
Beberapa minggu aku absen mengunjungi rumah Nenek. Meskipun sering sebal pada Nenek, tapi kalau lama tidak berjumpa rasa kangen itu muncul juga. Dan setelah beberapa aku jalan dengan Aaron, aku rasa ini juga waktu yang tepay buat Nenek untuk ketemu Aaron.
Seperti biasa, Aaron mengendarai mobilnya sangat cepat. Aku pukul beberapa kali kepalanya. Sampai beberapa kilometer menuju rumah Nenek, dia baru pelankan lajunya. Sekitar 20 km per jam. Dia buka helm membiarkan angin sejuk hari minggu mengibarkan rambutnya yang tidak cepak. Aku juga melakukan hal yang sama. Merasakan angin sejuk menerpa wajahku. Kami sama – sama menikmati perjalanan itu …
“Kau tahan tinggal di tempat ini May ?”
“Aku akan tahan kalau terpaksa,” jawabku sekenanya. Aku lingkarkan tanganku di pinggangnya dan menopangkan dagu di bahunya.
“Aku ingin tinggal di tempat seperti ini. Mungkin aku akan menjadi petani May. Punya sawah dan kebun. Aku juga ingin memelihara ayam dan bebek. Bagaimana menurutmu ?”
“Impian indah sebetulnya. Tapi kamu tahu khan … impian pasti tidak akan seindah kenyataan. Lagian juga … ”
“Lagian apa?”
Beberapa motor berseliwaran di sekitar kami. jalan ke rumah Nenek adalah jalan besar. Banyak truk pengangkut tebu yang lewat. Jadi kami harus sangat hati – hati kalau lagi jalan ke sini.
“Salah satu impian masa kecilku adalah pergi ke Jakarta. Mungkin kerja di sana.”
“Dan selama ini kamu belum pernah pergi ke Jakarta?”Aaron melihatku melalui kaca spion dengan tatapan tidak percaya.
“Belum pernah sama sekali. Seumur – umur, hidupku selalu ada di Malang. Paling jauh aku pergi ke rumah Nenek atau ke Surabaya ke kantor Papa.”
“Aku tidak menyangka hidupmu semenderita itu,” dia meringis.
“Tapi kamu pacaran sama gadis menderita itu khan?” aku balas meringis juga.
“Yah semoga kehadiranku bisa mengurangi penderitaannya,” aku pukul bahunya.
“Kamu kali yang harusnya bersyukur dapat aku. Cewek mandiri dan gak manja meskipun belum pernah melihat Jakarta.”
“Tentu saja, aku sangat bahagia. Aku rasa, aku lebih membutuhkanmu daripada kamu membutuhkanku,” Aaron lepaskan salah satu tangannya dari kemudi lalu meremas tanganku.
Aku melting …. melting …..
__ADS_1
“Nenek kamu seperti apa sih May ?” Aaron mengalihkan pembicaraan. Sebetulnya aku lebih senang kalau kami membicarakan tentang cinta kami berdua. Uhuk …
Aku hela nafas lalu menjawabnya.
“Sebenarnya dia Nenek yang baik. Tapi kau tidak akan bisa merasakan kebaikannya hanya dengan sekali dua kali berkunjung,”
“Aku sering ketemu orang seperti itu,”
“Dan itu akan membantumu untuk memahaminya,” kami berdua sudah sampai di depan rumah Nenek. Aaron menuntun sepeda motornya masuk. Nenek terlihat sudah ada di depan pintu, menyambut kami dengan muka tersenyum.
“Nenek kangen sama kamu Har. Papamu tadi telpon kalau kamu mau ke sini sama pacarmu….” Nenek mencium pipiku sambil melirik Aaron yang sibuk mengunci sepeda motornya.
“Wah … gagah yah … tidak salah kamu memilih dia,” aku jadi malu mendengar perkataan Nenek. Segala hal yang berhubungan dengan pacar, rasanya selalu membuat malu kalau dibicarakan dengan Nenek atau orang dewasa lainnya.
“Bapaknya kerja apa ?” Nenek bertanya padaku. Untung saja Aaron belum masuk.
“Dua orang tuanya sudah meninggal Nek. Dia tinggal sama Kakaknya,”
“Oh …” Nenek berhenti sebentar, “Tapi dia berasal dari keluarga baik – baik khan,”
“Aaron,”
“Wah … nama orang barat kok dipakai. Memangnya Negara kita tidak punya persediaan nama yang cukup sampai harus ekspor ke luar negeri. Sama seperti Papamu itu Har,”
“Ya Nek,” memangnya kata – kata apa yang bisa aku katakan saat itu selain ya Nek …
Aaron mengangguk santun pada Nenek. Persis seperti yang aku harapkan. Dan saat itu aku sangat bersyukur rambut Aaron tidak gondrong, tubuhnya tidak penuh tato dan tidak terlihat telinganya bertindik. Aaron sudah menjadi pacara sempurna bagiku di depan Nenek. Seandainya saja Nenek, aku bisa berbagi cerita tentang Aaron. Akan sangat lega pasti diriku.
Nenek membawa kami masuk ke dalam rumah, menyilahkan Aaron duduk di ruang tamu yang nyaman.
“Buatkan minum Har,” Nenek mengulangi tradisi yang aku yakin diturunkan dari setiap generasi. Dari ibu, kepada anak gadisnya. Membuatkan minum cowok yang menyukai mereka. Tapi khan aku tidak punya ibu. Jadi bukan keharusan aku harus mengikuti tradisi itu. Tapi yang membuat aku harus melakukannya adalah kenyataan bahwa aku punya seorang Nenek. Secara tidak langsung, Nenek punya kewajiban untuk mewariskannya padaku. Aaron tersenyum dengan kepuasan tiada tara. Melihatku membuatkannya minum, dan dengan manis menghidangkan pada dia.
“Terimakasih May,” Aaron menahan tawanya.
__ADS_1
“Silakan diminum,” aku menucapkan kata yang pasti dikatakan semua gadis yang menghidangkan minum.
“Ada kue di dapur Har. Ambilkan buat Aaron,” lagi – lagi Nenek mewariskan tradisinya dan aku melihat betapa bahagianya wajah Aaron. Hampir saja aku mendengar dia tergelak. Apa yang aku lakukan selain mengikuti kata Nenek. Waktu aku berjalan ke dapur aku dengar pelan Nenek bertanya,
“Nak Aaron keberatan kalau Nenek panggil dengan nama yang lain ? Aryo misalnya ? Maklum saja … Nenek ini tinggal di desa … lidahnya kaku kalau ngomong yang tidak biasa …”
Dan aku mendengar Aaron gelagapan …”Ehm .. oh … usul Nenek boleh juga. Mungkin bagus kalau saya dipanggil Aryo. Kalau May tadi dipanggil apa Nek ?”
“Nenek panggil dia Hari. Papanya itu lebih suka nama aneh. Syukur nama belakangnya Indonesia sekali. jadi yah mending Nenek panggil nama yang belakang saja,”
Kemudian aku datang membawa senampan penuh kue yang rupanya sudah Nenek siapkan. Pisang goring dan kue pukis yang masih hangat ketika aku sentuh.
“Silahkan Mas Aryo, dimakan …”
“Terimakasih Mbak Hari,”
Aku akui dia menang.
Beberapa saat kami ngobrol banyak hal. Terutama Nenek yang bertanya banyak sekali kepada Aaron. Pertanyaan – pertanyaan yang pasti akan membuatku risih kalau ditanyakan oleh seseorang yang baru saja aku kenal. Tapi memang biasanya orang – orang segenerasi Nenek lumrah menanyakan hal – hal seperti itu. Pertanyaan – pertanyaan seperti, “Berapa saudaramu ?” “Orang tuamu kerja apa ?” “Kamu masih punya pertalian darah dengan keluarga keraton ?” atau yang lebih ekstrim lagi “Kamu punya dinosaurus di rumah ?”. aku bersyukur Aaron punya banyak kesabaran untuk Nenek.
Rupanya, selain punya warisan untukku, Nenek juga ingin mewariskan sesuatu kepada Aaron. Dengan memegang falsafah bahwa setiap lelaki di dalam keluarga kami selalu dihormati dan dipandang karena kemampuan mereka bekerja, maka Nenek berkata,
“Kebetulan ada Nak Aryo datang. Nenek lagi pingin bersih – bersih rumah nih. Mau bantu yah …?” Aaron tidak punya kekuatan untuk menolak permintaan seorang wanita.
Maka, dimulailah pekerjaan kami semua pada hari itu. terkhusus Aaron. Tugasnya lumayan berat. Tugas – tugas tipikal kaum pria. Membetulkan genting, menambal atap yang bocor, mengangkat ini, mengangkat itu dan mengangkat lain – lain. Hebatnya, sekan – akan Aaron tidak pernah lelah. Dia selalu punya tenaga untuk menyelesaikan semuanya. Menjelang sore, ketika matahari condong ke barat, rumah Nenek yang sebesar lapanghan bola itu benar – benar bersih. Bahkan Aaron bertanya pada Nenek,
“Masih ada lagi ?” Nenek anggap itu bercanda. Aaron telah mendapatkan hati Nenek pada hari itu. Terlebih juga dia telah mendapatkan hatiku. Bahkan sebetulnya, tanpa dia melakukan semua pekerjaan itu, dia telah dapatkan hatiku.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang