Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Akhirnya


__ADS_3

Aaron mengantarkan aku sampai rumah, dengan susah payah mengambil sepedaku dari bagasi, ingin menunjukkan kalau dia adalah orang yang kuat. Cowok itu membuatku terharu. Dalam saat seperti ini, dia ingin mendukungku dan tidak mau menjadi salah satu bebanku saat ini.


Aaron menuntun sepedaku masuk dalam rumah. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke rumahku, setelah sebelumnya hanya cerita tentang dia saja yang datang pada Papa. Aku agak tidak enak juga sebetulnya, harus memperkenalkan dia secara langsung pada Papa di situasi yang tidak begitu menyenangkan ini. Tapi menurut cerita Aaron, dia sudah ketemu Papa di rumah sakit tadi. Rasa tidak enakku jadi sedikit berkurang.


Sepeda motor Papa masih ada di halaman. Itu artinya Papa tidak bekerja hari ini. Aaron mendorong sepedaku masuk dalam rumah dan di ujung jalan aku lihat Bu Claudia melongokkan kepalanya. Pasti dia ingin tahu pa yang terjadi, lalu menceritakan setiap kejadi dengan detil pada setiap orang yang berkunjung di tokonya. Mungkin dia lebih cocok menjadi wartawan seperti Papa. Tapi tidak terlalu seperti Papa, mungkin wartawan berita gossip.


Aku masuk ke rumah dan melihat perempuan itu masih di sana, duduk di ruang tamu dan kopernya juga masih ada di sana. Papa duduk di hadapannya. Aku ragu – ragu mau masuk ke rumahku sendiri. Rasanya sangat canggung dan tidak nyaman harus bertemu kembali dengan perempuan itu. Hidupku dengan Papa baik – baik saja. aku bahkan tidak memerlukan dia dalam hidupku. Rasanya sudah terlambat kalau dia ingin masuk dalam hidupku sekarang. Aku tidak butuh perempuan itu.


Aaron sepertinya melihat keragu – raguannku.  Aku berhenti di pintu rumahku dan berusaha memutuskan, aku akan masuk atau tidak, atau aku akan pergi lagi. Aaron menggenggam tanganku lalu membawaku masuk. Cowok ini seperti punya kekuatan magis tersendiri padaku. Seakan – akan akum au saja menuruti apa yang dia katakana, yah tidak semuanya sih. Tapi saat ini aku rasanya mau saja melakukan apa yang dia suruh, dalam situasi seperti ini.


“Papa,” aku bilang, lalu duduk di sofa panjang di samping kursi Papa. Aaron mengikuti duduk di sampingku. Aku remas tangannya. Aku lihat perempuan yang menyebut dirinya Mamaku itu mulai meneteskan air mata.


“May,” suara Papa bergetar. Sepertinya Papa juga menahan tangis. Perempuan itu menangis, aku tidak masalah. Tapi kalau Papa menangis, itu adalah masalah besar buatku. Aku tidak mau laki – laki yang selalu ada untukku itu bersedih.


“Papa tahu kalau sekarang ini waktu yang sangat sulit buat kamu. Papa tadi bertemu Aaron dan Papa tahu apa yang terjadi dengannya kemarin. Papa sedikit kecewa sama kamu, kenapa kamu tidak ceritakan hal ini pada Papa?”


Aku berusaha mengatur isak tangisku. Aaron mengelus – elus punggungku.

__ADS_1


“Kalau Papa tahu, lalu aku gak boleh pacaran sma Aaron bagaimana?” aku berusaha berkata. Aaron masih mengelus – elus pundakku tapi kepalanya menunduk. Mungkin dia kembali merasa bersalah.


“Tentu saja Papa tidak akan memperbolehkanmu pacaran dengan seorang pecandu narkoba. Setiap Papa di dunia ini ingin yang terbaik buat putri kecilnya bukan? Lalu seorang pecandu narkoba?”


Papa mengatur nafasnya. Air mata menggenang di wajahnya.


“Tapi itu sebelum Papa bertemu Aaron pagi ini. Dia berjanji pada Papa, tidak akan memberimu apapun selain kebahagiaan. Janji itu mengingatkan Papa pada janji Papa sendiri ketika kamu lahir May. Janji yang Papa buat untuk kamu. kamu tidak akan mendapat hal yang lain selain kebahagiaan,” Papa mengatur nafasnya sebentar. Perempuan asing itu masih menangis. Tangisnya bertambah keras ketika Papa bercerita tentang janjinya ketika aku lahir.


“Tentu saja Papa mendidikmu dengan keras. Kebahagiaan di dunia ini harus dicapai dengan kerja keras. Kita bukan orang kaya jadi Papa tidak akan selalu bisa menyediakan materi buatmu. Papa mengajar kamu untuk jadi gadis mandiri sehingga kamu bisa siap mengejar kebahagiaanmu sendiri,” Papa mengusap matanya lagi, Aaron entah kenapa tidak berhenti mengelus pundakku. Seakan – akan, dengan mengelus punggungku masalahku akan bertambah ringan. Maka aku ambil tangannya lalu menggenggamnya lagi. Mungkin ini adalah genggaman ke seribu hari ini.


“Dan kamu anak muda,” kali ini Papa berbicara pada Aaron. “Om ini wartawan. Begitulah Om menemukanmu hari ini. Om tahu siapa kakakmu, dimana rumahmu, dan dimana sekolahmu. Sekali saja kamu tidak menepati janji yang kamu buat pada Om pagi ini, Om punya parang tajam yang akan Om bawa untuk menemuimu ketika hal itu terjadi. Kamu mengerti anak muda?”


“Baguslah kalau begitu. Tapi Om melihat May bahagia beberapa minggu terakhir ini. Kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang orang tua manapun tidak bisa berikan ketika anaknya beranjak dewasa. Untuk itu, Om harus berterima kasih padamu”


Seutas senyum tersungging di wajah Aaron. Dia meremas tanganku lagi dan aku meremasnya balik.


“Dan sekarang May, Papa mengerti kalau tidak mudah buat kamu untuk menerima Mamamu kembali. Apapun yang terjadi sebelumnya, baik Papa maupun Mamamu punya tanggung jawab masing – masing. Bukan salah Mamamu sepenuhnya pergi dari kehidupan kita. Papa juga punya andil dalam hal itu. Papa juga bersalah. Papa perlu beri tahu kamu, Mamamu tidak akan tinggal di sini, kami tidak akan kembali berumah tangga lagi. Papa sudah punya pasangan sendiri, Mamamu juga sudah punya keluarga baru sendiri. Dia hanya ingin menyambung tali yang putus itu. Berikan dia kesempatan.”  

__ADS_1


Lalu ruangan itu hening, sehening malam di rumah Nenek.   


“May,” perempuan itu akhirnya bersuara. Aku masih tidak bisa melihat wajahnya.


“Mama tahu ini sulit, tidak mudah. Mama hanya ingin kamu beri kesempatan sekali – sekali menengokmu, mungkin menelpon seminggu sekali. Hanya supaya bisa bertukar kabar. Mama tidak akan mencampuri hidupmua terlalu banyak. Hanya kesempatan itu yang Mama minta. Bagaimana?”


Rasanya suaraku nyangkut di tenggorokanku. aku lalu mulai berdehem – dehem beberapa kali. Lalu sedikit batuk – batuk sampai Aaron harus mengambil air mineral yang ada di meja lalu memberikan padaku. Aku seruput semuanya sampai habis dan merasakan tenggorokanku mulai nyaman.


“Iya Tan … Eh … Ma,” aku berkata canggung. Aku yang juara debat ini seperti kehilangan kata – kata. Aku tidak tahu pa yang harus aku ucapkan. Aku berusaha mengingat – ingat kuliah umum yang pernah diberikan baik Trisakti maupun Jell dan aku tidak ingat mereka pernah memberi kuliah tentang berbicara kepada Mama yang sudah belasan tahun meninggalkanmu.


Perempuan itu lalu berdiri, membuka lebar – lebar tangannya. Mau tak mau aku ikut berdiri dan mendatanginya, menerima pelukannya. Ketika dia memelukku, samar – samar aku mengingat bagaimana dia memelukku ketika aku kecil dulu, bagaimana dia menyuapkan makanan dalam mulutku dan bagaimana dia menidurkan aku. Lalu muncul perasaan aneh dalam diriku yang mengakui bahwa sebenarnya aku pun merindukan dia. Maka aku balas pelukannya dan berucap,


“Mama.”


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2