
“Ehm …” aku harus cepat – cepat membuat alasan yang masuk akal …. “Aaron tuh cowok yang gimana yah …” bagaimana aku bisa membuat alasan. Ketemu saja baru beberapa kali khan …?
“Sebenarnya, Aarion itu cowok yang baik. Tapi yah itu, seperti kamu cerita Tri, dia punya trauma yang besar waktu kehilangan kedua orang tuanya. Dan yang aku tahu tuh setiap kemarahan harus dilepaskan. Misalnya aja kalau kita, para cewek maksudnya, ada yang kalau lagi kesel lalu makan sampai perut mau meledak. Aaron juga begitu.”
“Tempramental gitu ?” sergah Trisakti.
“Bisa dibilang begitu. Tapi sebetulnya dia tuh cowok yang lembut kok …”
“Lembut dan cakep. Meskipun aku ini tidak buta ketika melihat dia, tapi rasanya dia punya bakat – bakat kriminal deh May …” Jell berkata padaku sungguh – sungguh. Entah dia mau mengingatkan atau apa …
“Yah pokoknya ati – ati aja May …” entah kenapa Trisakti hanya berbicara sedikit.
“Tapi ngomong – ngomong nih … sore ini aku akan mulai les pertama dengan dia. moga aja semua baik – baik aja …”
“Kamu gak takut dicium lagi ?” Trisakti memandangku.
“Gak lah. Maksudku, semoga saja tidak. Kami sudah berbicara banyak tempo hari. Dia bilang dia melakukan itu semua hanya supaya Kevin bingung dan supaya dia bisa melepaskan rasa marahnya. Kami saling berbicara sesudahnya.”
Obrolan cewek itu kami teruskan saja sampai pada akhirnya mereka pulang dan aku harus ke rumah Aaron. Aku sadari kalau memilih baju yang nyaman adalah perkara yang tidak mudah. Apalagi kalau kau akan bertemu dengan seseorang yang menarik perhatianmu. Dan seperti biasa, aku menyerah sampai aku putuskan untuk menjadi diriku sendiri saja. menjadi orang lain ternyata lebih susah daripada menjadi diri sendiri. Dan karena itu juga aku memilih menjadi seorang pengejar berita seperti Papa, bukannya memimipikan menjadi model atau bintang film.
Sore itu aku memakai sandal gunung dan jeans biru yang sudah bertahun – tahun aku pakai. Ini adalah salah satu keuntungan menjaga berat badan. Kalian tidak akan terlalu sering membeli pakaian. Tidak lupa aku pakai sweater rajutanku yang modelnya kedodoran, membuat tubuhku terkesan lebih tinggi dan lebih tipis. Aku pakai sandal gunungku dan aku berangkat. Membawa sebuah tas yang menggantung di pundakku. Berisi buku – buku yang aku gunakan, kaset dan CD. Langit terlihat mulai gelap karena jarum jam sudah melewati angka lima. Aku berharap hari ini tidak hujan.
“Kamu sudah siap Aaron ?” aku bertanya seperti kepada anak kecil saja.
“Jangan perlakukan aku seperti orang bego !” mungkin hari ini Aaron sedang sensitive.
“OK. Maafkan aku. Kau ingin kita belajar apa ?”
“Apa saja yang kau punya. Kau guruku May. Kamu yang menentukan.”
“Baiklah.” Aku harus bersabar. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Aaron hari ini. Dia begitu cepat berubah. Mungkin suasana hatinya sedang tidak bagus.
“Aku punya sebuah film, kita bisa lihat sama – sama …” aku memasang CD pada player. CD khusus untuk belajar Bahasa Inggris.
__ADS_1
“Kau ingin aku nonton boneka – boneka bergerak ini ? Kau kira aku anak kecil May ?” Sama sekali aku tidak mengerti dia hari ini. “Kau tidak punya yang lain lagi …”
“Baiklah. Kita akan lihat apa yang aku punya.” Aku sudah mulai jengkel dengan dia.
“Aku punya sebuah buku di sini. Kita bisa sama – sama membacanya. Bagaimana ?”
“Ada yang lebih menarik ? Barang – barangmu lebih cocok kau berikan kepada anak – anak dari pada kau berikan padaku …”
Aku mengambil nafas panjang.
“OK Aaron. Kamu sedang marah hari ini. Aku pikir ini bukan waktu untuk belajar.” Aku tidak mau meneruskan hari ini karena bisa – bisa aku meledak dan menjadi tidak professional. Aku bereskan semua barangku dan aku melangkah pergi. Kalau saja dia berkata kasar padaku sekali lagi, aku tidak akan bisa menahan diriku lagi …
“Benar – benar tidak berguna …” dia berkata pelan. Hampir saja tidak terdengar sehingga aku perlu meyakinkan diriku lagi untuk mendengarnya.
“Maaf Aaron. Apa kau bilang barusan ?”
“Penyakit telingamu belum sembuh juga rupanya. Aku ulangi sekali lagi May, kamu benar – benar tidak berguna !” Mukanya merah sambil melihat ke mataku sangat tajam. Kalau saja aku juga tidak sedang tersinggung, pasti aku akan takut. Tapi masalahnya, aku bukan orang yang terlalu bisa diinjak – injak seenaknya.
“Lebih baik kamu keluar dari sini May. Kamu hanya mengacaukan hidupku.”
“Apa maksudmu. Kamu itu yang mengacaukan hidupku. Aku sama sekali tidak mengenal kamu. Kenapa juga aku harus susah – susah memikirkan kamu ?” pertanyaanku itu tidak membutuhkan jawaban karena aku memikirkan Aaron dengan tanpa dia minta.
“Pergi saja May …” kalimat yang keluar dari mulutnya semakin lirih.
“Kamu kenapa sih Aaron ?” Aku tanya.
“Pergi saja …” dia mencoba mengangkat sesuatu yang ada di dalam genggamannya dengan tangan gemetar. “Kumohon kamu pergi. Aku tidak ingin kamu melihatku seperti ini …cepat !” kata terakhir dia ucapkan lebih keras.
“Kamu mengerti tidak May ?! Pergi dan tutup pintunya !?”
Aku bukan mau sok berani dengan tetap disana. Tapi aku tidak ingin meninggalkannya. Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan dia. Aku takut kalau dugaanku benar.
“Apa yang kamu pegang Aaron ?” aku maju mendekati dia dan dia berjalan mundur “Kenapa kamu tidak pergi saja ?”
__ADS_1
“Kamu benar – benar sakit Aaron. Kamu perlu bantuan …”
“Jangan sok jagoan May,” suaranya bergetar, seperti menahan sesuatu di perutnya, “Kamu mau apa ? Kenapa kamu tidak pergi saja …. Apa terlalu sulit melakukan itu … kumohon …”
“Tidak sebelum kau tunjukkan apa yang kau pegang Aaron …” dan aku melihat dia menggenggam semakin kuat. Tapi aku kira, dengan keadaannya seperti itu, aku bisa memaksanya. Semoga saja …
“Aaron … tolong tunjukkan padaku ….” Aku berkata lebih lembut. Jantungku berdebar kencang, tapi aku berusaha mengatur setiap napas yang keluar dan masuk lewat hidungku … atau mulutku …. Aku tidak tahu …. Sudah tidak terlalu penting lagi menentukan napasku keluar melalui hidung atau mulut …
“Aaron … please ….” Menggeleng.
“Jangan May,” wajahnya memelas. Wajah paling memelas yang pernah aku lihat secara langsung, bukan dari TV, di dalam hidupku. Aku berhasil menyentuh tangannya, pelahan aku berusaha membuka jari – jarinya yang mengatup sementara aku mendengar dia terus menerus berkata, “Jangan May …”
Dan aku tidak terkejut lagi waktu mendapatkan beberapa butir tablet berwarna kuning, yang walaupun aku tidak tahu pasti, tapi setidaknya aku bisa menebak itu apa.
“Aaron, mungkin kamu harus berbicara dengan Kevin tentang hal ini…. Atau biarkan aku yang bicara …” Dia menggeleng masih dengan muka pucat dan tubuh gemetar.
“Bebannya akan bertambah May …”
“Lalu kau akan tetap membuat bebannya terus bertambah kalau begini …”
“Dia akan tunangan bulan depan May…. Aku tidak mau dia tahu …”
Dan akupun menangis. “Setidaknya lakukan ini untuk aku,” aku menggengam tangannya yang menggenggam pil – pil kuning itu.
“Kamu peduli denganku May ?” aku mengangguk. “Jangan biarkan aku mati kalau begitu … jangan biarkan aku menderita May …lepaskan tanganmu. Kumohon May …” aku mengendurkan tanganku perlahan seakan tidak rela. Aku tidak bisa memikirkan hal selain itu. Cepat – cepat dia masukkan ke mulutnya dan aku lihat dia merasa lebih tenang. Aku tidak. Malah sekarang, aku lebih takut dari sebelumnya, dan tidak tenang ….
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1