
“May …~ kudengar cowok itu memanggil namaku.
“May ! Kamu kenal dia. Dia panggil kamu.” Kata Jell
“Sudah, gak usah perhatikan. Mungkin dia itu salah orang. Aku sama sekali gak kenal!”
“Itu Aaron yah ?” tanya Trisakti.
“Bukan. Cuma orang kaya sombong yang cocok menjadi sampah,” Kataku tidak tahan.
“May” Aaron kembali memanggilku. Kini dia menghentikan motornya di samping kami betiga.
Sekilas aku lihat dia masih memakai baju seragam sekolahnya. Seragam itu menunjukkan kalau dia sekolah di salah satu sekolah mahal di Malang yang uang sekolahnya lebih besar dari gaji Papa sebulan. Setengah berlari aku seret dua temanku. Jell senyum – senyum memandang Aaron.
“Dia itu Aaron Jell. Orang yang sudah membuat aku sakit hati. Dia sudah menghina aku dengan sukses!”
“Oh, jadi dia orangnya?!” Jell menahan tanganku sehingga aku dan Trisakti berhenti.
“Dia perlu diberi pelajaran May,” dari girang aku dengar nada suara Jell berubah menjadi kesal. Dia lepaskan tanganku dan dengan tenang berjalan ke arah Aaron.
“Jell! Kamu mau apa?” Aku berlari menyusul Jell dan Trisakti berlari menyusulku.
“Jadi kamu yang bernama Aaron?!” Jell berkata tajam.
“Betul, memang kenapa? Aku yakin ‘cewek pemberani’ itu sudah cerita – cerita pa yang terjadi kemarin sama kamu.” Aaron berkata sambil menunjukku.
“Sudah aku duga kamu akan menyebarkan cerita ke teman – temanmu. Bumbu apa yang kau beri sehingga ceritamu tambah menarik ?” dengan gayanya yang ringan Aaron berkata.
__ADS_1
“Kamu kira semua cewek di dunia adalah penggosip hah? Jangan salah menyamakan orang. Bahkan aku tahu cowok – cowok macam kamu itulah yang suka membesar – besarkan masalah. Lagian kamu gak sopan sekali sama cewek. Orang – orang sepertimu memang betul adalah manusia sampah.” berapi – api Jell berkata.
“Tuh khan. Semua cewek di mana – mana sama saja. Kemarin sahabat yang kamu bela – bela itu yang manggil aku sampah. Sekarang temannya sama saja. kalian memang tidak ada bedanya!” Kali ini aku mendengar nada suara Aaron mulai meninggi. Sedikit.
“Maaf. Aku kira kamu tidak berhak menuduhkan hal semacam itu ke temanku. Kamu sudah menyakiti hatinya sedemian rupa kemarin. Apakah kamu dang ke sini hari ini hanyak untuk bertengkar lagi?” Trisakti berkata sesuai dengan tata cara kesopanan yang berlaku pada jaman ini.
“Aaron, aku tidak lagi bekerja pada Kak Kevin atau kamu. Secara teknis aku bukan pegawaimu. Jadi kamu tidak punya hak apa – apa berkata seperti itu padaku.” Aku berkata dingin. Aku tatap matanya lekat – lekat.
Sebenarnya Aaron tidak kalah cakep dari Kak Kevin. Dan hari ini, aku rasakan tatapan mata Aaron tidak sama seperti kemarin. Kemarin dia terlihat garang dan marah, tapi sekarang aku bisa katakan dia sedikit lebih redup. Tapi hanya sedikit. Sepertinya dia benar – benar menyesal. Cowok dengan ego sebesar dia, untuk datang menemuiku di sini, pasti dia sudah menurunkan kadar gengsinya besar sekali. Aku tahu ini tidak mudah bagi dia. Tapi itu bukan berarti juga aku sudah tidak marah sama dia.
“Aku katakan padamu May. Aku datang ke sini bukan untuk berdebat atau saling menghina. Buatku sudah cukup kemarin kamu mengatakan aku sampah.” Sepanjang pengetahuanku, Kak Kevin adalah orang yang tenang. Aku heran kenapa sikap Aaron bisa jauh berbeda dengan Kakaknya?. Aaron sangat arogan, sombong, dingin seperti es seakan – akan tidak memperdulikan apa – apa kecuali dirinya sendiri.
“Lalu ngapain kamu ke sini sekarang?” Aku bertanya. Aku berpegangan pada tangan Trisakti dan Jell merangkul pundakku.
“Aku datang ke sini mau minta maaf sama kamu”
Aku mengambil nafas dalam – dalam. Bagaimanapun juga, pertengkaran kemarin sudah cukup buat aku. Aku gak mau menambah – nambahinya lagi.
“Aku sudah melupakannya Aaron. Aku rasa kamu bisa pergi sekarang.” Kataku berbohong. Entah bagaimana aku bisa melupakan hal semacam itu. Mengingatnya saja bikin aku marah dan kepingin nangis.
“Tidak, tidak, kamu tidak memaafkan aku. Kamu hanya berusaha melupakan kejadian kemarin. Tapi kamu masih menyimpan rasa sakit di hatimu.” Dia berkata tegas.
“Lalu ?” Aku bertanya lagi. Apa semua rasa sakit hatiku bisa selesai hanya dengan dia minta maaf padaku? Cowok ini betul – betul mau enaknya sendiri. Setelah dia menghina aku, dia lalu meminta maaf seakan – akan tidak terjadi apa – apa dan berharap semua akan baik – baik saja.
“Aku minta maaf.” Kali ini nada suaranya terdengar jengkel dan dipaksakan.
“Aku bilang aku sudah melupakannya. Apa itu belum cukup ?”
__ADS_1
“Sebaiknya kamu pergi Aaron,” Kata Trisakti.
“Iya. Daripada aku semakin sebal melihat muka cakepmu itu,” sergah Jell.
“Kalian berdua diam. Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian!” Aaron memandang Trisakti dan Jell bergantian dengan suara tajam. Jell menciut dan Trisakti mencengkeram tanganku.
“Kamu sangat keras kepala Aaron. Aku bilang kalau aku sudah melupakannya. Apanya yang kurang ?” aku bertanya kesal. Kesal sekali sampai – sampai ingin kulempar wajahnya dengan tasku. Apalagi dia sudah berani membentak Trisakti dan Jell di hadapanku. Mengata – ngatai kami cewek sebagai mahluk penggosip. Aku tidak akan puas hanya melempar dia dengan tasku. Ingin kutimpuk kepalanya dengan sepatuku. Lagi – lagi beberapa anak memakai seragam putih abu – abu berjalan melewati kami dengan tatapan mata aneh. Tapi itu sama sekali tidak membantu.
Sebuah angkot yang menuju rumahku kulihat melintas dari arah selatan. Aku lambaikan tangn kiriku. Angkot berhenti, aku naik. Dan sesuai dengan dugaanku, Aaron meninggalkan Jell dan Trisakti mengikutiku. Memang itu tujuanku. HPku bergetar lagi. Nomor Jell.
“Hati – hati May. Sepertinya cowok itu ganas.” Suara Jell.
“Iya. Lebih baik kamu berhenti di depan kantor polisi saja. Minta salah satu polisi mengantar kamu pulang. Atau mengantar kamu ke rumah Nenekmu sekalian.” Suara Trisakti terdengar sangat khawatir.
“Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik – baik saja. Dia mungkin mengikutiku, tapi dia tidak akan berani melukaiku.” Aku jawab untuk menenangkan hati mereka berdua.
“Jangan sok yakin begitu !” Suara Jell.
“Hati – hati loh …” Suara Trisakti.
“Iya. Sudah jangan buang – buang kuota. Sayang !” Aku berkata dan segera menutup HPku. Aaron masih mengikutiku dengan sepeda motornya. Anak ini benar – benar keras kepala. Tapi sekarang dia berhadapan dengan Matahari. Dia tidak akan bisa dengan mudah membuatku takut hanya dengan gertakan seperti itu. Kemarin Kak Kevin yang mengikutiku. Sekarang ganti adiknya. Dua orang itu mungkin punya sifat yang mirip satu dengan yang lainnya. Mungkin sama seperti aku dan Papa yang masing – masing sama keras kepala.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang