Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Akhirnya


__ADS_3

“Kamu gak kepingin kita cari makan dulu gitu?” dia berteriak di tengah deru suara motornya.


“Pingin juga sih,” kataku


“Ayo kita makan dulu sambil ngobrol – ngobrol gitu” aku lihat mukanya di kaca spion.


“Bagaimana?” tanyanya lagi.


“Mau lah. Makanan gratis masak aku tolak. Tapi aku punya ide lain,”  jawabku.


“Apa?”


“Kita beli aja makanan di jalan. Ntar kita makan di tempat yang aku tunjukkan.”


Kami lalu berhenti di salah satu warung yang kami temukan. Ternyata kami berdua suka makanan yang sama. Ayam goreng krispi.


“Dimana ?”  Aaron bertanya.


“Jalan aja dulu deh !” Aku tuntun Aaron ke satu tempat kesukaanku di Malang ini. Melewati jalan – jalan yang juga dilalui sungai, beberapa belokan dan juga jalan – jalan yang menanjak, akhirnya aku sampai juga di tempat ini. Tempat tinggi yang memberikan pandangan indah untuk melihat Kota Malang. Kota Malang yang terlihat luas, ada di bawah sebuah lembah dan dikeliling oleh gunung. Mirip seperti sebuah mangkuk.


“Hebat, aku tidak pernah tahu tempat ini sebelumnya” kata Aaron kagum.


“Tempat ini memang hebat. Kamu lihat kalau Malang sebenarnya dikelilingi gunung ?”


“Yah, aku lihat. Kira – kira, yang mana sekolahku yah ?”


“Yang pasti di salah satu titik di sana” aku menunjuk satu tempat dengan gedung menjulang lalu duduk di rumput. Aaron menyusulku. Dia membuka helmnya dan membiarkan udara segar menyapu wajahnya. Dia tutup mata lalu menghela napas dalam – dalam. Dan di titik ini, I am officially melted.


“May”


“Apa?”


“Aku masih tidak enak berbicara sesuatu yang buruk tentang Mamamu tempo hari.”


“Aku sudah melupakannya Aaron. Tidak usah lagi kamu pikirkan. Kalau aku ingtat diriku sendiri, sebetulnya aku juga ingin mengatakan yang sama ke kamu. Tapi entah kenapa aku urungkan niat itu.”


“Trims. Bagaimana rasanya tidak punya Mama ?” dia bertanya padaku sambil menyebarkan pandangannya kea rah tengah kota yang langitnya tidak cerah. Terlalu banyak asap pabrik dan mobil.


“Tidak berasa apa – apa.”


“Aneh,” dia bilang.


“Tidak aneh sama sekali. aku tidak mengenal Mamaku bahkan waktu aku mulai bisa mengingat keberadaan diriku. Rasanya biasa saja. keluarga lengkap buatku adalah aku dan Papa. Aku hanya kenal Papaku mulai kecil jadi bukan hal yang berat buatku untuk tidak punya Mama. Kenyataan ini tidak menyakitkan buat aku Aaron. Kecuali untuk saat – saat tertentu aku suka mengejar Papa dengan pertanyaan – pertanyaan seputar Mamaku.”


“Berarti kamu beruntung May, karena kamu tidak punya ingatan tentang dia.”

__ADS_1


“Apa maksudmu ?”


Aaron terdiam sesaat. Aku lihat dia berusaha mengatur nafasnya.


“Aku punya banyak kenangan kepada Mamaku.” Aku teringat cerita Trisakti tempo hari.


“Aku turut berduka untuk kehilanganmu Aaron.”


“Kamu tau cerita itu?”


Aku mengangguk.


“Setiap kali aku mengingat peristiwa itu May, aku selalu marah”


“Kenapa?”


“Kenapa bukan aku saja yang mati saat itu. Rasanya aku ingin pergi saja. Pergi dari sini. Tidak bertemu Kevin, tidak bertemu dengan teman – temanku, tidak bertemu dengan saudara – saudaraku.”


“Jangan bicara seperti itu Aaron.”


“Kau tidak mengerti May. Karena kau tidak pernah merasa kehilangan.”


“Mungkin,” aku jawab seperti itu larena memang kenyataannya aku belum pernah kehilangan siapapun. Aku harap aku tidak akan kehilangan siapapun. Apalagi Papa.


“Kalau kau kehilangan seseorang, kau akan merasa sedih setiap kali kau mengingat dia. Mengingat kalau kau pernah mengecewakan dia, kau akan mengingat kata – katanya. Bahkan, kau akan kembali ingat hal – hal yang tidak kau pernah ingat sebelumnya, sebelum dia tidak ada. Sering kau akan bangun pagi berharap semuanya itu hanyalah mimpi. Dan kau akan kembali sedih, dan juga marah begitu kamu sadar kalau ternyata semuanya itu nyata. Bukan mimpi. Disitulah kamu ingin pergi May. Supaya kenangan yang kau punya tentang dia juga ikut pergi.”


“Maafkan aku,” kataku untuk menujukkan simpati.


“Tidak perlu May. Aku yang harus minta maaf. Aku mengatakan hal yang tidak seharusnya menjadi bebanmu.”


“Aku selalu bersyukur punya Papa Aaron. Tapi itu bukan berarti hubungaku dengan dia selama ini lancar – lancar saja. Aku sering bertengkar dengan dia untuk hal – hal yang seharusnya tidak kami ributkan. Aku selalu menyesal setiap kali aku selesai bertengkar dengan dia dan tidak sabar menunggu saat – saat untuk meminta maaf.”


“Itu juga yang sering aku pikirkan tentang Kevin. Sepeninggal Mama dan Papa, dia yang mengurus semua keperluanku. Aku hanya punya dia sekarang May. Aku tidak ingin mengecewakan dia lagi.”


“Kamu pasti sangat nakal.”


“Memang. Bulan depan Kevin akan bertunangan.” Aku sedikit kecewa mendengar hal itu. Untung aku tidak benar – benar jatuh cinta sama Kak Kevin.


“Aku belum pernah merasa kehilangan Aaron. Tapi aku sering sekali merasa kesepian. Kamu tahu khan kalau aku ini aka tunggal ?” Aku ingin cepat – cepat melupakan Kak Kevin karena Aaron sekarang berdiri di hadapanku.


“Aku tahu …”


“Bisa dikata Aaron kau lebih beruntung karena walaupun kedua orang tuamu sudah tidak ada, tapi Kevin selalu ada untukmu. Papa meskipun selalu menyediakan waktu untukku, tapi dia sering pergi karena pekerjaannya. Di rumah aku tidak punya teman. Ehm … sebenarnya punya sih. Aku punya Imelda …”


“Siapa dia ?”

__ADS_1


Aku sedikit ragu untuk menjawab, takut dia menertawakan aku.


“Janji kamu tidak tertawa ?”


Aaron mendengus. Kalau tidak ada yang patut ku tertawakan kenapa aku harus tertawa ?”


“Imelda itu … sahabatku yang paling baik di dunia. Kamu pernah mendengar tentang sahabat imajinatif ?”


“Pernah … tapi aku kira sahabat semacam itu hanya dimiliki para remaja di Amerika. Di tempat – tempat di mana seseorang sulit punya teman karena semua orang disekelilingnya sibuk memakai penampilan sebagai ukuran misalnya. Tapi aku kira di sini tidak separah itu … atau kamu yang parah ?” Aku tahu dia ingin bercanda. Aku dapat merasakan angina yang membelai wajahku. Tempat ini memang sejuk karena ada beberapa beringin besar yang tumbuh di sekitarnya.


“Imelda boleh dibilang teman imajinatif … tapi sebenarnya dia itu nyata …”


“Aku yang tidak mengerti atau ucapanmu yang membingungkan May ?”


“Imelda itu kura – kura …” aku tidak salah dengar kalau sekarang aku mendengar tawa Aaron meledak.


“Katanya kau tidak akan tertawa ?!” Aku pura – pura kesal.


“Apanya yang aneh Aaron. Orang biasa memelihara kucing atau anjing. Bahkan mereka sering ngobrol dengan hewan peliharaannya. Aku kira tidak salah kalau aku pilih kura – kura bukan ?”


“Tidak …. Tidak salah … Aku baru sadar kalau kau bilang sedang berbicara dengan kura – kura kemarin itu beneran. Aku kira kamu bicara asal.” tawanya masih terdengar jelas, tapi sudah mulai mereda. “Mungkin kapan – kapan aku akan punya seekor ehm ….” Tampak dia sedang berpikir “ …. Gajah mungkin?”


Aku tonjok pundaknya dan aku tersipu.  


“Yah, dengan tidak mengindahkan fakta bahwa gajah adalah salah satu hewan yang paling dilindungi di dunia ini, aku kira usulmu itu boleh juga …” hal – hal ringan yang kami obrolkan cepat mencairkan suasana kaku yang kami miliki sebelumnya. Aaron yang ada di hadapanku ini bukan Aaron yang punya mata penuh kemarahan yang aku lihat di rumahnya tempo hari. Kami habiskan ayam goreng kami dengan lahap. Siang itu nyata – nyatanya tidak terlalu buruk, setidaknya buat kami berdua.


“May. Aku ingin mendapat hasil baik untuk ujian mendatang. Aku tidak bermasalah dengan pelajaran selain bahasa Inggris. Aku butuh bantuanmu …”


“Kamu serius Aaron ?”


“Apakah mukaku menunjukkan kalau aku bohong ?” aku lihat mukanya. Mukanya lucu. Aku tertawa kecil.


“Apa ?”


“Mukamu lucu.”


“Iya, tapi apa jawabanmu ?” dia bertanya sambil tersenyum menunjukkan giginya yang berderet rapi.


“Aku butuh pekerjaan ini Aaron. Bagaimana mungkin aku menolak ?” aku tonjok pundaknya.


Kami bangkit berdiri menuju sepeda motor. Meninggalkan tempat kesukaanku. Aku rasdakan hidungku basah karena setitik air dari langit. Titik – titik yang mulanya jarang kini semakin merapat, membuat Aaron semakin cepat melajukan motornya. Beberapa kali dia membuat rem mendadak dan aku kembali terpaksa berpegangan pada pinggangnya. Semoga kami tidak kehujanan di jalan.


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2