Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Kejutan Lain


__ADS_3

Jam 6.15 aku baru bangun dan Papa tidak membangunkanku! Aku sangat kelelahan dan tidak sempat menyalakan alarm kemarin malam. Hari senin adalah hari upacara. Kalau terlambat bisa panjang urusannya. Aku harus membuat surat, ketemu guru BP dan sederatan hal tidak berguna lainnya.


Tentu saja aku panik. Aku lihat dari jendela kalau langit sudah terang. Aku pasti akan terlambat. Aku mencoba mengingat – ingat, apa saja yang sudah terjadi sepanjang hari kemarin. Mulai dari berkunjung ke rumah Nenek, kata – kata manis Aaron, aku membawa Aaron ke rumah sakit Kak Kevin dan obrolan sebelum tidurku dengan Imelda. Aku melihat HPku dan mendapati pesan Aaron.


 


“Kamu ke sini nanti?”


 


Dia bertanya. Aku tidak jawab sekarang. Nanti saja kalau aku sudah sampai di sekolah. Sayup – sayup aku dengar Papa sedang berbicara dengan seseorang di ruang tamu, suara seorang wanita, tapi bukan suara Tante Nina.


Aku coba ke luar kamar untuk segera mandi, tapi sebelumnya aku sempatkan melongok ke ruang tamu untuk melihat siapa yang bertamu pagi – pagi begini. Sungguh suatu hal yang tidak biasa Papa menerima tamu pagi seperti ini.


Aku melihat Papa sedang berbicara dengan seorang perempuan, seumuran Papa. Perempuan itu cantik, posturnya tinggi, tapi tidak setinggi aku. Dia memakai jelana jeans yang pas membingkai kakinya yang jenjang. Kaos yang terkesan mahal membalut tubuhnya. Dia bawa satu tas kecil yang dia taruh di atas meja. Aku tahu dari logo yang ada di atas ta situ, kalau tas itu bukan tas murahan. Modelnya sederhana tapi elegan. Di samping sofa, aku lihat satu koper kecil yang cantic. Sejenis koper kecil untuk orang yang sering bepergian.


Perempuan itu rambutnya hitam sebahu. Tidak terlalu banyak polesan di wajahnya tapi aku sangat yakin kalau kulitnya akrab dengan banyak perawatan. Kulitnya bersih dan licin. Aku berani taruhan kalau lalat pasti tergelincir ketika mendarat di wajahnya. Tapi sebetulnya yang menarik perhatianku bukan pada betapa cantiknya dia. Ada satu hal dari wajahnya yang menurutku sangat akrab. Ketika melihat wajahnya, aku seperti sedang bercermin pada versi diriku yang mungkin sekitar dua puluh tahun lebih tua.


“Aku datang ke sini tidak untuk meminta kembali, kamu pasti tahu hal itu,” aku mendengar perempuan itu berbicara. Suaranya lembut mendayu, seperti orang yang sedang bernyanyi.


“Tentu saja tidak. Aku sangat tahu itu.”


“Aku hanya ingin bertemu anakku,” dia berkata lagi yang kemudian seperti membuka segala pintu dalam otakku, menyambungkan segala benang merah dalam simpul – simpul yang kuat. Apakah mungkin perempuan itu ….

__ADS_1


Perempuan itu berhenti berbicara ketika melihat kepalaku nongol di ruang tamu. Dia lalu berdiri, air mata menetes dari ke dua matanya. Memang tidak salah lagi. Samar – samar aku masih bisa mengingat wajahnya.


“Papa,” aku berkata hati – hati.


Papa berdiri dan sedikit panik melihatku ada di ruang tamu saat itu.


“Ah … May …, kamu sudah bangun?” Papa tergagap.


“May,” perempuan itu maju mendekatiku dan otomatis aku mundur. Papa menahan perempuan itu dan aku dengar bisikannya, “Pelan – pelan. Jangan terburu – buru.”


Perempuan itu berhenti. Tapi dari wajahnya aku melihat sebuah kerinduan yang bercampur dengan rasa bersalah. Seakan -  akan dia ingin menerkamku dalam pelukannya.


“May, ini …” Papa berhenti sebentar, seperti berusaha mencari kata – kata yang tepat.


Perempuan itu mengangguk – angguk sambil mengusap matanya yang sekarang sudah sangat basah dengan air mata.


“Betul Nak. Betul, ini Mama,” dia membentangkan tangannya lebar – lebar. Memang apa yang dia inginkan? Aku menghambur dalam pelukannya? Setelah sekian lama dia pergi kemudian dia datang lagi dan berharap kami akan bersama seperti keluarga yang harmonis?


“May, ini Mamamu. Dia datang untuk ketemu kamu,” akhirnya Papa berbicara. Di titik itu pasti Papa tahu kalau sudah tidak ada lagi hal yang perlu ditutupi.


Aku berdiam di tempatku berdiri, seperti ada pasak besar yang menancapkan kakiku di tanah. Aku jujur tidak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus sedih atau bahagia. Tapi meskipun ada sesuatu yang aku rasa akrab di wajahnya, perempuan ini tetaplah perempuan yang asing dalam hidupku.


“Papa, May mau mandi. May sudah terlambat sekolah,” akhirnya aku bisa berkata – kata. Aku lihat wajah perempuan itu kecewa. Tapi tentu saja. memangnya apa yang dia harapkan?

__ADS_1


Cepat – cepat aku mandi, menyiram tubuhku dengan air dingin. Tapi tetap saja, aku merasa pagi itu adalah pagi yang sangat panas. Aku merasa gerah yang tidak biasa. Rumahku yang kecil ini jadi terasa lebih kecil lagi. Aku cepat – cepat selesaikan mandiku, ke kamar, berganti pakaian, memasang pelembab, sedikit bedak, roll on menyambar buku apa saja yanga da di meja lalu menjejalkan ke dalam tasku, kemudian langsung pergi.


“Papa, May berangkat,” ujarku tanpa melihat Papa atau perempuan itu.


“May, … “ Papa berteriak. Tapi itu saja. papa tidak berusaha mengejarku. Aku sudah hidup dengan Papa seumur hidupku. Di saat – saat seperti ini, dia tahu bahwa sendiri adalah hal yang aku butuhkan. Seperti pada setiap pertengkaran kami di mana Papa lalu keluar rumah dan lama baru kembali.


Tapi perempuan itu, yang baru saja datang dan menyatakan dirinya adalah Mamaku, sama sekali tidak mengenal aku. Dia berusaha mengejar aku. Aku ambil sepedaku dan mengayuhnya sekuat tenaga. Perempuan itu berteriak – teriak memanggil namaku.


Tidak heran kalau keributan itu memancing tetangga – tetanggaku ke luar. Yang pertama tentu saja, Bu Caludia. Tapi aku tidak mempedulikan semuanya. Aku harus cepat pergi. Aku tidak mau ada di tempat itu.


Dari ekor mataku aku melihat Papa menahan perempuan itu. Perempuan itu menangis, dan beberapa tetangga berkerumun. Syukur, aku tidak menjadi bagian dalam sirkus pagi itu. Aku kayuh sepedaku cepat – cepat. Tapi aku tidak mau pergi sekolah. Selama hidupku aku belum pernah membolos sekolah. Biarlah ini menjadi pengalaman pertama. Aku hanya ingin sendiri. Aku tidak ingin bertemu Aaron, aku tidak ingin bertemu Jell dan Trisakti. Aku tidak mau bertemu siapapun.


Aku terus mengayuh sepedaku melewati kota, pergi ke arah timur kota Malang. Ke tempat tinggi di mana aku bisa melihat kota Malang yang besar, sebuah kota di dasar lembah yang dikelilingi oleh gunung, seperti sebuah mangkok raksasa.


Aku hempaskan sepedaku di rerumputan. Aku pilih sebuah pohon yang rindang dan duduk di bawahnya. Lalu aku menangis sejadi – jadinya. Aku bertanya – tanya, kenapa aku tidak mempunyai hidup yang tenang. Setelah Papa yang punya pacar, Aaron yang sedang berjuang dengan kecanduannya, dan sekarang aku harus bertemu dengan Mama yang sudah absen dalam sebagian besar hidupku?


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1


__ADS_2