
Papa pergi malam – malam begini, dan aku tidak tahu dia pergi ke mana. Aku ingin menelponnya. Dan harus aku telpon. Aku harus minta maaf sekarang juga. Papa pasti merasa sangat terluka. Tidak masalah Papa tidak mau memaafkan aku sekarang. Aku hanya ingin menunjukkan padanya kalau aku benar – benar menyesal.
Aku pergi ke ruang tamu, memencet – mencet nomor HP Papa melalui telepon rumah. Ketika nada tunggu terdengar, terdengar pula HP Papa berbunyi di kamarnya. Papa keluar tidak membawa HP. Aku mulai bertambah khawatir. Aku duduk di ruang tamu. Menyalakan TV dan mencari – cari saluran yang menarik. Tapi semuanya terlihat membosankan. Tidak ada satupun yang membuatku ingin menonton, tapi aku tak mau pergi dari ruang tamu sampai benar – benar melihat Papa datang.
Hampir dua jam berlalu, tapi Papa belum datang juga. Pikiranku semakin melayang tidak karuan. Segala pikiran buruk bergantian muncul di kepalaku seperti iklan di TV. Bagaimana jika motor Papa menabrak pohon?
Bagaimana kalau Papa dirampok?
Ingin rasanya aku usir itu semua, tapi tidak bisa. Perasaan bersalahku jadi berlipat ganda. Apalagi ketika beberapa hal baik kuingat tentang Papa.
Aku ingat sekali ketika aku berumur tiga belas tahun dan mendapat menstruasiku yang pertama. Bahkan diriku sendiri tidak sebingung Papa. Sebetulnya waktu itu aku pikir kalau Imelda yang berdarah, karena dia lagi ada di pangkuanku. Tapi ternyata tidak dan Papa tahu kalau aku mendapatkan haidku yang pertama.
Karena Papa tidak pernah menjadi perempuan dia sangat bingung sampai – sampai dia membeli pembalut beberapa ukuran. Menelpon beberapa temannya untuk memberiku instruksi dari luar pintu kamar mandi untuk memasang pembalut yang tepat.
“Papa, apaan ini?”
“Pasang saja di calana dalammu!”
“Bagaimana memasangnya Pa?”
“Masak begitu saja tidak bisa May?”
“Aku tidak bisa Papa!” Aku berteriak dari dalam kamar mandi.
“Tunggu saja sebentar,” kata Papa sebelum kudengar Papa menelpon seorang temannya bertanya “Bagaimana memasangnya ?!” Kemudian Papa kembali terburu – buru dan menendang beberapa benda yang tergeletak di lantai.
“Kamu temukan bagian yang lengket ?”
“Tidak ada Papa. Semuanya kering !”
“Waduh!” Terdengar lagi Papa menuju telpon dan kemudian segera kembali.
“Buka dulu penutup perekatnya, seperti kertas putih gitu di tengah – tengah pembalutnya!”
Lama – lama aku menangis karena tidak mengerti apa yang dimaksudkan Papa.
“Sudah May, jangan menangis. Papa jadi bingung nih !”
“Kalau Papa gak teriak – teriak gitu May gak akan bingung kayak gini!” kemudian terdengar Papa pergi ke luar. Aku semakin menangis di kamar mandi merasa ditinggal sendirian.
Tidak lama Papa datang dengan salah seorang tetangga dan segala masalahpun jadi beres. Aku tahu pastilah suatu hal yang memalukan bagi Papa, yang cowok itu, meminta tolong tentangga untuk menolongku.
Dan sekarang, Papa masih belum kembali. Sudah hampir jam sebelas malam, aku tertidur di kursi ruang tamu. Malam itu tidurku tidak tenang.
__ADS_1
Pagi harinya, aku terbangun. Aku masih ada di ruang tamu tapi kini aku memakai bantal dan selimut. Kulihat sepeda motor Papa ada di pojok ruangan. Aku dan Papa menaruh sepeda kami masing – masing di ruang tamu ketika malam karena kami tidak punya garasi. Papa sudah datang.
Rupanya semalam Papa membeli makanan. Di meja dapur aku lihat dua bungkus nasi goreng yang sudah dingin. Aku hangatkan lagi dan membuat dua gelas kopi panas untuk aku dan Papa sebagai tanda rekonsiliasi. Ketika aku sudah selesai mandi kulihat Papa sudah ada di meja makan, menikmati kopi yang aku buat untuknya.
“May ingin berbicara Papa.” Aku berkata pelan masih dengan kepalaku yang ditutupi handuk.
“Apa yang mau kau katakan May ?” aku yakin sebetulnya Papapun tahu aku mau berkata apa.
“May kemarin salah Papa.” Berat sih harus mengakui itu. Tapi aku tidak mau dihantui perasaan bersalah sepanjang hidupku hanya karena aku terlalu gengsi untuk meminta maaf.
“Papa kok tidak ingat. Memangnya apa yang kamu katakan tadi malam sampai kamu perlu meminta maaf kepada Papa ?” Begini ini cara Papa menghukum aku dan supaya aku tambah merasa bersalah. Setelah Imelda kemarin malam, kini giliran Papa. Tidak mengapa, aku pantas menerimanya.
“May sudah mengatakan hal – hal yang menyakiti hati Papa …”
“Oh yang itu …” Papa berkata ringan seakan – akan segala ucapanku kemarin tidak berarti apa – apa buat dia. “Lalu ? dia bertanya lagi.
“Yah May minta maaf,” aku mulai merasa jengkel lagi. Masak sudah meminta maaf masih diperlakukan seperti itu ?!
“Kalau Papa belum memaafkanmu, kamu pikir Papa mau minum kopi yang buatanmu?” Papa berkata. Aku terkejut, ternyata Papa hanya menggoda.
“Ah Papa …” Aku menghambur kearah Papa.
“Kamu tahu May ? Bahkan sebelum kamu meminta maafpun Papa sudah memaafkanmu. Papa mengerti kalau banyak hal yang tidak bisa lakukan karena Papa harus bekerja supaya kebutuhan kita terpenuhi. Maafkan Papa juga kalau Papa tidak bisa begitu saja membelikanmu hand phone. Kamu tidak bisa menikmati kehangatan sebuah rumah sama seperti gadis – gadis yang lain …”
“Kamu anak baik May.”
“May sering menyakiti Papa.”
“Papa harap kamu tahu mengapa Papa mengatakan semua itu kemarin. Beberapa kali May, waktu Papa sedang mencari berita, Papa menemukan banyak sekali gadis – gadis belia seumurmu menjadi korban orang – orang yang berhati jahat. Hal – hal seperti itu yang selalu Papa pikirkan tentang kamu. jadi waktu kamu cerita tentang Kevin, Papa ini jadi keingat tentang mereka. Papa sama sekali gak mau anak Papa menjadi salah satu di antara mereka”
“Tidak akan Papa. May akan selalu menjaga diri.” Aku berkata sambil berurai air mata.
“Kamu benar – benar suka Kevin May?”
“Iya Papa”
“Setidaknya jangan terlalu cepat memutuskan. Bahkan kamu belum tahu siapa dia. Kamu sudah besar May. Papa yakin kamu sudah bisa mendengar kata hatimu dengan baik.”
Aku mengangguk dan melepaskan pelukanku dari Papa. Papa memegang bahuku dengan kedua tangannya.
“Maafkan Papa kalau Papa sering menganggap kamu anak kecil. Papa tidak pernah berharap kamu terus – menerus di rumah ini sampai tua. Papa tidak membesarkan kamu untuk menjadi orang tanpa pekerjaan. Suatu saat kamu akan pergi meninggalkan rumah ini untuk mengejar impianmu May. Papa yakin kamu akan belajar menjadi dewasa dengan baik.”
Aku mengangguk lagi. “Papa …”
__ADS_1
“Apa ?”
“Papa lelah jadi Papa May?”
“Tidak akan pernah nona kecil”
“Jangan lelah jadi Papa May …”
Gantian Papa yang mengangguk.
“Papa …”
“Apa lagi ?”
“May lapar …”
“Silahkan makan Nona.” Papa menyorongkan sepiring nasi goreng yang sudah aku hangatkan.
“Papa,”
“Hmmmm,”
“May ingin es krim.”
“Iya nanti Papa belikan.”
“Papa,”
“Iya?!”
“May mau sepeda motor.”
“Sudah jangan ngelunjak,” Papa tersenyum.
Aku juga tersenyum dan aku makan nasi goreng pagi itu dengan amat sangat lahap.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang