
Aku sampai di depan rumah Nenek ketika matahari sudah hampir terbenam. Matahari terlihat di sebelah barat berwarna kemerahan. Angin besar bertiup membuat bunyi bersiul – siul. Pohon – pohon bergoyang mengeluarkan bunyi gemerisik. Aku dapat merasakan berjalan dengan rambutku bergoyang – goyang karena angin besar. Beberapa buah kelapa yang daunnya yang sudah tua jatuh berdentuman di tanah. Cepat – cepat aku lari ke dalam rumah. Menemui Nenek yang terlihat segar karena mandi setelah seharian di penggilingan padi.
Penggilingan padi sudah terdengar tidak berjalan lagi. Beberapa orang masih kulihat menutup padi yang dijemur di samping penggilingan dengan plastic tebal supaya tidak kembali basah karena hujan yang mungkin saja sebentar lagi turun. Benar saja, angin besar yang bertiup membawa mendung kira – kira lima belas menit kemudian. Warna matahari yang merah tidak lagi terlihat karena langit mulai kelabu disusul air yang turun bergemiericik. Memasuki pertengahan November, mulai sering turun hujan di Malang.
“Mandi dulu Har,” aku cepat masuk ke kamar, menacarikan Imelda tempat yang nyaman, dan mandi.
Aku kemudian duduk di samping Nenek yang sedang duduk di beranda. Di sebuah kursi dari kayu jati yang telah berkali – kali diplitur ulang. Nenek duduk saja sambil menikmati hujan. Menikmati tanah yang berbau ketika bertabrakan dengan air hujan. Aku duduk di sebelah Nenek. Mencoba menjalin keakraban seperti yang diminta Papa. Berusaha mengenal Nenek supaya bisa menyayanginya. Dan juga supaya dia bisa menyayangiku.
“Kamu tahu Papamu tugas ke mana Har?”
“Ke Jakarta Nek,” Aku menjawab tidak memandang Nenek. Sama seperti Nenek yang bertanya sambil memandang hujan. Mungkin Nenek merasa terpaksa menerimaku disini.
“Berita apa yang dia kejar di sana ?”
“Belum tahu persis sih. Tapi tadi Papa sudah suruh May beli koran. Waktu May baca, katanya di Jakarta, di depan kantor kedutaan Australia, habis ada bom …”
Nenek mendengus pelan. Aku lihat dadanya naik turun. Aku perhatikan kulitnya yang sudah keriput dan tubuhnya yang sudah tidak ‘membentuk’. Suatu saat nanti, mungkin lima puluh tahun lagi, aku juga akan seperti Nenek.
__ADS_1
“Rumah ini Har, dulu tidak tembok seperti ini. Yang masih Nenek ingat waktu Nenek kecil dulu, dinding rumah ini terbuat dari bambu dan atapnya dari daun kelapa yang ditumpuk – tumpuk. Baru ketika Nenek mau menikah, rumah ini dibangun dengan tembok.
Bayangkan Har, tempat ini tanpa asap mobil, tanpa jalan beraspal. Sejauh mata memandang, kamu hanya lihat hamparan tebu. Waktu itu kami semua sangat tergantung dengan alam. Setiap kali musim tanam dimulai, semua orang disini pergi ke sawah membawa persembahan untuk pelindung sawah. Satu – satunya mesin berjalan yang pernah Nenek lihat hanya trem uap kecil menarik puluhan kereta yang mengangkut potongan tebu dari perkebunan ke pabrik gula.” Nenek tetap saja memandang hujan. Sepertinya dia ingin mengurai sebuah cerita, sebuah cerita dari ingatan yang mungkin tidak sering dia ingat atau ceritakan kembali. Aku membayangkan tanah di mana rumah ini sekarang berdiri. Puluhan atau mungkin ratusan tahun silam, tanah ini bisa jadi hutan yang lebat. Kemudian datang orang untuk membuka lahan dan perkampungan. Mungkin dulu di tanah ini berdiri pohon – pohon besar, banyak macan dan ular.
“Sepertinya, hidup Nenek waktu kecil dulu indah sekali …” kataku.
“Tidak selalu Har. Tidak selalu indah. Sering kami semua hidup dengan rasa tidak tenang. Was – was setiap saat. Masih terdengar kadang – kadang prajurit kita bentrok di sana – sini.” Hujan sedikit mereda. Rintikannya tidak sederas sebelumnya.
“Nenek dulu lahir ketika Belanda masih ada di sini. Waktu itu jaman perang Har.
Semuanya serba susah. Sekolah susah, bekerja susah. Nenek masih ingat ketika Nenek masih setinggi meja ini,” Nenek menunjuk meja di depannya. Kalau setinggi itu, kira – kira Nenek berumur sekitar empat tahun.
