Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Ragu


__ADS_3

“May,” Kak Kevin menyapaku. Aku mengusap mataku. Bagaimanapun, aku tidak suka melihat orang lain melihatku menangis.


“Terima kasih sudah membawa Aaron ke rumah sakit May. Maafkan aku juga kalau kamu harus mengalami hal ini,”


“Gak apa – apa Kak.”


“Kamu ngerasa bagaimana Aaron?” Kak Kevin berbalik kepada Aaron.


Aaron hanya tersenyum.


“Aku akan berbicara pada dokter untuk memindahkan pengobatan kamu Aaron.” Ujar Kak Kevin.


“Hah,mau dipindah kemana Kak?” aku bertanya. Aku melihat mata Aaron sedikit membelalak. Sepertinya dia tidak suka.


“Mungkin ke Singapore atau Australia. Tempat mana saja yang terbaik.” Ujar Kak Kevin.


Mendengar hal itu, aku jadi bertambah sedih. Aku tidak akan bisa menemani Aaron kalau dia pergi jauh. Tapi aku tidak boleh egois. Ini untuk Aaron. Aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri. Aaron prioritas utama sekarang.


Aaron memandang sekeliling ruangan. Dia lalu memandangku dan Kak Kevin bergantian.


“Aku tidak mau Kak,” ujar Aaron setelah beberapa saat dan mata Kak Kevin seperti lepas dari rongganya.


“Apa? Kamu jangan bodoh. Ini untuk kebaikanmu!” nada suara Kak Kevin meninggi.


“Sebelum adanya May, apa aku pernah berusaha sekeras ini untuk lepas dari narkoba?” Aaron bertanya pada Kak Kevin.


“Setiap usaha yang kamu lakukan selama ini, apa ada hasilnya? Australia sama Singapore, kita sudah pernah mencoba bukan? Lalu apa hasilnya?”


“Kalau begitu kita coba fasilitas baru. Bagaimana kalau Taiwan? Aku dengar mereka punya fasilitas bagus di sana. atau kita bisa pergi ke Eropa? Yah Eropa sepertinya bagus. Kita belum pernah pergi ke sana khan?”

__ADS_1


“Betul Kevin. Terakhir kali kita mau pergi ke sana, ke dua orang tua kita meninggal.”


Aaron berkata pedih. Kak Kevin menunduk menyesal. Dia tidak sadar bahwa ucapannya akan membuka kembali luka lama.


“Maafkan aku Aaron. Aku tidak bermaksud begitu. Kamu tahu khan?” ujar Kak Kevin sungguh – sungguh.


“Aku tidak mau pergi ke mana – mana Kev.”


Kak Kevin masih memandangi Aaron tidak percaya. Lalu dia beralih memandangku.


“May, tolong aku. Bicara sama dia supaya mau!”


Aku seperti dipaksa memakan buah simalakama, seperti diminta untuk memakan apel beracun. Kalau Aaron pergi, mustahil aku akan ketemu dia. Tapi dia akan pergi untuk kesembuhannya, untuk kebaikannya sendiri. Aku kembali mengatakan pada diriku sendiri untuk tidak egois.


“Aaron, dengarkan aku,” aku mencoba memberinya masukan.


“Tidak, tidak. Kamu yang dengarkan aku. Aku tahu kamu akan setuju dengan Kevin. Kamu akan memintaku pergi untuk pengobatan. Apakah itu artinya setelah kejadian hari ini, kamu tidak mau melihat aku lagi? Kamu mau aku pergi dari hidupmu? Apa itu yang memang kamu mau?” dia nenatapku tajam. Dan kata – katanya menusuk hatiku. Mataku yang sudah kering sekarang basah lagi. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan hal bodoh macam itu?


“Aku gak mau kamu mati. Tahu gak? Aku gak mau kamu mati! Aku itu peduli sama kamu. berat hatiku bilang kalau kamu harus pergi berobat. Tapi aku gak mau kamu mati. Kalau kamu mati, lalu aku jadi bagaimana? Dari dulu sampai sekarang, kamu selalu egois. Dirimu sendiri saja yang kamu pikirin. Kamu apa pernah mikirin aku?”


“Sudah … sudah … kita bicarakan ini lain kali saja. Aaron waktunya kamu istirahat. May, sekarang sudah malam. Kamu harus pulang kalau tidak, Papamu pasti kuatir.”


Aku tahu dia benar. Tanpa berpamitan pada siapapun, aku ambil tas kecilku lalu langsung pulang.


“May,” Aaron berteriak dan tidak aku pedulikan. Untuk saat ini, aku sangat membenci cowok egois itu. Dia bukan lagi cowok sampah seperti yang pernah aku tuduhkan semula. Dia hanya cowok egois yang sangat … sangat aku cintai.


Aku pesan ojek on-line dan mulai pulang. Sepeda motor Papa sudah terparkir di luar rumah. Aku harus terlihat ceria, tanpa air mata, seperti kalau aku sudah menjalani hari yang menyenangkan hari ini.


“Kok malam May?” Papa bertanya. Dia sedang di depan lap topnya, mungkin sedang mengerjakan berita.

__ADS_1


“Iya Pa, tadi ban motor Aaron bocor. Jadi kami harus cari tambal ban. Agak jauh sih, pakai acara ngedorong motornya,” ujarku berbohong.


“Oh,” Papa berhenti sebentar sambil mengetik sesuatu di lap topnya. “Itu makan dulu. Tadi Nina datang ke sini masak buat kita berdua. Tadi dia nunggu kamu tapi kamunya gak pulang – pulang. Jadi dia pulang duluan.”


“Iya, Pa. nanti May makan. May mau mandi dulu.”


Aku langsung pergi ke kamar mandi dan merasakan segarnya air dingin setelah drama sepanjang hari ini. Setelah mandi aku pergi ke meja makan dan menemukan nasi hangat di magic jar, sayur asam yang masih hangat dan pepes tuna yang sangat nikmat. Mungkin beginilah rasanya kalau punya Mama. Kamu akan mendapatkan makanan nikmat kapanpun kamu mau tanpa repot – repot menyiapkannya atau beli di luar rumah. Aku makan dengan lahap masakan Tante Nina. Mungkin dia memang tidak begitu buruk. Mungkin saja kedatangannya akan membuat Papa lebih bahagia. Kalau Papa bahagia, tentu saja aku akan bahagia.


Aku lalu masuk kamar, mendapati Imelda yang sedang memandang langit – langit kamarku dengan wajah bosan.


“Kamu kemana saja? Hari ini akum au mati karena kebosanan tahu?” ujar Imelda sewot.


“Ah Imelda. Kalau saja kamu tahu apa yang aku alami hari ini.” Lalu aku menceritakan setiap detil yang aku alami pada Imelda hari ini. Dia berkali – kali membelalak tidak percaya, menutup mulutnya dengan kedua tangannya ataupun sengaja berguling – guling lebay karena tidak percaya.


“Dan kamu yakin dia cinta sama kamu?” tanya Imelda pada akhirnya.


“Tentu saja. dia bilang kalau aku ini adalah alasan buat dia sembuh,” kataku. “Aku sebetulnya sedikit tersanjung waktu bilang kalau dia betul – betul berusaha untuk sembuh setelah ada aku. Aku merasa dia betul – betul cinta aku.”


“Kamu harus yakin kalau apa yang dia rasakan itu betul – betul cinta Sophie, bukan hanya karena dia butuh kamu. kamu gak mau kan kalau suatu saat nanti, kalau butuhnya dia ke kamu sudah selesai, kamu akan dibuang dari kehidupannya?”


Imelda ada betulnya juga. Itu juga yang pernah aku pikirkan. Apalagi waktu itu Kak Kevin pernah bercerita kalau aku beda banget dengan cewek – cewek yang pernah jadi pacar Aaron. Mereka semua pasti cantic – cantic, seperti model – model yang jadi bintang iklan produk produk kosmetik. Disbanding dengan mereka, aku ini pasti gak ada apa – apanya. Tapi apa iya Aaron hanya memanfaatkan aku supaya sembuh. Tapi kalau aku bisa menjadi motivasi Aaron untuk sembuh, itu artinya dia betul – betul cinta padaku. Betul begitu bukan? 


 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie

__ADS_1


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2