
“May, Nenekmu baik juga orangnya …” Aaron berkata ketika kami dalam perjalanan pulang. Sekitar separuh perjalanan dari rumah Nenek menuju kota Malang. Seperti tadi, Aaron juga tidak melajukan sepedanya cukup kencang. Membiarkan berpuluh – puluh kendaraan mendahului kami berdua. Tapi jadinya, kami berdua bisa menikmati alam, melihat lading jagung terhampar sampai sejauh mata memandang, kereta api yang kadang – kadang lewat dan sungai jernih tempat anak – anak kecil bermain.
“Iya … Nenek memang baik. Kamu sudah berhasil mendapatkan hatinya Aaron,”
“Aku harap memang begitu. May, kau tidak keberatan kalau kita beristirahat sebentar ?”
“Sama sekali tidak,” Aaron menepikan motornya.
“Kau tidak apa – apa ?”
“Setelah istirahat sebentar, pasti aku akan baik kembali,” dia berusaha tersenyum, hanya supaya aku tenang. Tapi beberapa saat kemudian aku lihat tubuhnya mulai bergetar, wajahnya pucat dan keringatnya deras berjatuhan.
Sepertinya dia ingin memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya dan aku yakin itu bukan keracunan makanan dari rumah Nenek.
“Katakan kau tidak apa – apa Aaron,” aku meminta kepadanya. Tapi sepertinya keadaan tidak tambah membaik. Tubuhnya semakin bergetar. Dia pegang perutnya seperti menahan sesuatu di dalamnya.
“Aku harus telpon Kevin,” aku berkata sambil meraih HPku.
“Jangan May,” dia tahan tanganku.
“Kamu sama sekali tidak baik – baik saja Aaron,” aku berkeras ingin menelpon Kevin.
“Kumohon jangan May,”
“Lalu apa ? Aku akan membiarkanmu mati di tempat ini ?” aku mulai menangis. Hariku yang semula berjalan indah dan sempurna berbalik seketika.
“Tunggu saja sebentar. Beberapa saat lagi. Keadaan ini akan berlalu ?”
__ADS_1
“Apa maksudmu ?”
“Tunggu saja !” dia berkata dan menggeliat – geliat kesakitan. Beberapa kendaraan lewat. Tapi tidak satupun dari mereka memperhatikan kami. Mereka pasti berpikir kami hanyalah dua remaja yang sedang berpacaran di pinggir jalan. Aku sama sekali bukan tipe cewek yang suka menunggu.
“Kamu butuh pertolongan Aaron. Kalau kamu tidak ijinkan aku telpon Kevin, biarkan aku bawa kamu ke rumah sakit,” aku berkeras.
“Jangan May,” aku tidak mau dengar kata – katanya. Dia tidak akan bisa berbuat apa – apa dengan keadaannya sekarang. Aku rangkul badannya yang lebih tinggi sepuluh centimeter dari badanku itu. Aku berdirikan dan aku papah menuju ke sepeda motornya.
“Apa yang mau kau lakukan May?” wajahnya pucat dan lingkaran hitam terlihat di seputar matanya. Aku akan bawa dia ke rumah sakit, rumah sakit terdekat. Kalau dia tidak ingin aku menelpon Kevin, setidaknya aku harus menolong dia. dia tidak bisa menolakku kali ini,
“Pegang pinggangku kuat – kuat Aaron,” dia sudah tidak punya tenaga. Sepertinya dia kelelahan sangat hebat. Lelah yang benar – benar lelah. Sampai menggenngam tangannya sendiripun tidak sanggup. Aku tidak hiraukan air liurnya yang menetes di bahuku. Yang aku pikirkan hanya menolong Aaron. Aku naik di atas sepeda motor. Aku lepas jaketku dan jaketnya. Aku bikin satu simpul dan membuatnya menajdi seperti sebuah tali panjang. aku tidak yakin dia bisa berpegangan erat di tubuhku kalau aku bonceng nanti. Jadi aku harus mencari penahan supaya dia tidak jatuh.
Aku ikatkan tubuh Aaron di pinggangku dengan jaket kami berdua. Sebisa mungkin aku lajukan motor Aaron. Berat dan sulit memang, karena itu adalah motor cowok. Ditambah dengan berat Aaron di punggungku, semuanya ini tidak jadi bertambah muda. Tapi aku cukup berpengalaman dengan motor Papa. Aaron masih bergelendot di punggungku. Sebentar – sebentar aku lihat dia dari spion, memastikan kalau dia masih hidup.
Ya Tuhan, aku masih pacaran sebentar. Dia ini pacarku yang pertama, aku gak mau dia cepat mati.
Rasanya waktu berlalu sangat lambat. Setiap saat mataku melihat kalau ada rumah sakit atau klinik. Tapi tak satupun yang tertangkap oleh mataku. Dan yang bisa aku pikirkan saat itu adalah secepat mungkin tiba di Malang. Berkali – kali aku hampir jatuh menahan beban tubuh Aaron yang oleng ke sana ke – mari. Syukur aku bisa sampai di Malang dengan selamat. Aku segera pergi menuju rumah sakit. Malang yang macet membuat perjalanan ini tidak mudah. Berkali – kali aku harus menekan klakson, berteriak – teriak supaya orang minggir dan membuatku dipandang seperti orang gila. Tapi semuanya itu tidak berarti. Aaron harus ke rumah sakit. Titik.
Dan aku ada di sana, duduk di samping ranjang Aaron. Dia masih tidur, mengumpulkan tenaga. Tidak hendak aku biarkan dia bangun kecuali memang sudah waktunya bagi dia untuk bangun. Aku pandangi wajahnya lamat – lamat. Wajahnya berbentuk tegas dengan alis yang tebal. Kulitnya kencang dan bersih. Dan aku benar – benar menyadari kalau orang inilah, yang sedang berbaring tidak berdaya di ranjang ini adalah cowokku, cintaku. Aku mulai menangis. Tangis yang tadi sempat tertahan karena aku harus bereaksi dengan cepat. Aku menangis juga karena marah. Menyadari betapa egoisnya dia tidak hendak memikirkan aku. Betapa egoisnya dia membiarkan aku mempunyai tubuh yang sehat dan dia menghancurkan dirinya sendiri, tubuhnya tidak akan lagi kuat. Betapa egoisnya dia hendak meninggalkan aku begitu cepat, padahal dia sudah sempat memberi warna indah dalam hidupku. Aku menangis, tersedu – sedu. Aku ingin pukul kepalanya, aku ingin tampar mukanya, supaya dia mengerti betapa marahnya aku.
Aku rasakan tangannya mengusap kepalaku, dia sudah bengun dari masa lelapnya, membuat wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya.
“Kamu boleh telpon Kevin May,” dia bilang pelan. Aku mengangguk dan aku telpon Kevin. Kemudian aku usap mataku yang basah. Kembali aku memandang dia dengan perasaan bercampur aduk. Antara marah dan sayang.
“Aku minta maaf,” dia bilang. “Aku tahu aku egois May,”
“Dan kamu akan terus egois Aaron ?” dia diam saja. “Bahkan akupun tidak punya arti buatmu untuk berjuang hidup ?” dia masih saja diam. “Kalau memang aku tidak berguna buat kamu Aaron, lebih baik aku pergi,”
__ADS_1
“Jangan May. Jangan menyerah dengan aku sekarang,” dia menarik napas. Matanya berkaca – kaca. “kamu sudah memberiku alasan untuk berusaha May,”
“Usaha apa yang kamu lakukan ? Membuatku ketakutan seorang diri di pinggir jalan ?”
“Maafkan aku. Kau tahu khan May, tidak mudak untuk lepas. Aku harus melakukannya bertahap….”
“Bertahap omong kosong Aaron,”
“Bukan omong kosong May. Aku sudah berusaha,”
“Lalu apa yang aku lihat tadi ?”
“May, mengertilah. Yang kau lihat tadi adalah usaha tubuhku untuk mengeluarkan segala racun yang ada dalam diriku. kau pikir semuanya berjalan dengan mudah ? Aku tinggal pergi ke dokter dan semuanya akan berakhir begitu saja ? sama sekali tidak. Aku berkata sungguh – sungguh kepadamu May. Aku selalu berusaha, berusaha untuk kamu,”
aku pandangi wajahnya. Dia menggenggam tanganku.
“Aaron, berjanjilah padaku untuk terus berusaha. Berjanjilah paku untuk tidak lagi memikirkan dirimu sendiri …”
“Aku berjanji May. Aku tahu kau bukan orang yang mudah menyerah. Hidupmu yang berat dan rumit membuatku malu pada diriku sendiri. Karena itu aku ingin kuat seperti dirimu. Jangan menyerah untukku Matahari …”
Tangan kami masih berpegangan. Kak Kevin datang.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
__ADS_1
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang