
Sesampai di rumah, aku langsung menuju kamar. Aku sama sekali tidak lapar walaupun aku belum makan dari tadi siang. Tapi jujur saja, siapa yang bisa makan dalam kondisi marah seperti ini. Di kamar, tanpa melepas jaket dan sepatuku, aku langsung menangis.
Dan kura – kura kecil yang sering menjengkelkan itu, tanpa bertanya apapun malah langsung memarahiku.
“Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu. Aku sudah bilang. Cowok seperti itu adalah cowok berbahaya. Dia itu hanyalah tipe cowok yang mau mengambil keuntungan dari kelemahan cewek – cewek lemah seperti kamu. semua orang di dunia ini sudah memperingatkanmu May! Kamu saja yang terlalu keras kepala untuk menuruti apa yang orang lain katakan ke kamu.”
“Kamu salah Imelda. Kamu bahkan belum mendengar ceritaku tapi kamu sudah marah – marahain aku!” Kataku di sela – sela isak tangisku.
“Apalagi yang perlu kamu ceritakan May? Kalau kamu mu pulang dengan hahahihi muka bersemu merah, aku yakin Sembilan ratus juta persen kalau kamu bahagia ketemu dengan Kevin.” kata Imelda tanpa belas kasihan.
“Kak Kevin! Dia itu lebih tua!” kataku sebelum membenamkan wajahku di bantal kembali.
“Lalu aku harus ikut – ikutan panggil dia Kak gitu?! Kamu tahu, dalam dunia kura – kura aku ini sudah berumur 60 tahun!”
“Memang betul kamu sudah 60 tahun. Gaya bicaramu memang seperti nenek - nenek!”
“Karena itu sebagai seorang Nenek dengan berjuta pengalaman aku BERHAK memarahi kamu karena menuruti kebodohanmu daripada semua nasehat yang aku berikan. Sekarang, hapus air matamu dan singkirkan ingus dari hidungmu dan basuh wajahmu Nona kecil, lalu datang lagi untuk menceritakan apa yang terjadi padamu sekarang.”
Aku turuti perkataan Imelda. Kura – kura kecil itu selalu berhasil membuatku melakukan apa yang dia inginkan, kecuali masalah – masalah sebelumnhya, yang berhubungan dengan Kak Kevin ini. Aku mengerti kenapa dia jadi marah – marah begini.
“Baik Imelda. Aku akan menceritakan ke kamu apa yang terjadi sama aku sore ini,.” Kataku pada Imelda setelah aku melakukan semua yang dia suruh.
Aku berbicara banyak sekali kepada Imelda. Aku berkata bahwa pada awalnya semuanya tampak begitu sempurna. Aku sudah membayangkan banyak kejadian indah yang akan aku alami. Tapi semuanya berbalik pada arah yang berbeda. Mungkin benar kata – kata Jell kalau aku tidak boleh berharap terlalu tinggi pada seseorang hingga akan sangat sakit begini jadinya.
“Aku boleh tidur sekarang ? Sudah gak tahan nih ?” Imelda berjuang sekuat tenaga mempertahankan matanya yang hanya setengah terbuka.
“Thanks Mel. Aku juga mau tidur sekarang. Terima kasih sudah mendengarkan aku malam ini” dan aku lihat Imelda sudah mendengkur halus. Aku melihat HPku dan menemukan pesan Papa kalau dia tidak pulang malam ini. Papa memang sering tidak pulang kalau dia harus mengejar berita atau ngelembur menulis berita yang sedang dia kerjakan.
Mungkin itu yang paling baik buatku saat ini. Kalau saja Papa melihat aku menangis seperti ini, pasti dia sudah melabrak Kak Kevin dan Aaron ke rumahnya.
Aku putuskan untuk segera tidur dan pagi itu aku bangun dengan keadaan yang lebih baik. Masih sakit hati, tapi sudah berkurang sedikit.
Hari ini, aku akan bercerita kepada Jell dan Trisakti.
__ADS_1
“Tuh khan, apa aku bilang?! Kalau saja kamu mau mendengar ucapanku sedikiiiit saja” Jell menyalahkan aku. Aku semakin merasa bersalah. Kami bertiga duduk di salah satu bangku yang ada di taman sekolah. Beberapa batang besar bunga sepatu mengelilingi taman ini.
“Iya sih” itu saja yang ke luar dari mulutku.
“Iya sih, iya sih, apa kamu kira dengan berkata ‘iya sih’ kamu bisa mengubah dunia May. Jangan terlalu bodoh.”
“Jell !!!” Trisakti hampir berteriak dengan mata yang tajam kearah Jell. Jell kemudian diam dengan wajah sewot sambil mengipas – ngipasi wajahnya dengan buku yang dia pegang. Aku menangis.
“Sudah Jell! May sudah cukup merasa bersalah dan susah dengan hal ini. Emphaty sedikit tidak akan rugi buat kamu. May, kamu belajar satu hal. Ambillah kejadian kemarin sebagai pengalaman.” Trisakti berkata lembut.
“Bukan hanya pengalaman Matahari,” Jell menambahkan. “Yang kamu alami kemarin adalah rambu – rambu. Jangan kamu pernah berharap pada seorang cowok seperti itu. Aku beri kamu satu rahasia. Jangan pernah memilih cowok yang kamu sukai. Cari saja cowok yang tergila – gila sama kamu. Dijamin deh, kamu tidak akan menyesal.”
“Kata – katamu sama sekali tidak membantu Jell!” Trisakti berkata lagi dengan nada pelan tapi tegas. Aku semakin keras menangis. Beberapa anak yang lewat di depan kami menatap kami bertiga aneh.
“Aku sadar kalau aku kelihatannya jahat di mata kalian berdua. Tapi aku akan sangat berdosa kalau aku tidak memperingatkan May.” Aku tambah menangis dengan keras.
“Kalau saja aku tidak peduli dengan kamu May, tidak akan aku susah – susah ngomong begini ini. Tapi kamu itu sahabatku.” Jell menambahi.
“Sudahlah May. Aku juga pernah mengalami hal serupa denganmu.” Giliran Trisakti.
“Iya. Meskipun tidak persis sama. Dengar May, semua orang di dunia ini pernah merasakan sakit hati. Kalau kau tidak merasa sakit hati, kau berarti bukan manusia yang hidup dan bernafas. Karena kau berhubungan dengan orang lain, kau jadi tidak bisa mengubah semua yang ada sesuai dengan keinginanmu. Aku yakin May, dengan mengalami ini kau akan tambah belajar menjadi dewasa dan kau akan lebih lagi bijaksana memandang dunia.” Trisakti ternyata dua puluh tahun lebih tua dari umurnya sekarang. Bahkan aku lihat Jell menatap Trisakti dengan pandangan kagum. Tidak banyak orang yang bisa membuat Jell kagum, dan Trisakti adalah salah satunya. Aku juga. Kagum dengan kedewasaannya.
“Trims. Aku harap kalian berjanji akan merahasiakan hal ini.”
Trisakti mengangguk, Jell tidak menolak atau mengiyakan.
“By the way bus away, siapa sih nama cowok itu, adiknya Kevin,” Jell bertanya.
“Kak Kevin,”aku sedikit berteriak.
“Biasa aja kaleeeeeeee,” Jell menjawab sewot.
“Namanya Aaron,” aku jawab sedikit sewot juga.
__ADS_1
“Sebentar,” Trisakti berkata. “Jadi dia ini namanya Aaron dan punya Kakak namanya Kevin?”
“Kak Kevin!” aku berteriak lagi. Kenapa semua orang mau panggil dia tanpa ada embel – embel ‘Kak’.
“Sabar May,” Trisakti mengelus – elus bahuku.
“Aku jadi ingat Papa pernah cerita tentang salah satu temannya. Sepertinya dia membicarakan tentang Aaron dan KAK Kevin,” dengan hati – hati Trisakti menekankan kata ‘KAK’.
“Ada apa memang?” Jell sangat ingin tahu.
“Jadi Mama pernah bercerita tentang salah satu kenalan keluarga. Mereka adalah keluarga yang tajir banget di Malang. Suatu ketika, mereka sekeluarga berangkat berlibur naik pesawat charteran.”
“Wuik, satu pesawat mereka sendiri?” tanyaku.
“Iyalah. Mereka bukan orang missqueen macam kita,” Jell menjawab.
“Iya, cukup ironis memang. Tidak peduli seberapa banyak uangmu, tetap tidak akan bisa menyelematkanmu dari kematian.”
“Jadi orang tua mereka mati!?” Jell berapi – api.
“Iya. Pasangan suami istri itu terbawa arus laut setelah memastikan ke dua anak mereka aman. Waktu itu yang paling tua berumur sekitar 17 tahun dan adiknya masih 6 tahun. Nama mereka adalah Kevin dan Aaron,” Trisakti menyelesaikan ceritanya.
“Kak Kevin,” aku berkata pelan.
Aku memang tidak punya Mama. Tapi paling tidak aku tidak perlu melihat langsung Mamaku mati di depanku, untuk menyelamatkanku. Aku tidak bisa membayangkan, hidup dengan kenangan seperti sepanjang hayatku.
Bel sekolah berbunyi, istirahat pertama telah selesai. Bersama ke dua sahabatku, aku masuk kelas untuk pelajaran selanjutnya.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang