
Aaron mengantarku sampai ke rumah Nenek. Aku tidak mau Nenek lihat dia. Kami hanya berteman. Kami masih berteman. Jadi rasanya tidak enak kalau belum ada apa – apa sudah langsung ngenalin dia ke Nenek.
Malam ini tiba – tiba listrik padam. Salah seorang pegawai Nenek bilang kalau salah satu tiang listrik roboh ketika hujan. Tanpa listrik, tanpa TV, tanpa cahaya. Tiba – tiba saja rasanya aku kembali ke beberapa puluh tahun yang lalu. Ketika orang – orang disini masih memakai lampu minyak untuk penerangan.
Meskipun malam tapi aku mendapatkan kalau langit cerah. Bintang bersinar terang tanpa hambatan. Menakjubkan waktu aku pertama kali sadar kalau cahaya yang aku lihat dari sebuah bintang gemerlap sebenarnya dikeluarkan berjuta – juta tahun yang lalu. Cahaya bintang butuh waktu jauh sebelum aku lahir untuk benar – benar bisa sampai di mataku. Alam menyimpan banyak keajaiban.
Udara dingin karena baru saja hujan. Aku lebih senang duduk di beranda depan karena tidak tahan ada di dalam rumah dengan kegelapan. Katak bernyanyi bersahut – sahutan. Dan aku duduk sambil memainkan HPku, menghubungi Jell dan Trisakti. Tapi tampaknya mereka punya kegiatan masing – masing. Yah tak apalah. Aku buka – buka medsos dan berharap bateraiku tidak cepat drop. Dalam hati aku berpikir kalau di Malang, di rumahku, meskipun listrik padam aku tidak akan setersiksa ini.
Nenek masih belum tidur. Dia memaksakan diri menambal bajuku dengan penerangan lampu minyak. Aku sudah bilang jangan, tapi dia memaksa. Aku bisa berbuat apa ?
Tiba – tiba HPku bergetar, kemudian berbunyi. Papa menelponku.
“May, kamu di rumah Nenek sekarang ?”
“Iya Pa. kapan Papa pulang ?”
“Masih belum tentu May.”
“Gak jadi minggu depan ?”
“Semoga saja begitu. Kamu baik – baik saja khan ?”
“Baik Pa. tapi di rumah Nenek tersiksa banget Pa. Sepi … May gak tahan….”
“Kamu bermasalah dengan Nenek lagi ?”
“Gak Pa, malah Nenek sangat baik. Tapi sepinya itu loh Pa. Belum lagi kalau listrik padam kayak sekarang. Beruntung deh Papa telpon. Kalau Papa gak telpon pasti May mati karena bosan …”
“Ih … gitu aja ngomong – ngomong mati segala. Di sini May, Papa lihat kalau kehidupan sangat dihargai. Banyak orang bertahan hidup dengan segala cara. Mereka tidak mau mati hanya karena bosan dan listrik padam …”
“Iya lah Pa. May khan bercanda aja …”
“Bukan bercanda May. Itu namanya manja dan melebih – lebihkan …”
“Papa kok gitu sih ? Masak gak pernah ketemu May terus nelpon sekali ngomongnya gak sedap kayak gitu ?”
__ADS_1
“Sory deh. Papa kurang istirahat aja selama disini. Papa kangen kamu May. Kamu pasti yang gak kangen Papa …”
“Yah kangen lah Pa. May gak bisa kirim SMS. Pulsa May dah mau habis. Uang May cukup buat jalan aja. Di Jakarta gimana Pa ?” aku bertanya sambil mengusir beberapa nyamuk yang coba hinggap di tubuhku.
“Semua orang pada bingung disini May. Papa lihat di sekitar lokasi kejadian, jalan tidak seramai biasanya. Malah sebuah pasar elektronik sepi pengunjungnya. Papa rasa semua orang enggan keluar rumah …”
“Papa gak takut ?”
“Gak lah May. Papa disini saling bantu sama teman – teman Papa yang lain. Kalau ada informasi, pasti kami saling beritahu. Tapi yah jadinya itu May, Papa jarang istirahat. Setiap detik pasti ada aja berita baru …”
“Iya tuh Pa. Sama juga disini. Meskipun mungkin tidak seekstrim di Jakarta, tapi beberapa teman May juga merasakan takut. Bahkan, tadi waktu May pulang ke rumah Nenek dibonceng teman May, May lihat beberapa Polisi memeriksa KTP orang – orang yang lewat …”
“Wait … wait … perasaan kamu tidak pernah dibonceng teman naik sepeda motor sebelumnya ?”
“Oh .. eh … ehm …”
“Cewek apa cowok May ?”
“Cowok Pa …,” aku berkata ragu – ragu, takut dengan reaksi Papa.
“Kak Kevin ?”
“Iya, iya Kevin.”
“Bukan Pa. Bukan dia. Kak Kevin gak naik motor, dia naik mobil. Yang bonceng May tadi itu adiknya”
“Oh .. gitu yah … gak dapat kakaknya mau dapat adiknya aja ?” Papa menggoda.
“Yah moga aja Pa”
“Berarti beneran nih ?”
“Gak tahu deh Pa. Kak Kevin ternyata dah mau tunangan bulan depan. Bersrti May sudah gak punya tempat lagi khan ?” Aku mengeluarkan nada kecewa sambil mendengus.
“Itulah May, kenapa Papa tidak mau kamu cepat – cepat memutuskan sebelum semuanya pasti.”
__ADS_1
“Iya Pa. May ngerti kok.”
“Bagus. Hati – hati aja deh May. Yang penting kamu bisa jaga diri dan Papa yakin kamu bisa. Jangan buat Papa kecewa dan kuatir meninggalkan kamu sendiri May. Papa tidak ingin kamu jadi gadis yang tidak punya pendirian dan gampang digoda cowok yang hatinya jahat,” bukan hanya sekali ini Papa memberiku nasehat seperti itu. Setiap kali aku mendengarnya, muncul rasa berbeda. Kadang aku merasa seperti anak kecil, bosan, merasa diremehkan tapi dilain waktu aku merasa senang, diperhatikan dan bangga luar biasa punya Papa seperti Ndaru Pambudi. Seperti saat ini …
“Iya deh Pa. May janji…. “
“Kok jawabnya ‘iya deh’ sepertinya kamu gak rela banget May?”
“Iya … iya Pa. May gak hanya sekedar janji. Tapi May jamin ke Papa kalau May tahu bagaimana jaga diri. Ingatkan waktu kita nonton Discover Channel tentang Zebra yang bisa lari dari Singa ?”
“Kamu masih ingat itu ? Papa aja hampir lupa kalau kamu gak ngingetin …”
“Papa bilang kalau tubuh May sudah diperlengkapi untuk melindungi diri,” aku berkata pada Papa. Telingaku mulai panas.
“Lebih dari itu May. Papa harap kamu bisa melindungi hatimu selain tubuhmu. Papa yakin kamu mengerti. Kamu tahu May ? Sedih rasanya melihat banyak air mata di sini. Papa yakin kalau semuanya ini bisa dicegah asalkan semua orang mulai saling peduli.”
“Iya Pa …”
“Sudah dulu May. Sampaikan salam Papa sama Nenek yah.”
“OK.” Papa menutup telponnya. Aku lihat di layar HPku yang masih menyala bateraiku sudah hampir habis. Aku putuskan untuk mematikannya sekalian, katanya, supaya bateraiku tidak mudah drop.
Aku pandangi langit lagi. Masih menunjukkan cerah yang sama. Masih belum terlalu malam sebenarnya, tapi dalam keadaan seperti ini, aku lebih memilih tidur awal. Aku lihat di ruang tengah Nenek sudah tidak ada lagi. Rumah yang besar ini benar – benar sepi. Apalagi dengan lampu minyak redup tidak terlalu berhasil menyingkirkan gelap. Aku takut tidur sendiri di rumah besar dan gelap ini. Aku intip kamar Nenek. Sepertinya dia sudah tidur, tapi matanya begitu cepat terbuka ketika aku melongokkan kepalaku dalam kamarnya.
“Ada apa Har ?”
“May takut Nek,” seperti tahu maksud hatiku Nenek bilang,
“Sudah, tidur disini aja sama nenek.” Aku rebahkan tubuhku di samping Nenek. Tempat tidur Nenek adalah tempat tidur kapuk, diberi kapur barus di setiap sisinya supaya tidak didiami kutu. Masih terdengar jelas katak – katak bernyanyi. Mungkin mereka menyanyi di dalam kolam ikan yang ada di belakang rumah. Biasanya, kira – kira satu bulan setelah November, aku akan mendapatkan kecebong – kecebong kecil berwarna hitam berenang – renang kesana kemari. Kecebong – kecebong itu akan berubah bentuk. Kaki belakangnya akan tumbuh, ekornya akan hilang sampai lama – lama bentuk kecebong tidak akan aku temukan lagi. Yang aku temukan adalah katak – katak kecil melompat ke sana ke mari. Dengan pikiran tentang kecebong kecil berubah menjadi katak imut, aku tidur. Disebelah Nenek yang mendengkur halus. Aku tidak sempat mengucapkan selamat malam kepada Imelda, tapi aku yakin kalau dia sedang berpesta setelah berburu nyamuk. Selamat malam semuanya.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang