Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Akankah tergantikan?


__ADS_3

“Kamu tidak bercanda May ?” ujar Trisakti ketika aku mulai menceritakan bagaimana aku jadian dengan Aaron. Sebenarnya aku sudah berusaha sebisa mungkin menutup mulutku. Tapi, bagaimana bisa ?


“Iya … aku tidak bercanda …”


“Kalian khan belum begitu lama kenal ?” sergah Jell. Saat itu kami sedang enak – enaknya menikmati segarnya es kelapa muda di kantin sekolah.


“Iya sih … tapi khan aku suka …”


“Apa saja yang dia bilang sama kamu ?” Jell mengejarku dengan pertanyaannya.


“Bahwa dia memerlukan aku,”


“Terus ?” giliran Trisakti yang mengejar aku.


“Terus apa yah … yah terus jadian …”


“Semudah itu ?” sergah Trisakti lagi.


“Iya ….” Aku jawab.


“Bagus May … memang harus begitu. Kamu harus cari cowok yang membutuhkan kamu. Bukan cowok yang kamu butuhkan. Tahukan bedanya …” Jell lagi – lagi memberikan nasehatnya tentang memilih cowok yang baik dan benar.


“Apa ada bedanya ?” Trisakti bertanya polos.


“Besar sekali Tri. Sebesar gajah di pelupuk mata !”


“Maksudmu ?” aku bertanya. Aku harus mengerti hal ini.


“Begini yah … kalau kalian mengejar – ngejar cowok yang kalian suka … kesannya kalian seperti pengemis. Tidak mudah harga diri dan ujung – ujungnya, kalian akan dimanfaatkan. Setelah itu kalian akan merasa tersakiti, dihianati, benci dan sejuta perasaan melankolis menyedihkan yang lain. Sangat beda kalau kalian dikejar – kejar cowok. meskipun kalian juga suka misalnya, tapi kalian harus mempunyai taktik yang benar. Kalau sudah begitu, kunci menuju kebahagiaan ada di genggaman tangan kalian. Bagimana ?”


“Tidak harus begitu aku kira,” aku berkata.


“Memangnya kamu pernah pacaran sebelumnya ?” nada Jell sangat menyindir.


“Bukan … bukan begitu … maksudku … di lain pihak, aku juga membutuhkan Aaron …”


“Matahari. Kamu tuh cewek paling mandiri yang pernah aku kenal !” Trisakti bertanya dengan wajah sangat tidak percaya.


“Mungkin kamu benar Tri. Tapi mungkin, suatu saat nanti, kamu akan merasakan seperti yang aku rasakan sekarang …”


“Apa ?”

__ADS_1


“Ada bagian dari dirimu yang terus memanggil – manggil. Terus merasa harus mencari. Mencari seseorang yang punya waktu denganmu walaupun teman – temanmu yang lain sedang sibuk pacaran.”


“Apa ada yang membicarakan aku ?” Jell bertanya sambil menyuapkan kelapa muda dalam mulutnya.


“Tidak peduli betapa mandirinya kamu, tetap saja kamu pasti akan memerlukan seseorang lain. Yang bisa kamu ajak berbagi tentang hidup dan masa depan.” Mataku membayangkan aku dan Aaron di masa depan. Akan seperti apa yah …?


“Halo May … kamu hidup di negeri dongeng ?” Jell mengetuk – ngetuk meja.


“Jell … setidaknya, senanglah untukku hari ini saja. aku tahu kau sudah jauh lebih punya pengalaman dari pada aku. Tapi biarkan sekali ini saja aku menerima kebahagiaan …”


“May. Aku tahu perkataanku kasar ke kamu. Tapi aku katakan ini karena aku ini temanmu,” Jell menatapku sungguh – sungguh.


Lalu setelah pembicaraan itu, Jell berteriak, “Selfie!!!! Kita harus rayakan hari yang special ini!” dan seperti cewek – cewek lainnya di dunia ini yang punya HP dengan kamera, kami selfie – selfie sampai semua gaya yang kami bisa pikirkan kami sudah lakukan hari itu. Jell sama sekali tidak mengijinkan seiapapun dengan pose buruk ada di satu foto dengannya.


Aaron menelponku berkata dia akan menjemputku sepulang sekolah. Enak yah punya pacar, ada yang jemput jadi aku tidak kehilangan uang angkot untuk hari ini. Ditambah lagi … pertemuan kali ini akan jadi pertemuan resmi kami yang pertama.


“Kita cari makan dulu ?” dia bertanya.


“Aku masih belum terlalu lapar Aaron. Aku lebih pingin bgobrol daripada harus makan,” aku berkata pelan.


“Dan untuk berbicara kita perlu tempat bukan ?”


“Tempat apa yang kau pikirkan ?”


Kebetulan banyak awan melayang di atas kota Malang sehingga kami berdua tidak kepanasan.


“Kenapa kamu belum masuk sekolah ?” aku bertanya ketika kami sudah tiba di sana. Memandang hamparan atap bangunan yang terlihat kecil di kejauhan. Seperti rumah monopoli.


