
“Hati – hati May …” Kata Papa waktu aku cerita tentang Kevin.
“Dia sudah matang, sedangkan kamu masih tujuh belas tahun,” Kata Papa lagi. Aku tahu kalau Papa tadi mau memakai kata ‘ingusan’ sebagai kontras dengan Kevin yang sudah matang.
“Tapi Kevin tidak seperti itu Papa. Dia itu lelaki yang sangat baik,” ujarku membela Kevin sambil menceritakan apa saja yang dia lakukan buat aku kemarin.
“Iya, Papa tahu May. Tapi kamu juga harus mengerti kalau jaman sekarang ini semua bisa dibuat. Bisa saja sesuatu yang sepertinya asli ternyata barang imitasi. Bukan hanya barang May, tapi penampilan juga”
“Perasaan May bilang kalau Kevin itu orang baik” Aku berkata dengan sangat jengkel.
“Kamu masih baru pertama kali ketemu dengan dia khan?”
“Dan itu cukup bagi May untuk tahu dan yakin kalau Kevin itu adalah orang baik.”
“Setidaknya jangan terlalu cepat memutuskan. Terlebih lagi, jangan membuat keputusan kalau kamu sedang jatuh cinta. Segalanya perlu diuji May.”
“Ih Papa, siapa juga yang sedang jatuh cinta. May khan hanya naksir,” aku sedikit berbohong.
“Papa mungkin harus ketemu dia dulu baru kemudian Papa akan menyesal telah berpikir yang tidak – tidak tentang Kevin.”
“Mungkin May. Bahkan Papa sendiri tidak yakin akan paham tentang dia dalam pertemuan pertama yang berlangsung kurang dari satu jam.” Aku tahu Papa hendak mengejek aku dengan perkataan seperti itu.
“Papa, hatiku sedang senang. Kenapa Papa tidak ikut senang juga?”
“Naka Papa yang cantik, Matahari, Papa dulu juga pernah seperti kamu. Papa dulu juga punya teman yang dengan kematangannya mempesona gadis – gadis belia yang belum tahu apa – apa”
“Mungkin malah bukan teman – teman Papa. Mungkin Papa sendiri yang begitu …” nadaku meninggi.
“Aku tidak percaya kamu berbicara seperti itu.” Papa berkata sambil menahan nafas.
“Memang saja khan, mungkin karena alasan itu juga aku sekarang jadi tidak punya Mama” kataku sambil berlari menangis ke kamarku.
Aku tidak percaya Papa sama sekali tidak mau mendukung perasaanku. Aku tidak minta uang atau barang – barang keinginanku. Tapi ini perasaan. Bayangkan saja, bahkan aku saat ini sedang jatuh cinta. Seorang gadis tujuh belas tahun jatuh cinta. apa itu aneh ? Sama sekali tidak bukan ? dan Papa tidak mau mengerti. Aku benci.
“Papa khan hanya minta kamu hati – hati May” Aku dengar suara Papa dari balik pintu. “Tidak adil kalau kamu menyalahkan Papa dengan masalah yang sama sekali tidak sangkut pahutnya dengan Papa ini. Apalagi kamu bawa – bawa Mamamu. Itu gak adail khan May!”
“Bukan. Papa tidak mau aku jatuh cinta. Papa hanya mau aku di sini terus sampai tua”
__ADS_1
“Nona kecil. Kamu tahu apa tentang dunia ini?”
“Sudah tahu banyak Papa. Aku tahu bagaimana mencari uang ketika teman – teman kelasku mendapat jatah uang dari orang tua mereka. Bahkan orang tua mereka mau membelikan mereka handphone! Sedangkan aku? Untuk membeli handphone saja aku harus berdebat dengan Papa dan bekerja kesana – kemari sebelum aku bisa benar – benar punya handphone !” Aku menangis terus membenamkan wajahku di bantal sampai basah.
“Maafkan Papa May. Papa bukan orang tua yang baik buatmu. Papa sudah cepek May, dan kamu sama sekali tidak mau mengerti Papa.” Sesaat kemudian terdengar suara pintu yang ditutup keras dan Papa menstater sepeda motornya kemudian pergi.
Bukan pertama kalinya aku dan Papa bertengkar. Kami sering bertengkar karena hal – hal kecil. Seperti siapa yang harus mencuci piring setelah makan missalnya. Tapi tidak jarang pula kami marah karena hal – hal yang bersifat sangat prinsip. Misalnya saja tentang harus mengambil jurusan apakah aku setelah lulus nanti. Dan begini ini, setiap kali kami bertengkar Papa akan pergi keluar meninggalkan aku sendiri di rumah sampai kami sama – sama menyesal dan saling minta maaf.
“Ucapanmu memang keterlaluan May!” kata Imelda di balik aquariumnya.
“Tadi Papaku yang menyalahkan aku. Dan sekarang bahkan kura – kura peliharaanku juga menyalahkan aku !”
“Aku hanya mengatakan yang benar. Kamu memang keterlaluan.”
“Kamu bisa apa memang Imelda. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya menjadi gadis tujuh belas tahun yang sedang jatuh cinta.”
“Kalau kamu rasa aku tidak pernah jatuh cinta kamu salah May. Aku pernah jatuh cinta!”
“Kamu habiskan sepanjang hidupmu di aquarium. Bagaimana kamu menemukan pasangan?”
“Kamu pikir aku tidak punya hidup sebelum kau kurung aku di kamarmu yang sesak ini?”
“Aku tidak mau bohong kalau aku merasa nyaman di kamarmu yang sesak ini.” Nada suara Imelda menurun.
“Maafkan aku Imelda. Aku tahu kalau tidak enak dikurung. Aku akan melepasmu kalau kamu ingin.”
“Tidak May. Aku ingin tetap disini. Dengan siapa kamu akan ngobrol ketika Papamu sedang pergi kalau tidak ada aku ?” aku menangis lagi. Imelda adalah sahabatku.
“Trims Imelda.”
“Di tanah leluhurku May. Setiap kura – kura selalu menghormati orang tua.”
“Bahkan kalau mereka bersalah?”
“Karena kami tahu mereka melakukan segalanya untuk kebaikan kami May.”
“Dan sekarang kamu ingin membela Papa?”
__ADS_1
“Pernahkah Papamu melakukan sesuatu yang merugikanmu May?” aku diam saja.
“Tidak pernah bukan ?” Aku masih diam saja.
“Apakah pernah kau merasa kalau di depan teman – temanmu, gurumu atau muridmu kau cenderung menjadi anak yang manis. Berkata – kata halus dan mencari – cari cara untuk tidak membuat konflik dengan mereka ?”
Entah kenapa aku diam saja. mungkin karena memang ucapan Imelda benar.
“Dan kamu juga tentu sering merasa di hadapan Papamu kamu bebas berkata apa saja. Kamu tidak perlu berkata – kata halus dan menjadi anak yang manis. Katakan kalau aku salah May!”
“Kamu jangan memojokkan aku Imelda. Kamu tidak akan pernah bisa membuatku merasa bersalah dengan mengatakan hal – hal yang berlebihan seperti itu. Sama sekali tidak ada gunanya.” Aku berkata sambil berusaha menutup kepalaku dengan bantal.
“Semuanya ini benar May. Kamu tidak ingin tahu kenapa?”
Semakin erat saja aku tutup kepalaku dengan bantal supaya aku tidak mendengar omelan Imelda.
“Tutup saja kepalamu terus. Biar kamu kehabisan napas. Aku ini kura – kura May. Tidak akan bisa menelpon ambulan atau memberi napas buatan.”
Aku biarkan saja kepalaku terus di balik bantal. Tapi lama kelamaan napasku jadi sesak juga seperti apa yang telah Imelda katakan. Lalu aku pura – pura duduk sambil bersandar di tembok dengan tetap memasang muka jengkel.
“Dengarkan aku May.” Imelda melanjutkan kotbahnya. Kepalanya diangkat tinggi – tinggi dan dia duduk di salah satu gundukan batu – batu kecil yang kuberi cat warna hijau di dalam aquariumnya.
“Kamu tidak pernah berusaha menjaga sikap dan mulutmu di depan Papamu karena kamu tahu kamu tidak harus menjadi manis dan baik untuk mendapatkan perhatiannya. Di depan orang lain kamu boleh berpura – pura baik dan manis tapi kamu tidak merasa perlu berpura – pura di depan Papamu. Kamu sangat tahu kalau dia menyayangimu dan kamu juga sebaliknya, tidak peduli apapun yang kau katakana atau kau lakukan. Kamu menjadi orang yang sangat jujur dan kamu bisa benar – benar menjadi dirimu sendiri di depan Papamu.”
“Dia menyayangimu apa adanya. Tidak seperti orang lain yang menyayangimu dengan brbagai syarat.” Imelda menyerangku bertubi – tubi. Sama seperti di dalam lomba debat.
“Imelda. Kamu semakin membuatku terpojok dengan perkataan – perkatanmu itu. Aku tidak tahan … “
“Selain tidak tahan kau juga merasa menyesal dan ingin segera meminta maaf. Akui saja. kau tidak perlu menjaga gengsi di depan seekor kura – kura …” Imelda berkata sambil mendekap dua tangannya dan mengetuk – ngetukkan salah satu kakinya.
Aku menangis lagi. Bedanya kali ini aku menangis bukan karena marah ataupun jengkel, tapi karena aku merasa berdosa. Aku sangat menyakiti hati Papa. Aku mulai mengkhawatirkan dia.
Follow me in instagram @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
__ADS_1
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang