
“Yak ampun May ….Kayak di dalam oven deh,” Jell menutul – nutulkan tissue di keningnya.
“Angkotnya gak mau berangkat kalau gak penuh. Yang duduk di depan saja tiga orang. Yang di belakang dipepet – pepet gak karuan. Konsumen benar – benar tidak dilindungi di tempat ini,” bahkan Trisaktipun mengeluh.
“Yah sorry deh. Tapi emang seperti itu di sini,” kucoba menenangkan sambil mereka membawa mereka masuk.
“Trisaksti sih … aku tadi rencana bawa motor, tapi dia gak berani,” Jell menyalahkan Trisakti.
“Terang aja deh Jell. Kamu tuh baru aja bisa bawa motor, masak sudah berani bawa aku dari Malang ke sini. Terus kamu gak punya SIM juga khan?” Trisakti berjalan di samping kananku.
“Masalah SIM sih belakangan. Lagian kamu coba aja belum, mana bisa kamu memutuskan begitu?” Jell berjalan di samping kiriku.
“Kalian ini mau menghibur aku atau bertengkar sih ?” aku sedikit kesal. Mereka berdua terdiam.
“Enak juga rumah Nenekmu May,” Trisakti membuka pembicaraan.
“Enak sih kalau kalian cuma ke sini beberapa jam sambil jalan – jalan. coba kalian menginap di sini dua malam saja. Pasti kalian akan merana.” Aku ingin menumpahkan beban penderitaanku pada dua sahabatku.
“Kalau kamu di sini aja merana, bagaiamana orang – orang yang tinggal di pedalaman yah ?” Jell mengeluarkan suaranya lagi. Saat itu kami sudah berjalan masuk melewati pintu depan.
“Pedalaman mana maksud kamu ?” tanya Trisakti. Mereka tidak bisa saling diam terlalu lama.
“Papua atau Kalimantan misalnya. Bayangkan, untuk mendapatkan alat tulis saja, mereka harus berjalan paling tidak tiga – empat hari …” Jell bersemangat.
“Ih … mana ada tempat seperti itu ?” ujarku.
“Aku kira kau lebih tahu dari aku May, Papamu khan wartawan ?” Trisakti tidak mengerti.
“Memang sih …. Tapi khan tidak yang semua Papa tahu aku juga harus tahu. Kamu tahu dari mana sih Jell ?”
“Dari TV. Itu loh …. Benda kotak yang bisa menunjukkan gambar. Di jaman seperti ini, kita tidak usah berdiri ke menyentuh tombol – tombolnya supaya kita bisa mengganti channel atau merubah volume. Cukup pakai remote control aja …” Jell menerangkan.
__ADS_1
“Oh …. Yang dinyalakan pakai listrik itu toh ?” Trisakti pura – pura bego.
“Wah … aku baru tahu ada mesin seperti itu di jaman ini …” aku menyambung kebegoan Trisakti. Kami berjalan di tempat bapak – bapak melihat tinju. Mereka senyap sesaat memandang kami bertiga lewat dan sesaat kemudian keramaian menyelimuti rumah ini kembali. Nenek ada di dapur, melanjutkan menikmati kolaknya yang tadi tidak sempat dia selesaikan, sambil melamun.
“Nenek,” dia menoleh. “Ini teman May,” Jell dan Trisakti mengahmpirinya sambil berkata, “Trisakti,” “Jell,” mendengar kata ‘Jell’ aku perhatikan kening Nenek berkerut – kerut.
“Sudah lama sampainya ?” Nenek basa – basi.
“Baru saja. Sekitar lima menit yang lalu,” Trisakti yang paling tahu bagaimana bersopan santun.
“Ambilkan kolak Har, pasti semuanya haus,” aku berjalan mengambil kolak. Sambil aku mengambilkan kolak untuk mereka berdua, aku dengar Nenek bertanya pertanyaan – pertanyaan pribadi yang tidak berani aku tanyakan ketika aku pertama kali bertemu seseorang seperti, ‘dimana rumahmu ?’ ‘punya kakak atau adik?’ ‘bapakmu bekerja di mana ?’ ‘kelas berapa sekarang ?’ ‘kenal Har dimana ?’ dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Pokonya segala pertanyaan yang membuat aku sendiri malu untuk mendengarnya. Cepat – cepat aku ingin menyelematkan Jell dan Trisakti yang tampak kikuk.
“Kita ngobrol di luar yuk ?” dan mereka mengikuti diikuti pandangan Nenek yang meneliti dari rambut sampai kaki. Aku merasa tidak enak pada mereka berdua.
“Sorry yah … Nenek begitu itu ….” Aku berucap, menyodorkan dua mangkuk kolak labu.
“Yah merasa gak enak juga sih,” kata trisakti sambil menyendok kolak.
“Ah masak ?” aku tidak percaya. Keluarga Jell bukan keluarga yang aku kira keluarga tradisional seperti Nenekku.
“Sama aja May. Semua Nenek di dunia ini sama saja,” Jell berkata lagi.
