Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Rekonsiliasi


__ADS_3

“Kiri Pak,” Aku berkata pada sopir angkot. Aku turun dan menyerahkan ongkos angkot yang diperlukan. Butuh berjalan sekitar lima menit untuk sampai di rumahku. Sepeda motor Aaron berhenti persis di sampingku. Aku bisa merasakan knalpotnya yang panas.


“Sebenarnya apa sih maumu ?” Aku bertanya jengkel. Cowok ini benar – benar keras kepala, suatu sifat yang sedikit mengingatkan pada diriku sendiri.


“Sederhana. Aku hanya ingin mendengar kamu menerima permintaan maafku.”


“Aaron. Aku sudah bilang kalau aku sudah melupakannya.”


“Tapi kamu tidak memaafkan aku.” Aku kesal.


“Jangan ikuti aku ke rumah. Atau ….”


“Atau apa ?” tanyanya.


“ Atau aku tidak akan pernah memaafkan kamu ..” aku kemudian berjalan cepat ke rumahku, berharap Aaron segera pergi. Aku bereskan rumahku, membawa apa yang perlu untuk tinggal beberapa hari di rumah Nenek. Aku masukkan Imelda dalam sebuah kotak kardus kecil yang sudah aku lobangi beberapa bagiannya. Aku juga masukkan seonggok batu yang kuambil dari aquariumnya. Aku takut Imelda sulit beradaptasi di rumah Nenek nanti. Aku lakukan semuanya dengan cepat sambil berusaha melupakan Aaron yang baru aku temui. Satu tas besar aku bawa dan sebuah kotak kecil berisi Imelda. Aku kunci pintu dan aku berangkat keluar. Menutup pagar kecil dan mulai berjalan.


“Kita mau pergi ke mana May ?” tanya Imelda.


“Ke rumah Nenek. Kamu belum pernah ke sana khan ?”


“Mendengar ceritamu saja aku sudah enggan pergi ke sana.”


“Ini khan terpaksa Imelda. Papa pergi ke Jakarta dan baru balik minggu depan. Kita berdua disuruh menginap di sana …”


“Kita akan tersiksa selama satu minggu. Itu maksudmu ?”


“Iya …”


“Dan kamu bisa sesantai itu ?”


“Iya …”

__ADS_1


“Oh my God … ” dari sela – sela lubang yang kubuat supaya Imelda bisa bernafas, kulihat dia duduk bergoyang – goyang menggunakan dua kaki depannya sebagai tumpuan kepalanya. Di mulut gang kulihat Aaron masih di sana. Dia memang benar – benar keras kepala. Aku kira dia sudah pergi.


“Ngapain kamu masih di sini?”


“ini jalan umum kalu. Aku gak perlu minta ijin siapapun buat parkir motorku di sini. Lagian juga aku tidak membuntuti kamu ke rumahmu khan ?”


“Sama saja Aaron. Aku kira kamu sudah pergi. Setelah kemarin kau menghina aku apa sekarang kau juga akan menyiksa aku ?”


“Aku khan hanya minta maafmu May. Dan siapa tahu kita bisa pergi berdua habis ini ?” kulihat dia mulai tersenyum. Dia turun dari sepeda motornya sehingga aku bisa dengan jelas melihat wajahnya secara lengkap dari rambut ke kaki. Dia memang cakep. Tapi tidak super cakep. Dia memang tinggi, mungkin beberapa centimeter di atas Kak Kevin. Kulitnya bersih, tapi terlihat sangat cowok. Apa memang seperti itu kulit orang – orang yang punya duit? Aku jadi minder membandingkan kulinya dengan kulitku yang apabila disandingkan mungkin akan menimbulkan berbandingan 9 banding 5. Dia yang 9.


Aku berbicara lebih pelan kepada Aaron. Mungkin aku harus mengubah caraku berbicara kepadanya agar dia mengerti.


“Kalau kamu pikir aku mudah memaafkan orang sesudah aku dihina seperti kemarin, kamu salah Aaron. Butuh waktu untuk memaafkan. Karena itu aku bilang lebih baik kamu lupakan supaya tidak jadi beban.”


“Aku mengerti May. Aku dan Kevin kemarin bertengkar sewaktu kamu sudah pulang. Dia ingin aku minta maaf ke kamu”


“Jadi kamu ke sini atas suruhan Kak Kevin ?” Hatiku nyeri karena dia menemuiku ternyata atas suruhan Kak Kevin. Bukan karena dia benar – benar ingin minta maaf. Padahal tadi aku sempat berpikir kalau dia tulus.


“Oooo ini orangnya. Lumayan cakep loh. Dia cocok dengan criteria cowokmu May. Siapa tahu dia itu memang jodohmu, bukannya Kevin. Kevin tuh terlalu tua buat kamu” Imelda berkata panjang lebar.


“Diam Imelda !” Kataku keras.


“Kamu ngomong sama siapa ?”


“Kura – kura !” mungkin Aaron menganggap aku bercanda. Dia tertawa.


“May. Aku tidak tahu kalau kamu tidak punya Ibu. Aku minta maaf atas ucapanku kemarin”


“Kamu juga tidak punya punya Ibu, juga ayah Aaron. Aku malah beruntung masih punya Papa. Papaku memang jarang di rumah. Tapi setidaknya, dia selalu ada ketika aku perlukan” aku menjawab dia dan sedikit heran kenapa aku jadi malah curhat ke dia.


“Aku pingin ngobrol sama kamu” Aaron berkata lagi.

__ADS_1


“Mungkin lain kali Aaron. Sekarang bukan waktu yang tepat.”


“OK lah. Kamu masih mau jadi guru lesku ?” tanyanya.


“Aku pikir – pikir dulu yah Aaron. Lagian kenapa harus aku? Aku ini masih belum lulus SMA. Ke luar negeri saja belum pernah. Apa yang kamu bicarakan kemarin memang ada benarnya juga. Mungkin kalau memberi les anak SD gitu aku masih layak. Tapi kalau memberi les ke orang – orang sepertimu, mungkin aku ini gak ada apa – apanya. Lagian sekolah tempatmu itu khan terkenal sama Bahasa Inggrisnya. Rasanya kamu gak perlu aku deh Ron.”


“Btw, kamu kenal orang itu? Jangan langsung lihat, santai saja. di belakangmu, arah jam 10,” Aaron memberi tahu aku. Pelahan – lahan aku putar badanku dan aku melihat tetanggaku, Bu Claudia pemilik toko kelontong sedang mengintip aku sama Aaron. Aku tak tahu gossip apa lagi nanti yang akan tersebar di seluruh penjuru perumahan.


“Gak usah dipikirkan, ada dia atau gak, nasibku tetap sama seperti ini. Dia gak kasih aku makan, dan aku juga gak pernah ngemis ke dia,”


Aaron tergelak.


“Memang benar sih May. Sekolahkuku unggul Bahasa inggrisnya. Aku juga bisa sedikit – sedikit. Ngomong Bahasa jalanan gitu aku tidak masalah. Tapi kalau sudah ngomong grammar, aku mati deh. Sebentar lagi ujian nasional. Aku pasti mati kalau gak dapat bantuan dari sekarang. Sebelumnya sudah ada beberapa guru, tapi aku gak pernah cocok. Mungkin saja karena …”


“Karena apa?” sahutku.


“Mungkin saja rena mereka terlalu menuruti aku. Kamu orang pertama yang berani ngelawan aku. Kamu gak takut kehilangan uang. Aku jadi segan sama kamu.”


Mendengar jawabannya, aku jadi tersanjung juga, dan pipiku pasti bersemu merah.


“Kamu yakin gak mau aku antar?” dia bertanya lagi.


“Gak. Aku sudah biasa.” Kulihat satu angkot datang mendekat. Aku lmabaikan tangan dan angkot itu berhenti.


“Jangan ikuti aku !” Aku berteriak dari dalam angkot. Aaron mengangkjat jempolnya dan tersenyum. Kalau semuanya tidak bisa berjalan sempurna seperti yang aku inginkan, paling tidak semuanya bisa berjalan pelahan sesuai dengan cara alam. Angkot yang ku tumpangi berjalan lambat, menuju rumah Nenek.


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie

__ADS_1


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2