“Kalau tentara sedang bentrok, semua orang menutup rumahnya. Tidak ada orang yang berani berdiri. Semua orang tidur di tanah. Kalau mungkin, semua orang ingin tidur serendah tanah. Mendongak sedikit saja, bisa – bisa peluru nyasar hinggap di kepala. Tidak ada orang yang bergerak. Bernafaspun tidak dilakukan kalau tidak benar – benar terpaksa. Baru kalau suara tembakan berhenti, satu persatu rumah mulai dibuka pintunya.” Aku dengar suara Nenek yang tetap jelas di tengah hujan.
“Ketika Nenek mulai remaja, Nenek juga ingin pergi ikut gerilya, seperti teman – teman Nenek yang lain. Ikut membantu menjadi petugas kesehatan, menolong prajurit – prajurit yang terluka. Tapi … Kakek dan Nenek buyutmu tidak mengijinkan. Mereka tidak ingin kehilangan Nenek. Putri semata wayang mereka….” Nenek menarik nafas panjang. Panjang sekali sampai dadanya menggembung, sampai aku kira tidak akan berhenti.
“Tapi Nenek dulu termasuk gadis yang keras kepala. Sembunyi – sembunyi Nenek pergi dengan beberapa teman Nenek. Semuanya perempuan,” Satu lagi alasan aku temukan kalau gadis – gadis pantas menjaga diri mereka sendiri.
__ADS_1
“Berada di tengah – tengah medan perang tidak akan bisa Nenek lupakan Har. Setiap hari Nenek bergaul dengan luka dan darah prajurit. Kami tidak punya perban. Kain untuk membalut lukapun jarang kami temukan. Sebagai gantinya, kami pakai batang pisang yang kimi potong memanjang. Tidak terhitung berapa kali Nenek menangis. Sampai akhirnya Nenek tidak punya air mata lagi untuk menangis. Dari gadis yang keras kepala dan manja, selalu disayang orang tua, Nenek berubah menjadi gadis yang tegas. Sama seperti prajurit – prajurit yang lain. Tidak ada tempat bagi orang manja waktu itu. Senapan dan peluru tidak mengenal apakah seseorang itu manja dan disayang, apakah lelaki atau perempuan. Bisa kamu rasakan Har ?”Aku mengangguk. Aku mengerti, banyak yang gugur. Bahkan mungkin juga banyak pula yang tidak sempat punya makam. Segala usaha itu, untuk siapa?
“Lalu ?” aku bertanya.
“Setelah kurang lebih ehm ….,” Nenek berhenti sesaat. “ehm … tujuh bulan … Nenek pulang kembali ke sini. Disambut isak tangis orang tua Nenek. Mereka beruntung. Nenek juga beruntung karena masih bisa pulang. Tapi beberapa teman tidak seberuntung Nenek. Banyak yang hilang … banyak pula yang gugur.” Aku bisa merasakan hati Nenek.
“Tapi Har, saat itu mereka semua gugur dengan suatu kebanggan. Mereka punya cita – cita untuk diteruskan. Untuk merdeka Har.” Aku merenungi diriku sendiri. Setidaknya sekarang aku tahu kalau perkataan seperti itu benar dan tidak hanya ada di buku – buku sejarah.
“Setelah Nenek kembali, Nenek masih sering menerima kabar dari para prajurit yang lewat atau singgah di rumah Nenek. Dari mereka, Nenek mendengar banyak sekali cerita. Berulang kali hati Nenek menyoraki Nenek untuk kembali gabung dengan prajurit yang lain. Bahkan sampai sekarang Nenek masih sering menyesali diri Nenek. Kenapa Nenek dulu tidak kembali …” Mata Nenek memandang ke arah hujan yang semakin jarang. Hanya titik – titik kecil yang turun seperti butiran embun.
“Keadaaan berangsur membaik setelah kita merdeka. Sekolah – sekolah dibuka dan fasilitas kesehatan jauh lebih baik dari sebelumnya. Nenek mengerti kalau dulu banyak sekali bom. Karena dulu kita sedang berperang. Tapi sekarang Har, dengan siapa kita berperang sampai harus ada bom ?” Nenek bertanya sesuatu yang tidak bisa aku jawab karena ku memang tidak mengerti. Di koran aku membaca beberapa korban yang terkena bom. Aku membaca seorang wanita yang meninggal dan anaknya, seorang gadis kecil lima tahun yang sampai harus dibawa ke Singapura untuk perawatan. Sampai sekarang dia masih ada dalam keadaan koma. Aku sedih. Nasibnya akan sama seperti aku. Hidup tanpa seorang ibu. Kami sama – sama terdiam. Dalam hati aku juga bertanya, kenapa harus ada bom. Hal ini membawa kegelisahan tersendiri di dalam hatiku. Nenek pergi ke dalam. Aku sendiri duduk memeluk kakiku. Melihat pekarangan yang luas dan tumbuhan basah akibat hujan.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang