Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Perbincangan


__ADS_3

Sepulang sekolah aku langsung ke kantor Kak Kevin siang itu. Dalam hati aku sudah bertekad untuk membicarakan Aaron dengan Kak Kevin.


“Kak Kevin, apa May boleh bicara sebentar?” Kak Kevin melihatku dengan wajah tidak biasa.


“Yah May. Tapi tunggu saja sebentar yah, sekitar sepuluh menit. Aku harus menelpon seseorang.” Dia berjalan masuk ke dalam kantornya.


Sambil menunggu aku memasukkan beberapa dokumen yang harus dihancurkan ke dalam mesin penghancur kertas. Ketika aku melakukannya, ada perasaan aneh muncul dalam diriku. Kertas yang semula mulus dan lurus kemudian dihancurkan menjadi semacam mie, lurus dan panjang. Aku membayangkan setiap permasalahan hidupku, keruwetan dengan tante Nina dan Aaron bisa hilang dengan mudah semudah aku menghancurkan kertas dengan mesin penghancur kertas ini.


Setelah selesai, aku lalu merapikan beberapa arsip yang baru aku fotocopy dan membersihkan meja dari serpihan – serpihan kertas. Aku harus pastikan semuanya bersih karena aku mau tetap bekerja di sini. Kesempatan indah tidak akan datang dua kali dan aku harus menunjukkan hasil kerja terbaik, meskipun agak nepotisme juga aku bekerja di kantor Kakak pacarku.


Cukup menyenangkan bekerja di kantor Kak Kevin. Kantor ini tidak begitu besar. Terletak di lantai tiga sebuah gedung berlantai lima. Aku bisa naik dan turun dari basement sampai lantai paling atas dalam beberapa menit dengan bantuan lift. Kecuali aku ingin langsing dengan olahraga naik turun lewat tangga darurat.


Tugasku sederhana saja. Aku hanya perlu memfotokopi beberapa arsip setiap harinya. Memisahkan berkas – berkas dalam setiap kategori file yang berbeda dan kadang – kadang juga aku dijinkan membantu menerjemahkan beberapa document berbahasa Inggris yang sangat aku suka. Buatku ini adalah pengalaman berharga dan aku tidak mau dicap bekerja di sini hanya kerena aku adalah pacar adik pemilik perusahaan.


Bayarannya ? Lumayan banget, aku jadi tidak bingung lagi dari mana aku harus dapat uang buat beli pulsa. Tabunganku juga bertambah drastic karena meskipun bekerja, Papa tidak mengurangi uang sakuku. Mungkin aku bisa mulai menabung untuk membeli motor.


“May, ke kamtor yah,” Kak Kevin berbicara melalui intercom.


Aku masuk, duduk di sebuah kursi nyaman yang membuatku tenggelam di dalamnya. mirip dengan kursi yang ada di rumah Kak Kevin. Sofa ini biasanya dipakai Kak Kevin kalau ada tamu yang bertemu sama dia.


“Ada apa May,” suara Kak Kevin masih tetap nyaman ditelinga, sama seperti pertama kali aku menerima telponnya dulu.


“Aku ingin berbicara tentang Aaron,” wajahnya langsung berubah.


“Ada apa dengan Aaron ?”

__ADS_1


“Maafkan aku kalau berbicara seperti ini Kak. Aku tahu kalau Kak Kevin adalah kakaknya. Dalam banyak hal kakak lebih tahu dia daripada aku. Aku tidak enak membicarakan ini sama Kakak …” Aku bingung memilih kata yang tepat.


“Katakan saja May, tidak usah sungkan …”


“Maksudku … selama ini apa Kakak rasa ada yang aneh dalam diri Aaron …”


“Maksudmu …?”


“Apa kau tidak perhatikan lingkaran hitam di matanya, dia yang sering mual dan punya banyak tenaga ekstra untuk beraktifitas seakan – akan sama sekali dia tidak pernah lelah …”


Kevin mengambil nafas pelan dan dalam.


“Sebenranya aku tidak terlalu ingin membicarakan hal ini denganmu May. Ingatkan bagaimana aku malah menambah beban hidupmu yang sudah berat itu. Aku masih merasa bersalah kepadamu,”


“Karena itu Kakak terima aku kerja disini bukan ?”


“Aku pacarnya,”


“Dia sudah ngomong ke aku. Dan aku sangat bersyukur ada kamu di sampingnya. Tapi di lain pihak May, kalau aku boleh jujur, aku jadi merasa tambah bersalah. Rasa bersalahku semakin menumpuk. Karena aku, kamu jadi kenal Aaron. Aaron suka kamu dan kalian sekarang jadian. Dengan bebanmu sekarang kau masih harus memikirkan Aaron. Apakah kau merasakannya ?”


Aku mengangguk. Aku sudah tahu segala konsekuensinya dan sekarang sedikitpun aku tidak merasa menyesal. Sama sekali. mungkin itu rasanya melakukan sesuatu untuk orang yang disayang. Tidak akan menyesal, tapi malah akan merasa senang walaupun kalian banyak berkorban.


“Aku tahu apa yang terjadi dengan Aaron,” Kak Kevin berkata lemah. Kebetulan saat itu sudah jam waktu pulang. Di luar ruangan Kak Kevin terlihat semua orang sudah bersiap – siap pulang. Sebentar lagi pasti kantor akan sepi sekali.


“Dan Kakak tidak melakukan apa – apa ?” Aku tanya dia sedikit marah. Bagaimana mungkin dia tahu tapi tidak melakukan apapun?

__ADS_1


“Aku lakukan banyak hal. Tapi selalu gagal.”


“Kenapa ?”


“May … Aaron bisa keluar dari semua ini kalau saja dia punya motivasi untuk sembuh. Tapi selama ini May, bahkan aku sendiri tidak bisa memberi dia motivasi. Dia sama sekali tidak mau berjuang untukku. Dia tidak mau berjuang untuk masa depannya. Tanpa kemauan kuat dari dirinya, aku rasa akan sia – sia segala hal yang aku lakukan. Dia akan kembali lagi begiti dia ingin …”


“Lalu ?” aku bertanya seperti orang bodoh.


“Kamu bukan pacarnya yang pertama May,” wah … itu hal baru buatku,” Tapi sejauh yang aku lihat, kamu berbeda dengan pacar – pacarnya dahulu. Bahkan kalau aku boleh bilang, kamu bukan type cewek yang dia suka …”


“Maksud kakak ?” aku merasa tidak enak. Bagaimana mungkin Aaron suka aku kalau aku bukan cewek typenya.


“Mungkin inilah May yang dinamakan cinta benar – benar cinta. Dia dulu suka sekali dengan cewek feminim,” aku melihat – lihat diriku lagi. Aku memang tidak punya potongan feminism walaupun aku memakai rok, “manja dan suka diantar ke mana – mana,” kalau ini bukan aku.


Dia melanjutkan lagi,”Beberap kali dia berpacaran dengan cewek – cewek semacam itu sebelum orang tua kami meninggal. Sepeninggal mereka, rasanya Aaron kehilangan gairah hidup. Saat itulah dia mulai ngobat dari beberapa temannya. Bahkan cewek – ceweknya dulu tidak bisa membantuku untuk nedorong Aaron lepas dari hal itu. Sampai kemudian ada kamu. Kamu berhasil menarik hatinya May. Kamu memberi dia gairah untuk hidup. Bantu aku supaya semuanya bisa berakhir dengan baik …”


Dan titik ini aku jadi bimbang. Aku sangat mencintai Aaron. Tapi di lain pihak, rasanya ada beban yang aku harus tanggung untuk ‘menyembuhkan’ dia. Lha memang super power macam apa yang aku punya sampai aku punya tanggung jawab besar untuk membuat Aaron lebih baik?


Aku sangat mencintai Aaron, pacar pertamaku itu. Tapi sekali lagi, aku bimbang. Di saat kebimbangan melanda seperti ini, aku membutuhkan seseorang untuk curhat, seseorang yang bisa mengerti aku sepenuhnya.


Imelda.


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2