. Bapak penjual es krim berhenti dengan sepedanya di dekat pohon tempat aku duduk, dia tidak pergi – pergi.
Ketenanganku terusik, tapi ini tempat umum, aku tidak berhak memintanya pergi. Tapi aku ingin tenang. Dan Si Bapak penjual es krim mulai berkata,
“Mbak … es krim Mbak …”
Aku berusaha sopan dengan berkata, “Tidak Pak, terima kasih.”
Lalu Si Bapak mulai membunyikan terompetnya. Itu adalah semacam terompet dengan katup karet di salah satu ujungnya dan digunakan sebagai pengumuman ke seluruh perumahan, selain musiknya, memberitahukan kalau datang. ‘Tet toty … tet tot,’ berkali kali dia bunyikan.
“Mbak es krim … enak … seger …” dia bilang lagi.
Apalagi yang terjadi dengan hidupku. Bahkan Bapak penjual es krim saja tidak mau memberikan sedikit saja ketenangan dalam hidupku.
Dia kembali men tet tot aku. Berkali – kali dan aku menyerah. aku berdiri, mengambil uang dalam dompetku dan menghampirinya.
“Empat Pak!” aku bilang dan Si Bapak tersenyum lebar. Dia ambil empat es krim dan dia masukkan dalam kantung kresek lalu memberikannya padaku. “Terima kasih yah Mbak,” dia bilang lalu mengayuh sepedanya pergi.
Akhirnya aku mendapatkan ketenanganku kembali. Aku buka satu es krim lalu mulai memakannya. Bapak penjual es krim dengan senyum lebarnya masih terbayang dalam pikiranku. Aku hanya membeli empat es krim, yang harganya jauh di bawah uang yang aku dapat dari bekerja di kantor Kak Kevin setiap hari, tapi Si Bapak sudah tersenyum senang.
Hidup Si Bapak pasti lebih berat dari aku. Untuk mendapat seorang pembeli yang membeli empat es krim saja, dia harus beradu mental denganku, tidak pergi – pergi dari tempatnya berdiri sampai akhirnya aku menyerah dan membeli es krimnya. Mungkin dia punya beberapa anak di rumah yang menunggunya untuk memberi uang jajan atau uang untuk membeli buku atau uang untuk membayar keperluan sekolah. Mungkin berkali – kali anaknya meminta es krim dagangannya tapi dia tidak beri. Dan aku duduk di sini sendirian dengan empat es krim yang salah satunya sudah tinggal sekitar setengahnya. Aku dengar suara mobil mendekat, tapi mungkin itu hanya salah satu mobil yang biasa lewat di sini.
“Aku tahu kamu pasti di sini,” tiba – tiba suaranya datang dan membuatku terkejut. Tidak mungkin. Aaron sudah berdiri di sampingku, cakep dengan celana jeans dan kaos oblong. Tampak plester di salah satu tangannya, plester yang dipakai kalau kamu selesai diinfus.
“Hah, ngapain kamu di sini?”
__ADS_1
“Ngapain juga kamu di sini?” dia bertanya nakal.
“Kamu sudah boleh ke luar dari rumah sakit?” aku bertanya penasaran. Pesan yang terkahir dapat dari Aaron bertanya kalau aku akan ke rumah sakit melihat dia.
“Nggak juga, tapi aku maksa.”
“Maksudnya?”
“Aku ini kecanduan, bukan menderita penyakit yang harus dirawat lama di rumah sakit. Yang aku butuhkan itu rehabilitasi, bukan rumah sakit dengan obat – obatnya. Aku di sana lama pun tidak akan pengaruh kurasa,” dia berkata sambil duduk di sampingku. “Lagian di sini ada pesta es krim, masak aku gak akan datang?” kembali dia tersenyum nakal. Senyum itu yang membayangi pikiranku beberapa minggu belakangan ini.
“Ambil aja yang kamu mau,” aku menyorongkan kantung es krimku. Berdua kami menikmati pagi yang sudah mulai beranjak siang itu, angin yang membelai wajah kami dan suara burung yang kadang datang berganti. Kalau Bapak penjual es krim itu datang lagi, aku akan lempar dia dengan sepatuku karena merusak suasana indah ini.
Aaron memegang tanganku.
“Papamu mencarimu,” dia bilang. “Dia bercerita apa yang terjadi pagi ini.”
Lalu tangisku pecah lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Aku menangkupkan ke dua tanganku di wajahku dan Aaron merangkulku. Aku menangis di dadanya.
“Seharusnya dalam masa – masa seperti ini, aku bisa mendukung kamu. aku rasakan apa yang kamu rasakan. Kamu harus pusing dengan kecanduanku ini, kamu harus kerja untuk mencukupi sebagian kebutuhanmu,yang membuatku seperti anak lembek dan manja, lalu Papamu yang punya pacar, yang aku tahu sulit kamu terima. Waktu Kevin bilang kalau dia mau menikah, aku juga agak tidak terima. Setelah sekian lama, dia harus membagi perhatiannya antara aku dan keluarga barunya. Dan aku yakin, dia pasti akan memprioritaskan keluarga barunya. Dia Kakak yang baik, tapi aku tahu akan begitulah nantinya. Aku mengerti apa yang kamu rasakan.”
Aku masih saja tetap menangis. Tapi ada satu pojok dalam hatiku yang berharap bahwa aku masih tetap cantic ketika menangis, karena aku tidak mau Aaron melihatku dalam keadaan jelek. Dalam salah satu kuliah yang diberikan Jell padaku, ada satu mata kuliah yang menjelaskan tentang cara tetap cantik ketika menangis di depan cowok. Aku terkikik.
“Ngapain kamu tertawa?” Aaron bertanya.
“Gak apa – apa. Aku teringat Jell.”
“Teringat apa?”
__ADS_1
“Ga apa – apa,”
“Ah cewek itu membuyarkan pagi yang romantis saja,”
Kami berdua tergelak. Aku lepaskan diriku dari rangkulan Aaron. Aku duduk tegak kembali memandang Kota malang di dasar mangkok raksasa itu.
“Dan sekarang May, kamu harus berurusan dengan Mamamu yang sudah lama tidak kamu temui. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjadi kekuatanmu di saat – saat seperti ini. Bahkan aku menjadi salah satu bebanmu. Maafkan aku May,” Aaron berkata pelan.
“Jangan bilang begitu Aaron. Dari banyak sekali hal yang terjadi dalam hidupku, kamu adalah salah satu kebahagiaanku. Aku bahkan tidak menyesal menampar wajahmu waktu aku ketemu kamu pertama kali.” Aku membayangkan pertemuan pertamaku dengannya.
“Iya, aku juga tidak menyesal menciummu waktu itu,” dia tersenym nakal lagi yang segera aku sambut dengan tonjokan di bahunya.
“Ayo pulang, Papamu mencarimu.”
Kami berdua berdiri. Aku ambil sepedaku.
“Sekarang, aku boceng kamu,” aku bilang. Aaron tampak tidak yakin. Mobilnya masih ada di pinggir jalan, sopir ada di dalamnya. aaron tampaknya meinta salah satu sopirnya menjemputnya dan mengantarkannya ke sini.
“Kita naik mobil saja,” dia bilang. Pak sopir memasukkan sepedaku ke bagasi dan kami berlalu. Cowok itu meremas tanganku, aku suka.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
Matahari Menjadi Bintang