
Ketika pagi aku sampai di sekolah, pembicaraan tentang bom telah menjadi topic utama. Semua orang tidak berhenti membicarakan tentang bom. Setiap guru yang mengajar di kelas, semuanya juga menyinggung – nyinggung bom. Setiap orang seakan – akan tidak mau ketinggalan setiap informasi dari TV dan koran. Semuanya bercerita, tidak ada yang mau mendengar.
“Kenapa harus ada bom ?” Jell bertanya dan lagi – lagi aku tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Aku rasa, sedikit banyak, peristiwa ini melukai kami semua. bukan hanya mereka yang ada di tempat kejadian.
“Aku tidak bisa membayangkan kalau orang tuaku atau kakakku ada di sana. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus kehilangan mereka” Kata Trisakti.
“Dan Papaku sekarang ada di Jakarta. Dia sedang mengejar berita,” aku sekarang yang berbicara.
“Kamu tidak takut May ? Kamu tidak kuatir ?” pertanyaan Jell datang beruntun.
“Pastilah Jell. Tapi aku harap semuanya baik – baik saja.” Aku tidak mau kuatir. Aku tidak mau setiap saat kuatir. Papa pasti baik – baik saja, seperti biasanya. Kami bertiga berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang. Kami jadi sama sekali tidak bergairah membicarakan rencana pergi keluar hari kamis mendatang.
“Kalian tahu, aku sekarang jadi enggan keluar rumah kalau tidak benar – benar perlu.” Trisakti berkata sambil menyibakkan rambutnya.
“Jangan berlebihanlah Tri. Itukan terjadinya di Jakarta,” Jell tidak mau bertambah kuatir sebetulnya. Bisa aku lihat itu di wajahnya.
“Pikir saja deh Jell. Kalau di kota besar macam Jakarta saja bisa terjadi, apalagi di kota kecil kayak Malang gini?” saat itu kami bertiga sudah melewati gerbang sekolah. Bertiga kami berdiri di pinggir jalan menunggu angkot lewat sambil melirik – lirik kalau ada cowok cakep lewat. Setidaknya, hal kecil yang suka kami lakukan ini bisa menjadi sedikit penyemangat di hari mendung seperti ini.
Beberapa angkot lewat, tapi kami masih enggan untuk menaikinya.
“Mengerikan sekali. kemarin aku lihat di TV cuplikan gambar yang menunjukkan sewaktu mobil itu lewat” Trisakti bercerita.
“Jalan – jalan berantakan. Beberapa pohon kehilangan batang…”
“Karena itu juga Mamaku memutuskan untuk tidak melihat TV lagi. Kecuali kalau waktunya sinetron sih” Jell berhenti sesaat.
“Dia ngeri. Seperti aku juga. Mending aku tidak lihat TV atau baca koran saja,” yah memang begitulah Jell. Dia suka mendramatisir keadaan.
“Awalnya aku hanya memindahkan channel ketika jeda iklan. Aku kira gambar yang ditampilkan itu adalah sebuah film tentang perang. Aku tidak menyangka sama sekali kalau itu nyata. Dan akhirnya aku tahu kalau itu bukan gambar rekaan, tapi gambar asli. Kejadian nyata yang tidak sengaja terekam. Bayangkan saja, apa yang kalian lihat di TV ternyata benar – benar terjadi !” ungkap Trisakti berapi – api.
“Tentu sajalah Tri. Kamu pikir Cuma adegan cinta saja terjadi di film juga terjadi di dunia nyata ?” sergah Jell. Dia kesal.
Aku kira bom membuat hati semua orang menjadi sensitive. Kalau boleh aku jujur, kemarin malam waktu di rumah Nenek aku bertanya – tanya pada diriku sendiri. Kenapa aku harus punya cita – cita ? Apa guna aku sekolah kalau nantinya semua berjalan tidak pasti. Hidup tidak tenang dengan kekuatiran dan kecemasan setiap saat.
Baru pagi tadi aku sadar kalau hidup tidak berhenti karena bom. Trisakti memandangi jalan. Jell memainkan HPnya. Mungkin dia sedang memerlukan Andika, pacarnya yang sudah kuliah itu untuk sekedar ngobrol menenangkan hati.
“Aku duluan yah,” Jell naik angkot. Kami tidak pulang bersama – sama karena kami bertiga harus mengambil angkot dengan jalur berbeda untuk sampai ke rumah kami masing – masing.
“Sudah Tri, jangan takut. Semuanya pasti baik – baik saja.” aku menenangkan Trisakti yang kelihatan murung.
“Aku tahu May. Aku hanya menginginkian perdamaian dunia.” Trisakti yang Miss Universe telah menyampaikan pesannya.
__ADS_1
“Lebih baik kamu segera pulang. Menangkan hati di rumah. Rumah adalah tempat yang paling nyaman di seluruh dunia,” aku memberi saran.
“Memangnya kamu sudah pernah ke Timbuktu ?” aku lihat Trisakti mulai tersenyum.
Belum sempat aku jawab pertanyaan Trisakti, sebuah sepeda motor warna biru berhenti di depanku bertepatan dengan angkot menuju rumah Trisakti datang.
Di atas sepeda motor itu, bertengger Aaron yang tersenyum seperti tidak terjadi masalah apapun di dunia ini.
“Aku harus pergi sekarang” Kata Trisakti.
“Jangan” aku bilang pelan supaya tidak terlihat Aaron kalau sebenarnya aku panik.
“Udah terlanjur. Tuh angkotnya sudah nunggu” Trisakti berlari kecil menuju angkot. Dia naik kemudian berlalu. Aku sendiri di sini berhadapan dengan Aaron yang masih duduk memegang kemudi sepeda motornya.
“Halo,” katanya sambil melepas helm. Dia tersenyum manis. aku tidak bisa pasang muka masam.
“Halo juga,” kataku memperhatikan alisnya yang tebal, menyatu di tengah pangkal hidungnya. “Kamu tidak sekolah ?”
“Sekolahku diliburkan hari ini ?”
“Ada apa ?”
Yah, sekolah mahal memang seperti itu, kataku dalam hati saja.
“Pasti karena bom” Aku menerka – nerka.
“Begitulah, Jadinya aku free sepanjang hari ini. Moga besok free juga.” Dia tersenyum nakal. “Mau aku antar pulang ?”
“Waduh, bagaimana yah,” aku bingung harus menjawab bagaimana dengan tawarannya.
“Ayolah?” katanya membujuk. “Aku tidak akan menggigitmu. Lagian aku sudah tidak berani. Waktu itu rasanya aku seperti ditampar gajah,” lagi – lagi cowok ini tersenyum.
“Maksudmua aku ini gajah?” mau tak mau aku ikut tergelak dengan leluconnya.
“Hehehe, jadi bagaimana?”
“Kamu bawa helm ekstra gak?” tanyaku dan dia langsung jawab dengan menyorongkan helm ekstranya.
Aku naik di sepeda motornya. Dia lajukan pelahan tapi lama kelamaan cepat memaksaku berpegangan pinggangnya.
“Kamu sengaja yah ?” aku berteriak.
__ADS_1
“Apa ?” dia tidak dengar. Mungkin pura – pura. Aku biarkan saja.
“Belok kanan,” aku bilang ketika kami sudah sampai dekat rumahku. Aku harus mengambil beberapa barang untuk aku bawa ke rumah Nenek.
“Jangan ngebut, ini di dalam kampung !” aku yakin dia dengar, tapi dia malah mainkan gasnya sehingga keluar bunyi ribut. “Kenapa sih ?” aku tanya dan Aaron nyengir. Dasar.
“Sudah berhenti di sini …”
“Yang mana rumahmu ?”
“Itu, yang cat biru” aku tidak malu menunjukkan rumahku kepada Aaron. Kalau pada Kak Kevin itu lain soal. Bisa kulihat walau sekilas Bu Claudia mengintipku dan Aaron di sela – sela dagangannya.
“Tunggu aku dulu di sini”
“Kau tidak mengijinkan aku masuk ?”
“Aku hanya sebentar. Abis ini keluar lagi. Kau masih mau antar aku khan ?” sengaja aku tidak biarkan Aaron masuk. Aku takut suara – suara tidak sedap sampai di Papaku kalau dia pulang nanti.
“OK deh” Aaron mengangkat jempol kanannya.
Di dalam rumah udara sedikit lebih sejuk. Aku terus ke kamar mengambil barang – barang yang aku butuhkan selama aku tinggal di rumah Nenek. Cepat, tidak lebih dari sepuluh menit aku sudah ada di depan lagi menjumpai Aaron. Bu Claudia pura – pura membersihkan dagangannya sambil sesekali melrik ke arah kami berdua.
“Jalan yukkk”
“Ke mana?”
“Kau janji mau antar aku khan?”
“Iya, tapi kemana dulu Nona?”
“Ayahku pergi ke Jakarta sampai minggu depan. Jadi aku sementara ini tinggal di rumah Nenekku.”
“Ok deh. Ayo aja kalau gitu.” Dia berujar lalu melajukan motornya pelan – pelan. Aku tersenyum pada Bu Claudia, tapi dia pura – pura tidak melihat. Uh …..
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1