Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Tante Nina dan Satu Kejadian Lain


__ADS_3

Aku bertemu dia lagi, karena terpaksa.


“Halo May,” dia menelponku sebelum bertemu. “Ini Tante Nina. Tante dapat nomor kamu dari Papa kamu,” aku dengar suaranya cukup manis di telpon.


“Oh .. eh … iya. Ada apa Tante ?” saat itu aku sudah keluar dari sekolahku, dengan Jell dan Trisakti berjalan di sampingku.


“Tante ingin ngobrol sama kamu. Kebetulan nih Tante lagi ada di sekitar stasiun. Bagaimana ?” aku pandang Jell dan Trisakti sejenak. Mereka tidak mengerti.


“Ehm … baik Tante,”


“Tunggu sekitar sepuluh menit yah,” dan telpon ditutup.


“Siapa May ?” tanya Trisakti. “Perasaan kamu gak punya Tante deh …”


“Pacar Papaku,” aku menjawab singkat. Jell memandang wajahku.


“Pastikan saja segala cerita sedih bawang merah bawang putih tidak terjadi padamu May. Tapi aku yakin kamu bisa menanganinya dengan baik.” Ujar Jell. Kulihat Trisakti menyikut tangan Jell.


“Apa – apaan sih Tri ?” sergah Jell.


“Kapan sih kamu mau berhenti sinis kayak gitu. Positif sedikit kenapa sih ?” Trisakti gusar.


“Rasanya memang aneh kalau aku harus punya mama sekarang. Selama ini hidupku baik – baik saja tanpa ada seorang mama. Kalau aku berpikir untuk diriku sendiri, tidak akan pernah aku bisa menerima ada wanita lain di rumahku. Tapi ini semua untuk Papa. Aku tidak boleh egois,” aku bilang pada mereka. Saat itu juga aku dengar suara sepeda motor yang sangat aku kenal.


“Aaron jemput tuh,” kata Jell sambil memandangku. Kami bertiga berhenti.


“Hai,” Aaron menyapa kami bertiga.


“Syukur kamu datang Aaron. May mau ketemu sama Mama tirinya tuh. Kalau ada kamu khan paling tidak aku bisa tenang, May baik – baik saja tidak disiksa disuruh membersihkan rumah dari matahari terbit sampai matahari terbenam.” Kata Jell.


“Kamu tuh terlalu sering nonton sinetron Jell. Udah deh. Yukk Aaron,” Trisakti menyeret Jell pergi.


“Maksud Jell tadi apa ?” Aaron memandangku penasaran.


“Papaku punya pacar. Dia pingin ketemu aku sekarang,”


“Oh .. semua orang sedang punya pacar sepertinya. Kevin punya pacar, Papamu punya pacar dan aku juga punya pacar …” Aaron tersenyum manis. apakah aku harus tersenyum juga ?


“Kamu pikir ini lucu Aaron … maksudku keputusan Papa untuk punya istri lagi akan berdampak baik untukku. Bisa kubayangkan suasana rumah nanti bagaimana. Pasti canggung. Apa aku harus pindah saja ke rumah Nenek yah ?” aku membayangkan tinggal di rumah Nenek dan langsung merasa mual.  


“Kamu beruntung May. Akan ada lebih banyak orang lagi yang mencintaimu.”


“Tapi aku merasa semua yang aku punya sekarang sudah cukup. Papa sangat menyayangiku. Aku sama sekali tidak butuh seorang Mama,” saat itu kami berjalan beriringan di tepi trotoar. Aaron menuntun sepeda besarnya.


“Tapi Papamu membutuhkan seorang pendamping. Kalau tidak, tidak mungkin dia mengenalkanmu dengan seseorang,” Kalau begini, Aaron terlihat dewasa.


“Yah … aku tahu itu. Papa dan aku sudah berbicara tentang itu. Itu juga alasanku untuk mencoba menerima Tante Nina. Kamu temani aku yah !”


“Tentu. Aku memang ingin sama – sama kamu.” Kami berjalan. Tidak banyak yang kami obrolkan setelah itu. Berdua menunggu Tante Nina.


“Ngapain kamu bawa bola basket segala ?”

__ADS_1


“Iseng aja. Siapa tahu bisa berguna …” dia menyeringai nakal. Aku sendiri tidak tahu apa artinya itu. Tapi aku sih Ok Ok aja kalau dia ajak aku main basket.


“Halo May,” datang juga dia akhirnya. Memakai jeans dan T – Shirt. Rambutnya ringkas diikat lengkap dengan kacamata khas wartawan.


“Halo Tente Nina,” aku berusaha tersenyum hangat. “Kenalkan Tante, ini Aaron.” Tante Nina menjabat tangan Aaron.


“Sepertinya Mas Ndaru pernah menyebut – nyebut nama Aaron yah,” wajah Tante Nina berpikir. Pasti dia melihat tanda tanya sebesar gagang telpon di atas kepalanya.


“Papa cerita apa ?”


“Ah … mungkin Tante yang salah dengar,” dia tersenyum. Aaron mengangkat dua alisnya kepadaku.


“Lebih enak kalau kita cari minum yah,” aku mengangguk, “Dimana ?”


“Di depan stasiun Tante,” ujar Aaron.


“Gak apa – apa khan May ?” Tanya Tante Nina.


“Tidak masalah,” aku jawab. Aku merasa jadi orang penting.


Tante Nina dan aku berjalan beriringan. Mengobrolkan beberapa hal ringan supaya akrab. Aaron menuntun sepeda motornya di belakang kami.


“Aaron itu pacarmu yah May,”


“Iya Tante. Tapi Papa kayaknya belum tahu deh, atau sudah yah” aku berusaha mengingat – ingat apa aku sduah pernah memberi tahu Papa tentang hal ini. Sepertinya belum deh.


Kami berbicara ketika kami sudah masuk ke tempat kami akan membeli minum dan Aaron masih memarkir motornya.


“Ah .. Tante ingat. Dia Aaron itu. Sebelumnya kamu naksir Kakaknya khan ?”


Kami bertiga mengobrolkan hal – hal kecil. Hal – hal sepele yang sebenarnya tidak perlu. Tapi aku rasa, ketika kita hendak mengenal seseorang dengan baik, keakraban pasti dimulai dari hal – hal yang kecil bukan ? Sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpisah karena Tante Nina harus kembali ke Surabaya dengan hasil liputannya.


“Mama tirimu lumayan baik aku kira,”


“Belum tentu dia jadi sama Papa. Banyak hal masih mungkin terjadi khan ?” Aaron mengangkat dua bahunya.


“Kamu tidak sekolah lagi hari ini Aaron. Jangan bilang kalau sekolahmu masih libur …”


“Aku tidak ingin sekolah hari ini May,”


“Semudah itu ?” aku tak percaya. “Kenapa ?”


“Dari pagi perutku mual terus.”


“Kamu perlu ke dokter. Mau aku temani ?”


“Tidak perlu. Ketemu kamu saja aku pasti langsung sembuh,” aku tahu dia menggoda. Aku tonjok bahunya.


“Kamu mau ajak aku kemana sekarang ?” aku tanya.


“Ada satu tempat May,” dan dia melajukan sepeda motornya dengan sangat kencang. Beberapa kali aku pukul kepalanya supaya dia mau sedikit pelan. Tapi terus saja begitu sampai kami tiba di lapangan basket. Kalian percaya ? Lapangan basket ! Benar – benar kencan informal yang sempurna.

__ADS_1


“Kamu sungguh – sungguh ?” aku tanya.


“Tentu. Kamu bukan cewek manja yang lekas menyerah khan ?”


“Dan aku percaya kalau kamu bukan cowok lembek yang selalu takut keringat dan sinar matahari …”


“Aku rasa tidak ada gunanya cewek terlalu banyak omong tanpa menunjukkan bukti,”


“Kamu mau bukti Aaron ?” dia tertawa, tapi waktu terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan tertawa sepanjang masa. Aku mainkan bola berlari menuju ring. Dua angka tercetak di sela – sela tawa Aaron. Dan bisa aku pastikan tawa itu sebentar lagi akan berubah menjadi rasa tidak terima.


“Itu curang !”


“Kamu butuh bukti bukan ?”


Dan dia memburu untuk mendapatkan bolaku. Kami berkejaran, berlomba mencetak angka sampai aku kepanasan dan menyerah.


“Bagaimana hah ?” dia merangkul bola basket di depan dadanya.


“Sebenarnya kamu yang curang Aaron. Kamu dari rumah tidak ngapa – ngapain. Sedangkan aku ? Harus tersiksa memandang wajah Pak Rustam yang terus menerus sinis padaku.”


“Memangnya kenapa sih sama Guru itu ?” dia bertanya sambil berlari ke sana – kemari mendribel bola.


“Aku sendiri gak tahu. lagian juga khan bukan salahku kalau aku tidak suka fisika misalnya. Memangnya semua orang di dunia ini harus suka fisika ?”


“Tidak sih,” dia masih berlarian mendribel bola dan berusaha memasukkannya ke dalam ring.


“Kamu dengar aku tidak sih ?”


“Aku dengar ! Telingaku cukup peka dibanding dengan telingamu yang butuh perawatan itu,” dia tersenyum mengejek kepadaku. Aneh juga sih kalau dalam kenyatannya, pacaran model kami sering diisi dengan ejekan – ejekan seperti barusan. Mungkin sebenarnya tidak aneh bagi orang yang sudah sering pacaran. Tapi khan ini yang pertama buat aku. Dan sekarang aku yang berlari memburu dia. Ooops, maksudku bolanya. Dan terjadilah lagi pertandingan one on one yang sempat terhenti tadi, sampai aku menyerah … lagi. Tenaga Aaron seperti tidak habis – habisnya. Bahkan ketika ada  beberapa cowok lain yang datang, Aaron malah ikut gabung main dengan mereka sampai beberapa set. Beberapa kali aku temukan dia seperti menahan mual dan mungkin ingin muntah.


“Yakin kamu tidak apa – apa Aaron ?”


“May. Sudah aku bilang khan kalau aku tadi langsung sembuh begitu ketemu kamu …” dia berlari lagi. Sampai hari sudah sangat sore dan sampai aku paksa dia untuk mengantarkan aku pulang. Dengan amat sengat terpaksa, dia mau mengantarkan aku pulang. Dia mengantarkan aku sampai di depan gang masuk rumahku. Secara bersamaan, Bu Claudia, Ibu yang punya toko di depan rumahku itu keluar dari gang. Mendapatkan aku dan Aaron yang sedang ngobrol di pinggir jalan. Pastilah dia punya bahan pembicaraan baru besok pagi dengan sekelompok ibu – ibu yang lain. Kalau saja dia punya pekerjaan yang tetap, tidak dikerjakan secara sambilan seperti sekarang, pasti dia punya banyak hal lain yang lebih berharga untuk dikerjakan daripada menggosip.


“Kamu yakin tidak apa – apa Aaron ?” Aku tanya dia setelah Bu Claudia berlalu.


“Aku sangat sehat. Lihat nih ?” dia menekuk lengannya seperti binaragawan. Aku kira itu hanya pura – pura karena aku lihat ada lingkaran hitam di wajahnya. “Aku pulang dulu yah,”


“Kenapa buru – buru ?” aku rasa ada sesuatu yang tidak beres.


“Aku ingin istirahat saja.”


“Kamu jujur ?”


Tanpa menjawab dia keburu pergi dengan sepeda motornya. Meninggalkan aku di sini dengan rasa cemas.


Semua orang yang punya rasa sayang kepada seseorang pasti mengingnkan yang terbaik. Begitu juga aku kepada Aaron. Aku juga ingin yang terbaik. Jadi apa yang terbaik yang bisa aku lakukan ? Itu adalah suatu pertanyaan besar. Mungkin aku bisa memikirkan beberapa alternative, tapi apakah mungkin itu adalah hal yang terbaik ? cukup susah bukan …? Mungkin aku bisa bicara dengan Kevin. Akan aku lakukan besok, ketika aku pergi kerja di kantornya. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2