“Enak nih kolak,” Trisakti berkata lagi. Lalu sejurus kemudian kami mulai membanding – bandingkan Nenek kami masing – masing. Tentang Nenek Jell yang selalu ikut menemaninya kalau dia di datangi pacarnya, tentang Nenek Trisakti yang selalu mengingatkannya mengenai hal – hal yang pantas dan yang tidak, yang tabu dan yang tidak.
“Kenapa semua Nenek jadi begitu menjengkelkan yah ?” tanyaku. Jell mengangkat bahunya.
“Yah … karena kita tahu Justin Timberlake sedaangkan mereka tahunya Koes Plus. Beruntung juga kalau mereka tahu Bimbo dari TV atau bioskop, tidak dari radio …” ujar Trisakti yang bijaksana.
“Mungkin juga,” tukasku. “Yah Tuhan … Imelda …!” Aku berteriak. Aku kemudian berlari ke samping rumah ke kolam mujair. Aku tadi meninggalkan Imelda berenang di sana sendirian. Jell dan Trisakti menyusulku.
“Kenapa Imelda ?” tidak aku pedulikan pertanyaan Jell. Aku mencari – cari Imelda di sekitar kolam. Aku tidak melihat dia. Aku mulai panic. Aku ceburkan kakiku ke dasar kolam yang berlumpur. Menyentuh setiap dasarnya. Siapa tahu Imelda tenggelam, tidak bisa meloloskan diri. Aku tahu kalau secara alami kura – kura bisa berenang. Tapi Imelda jarang berenang. Waktu hidupnya lebih banyak dia habiskan di darat daripada di dalam air. Dia itu kura – kura darat.
__ADS_1
“Kamu kok bingung banget seperti itu ? Kenapa Imelda ?” Trisakti juga ikut bingung.
Mataku berkaca – kaca. Kalau sesuatu terjadi kepada Imelda, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Mengapa aku bisa begitu teledor melupakan Imelda. “Imelda !” Aku berteriak. “Aku tadi tinggalkan Imelda berenang di sini sendirian … !” “Imelda bisa berenang khan ?” tanya Jell.
“Imelda itu bukan ninja turtles Jell. Tidak seperti di film. Dia tidak pernah di air terlalu lama. Siapa tahu dia kena kram perut ?” aku berteriak lagi. Mereka berdua ikut panic dan menyebur ke kolam bersamaku. Mencari – cari siapa tahu Imelda terjebak di dasar kolam yang berlumpur itu. Meronta – ronta ingin ke luar tapi tidak bisa.
“Imelda !” Jell berteriak girang. Aku lihat kearah Jell memandang. Aku lihat Imelda sedang merayap di rumput – rumput sekitar kolam. “Itu Imelda,” aku berteriak meraihnya. Kami bertiga masih ada di dalam kolam.
“Kolam mini ada ikannya yah ?” tanya Trisakti.
“Pantas ada yang menotol – notol kakiku tadi,” Jell menyambung.
“Tapi bukan ikan hiu kok …” tukasku.
“Bajuku jadi basah nih May,”
“Iya aku juga …”
“Daripada basah sebagian, mending basah semua khan ?” Aku dorong tubuh Jell. Jell mendorong tubuhku. Kami lihat Trisakti, Trisakti berusaha menghindar. Kami saling mendorong dan berteriak – teriak. Tertawa sampai perut kami sakit. Air di kolam muncrat ke mana – mana. Untung kami tidak menginjak mujair.
“Sri …” kami semua berhenti melihat Nenek memandang kami bertiga. Nada bicaranya sangat halus dan lembut. Tapi mendengar dia memanggilu ‘Sri’ bahkan teman – temankupun sudah tahu apa artinya.
“Maaf Nek. Kami tadi mencari Imelda.” Aku naik kemudian mengulurkan tangan untuk Jell dan Imelda. Mungkin karena tanganku licin, jadi bukan mereka yang aku tarik, tapi aku jatuh lagi ke bawah. Tapi aku tidak sempat tertawa girang, Nenek memperhatikan kami. Kami naik sendiri – sendiri. Menuju kamar mandi.
Tubuh kami bertiga terasa segar. Aku pinjamkan Jell dan Trisakti baju. Agak terlalu panjang untuk Trisakti meskipun kami sama – sama punya ukuran S. Kami sekarang ada di ranjang kamarku. Bercerita tentang banyak hal. Kadang – kadang kami tertawa cekikan karena lelucon jorok yang diceritakan Jell sambil berbisik – bisik. Sudah tidak terdengar lagi suara bapak – bapak melihat tinju. Mereka sudah selesai sekitar satu jam yang lalu. Langit yang terang ditutupi mendung bulan september. Sebentar kemudian terdengar air memukuli genteng rumah ini. Kami bercerita, tertawa sampai kelelahan kemudian tertidur. Nikmat rasanya tidur dengan dua sahabat di samping kiri dan kananku setelah mandi di hari hujan.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang