Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Cowok Cakep Bersepda Motor


__ADS_3

Akhirnya selesai juga jam sekolahku untuk hari ini. Karena aku sudah terbiasa sekolah, maka aku tidak menganggapnya sebagai siksaan walaupun aku harus menahan perutku yang sakit ketika pelajaran – pelajaran yang melibatkan menghitung. Angka – angka dan semua rumus itu tidak pernah bersahabat denganku.


Bersama Trisakti dan Jell aku berjalan menuju gerbang sekolah bersama berpuluh – puluh anak lain yang memakai seragam putih abu – abu. Kami bertiga sedang sibuk membicarakan rencana kami pergi berenang hari kamis sore.


“Memang kamu bisa ? Tanya Jell padaku.


“Tentu bisalah Jell. Aku sekarang khan sudah free dari Tonia.” Jawabku.


“Wah, pemasukanmu jadi berkurang dong.” Trisakti berjalan di sampingku.


“Iya sih. Aku kembali jadi missqueen. Kalau kalian ada info naka yang butuh les inggris yah. Kemarin aku cukup senang karena aku kira aku akan dapat kerjaan dari Kak Kevin. Tapi sekarang mungkin aku harus cari yang lain lagi.”


“Aku kira tidak susah buat kamu untuk cari murid.” Jell berjalan sambil menendang – nendang batu kecil.


“Tidak selalu sih. Sekarang muridku tinggal satu, Cuma Ladova saja. jadi otomatis pengahsilanku berkurang. Di kota ini yang hidupnya bergantung dengan memberi les khan bukan aku aja. Bahkan sering kali aku harus ‘kalah’ dapat murid dengan orang – orang yang sudah jadi sarjana.”


“Mending kamu cari kerja di Mc. D atau di mana gitu May” Trisakti mencoba memberi usul. Dia memang sahabat yang baik.


“Wah, kalau di Mc. D, yang kerja di sana sudah sarjana semua. Cakep – cakep lagi,” tukas Jell.


“Tuh khan. Kalau di Amrik sih, banyak anak SMU yang kerja di Mc. D” Aku berkata sambil membandingkan apa yang pernah aku baca dengan apa yang aku lihat sekarang.


“Kita cari es campur dulu yuk. Panas gini pasti nikmat minum es campur.” Trisakti mengusulkan sambil memandang aku dan Jell penuh harap.


“Dimana ?”


“Depan stasiun.” Dan kamipun berjalan ke sana. Sekolahku terletak di sekitar bundaran tugu beberapa ratus meter dari arah stasiun. Jadi ajakan membeli es campur di stasiun bukanlah ajakan yang tidak masuk akal. Kami bertiga berjalan di sepanjang trotoar. Jalan yang sedang aku lalui ini adalah salah satu jalan yang mempunyai paling banyak pohon sebagai penyejuk di kota Malang. Bisa kalian bayangkan, berjalan dengan sahabat kalian sambil bertukar cerita di bawah pohon – pohon besar. Bagaimana rasanya ? Aku rasa tasku bergetar. Ada telpon masuk. Kulihat layarnya berkedip – kedip. Nomor Papa.


“May, kamu lagi di mana ?”


“Baru keluar dari sekolah Pa. Papa di mana nih ?”


“Di Jakarta. Sudah dengar berita belum?”

__ADS_1


“Belum tuh Pa.” aku ngobrol dengan Papa sambil berjalan.


“Cek aja May. Gini May, Papa ditugaskan ke Jakarta. Paling sedikit minggu depan baru bisa pulang. Sementara waktu kamu tinggal di rumah Nenek saja.”


“Kok di rumah Nenek sih Pa. Mending May di rumah sendiri aja dari pada harus di sana setiap hari.” Aku tidak mau menyiksa diri dengan menginap di rumah Nenek. Sudah bisa aku bayangkan bagaimana rasanya melewati malam yang sepi dengan bunyi tokek setiap hari. Belum lagi kalau tokek – tokek itu masuk ke dalam kamarku.


“Sudah jangan membantah. Papa cuma ingin kamu ada yang menjaga. Itu saja !” Aku dengar suara Papa agak serak melalui telepon.


“Papa, May bisa jaga diri sendiri. May gak perlu Nenek.”


”Setidaknya lakukan ini demi Papa. Buat hati Papa tenang May.”


“May masih harus kasih les ke Ladova. Belum nanti Imelda. Siapa nanti yang kasih dia makan ?”


“Bawa saja Imelda sekalian. Papa tadi sudah telpon Nenek kamu. Kamu bisa pulang pergi setiap hari ke sekolah dari sana. Terus bilang saja untuk satu minggu ini kamu tidak kasih les ke Ladova. Mudah bukan?”


“Papa kok gak nanya May dulu sebelum nomong ke Nenek sih ?” aku berkata pada Papa dengan nada jengkel.


“Sudah Papa terburu – buru May. Orang yang Papa tunggu sudah datang. Turuti saja perintah Papa. Bagaimana?” Papa berkata dengan suara berat yang selalu dia gunakan kalau dia benar – benar serius mengungkapkan sesuatu.


“May ?!” Nada suara Papa meninggi.


“Iya … iya Pa.” dengan amat sangat terpaksa aku mengiyakan.


“Take care,” kata Papa. Kemudian terdengar nada tunggu dari HPku. Papa sudah memutus pembicaraan kami secara sepihak.


“Ada apa ?” Trisakti bertanya sedangkan Jell terlihat tidak ambil peduli. Jell bukan tipe gadis yang suka ikut campur urusan lain meskipun dia adalah seseorang yang punya informasi paling lengkap tentang apa yang terjadi di sekolah.


“Papa ke Jakarta. Aku disuruh menginap di rumah Nenek.”


“Kita tidak jadi pergi berenang dong ?!” Jell tampak khawatir.


“Bisa aja kita pergi berenang. Asal pulangnya tidak terlalu malam.”

__ADS_1


“OK …” Jell terlihat gembira karena rencana yang kami buat tidak mengalami perubahan.


“Kalian tahu betapa tersiksanya aku di sana ?”


“Iya. Sudah berjuta – juta kali kau menceritakannya pada kami. Untung Nenekku baik” Jell berkata bosan sambil membuat perbandingan.


“Sulit juga yah kalau begitu …” Kata Trisakti. Kali ini dia tidak menenangkan. Hanya merasa prihatin. Dan aku menceritakan lagi ke pada mereka untuk ke sekian kalinya tentang Nenekku. Tentang sikapnya padaku apabila dia tidak mood atau ada sepupu – sepupuku yang lain sedang menginap juga disana.


“Kamu tidak merasa ada sepeda motor mengikuti kita ?” tanya Trisakti.


“Mana ?” Jell memalingkan kepalanya. Menoleh – noleh untuk mencari.


“Yah Tuhan Jell. Jangan kelihatan gitu dong. Yang wajar aja …” Trisakti berkata malu.


“Iyah nih Jell. Ntar kita yang dikira cari perhatian lagi …” Kataku.


“Santai aja lah. Kalian berdua ini selalu terlalu takut terhadap segala hal. Lagian ini tempat umum. Gak akan ada yang berani ganggu kita. Mana sih Tri ?” Jell tetap menoleh – noleh mencari sepeda motor yang dimaksudkan Trisakti.


“Di belakang kita persis. Arah jam lima. Sepeda motor besar warna biru tua. Masa gak lihat sih ?” Trisakti berbicara pelan – pelan seakan – akan takut akan ada yang mendengar.


“Oh itu. Cowok cakep loh. Helmnya dilepas,” Jell berteriak girang sehingga aku juga penasaran ingin melihat cowok yang katanya cakep itu, tapi dengan gerakan yang tidak dibuat – buat. Hanya mengedarkan pandangan seakan – akan tidak sengaja melihat. Setelah kulihat benar – benar cowok cakep itu, mukaku langsung berubah merah padam.


“Ayo deh cepat … gak usah kita pedulikan,” aku menggandeng tangan Trisakti dan Jell supaya berjalan lebih cepat.


“Aduh sayang May. Pemandangan indah tidak akan datang dua kali.”


“Kamu tidak apa – apa ?” Trisakti bertanya padaku.


“Gak apa – apa. Cepat aja yukkk … sangat haus nih …” tambah cepat aku berjalan sambil menarik tangan Trisakti dan Jell. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2