Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Pertemuan


__ADS_3

Lima menit menuju pukul lima aku sudah duduk di salah satu bangku di tempat kami janjian. Aku letakkan tasku di satu salah satu dari empat buah kursi mengelilingi meja yang aku tempati. Aku buka sebuah novel dan aku baca. Aku ingin menunjukkan kesan pintar dengan menunggu sambil membaca.


Tidak lama kemudian, tapi sudah lebih dari pukul lima, sebuah Peugeot warna biru kulihat berhenti di depan café. Seorang cowok memakai dasi dengan muka yang terlihat lelah turun dari dalamnya tanpa melepas kacamata hitam yang dia kenakan. Keren banget cowok itu. Tinggi lebih dari 180 cm. Dari penampilannya, kutaksir umurnya pasti sekitar dua puluh delapan tahun. Dia lebih tua. Aku tidak bisa lagi berpikir untuk memanggil nama depannya saja. Harus ada embel – embel Kak. Kemudian aku coba bayangkan. Matahari sekarang tujuh belas tahun. Kak Kevin dua puluh delapan tahun. Selisih umur berarti sekitar sebelas tahun. Yah cukup OK-lah. Khan gak apa – apa juga kalau ceweknya lebih muda dari cowoknya. Di dalam masyarakat yang patriakal begini, masih dianggap wajar. Sebuah perpaduan maskulin dan feminim yang sempurna. Semoga cowok keren itu memang benar – benar Kak Kevin.


Tempat ini didekorasi dengan banyak kayu. Kayu juga yang menjadi sekat setiap bilik meja ada. Aku suka dekorasi kayu begini, yang dibiarkan sesuai bentuk aslinya dan diplitur coklat setinggi pinggang orang dewasa. Jadi pandanganku bisa bebas meneliti deretan toko diluar atau pengunjung yang lainnya. Sekarang cowok yang aku harap Kak Kevin itu mulai melangkah masuk ke dalam melalu anak tangga yang sekitar tiga buah itu. Dengan pura – pura membaca aku tidak ingin kelihatan kalau sedang memperhatikan dia sambil berdoa kalau cowok itu benar – benar Kak Kevin. Dia sudah ada di dalam sekarang. Sepertinya dia sedang mencari cari seseorang. Aku masih pura – pura membaca dengan tenang padahal tanganku sudah mulai gemetaran. Cowok itu mengangkat HPnya. Dengan jempolnya dia memencet – mencet tombol di HPnya dan HPku bergetar, kemudian bernyanyi memberitahukan kalau ada cowok keren yang lagi telpon aku. Yah Tuhan, orang itu benar – benar Kevin. Aku tidak menyangka kalau jodohku datang secepat ini! Tengkiyu! Tengkiyu! dan aku masih pura – pura membaca sambil berusaha meraih HPku dengan gaya enggan. HPku bernyanyi keras dan dia mengampiriku.


“Halo,” dia mendatangi mejaku sambil melepas kacamata hitamnya. Sekilas aku lihat kalau bola matanya coklat. Aku harap itu bukan karena lensa kontak.


“Halo juga,” aku tutup bukuku sambil menyambut tangannya yang mengulur hendak berjabat tangan.


“May khan ?”


“Iya,” semuanya begitu sempurna. Semuanya sungguh seperti yang aku bayangkan. Ketemu cowok super keren, punya mobil mentereng dan bola matanya coklat.


“Belum lama nunggu khan ?”


“Ah, sama sekali tidak” Aku tersenyum sewajar mungkin.


“Tanganmu dingin. Kamu sakit ?” Kata Kak Kevin sedikit cemas. Aku semakin yakin kalau dia adalah cowok sempurna yang punya segunung perhatian.


“Oh, nggak. Nggak kok. Cuma agak dingin aja …”


“Iya sih. Anginnya memang agak besar akhir – akhir ini. Aku punya jaket di mobil. Kamu mau aku ambilkan buat kamu ?” Seperti tidak percaya aku mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin ada cowok seperti dia. Dia tuh bagaikan dewa yang turun dari langit.


“Gak usah repot – repot …” tapi dia keburu pergi mengambil jaketnya.


Cepat dia datang dan berikan jaketnya padaku.“Terimaksih,” aku bilang.


“Sudah pesan minuman ?”


“Belum …”


“Kamu suka apa ?” Kak Kevin bertanya.


“Coklat panas  aja” kataku.


“Kentang goreng?”


“Boleh”


Dan dalam hitungan menit apa yang dia pesan sudah ada di meja kami.


“Maaf Kak. Aku tidak bisa lama – lama di sini. Soalnya aku harus sudah sampai sebelum pukul enam di rumah salah satu murid les privatku” Kataku pada Kak Kevin.

__ADS_1


“Iya, aku tahu. Gak apa – apa. Aku mulai saja yah”


“Silakan”


“Seperti aku bilang kemarin kalau aku butuh seorang guru privat untuk bahasa Inggris”


“Kayaknya Kak Kevin gak butuh les privat deh” tapi butuhnya pacar dalam hati aku berkata. Tapi kalau itu benar dia gak butuh les Bahasa Inggris, akan sangat kecewanya diriku.


“Kamu benar May. Aku sungguhan cari guru privat Bahasa Inggris. Bukan buatku May, tapi buat adikku”


“Oh” kata itu keluar dari mulutku sebagai ganti, ‘Kenapa bukan kamu saja Kakkkkkkkk????!!!!’


“Dia kelas tiga SMU sekarang. Dia sama sekali tidak ada masalah dengan pelajaran lain kecuali bahasa Inggris,” Kevin berkata lembut.


“Kenapa tidak ikut bimbingan belajar? Atau les ke guru lain yang lebih senior gitu Kak. Biasanya aku hanya kasih les ke anak – anak SD atau SMP. Kalau sma anak sebaya belum pernah. Apalagi anak yang lebih tua.”


“Adikku itu susah sekali ditebak. Dia tidak mau ikut bimbingan manapun. Dia pernah juga dapat guru les Bahasa Inggris dari sekolahnya atau sekolah lain. tapi mereka,” Kevin berhenti sebentar, seperti berusaha mencari kalimat yang tepat,”mereka tidak cocok May. Jadi aku mulai cari guru yang benar – benar lain. setelah tanya sana – sini, beberapa orang merekomendasikan kamu,” aku melongo mendengarnya berbicara. Kenapa ada orang yang cakep luar dalam begini. Bukan hanya tampangnya, tapi caranya berbicara, memperlakukan orang lain. Kak Kevinnnnnn, aku klepek – klepek kakkkkkk!!!!


“Bahkan untuk menyetujui untuk kucarikan guru bahasa Inggris lain saja dia agak sulit menerima. Tapi akhirnya dia setuju dengan berbagai syarat”


Aku tidak mau mengetahui syarat apa saja yang diajukannya. Yang penting, aku bisa dekat dengan Kak Kevin. Apa aku harus mulai memanggailmya Bang Kevin? Atau Kevin saja?


“Bagaimana May?” Kak Kevin bertanya membuyarkan pikiran amburadulku.


“Iya …”


“Kak Kevin percaya aku bisa mempersiapkan adik Kakak dengan baik?”


“Aku tidak ragu – ragu. Nama Matahari cukup disegani di kota ini” katanya membuatku tersipu. “Bagaimana ?”


“Baik kalau begitu. Aku tidak mau berbohong kalau aku juga membutuhkan pekerjaan ini”


“Untuk apa ?”


“Yah buat beli pulsa, nabung buat beli motor.”


“Itu saja?” dia bertanya sambil menyeruput cokelat panasnya.


“Untuk kutabung lah Kak”


“Buat apa?”


“Buat kuliah Kak. Sama buat pergi ke Jakarta. Naik jet coster dan melihat sea world” Kevin tertawa. Dia pasti berpikir aku ini adalah cewek lucu dan menarik.

__ADS_1


“Seratus ribu sekali datang bagaimana?” aku terperangah mendengar seratus ribu disebutkan mulutnya. Biasanya aku menerima kurang dari setengah jumlah yang dia sebutkan.


“Cukup Kak. Cukup banget!” aku tidak mau begitu saja menolak kesempatan emas. Aku bisa benar – benar ke Jakarta sebelum umurku genap dua puluh satu. Aku akan mencetak record dalam olimpiadeku sendiri. Aku lihat jam di tangan kiriku sudah hampir menuju pukul enam. Aku merasa sayang kalau pertemuan dengan Kevin begitu cepat berlalu bahkan sebelum aku tahu kalau dia benar – benar tertarik padaku atau tidak. Tapi aku harus pergi ke rumah Tonia.


“Kamu terburu – buru yah ?”


“Iya Kak. Aku harus pergi sekarang. Muridku sebentar lagi pasti sudah menungguku …” Aku berkata dengan nada menyesal.


“Ntar kelamaan kalau kamu naik angkot. Mau aku antar saja tah?”


Mana bisa aku tolak tawaran menggiurkan seperti itu. Tapi yang keluar dari mulutku malah, “Ah gak usah Kak, ntar malah ngerepotin Kak Kevin.”


“Jangan malu – malu May. Aku sama sekali gak keberatan mengantarkan cewek pintar dan lucu seperti kamu”


Hah ?! Dia bilang aku pintar dan lucu?!. Apa itu berarti semesta raya ini sedang memberi tanda kalau cowok keren yang baik hati dan pemurah ini memang tertarik kepadaku. Siapa tahu sudah sejak jauh hari sebelumnya dia sudah memperhatikanku dan mencari – cari alasan supaya bisa dekat dengan aku. Masuk akal khan???


“Aduh jangan deh” bahkan aku sendiri tidak percaya kalau kata – kata penolakan itu keluar dari mulutku. Ingin rasanya aku ambil plester dan menutup mulutku. Tapi kalau aku plester mulutku pasti kepalaku akan menggeleng – gelang malu. Jadi apa yang harus kulakukan?


“Ayolah. Berbahaya kalau cewek jalan sendirian” dia meyakinkan. Tapi cewek ‘jalan sendirian’ aku rasa itu sedikit berlebihan. Apakah itu adalah tanda lain yang diberikan alam semesta padaku di sore hari yang indah ini? berarti aku sudah dapat dua tanda kalau dia memang suka aku.


Dan aku akhirnya berkata, “Iya deh”


Kami ngobrol beberapa hal di dalam mobilnya. Mobilnya sangat nyaman dengan dudukan yang tidak akan membuat kalian terkena wasir. Dia antarkan aku sampai depan rumah Tonia dan dia menolak aku mengembalikan jaketnya. Apakah itu juga tanda? kalau iya berarti aku sudah dapat tiga tanda dari dia. Bayangkan! Tiga tanda. Apakah itu belum cukup?


 


Selesai dari rumah Tonia aku langsung pulang. Dengan jalan kaki. Melewati beberapa blok yang sepi. Bagiku tetap saja tidak aneh dan tidak berbahaya kalau cewek berjalan sendirian. Alam memberikan banyak sarana untuk menolongku. Batu misalnya. Bisa saja aku lempar kalau keadaan terpaksa. Kalau tidak ada batupun aku bisa meraih tongkat, pasir, daun atau apa saja yang ada. Kalau masih belum bisa juga Tuhan sudah memperlengkapi aku dengan anggota tubuh yang menakjubkan. Tangan dan kaki. Kalau tidak bisa untuk bertahan kaki juga bisa digunakan untuk berlari. Itu yang dikatakan Papa ketika kami sama – sama melihat tayangan documenter tentang seekor zebra yang dapat berlari menghindari seekor singa.


Sambil berjalan aku mengingat – ingat kembali ucapan Mama Tonia ketika aku sudah selesai mengajar Tonia.


“Mbak May. Setelah ini Tonia akan kami ajar sendiri” Aku tentu saja terkejut sekaligus mengerti.


“Iya Buk. Tidak apa – apa. Saya mengerti. Tonia itu anak yang pintar. Dia sama sekali tidak akan punya kesulitan meskipun belajar sendiri” kemudian aku pergi setelah Mama Tonia menggenggamkan aku sebuah amplop berisi uang yang jumlahnya lebih dari yang biasa aku terima. Aku menikmati pekerjaan ini. Tapi kadang aku merasa menjadi seperti pengemis yang menerima uang dari orang lain. Dari jendela kulihat Mama Tonia mengintip aku. Mungkin untuk memastikan kalau aku dijemput mobil yang mengantar aku tadi sekaligus mendapat bahan obrolan ketika dia belanja sayur besok pagi.


Tapi tidak mengapa. Hari ini aku merasa senang. Bertemu dengan Kak Kevin, mendapat pekerjaan baru dan tiga tanda dari alam semesta yang mengatakan kalau Kevin suka aku. Malang sedang dingin. Aku rapatkan jaket yang diberikan Kak Kevin ditubuhku sambil kubaui harumnya. Harum parfumnya masih melekat di sana dan sangat suka.  


Apa Matahari sedang jatuh cinta yah ?


Follow me in instagram @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie

__ADS_1


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2