“Aku belum mau masuk sekolah. Mungkin dalam beberapa hari ini,”


“Kamu tidak merasa bersalah ?”


“Kepada siapa ?” dia bertanya sambil mengangkat ke dua bahunya bersamaan.


“Tidak tahu … seseorang yang kamu sayang. Kak Kevin misalnya,”


“Kevin punya hidup sendiri. Dia pasti sudah cukup lega melihat aku baik – baik saja,”


“Kalau begitu lakukan untuk ….” Aku ingin menambah kalimat itu dengan ‘ku’. Tapi aku ini khan gadis timur.


“Siapa May …?” aku diam saja. “Kenapa tidak kau katakan untukmu saja ?” dia bertanya lagi.

__ADS_1


“Kamu bisa baca pikiranku rupanya. Aaron … aku memang suka kamu. Dan aku bisa dengan jelas menyebutkan bahwa kaulah orang yang paling banyak aku pikirkan sekitar dua puluh empat jam terakhir ini. Tapi Aaron … kejadian kemarin …” aku berhenti.


“Aku tahu kamu tidak akan suka melihat kejadian itu. Aku juga sama tidak sukanya denganmu May. Tapi tubuhku sudah mulai terbiasa dengan itu. …”


“Apa kamu gak ingin berhenti Aaron … maksudku tidak lagi tergantung pada obat – obat itu ?”


“Kenapa kamu tanya seperti itu ?”


“Karena aku berharap kamu tidak lagi egois Aaron. Karena aku sekarang juga membutuhkan kamu. Apa pernah kamu bayangkan beberapa jam terkahir ini … suatu saat nanti kamu tidak akan berjalan setegak ini … mungkin juga kamu tidak akan bisa lagi memboncengku ke sana ke mari dengan sepeda motormu yang besar itu karena tanganmu akan terus gemetar dan otakmu tidak bisa mengendalikan kerja ototmu. Aku membutuhkanmu Aaron. Sama seperti kau membutuhkan aku. Banyak cerita sedih aku baca di koran tentang orang – orang yang berkahir buruk dengan itu. Baru sekali ini aku merasa bahagia. Aku tidak ingin rasa ini cepat – cepat berlalu. Lakukan untukku Aaron berusahalah …”


Dia sama sekali tidak berkata apa – apa. Hanya memandang ke depan merasakan angin yang dengan tenang berjalan. Membawa bau debu dan tanah yang segar.


“May … kau sungguh – sungguh suka aku ?”


Apakah terlalu munafik kalau aku mengangguk ? dan aku genggam tangan kanannya dengan tangan kiriku. Aku kira itu adalah tanda yang bisa aku berikan.


“Aku tidak mau lagi jadi guru privat bahasa Inggrismu Aaron.”


“Aku tahu.”


Kami terdiam lagi. Rasanya sungguh nyaman membiarkan kata – kata kami tidak keluar dai mulut. Merasakan dalam dada betapa banyak sebenarnya kata – kata yang ingin aku keluarkan tapi ternyata kosakata di kamus tidak cukup cerdas untuk menggambarkan perasaanku dengan baik.


“Aku sudah bicara dengan Kevin tentang kita pagi ini. Dia pikir ada satu hal yang bisa kau lakukan di kantornya sepulang sekolah. Supaya kau tidak lagi ke sana ke mari mencari pekerjaan.”


“Pekerjaan apa ?”


“Berhubungan dengan fotokopi dan pengarsipan surat aku rasa. Tidak terlalu sulit khan ?”


“Tidak ada yang sulit. Yang aku butuhkan adalah uang.”


“Kenapa kamu begitu kuat sedangkan aku sangat rapuh May …”


“Tidak tahu …”


Aku kira itulah rasanya benar – benar mempunyai pacar. Setidaknya baru punya pacar. Entah kalian yang sudah lama dan sangat berpengalaman punya pacar apa masih juga merasakan debaran hati yang sama ketika kalian baru mulai pacaran ? Apabila kalian tidak merasakan debaran lagi, apakah itu berarti cinta itu sudah tidak ada lagi dalam hati kalian ? Atau malah mungkin, kalian tidak perlu merasakan debaran untuk bisa secara sadar menghayati betapa indahnya cinta ….


Aku belum bisa menjawab sekarang, makanya aku bertanya pada kalian. Banyak orang punya cita – cita indah, tapi walaupun kalian bisa mendaki Mount Everest dan mendarat di bulan, semuanya itu akan berjalan sementara seperti kebanggaan – kebanggaan lain. Tapi, mungkin, cinta akan bertahan lebih lama dari pada rasa bangga yang aku miliki ketika aku menang lomba pidato dan kemudian harus menyerahkan pialaku tahun berikutnya. Hanya sementara, hilang ketika ada yang menggantikan. Tapi rasa ini … yang ada di dalam hati ini … apakah mungkin tergantikan … ?


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2