Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Jalan


__ADS_3

“Bisa kau bayangkan itu Imelda ?” ucapku di sela – sela tangisku ketika aku curhat kepada Imelda.


“Pasti kau sangat sedih …” Imelda menjawab sambil merayap ke sana – kemari. Apabila bertemu tembok, dia akan berjalan miring – miring berharap bisa menembus tembok itu.


“Memang Imelda,” aku membalik badanku melihat langit – langit kamar. Aku letakkan beberapa bintang, bulan dan planet dari phosphor. Sangat indah kalian pandang bila lampu dimatikan. Papa tidak pernah mengijinkan aku tidur di halaman belakang rumah ketika malam. Padahal aku sangat menikmatinya. Melihat langit cerah dengan ribuan bintang yang gemerlap. Itulah sebabnyi aku sangat menikmati pergi ke camping ground dengan Papa. Melihat angkasa malam, membuatku sadar betapa kecilnya diriku. Hanya sebutir debu berukuran beberapa micron di dalam suatu system yang menyusun jagad raya.


Setiap hal, manusia dan apapun di dunia ini mendambakan rasa nyaman. Seperti diriku dan Papa. Papa tidak ingin kesepian supaya bisa bahagia. Mungkin aku harus memikirkan untuk menerima Tante Nina, supaya Papa bisa senang. Aku kira setiap anak di dunia ini ingin membuat orang tuanya bahagia. Aku harus berusaha.


Tapi aku tidak rela. Papa dan aku adalah sebuah tim. Kami sudah cukup lengkap dan kami tidak memerlukan orang lain.


Terlalu lama aku berpikir sampai tidak menyadari waktu hampir tengah malam. Imelda sudah mendengkur di salah satu pojok di bawah meja belajarku. Sinar yang dipancarkan ‘benda – benda langit’ di langit – langit kamarku sudah berpendar redup hampir padam. Dan kudapati HPku bergetar kemudian berbunyi. Nomor Aaron …


“May …”


“Kamu belum tidur Aaron ?”


“Tidak bisa May. Kamu ?”


“Sama. Kamu baik – baik saja ?”


“Aku baik – baik saja May. Maafkan aku karena kau harus melihat hal tadi,”


“Maksudmu ?”


“Hal … itu … kamu tahu khan maksudku ?”


“Maaf,” ujarku ketika bayangan Aaron tadi melintas di mataku.


“May … aku kesepian …”


“Kamu punya Kak Kevin, Aaron. Dan aku yakin kalau kamu punya banyak teman …” dua orang sehari ini yang berkata kepadaku tentang hal kesepian. Apakah kesepian adalah mahluk paling mengerikan di dunia yang bisa membuat setiap orang menderita sepanjang hidupnya ?


“Kevin punya kehidupan sendiri May. Dulu waktu masih ada Mama dan Papa, jarang sekali aku kesepian. Begitu tidak ada mereka berdua, aku jadi benar – benar merasakan apa itu artinya rasa sepi.”


“Apakah itu alasannya sehingga kau ehm … membutuhkan obat – obattan itu ?”


tidak terdengar suaranya melalui handphoneku. Hanya nafas Aaron saja yang terdengar jelas.

__ADS_1


“Aaron … aku berpikr kalau dalam banyak alasan hidupmu jauh lebih mudah dari hidupku. Kau tidak perlu bersusah – susah untuk mendapatkan sepatu, baju atau handphone. Bayangkan aku Aaron, aku harus menjaga supaya sepatu tidak kena air kalau tidak benar – benar terpaksa. Baju – bajuku jarang sekali berganti dan aku harus berdebat dulu dengan Papaku sebelum aku bisa punya handphone. Dan lihatlah dirimu Aaron, apa kau merasakan kesusahan – kesusahan yang aku alami itu ?”


“Kamu sama sekali tidak tahu tentang hidupku May. Aku pikir setiap orang punya kesusahan – kesusahan sendiri …”


“Kesusahan apa yang kau alami Aaron ?”


sekali lagi hanya hembusan napasnya saja yang aku dengar dari handphoneku.


“Kamu tidak sedang teler khan ?”


“Aku masih tetap ingat kalau jariku ada lima.” Berhenti sejenak dan dia sambung.


“Kesepian May. Bulan depan Kevin akan bertunangan kemudian akan menikah. Semakin lengkap saja tidak ada orang yang akan memperhatikanku. Kesusahanku adalah tidak akan ada lagi orang yang ada di dekatku. Kevin akan pergi dan sibuk dengan tunanannya …”


“Tapi kau masih akan bisa makan dengan tenang tiga kali sehari, kau tidak akan dipusingkan dengan uang sekolahmu yang besarnya hampir sama dengan gaji Papaku itu dan  kau tidak akan ragu – ragu menelponku karea tidak kuatir pulsamu akan habis …”


“Tahu khan May … semua hal yang kau katakana padaku adalah kekuatiranmu, bukan kekuatiranku. Setiap orang punya keslitan sendiri May. Kamu mengerti khan ?”


Dia memang ada benarnya.


“Aku mengerti Aaron. Kenapa kau menelponku malam – melam begini ?”


“Maksudmu ?”


“Tidak ada cewek yang pernah menamparku sebelumnya. Tidak juga pernah ada cewek yang mengatakan hal – hal menyakitkan kepadaku. Lebih tepatnya kebenaran. Semua cewek yang ada di sekolahku adalah cewek – cewek manja yang tahu betul bagaimana menghamburkan uang orang tua mereka,”


“Itu mengingatkanku pada dirimu,” aku potong perkataan Aaron.


“Betul May, kecuali kenyataan bahwa aku sudah tidak mempunyai orang tua,” dia mengambil nafas dalam. Aku mengerti apa yang dia rasakan.


“Kamu tidak salah. Karena itu aku membutuhkanmu, karena kamu berbeda May. Aku selalu malu pada diriku sendiri setiap kali aku mengingat kamu. Hidupmu berat tapi kamu melaluinya dengan mudah …”


“Tidak benar. Tidak semua hal berjalan seperti yang kamu lihat Aaron …”


“Aku membutuhkanmu …”


“Karena aku berbeda ?”

__ADS_1


“Tidak May … tapi karena aku … ehm …” dia berhenti sesaat, menahan napas sesaat sebelum menghembuskannya dan mencoba mengatur irama napasnya.


“Tidak mudah mengatakannya. Belum pernah aku mencobanya. Ehm … May, kau mau jalan denganku ?”


Bukankah itu kalimat paling indah yang aku dengar dalam satu hari ini ? Setelah dua hal mengerikan terjadi, datang sekarang satu hal menyenangkan. Bukankah hujan sehari menghapus kemarau setahun ?


“Aaron … bodoh kalau aku tidak naksir kamu ….”


“Berati ini bukan perasaanku saja May,”


“Aku tahu. Tapi Aaron ….”


“Katakan saja May …”


“Aku ingin kau tetap sehat Aaron. Tetap menjalani hidupmu seperti orang yang lain. Kalau kau tidak punya alasan hidup untuk Kak Kevin, sekarang kau punya alasan hidup untukku. Apakah kau pikir itu berlebihan ?”


“Sama sekali tidak. Aku juga merasakan itu.”


“Tidak cukup kalau hanya kau rasakan Aaron. Aku rasa kau harus melakukan sesuatu untuk itu,”


“Kalimatmu sedikit rumit, tapi aku mengerti artinya. Jadi, kau jalan denganku sekarang ?”


“Tidak !”


“Mengapa ?”


“Karena kamu jalan denganku,”


Dia tertawa sebentar, “Artinya sama bukan ?”


“Kau ingin berdebat ?” aku menjawab riang.


Kami banyak berbicara malam itu. Sampai HPku berbunyi sebagai tanda bateraiku akan habis. Baru aku tutup HPku.Kamarku sudah benar – benar gelap. Sudah lebih dari tengah malam sekarang. Aku tidak ingin bangun dengan kepala pusing besok pagi. Disekitarku sepi, tidak ada suara. Bahkan mungkin lebih sepi dari rumah Nenek. Di rumah Nenek masih aku dengar suara jangkrik dan katak ketika aku hampir terlelap. Ditambah dengan langit malam yang entah mengapa aku rasa lebih cerah dari langit di rumahku. Rasa hatiku masih tidak menentu. Sedih dan bingung bercampur menjadi satu. Aku akan tidur, selamat malam semuanya.


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2