Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Tante Nina


__ADS_3

Pulang ke rumah dengan sejuta beban yang membuat punggungku serasa bongkok. Bertanya – tanya sepanjang jalan kepada diriku sendiri apakah keputusanku sudah tepat dengan tidak membicarakan Aaron kepada Kak Kevin. Dalam banyak hal aku sangat tahu kalau aku belum mempunyai hak untuk masuk dalam wilayah pribadi Aaron. Kalau saja aku bisa bercerita kepada Papa tentang hal ini. Tapi kalau tahu begini kenyataannya, Papa tidak akan mengijinkan aku lagi untuk bertemu Aaron maupun Kak Kevin. Inilah yang membuatku merasa berat.


Kalau saja Kak Kevin tidak menelponku saat itu, kalau saja aku tidak bertengkar dengan Aaron waktu itu dan lebih jauh lagi … kalau saja aku tidak mempunyai HP. Hal pelik ini tidak akan memusingkan aku. Aku ingin tetap mempunyai HP karena sudah banyak HP memudahkan hidupku.


Sekitar setengah delapan malam aku sampai di depan rumah. Meskipun udara terasa dingin, aku putuskan melepas sweater rajutanku. Kulihat sepeda motor Papa sudah ada di depan. Papa sudah pulang. Satu hal yang mengjutkan buatku adalah waktu kulihat Papa tidak sendiri di ruang tamu yang tidak terlalu sering menerima orang asing itu. Papa sedang duduk manis, berwajah cerah lengkap dengan pipi yang merah, bersama seorang perempuan seumur Papa. Tubuhnya langsing tapi tidak setinggi aku. Rambut ringkas dan wajah bersih. Memakai jeans lengkap dengan kacamata minus.


“Kami sudah menunggu kamu May,” Papa berkata. Dia menyebut ‘kami’. Kenapa harus ‘kami’ yang menunguku. Aku sama sekali tidak merasa punya urusan dengan perempuan itu.


“Ada apa Pa ?” wajahku tidak bisa dibilang ramah. Aku kira – kira bisa merasakan ada sesuatu diantara mereka berdua.


“Bukan hal penting,” Papa mau mengenalkan pacarnya dan berkata bukan hal penting ? “Papa ingin mengenalkan kamu dengan teman Papa,” dan kulihat perempuan itu tersenyum padaku. Apakah aku harus tersenyum juga ? Untuk menjaga perasaan Papa dan memenuhi segala standar etika sopan santun misalnya ?


“Papa harap kamu bisa mengenal dia lebih baik,” Papa ikut – ikuttan tersenyum sama sekali tidak mengindahkan perasaanku.


“Halo May. Panggil aku Tante Nina,”


“Tante Nina teman sekantor Papa May. Sudah lama kami saling kenal. Bahkan, kami berangkat sama – sama waktu ke Jakarta kemarin,” seakan – akan Papa mengulang memori indahnya ketika bertugas. Ternyata selain mengejar berita, Papa juga pacaran.


“Papamu sangat sering bercerita tentang kamu May,” aku diam saja, tidak punya kata – kata.


“Mas, sudah mau jam delapan. Aku harus pulang sekarang. Selamat malam May …” sambil tersenyum dia pergi diantar Papa ke jalan besar. Dia memanggil Papa dengan sebutan Mas. Tidak dengan nada standar … tapi lebih akrab. Aku duduk di ruang tamu dengan muka dan perasaan panas.


“Sebetulnya kami harap kamu pulang lebih awal supaya Nina lebih banyak waktu untuk ngobrol sama kamu,” Papa menghempaskan tubuhnya di sampingku.


“Kamu baik – baik saja hari ini May ?” Tidak ada kata – kata yang keluar dari mulutku dan sepertinya Papa bisa membaca pikiranku.


“Katakan pada Papa, bagaimana pendapatmu tentang Nina ?” dia berkata sambil melihat wajahku.


“Papa pacaran sama dia ?”

__ADS_1


“Bisa dibilang begitu …”


“Kenapa Papa baru mengenalkannya sekarang ?”


“Karena Papa harus yakin dulu dengan perasaan Papa sayang. Kamu tahu khan … tidak mudah buat orang seumur Papa untuk benar – benar yakin kepada sesuatu. Apalagi Papa harus juga memikirkan perasaanmu May. Papa tidak ingin keputusan yang Papa buat terkesan main – main …”


“Jadi, May lahir dulu karena keputusan main – main yang Papa buat, begitu ?” Aku berkata kesal kepada Papa. Papa itu tipe orang mandiri yang tidak butuh siapapun untuk memasak dan membuat kopi. Sekarang kenapa Papa harus punya pacar ?


“Hatimu sedang tidak baik May. Papa kira sekarang bukan waktu yang baik buat bicara …”


“Kenapa Papa … kenapa Papa harus punya pacar ?” aku tandaskan kata pacar kuat – kuat. Supaya Papa mengerti kalau aku tidak suka. Papa memandangku seakan – akan sedang menimbang sesuatu.


“Kamu ingin Papa benar – benar menjawabnya May ?”


“Tentu saja Papa. Aku tidak akan bertanya kalau aku tidak yakin …” mukaku rasanya panas.


“Dan Papa menyesal melakukan itu ? Kenapa tidak titipkan May ke panti asuhan saja waktu itu ? Dengan begitu Papa akan menjadi orang bebas, berpikir untuk diri Papa sendiri.”


“Tutup mulutmu Matahari dan pergi ke kamarmu. Kita akan bicara. Tapi bukan sekarang … setelah suasana hatimu baik. Papa tidak tahu apa yang terjadi dengan kamu hari ini. Sebaiknya kamu istirahat …”


“Papa … hidup kita selama ini baik – baik saja. Kita berdua bahagia. May bahagia meskipun May tidak punya Mama. Dan sekarang Papa ingin membawa orang asing masuk ke dalam rumah ini,” Aku mengatur napas dan menelan ludah.


“Papa, menerima Nenek bukanlah hal yang mudah bagi May. Tapi, setidaknya Nenek punya hubungan darah dengan May. Tapi Tante Nina Papa … dia bukan siapa – siapanya May !”


“May … ketika umurmu bertambah, kau akan mengerti apa yang Papa rasakan. Papa membutuhkan seseorang untuk berbagi hidup dan perasaan …” nada suara Papa mengendur, tapi wajahnya masih tetap berkerut – kerut.


“Lalu Papa pikir May ini apa ?”


“Sangat berbeda May. Ada banyak hal yang tidak akan pernah kau bagikan dengan Papa. Sama seperti banyak sekali hal yang tidak bisa Papa bagikan ke kamu,” Papa duduk melipat tangannya di dada. Melihat keluar melalui jendela.

__ADS_1


Aku mulai menangis. Hariku berjalan sangat buruk. Pertama dengan Aaron. Sekarang dengan Papa. Apa tidak boleh aku terima satu hal buruk satu kali sehari saja. mungkin kalau aku menerima hal ini besok, perasaanku tidak akan sekalut ini.


“Sekarang saja May, kita sudah jarang bertemu. Kamu sudah bukan lagiu gadis kecil. Kamu sekarang enam belas tahun. Kamu akan banyak disibukkan kegiatan – kegiatanmu sendiri sampai akhirnya nanti kau tidak akan ada di rumah ini lagi. Papa juga punya banyak teman May, tapi mereka juga punya urusan sendiri. Papa membutuhkan seseorang yang benar – benar ada di samping Papa. Yang akan disibukkan oleh Papa dan Papa juga akan sibuk untuk dia. Anak dan teman tidak akan bisa melakukan itu May.”


Kalau Papa adalah aku, pasti Papa sudah menangis. Dan aku masih duduk di samping Papa sambil berusaha menahan agar air mataku tidak keluar lebih deras.


“May tidak tahu Papa. Hari May berjalan tidak sesuai seperti yang May inginkan….”


“Ceritakan pada Papa sayang …”


“Tidak bisa Papa. Papa bilang ada banyak hal yang tidak bisa kita saling bagikan bukan ?” Papa tidak menjawab. Menarik napas dalam sambil masih melipat tangannya di dada dan melihat keluar. aku juga melakukan hal yang sama.


“Papa, jangan paksa May untuk menerima Tante Nina sekarang. Semuanya serba berat buat May….”


“Papa tahu May. Papa sebenarnya sudah mengira akan menerima reaksi seperti ini dari kamu. Papa tidak akan memaksamu sekarang. Tapi Papa ingin kamu berjanji May … setidaknya kamu jangan terlalu egois memikirkan dirimu sendiri. Pikirkan Papa juga sayang. Berikan Papa kesempatan untuk menikmati waktu – waktu pribadi Papa….”


“Papa tidak akan sayang May lagi ?”


“Bagaimana bisa ?”


Aku berdiri ke kamar mandi kemudian ke kamarku. Tidak ada gairah untuk menyentuh makanan yang sudah Papa siapkan di meja makan. Aku lebih memilih mengurung diri di kamar semalaman sambil berpikir tentang segala hal yang sudah aku alami sepanjang hari ini. Aku tidak pernah membayangkan mempunyai Mama sebelumnya. Apalagi kalau itu adalah orang yang benar – benar asing bagi diriku. Masakan aku harus hidup serumah dengan seseorang yang tidak aku kenal ? Duduk di satu meja makan yang sama, pura – pura melempar senyum dan berlagak aku adalah orang yang paling bahagia di seluruh dunia ini ?


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1


__ADS_2