Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Hari Pertama


__ADS_3

Pagi harinya aku bangun dengan tubuh yang jauh lebih segar dari pada hari sebelumnya. Aku memandang sekeliling kamarku dengan mata berbinar, merasakan hari pertama aku punya pacar.


“Selamat pagi Nona !” suara kecil Imelda terdengar dari bawah. “Kamu harus mengatakan sesuatu padaku hari ini. Aku harus menjadi orang pertama, uhfff …. Maaf, kura – kura pertama or whatever you call me, yang mengetahui kabar terbaru tentang Matahari,” Imelda duduk sambil menjentikkan jari – jarinya.


“Kamu kemarin malam benar – benar tidur khan ?”


“Kemarin malam aku dengar ada yang berkata bahwa semua hal tidak berjalan seperti yang kamu lihat,”


“Kamu pura – pura tidur ?”


“Jangan berbelit – belit !”


“Baiklah Imelda, kau tahu ?”


“Apa ?” mata Imelda menajam lengkap dengan wajah penasaran.


“Aaron mengajak aku jadian !”


“Aku tak percaya !”


“Terserah deh. Tapi memang begitu kenyataannya !” aku tersenyum – senyum sendiri dengan jawabanku. Yah Tuhan, aku sudah keluar dari club jomblo dan masuk ke geng cewek – cewek pacaran sekarang.

__ADS_1


“Kau berpacaran dengan seorang pecandu narkoba !”


“Tapi aku maksir dia !”


“Jangan jadi cewek bodoh dong May !”


“Aku tahu. orang bilang cinta itu buta bukan ?”


“Cinta memang buta. Tapi kamu tidak. Lihat, matamu indah dan kau sama sekali tidak perlu bantuan kacamata !”


“Tapi aku sudah menerima dia Imelda,” aku mendadak lemas kembali mempertanyakan apa keputusanku tepat dan tidak terburu – buru.


“Aku kira tidak akan semudah itu kau kehilangan akal sehatmu. Hidupmu sulit May. Dengan menerima Aaron kau akan menambah satu kesulitan lagi dalam hidupmu. Belum lagi masalah dengan pacar Papamu. Kau telah membuka satu jalan lebar menuju penderitaan !”


“Yakin apa ? Yakin kalau dia memerlukan pertolongan ? Wah … pintar sekali kamu ?” nadanya menyindir.Entah mengapa tapi aku sangat nyaman berteman dengan Imelda, bercakap – cakap dengan dia sambil menumpahkan rasa hatiku padanya. Sepertinya … sepertinya … aku sedang berbicara kepada sisi diriku yang lain … entahlah.


“May ? Kamu sudah bangun ? Jangan molor terus Nona kecil !”


“Iya Pa, May sudah bangun !” aku menempelkan jari telunjuk ke mulutku supaya Imelda diam. Bergegas aku keluar dari kamar tidur, menemui Papa yang sudah nyaman dengan kopi dan koran. Tapi melihat Papa rasanya aku jadi sebel lagi dengan kejadian kemarin malam ketika Papa mengenalkan tante Nina. Aku rasanya masih tidak bisa terima. Tapi di saat bersamaan. Aku mulai mengerti kalau Papa juga butuh kebahagiaan dan aku adalah anak Papa, dan Papa membutuhkan seorang teman hidup.


Apalagi kalau nanti aku sudah kuliah dan pergi ke Jakarta, Papa pasti kesepian karena aku yakin 100% Imelda akan ikut denganku. Jadi papa tidak akan punya teman ngobrol. Jadi meskipun hatiku berat, aku ingin Papa bahagia sehingga aku bilang,

__ADS_1


“Papa, salam buat Tante Nina yah,” aku berusaha tersenyum.


Papa memandagiku seperti tidak percaya. Mungkin papa sedang membayangkanku memuntahkan emas 5 kilogram dari mulutku. Tapi paling tidak ini adalah sebuah permulaan yang baik bukan?  


Tapi bagaimanapun juga, perkataan Imelda tidak banyak merngusikku hari itu. Hanya sedkit saja hari dalam satu tahun yang aku anggap sebagai hari istimewaku. Hari pertama aku bertemu dengan Kak Kevin aku anggap istimewa. Hari pertama Papa membawaku ke Confetti, kedai es krim favorit kami, aku anggap istimewa. Hari pertama Gareth Richardson mengajakku keluar, aku anggap istimewa. Dan sekarang, hari ini adalah hari pertama aku mempunyai pacar. Wajar bukan kalau aku anggap hari ini adalah istimewa ? Mungkin aku harus menandai tanggal agenda atau kalender di kamarku dengan marker warna merah muda meskipun itu bukan warna kesukaanku. Hanya sebagai tanda … bagaimana ? Mungkin aku akan putuskan nanti. Yang penting hari ini adalah hari istimewa.


Aku duduk di bangku kelasku sambil memeriksa catatan fisikaku. Fisika selalu menjadi momok buatku. Apalagi hari ini akan ada ulangan. Aku lebih senang mempelajari sejarah atau sosiologi. Setelah bel berbunyi nanti, waktu jam pertama, aku akan bertemu Pak Rustam, guru Fisika yang tanpa alasan jelas selalu bersikap sinis kepadaku. Lengkap sudah ketidak sukaanku pada fisika.


Kemudian Trisakti datang, bercerita padaku tentang keponakannya yang baru lahir di sambung dengan Jell datang yang langsung saja bercerita tentang kebiasaan Ibunya nonton telenovela sambil berkomentar tentang semua iklan yang ditayangkan dan aku kembali duduk menahan sakit perutku ketika Pak Rustam datang.


“Selamat pagi,” suaranya diberat – beratkan. Kumisnya melintang diatas bibir, kasar dan awut – awuttan. Apa dia ingin jadi Albert Einstein?


“Silahkan menyiapkan kertas. Hanya ada alat tulis di atas bangku. Semua tangan tidak ada yang menyelinap di dalam bangku. Saya juga tidak mau ada yang mengangkat kertas ulangannya menutupi kepala pura – pura menguap padahal sedang menanyakan jawaban. Kalau ada yang kurang jelas, silahkan angkat tangan dan bertanya. Saya kira sudah tidak ada lagi yang perlu ditanyakan …” tanpa basa – basi sekadar untuk menarik perhatian murid macam aku dia berdiri dan menuliskan soal – soal di papan dengan marker.


“Jangan melamun May. Tulis dan kerjakan. Tidak ada sesuatu yang bisa kau pelajari dengan terus menerus melihat bunga dari jendela !” sedikit, dingin, tajam, dan segala ungkapan lainnya untuk menyatakan kesinisannya. Meskipun aku sudah berusaha mati – matian, tetap saja yang namanya fisika sulit untukku. Aku lihat soal – soal cerita yang telah dengan rapi ditulis di papan. Aku harus menghitung hukum coulomb. Entah apa yang dipikirkan Charles Coulomb ketika dia menciptakan hukum ini yang pertama kali. Apa dia ingin menyiksa gadis malang yang hanya punya dua sepatu seperti aku ini ? Lagian juga mengapa aku harus belajar segala sesuatu yang tidak akan bisa aku gunakan nanti ? Contohnya seperti sekarang ini. Aku harus menghitung soal – soal yang hanya akan aku temui di dalam diktat saja. tidak pernah aku praktekkan dalam dunia nyata. Sekarang kalian tahukan kenapa aku lebih suka belajar bahasa inggris. Yah karena apa yang aku pelajari bisa langsung aku gunakan dalam hidupku. Dalam banyak hal aku sangat mengerti kalau fisika membantu kehidupan manusia. Seperti Thomas Alpha Edison dengan bola lampunya atau Albert Einstein dengan reaksi nuklirnya. Tapi apa dengan begitu semua anak SMU harus belajar fisika ?


Mata Pak Rustam terus saja mengekori setiap gerakku. Bahkan sampai detik terkahir hanya beberapa soal saja yang aku kerjakan dan belum pasti itu benar … sampai aku menyerahkan kertasku di meja Pak Rustam yang tertawa penuh kemenangan. Kalau kalian pernah merasakan ada orang yang tidak tanpa alasan tidak menyukai kalian, kalian bukanlah satu – satunya orang seperti itu di dunia ini. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2