Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Para Sahabat


__ADS_3

Para Sahabat 


Akhirnya aku bebas juga ketika Papa menjemputku hari minggu sore. Setelah berbasa – basi sejenak dengan Nenek, akhirnya aku pulang dibonceng Papa di sepeda motornya yang besar. Aku ingin cepat – cepat sampai di rumah, cepat – cepat tidur dan cepat – cepat bangun dengan keadaan hari sudah pagi. Kemudian aku akan berharap upacara rutin senin nanti cepat – cepat selesai, melalui istirahat pertama, pelajaran ekonomi yang tidak begitu ku suka, istirahat kedua dan kemudian pulang. Aku akan cepat – cepat berusaha sampai di rumah dan menenangkan diri sampai pukul empat. Lalu aku akan cepat – cepat mandi, berganti pakaian, mengejar angkot dan cepat – cepat sampai di di tempat aku dan Kevin janjian.


Ketika sepeda motor Papa sudah sampai di Malang kota, aku harus tunduk pada kenyataan bahwa hari ini masih hari minggu dan masih ada sekitar 20 jam menuju hari senin pukul lima sore. Tiba – tiba saja semuanya berjalan lambat.


“Kamu tidak apa – apa May ?” tanya Papa.


“Tidak apa – apa Pa”


“Kita cari makan yuk”


“Dimana ?”


“Kamu yang pilih tempat” karena Papa dan aku jarang sekali memasak di rumah, kami jadi sering sekali makan di luar.


“Papa aja deh” Papa kemudian melesatkan sepeda motornya cepat. Kami sampai di satu warung kecil yang punya beberapa meja. Kami memesan makanan dan dalam sekejap makanan yang kami pesan sudah ada di atas meja. Papa bercerita banyak sekali tentang teman – temannya, pekerjaannya dan dia bertanya padaku apakah di rumah Nenek sangat menyenangkan, dan aku jawab,


“Lumayanlah Pa” kata lumayan yang keluar dari mulutku hanya supaya Papa senang aku bisa dekat dengan Nenek dan menjalani kehidupan yang nyaman di tempatnya. Kami terus makan dan ngobrol tapi pikiranku lebih banyak melayang untuk besok. Aku membayangkan seperti apa rupa Kevin, seberapa tinggikah dia, apakah wajahnya penuh jerawat atau malah mulus bebas dari noda.

__ADS_1


Selama ini belum pernah aku naksir seorang cowok. Salah. Salah, aku cuma bohong. Pernah aku naksir Gareth Richardson, cowok bule dari Amerika berumur tujuh belas tahun. Dia adalah salah satu siswa program pertukaran di sekolahku. Tapi cintaku padanya melayang begitu dia kembali ke negaranya meskipun kami masih berkomunikasi lewat e-mail atau whatsapp. Yang pasti, aku sekarang sangat menunggu hari senin pukul lima sore.


Aku tidur malam itu, gelisah dan penasaran. Sampai senin pagi ketika aku bangun, aku tahu aku punya hari yang sangat panjang hari itu. Tapi sebelum semua hal menarik itu terjadi, aku masih akan pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman-temanku.


Teman – temanku tidak terlalu banyak. Yang sudah kalian tahu tentu saja Imelda. Selain itu aku punya Trisakti, cewek yang memberi nama Imelda. Trisakti tuh cewek biasa. Dia bukan aktivis atau bintang kelas, meskipun nilai – nilai di rapornya selalu di atas rata - rata. Dia punya dua mata seperti gadis – gadis yang lain. Dia memakai anting dan cincin seperti gadis – gadis yang lain. Segala yang tampak pada dia semuanya tampak serba biasa. Tapi coba saja kalian berbicara dengannya tiga puluh menit saja. Kalian pasti akan takjub, terkesima dan sejuta kata kekaguman yang lain karena ternyata dia adalah seseorang yang punya pribadi sangat mempesona. Tingginya sekitar 150 sekian. Tapi dia tidak pernah mengeluh karena tinggi badannya. Tidak seperti beberapa gadis lain yang tidak mau berteman denganku hanya gara – gara takut terlihat pendek, Trisakti menerimaku apa adanya. Paling tidak kalian tahu kalau punya tinggi 170 cm itu tidak selalu menyenangkan. Kadang malah menjadi siksaan dan penghambat dalam pergaulan. Menurutku, selain karena tinggi badan, Trisakti amat sangat pantas menjadi Putri Indonesia atau kalau mau lebih go ‘intenesyene’l, dia pantas menjadi Miss Universe karena dia punya brain, beauty dan behavior. Kalau aku ungkapkan itu kepadanya dia hanya bilang,“May, semua cewek adalah putri. Kalau kau sebut seseorang putra pastilah karena dia itu cowok. Lalu kenapa kita harus berebut menjadi putri kalau kita semua sebenarnya adalah putri?”


Trisakti memang bijaksana dan kadang – kadang aku pikir kalau ucapannya melampaui umurnya sekarang ini.


Sahabatku yang kedua adalah, manusia juga, bernama Jelita yang lebih suka dipanggi Jell atau Jelly. Dia punya mata yang tajam seperti singa betina ketika sedang memperhatikan mangsa. Aku yang belum pernah punya cowok pernah terkejut ketika suatu saat dia bilang kalau cinta itu akan hilang ketika diucapkan.


Jadi kalau aku suka sama seseorang, jangan biarkan dia atau kamu sendiri bilang cinta atau sayang. “Biarkan saja semuanya mengalir,” Itu kata Jelita dan aku membutuhkan saat dan orang yang tepat untuk membuktikannya. Dan kalau saja segala harapan dan bayanganku tentang Kevin itu benar, aku harap Kevin tidak akan pernah bilang cinta atau sayang padaku, biar cinta kami bisa ‘mengalir’ seperti air. Cieeeeeeeee


“Jangan pernah bermain – main dengan perasaan atau berharap terlalu tinggi kepada seseorang. Kalau jatuh kamu akan sangat sakit nantinya. Melihat mukanya saja belum pernah. Suara orang itu tidak menjamin rupa atau kepribadian seseorang,” Jelita yang sok dewasa dan merasa paling mengerti tentang urusan perasaan berkata.


“Mungkin lebih baik kalau kamu tidak terlalu terburu – buru. Itu baru telponnya yang pertama. Hal yang kalian bicarakan khan hanya sebatas hubungan kerja. Antara konsumen dan produsen. Lihat saja perkembangannya,” kata Trisakti kalem. Entah mengapa aku selalu merasa lebih tentram mendengar perkataan Trisakti daripada Jelita.


Mendengar mereka berdua berpendapat aku hanya bilang,


“Iya sih”

__ADS_1


Tapi bagaimana lagi. Hati ini sudah banyak berfantasi tentang Kevin. Hanya gara – gara suaranya saja yang begitu, begitu, mempesona, aku jadi seperti orang yang kehilangan akal sehat.


Hari pertama minggu ini aku lalui dengan gelisah. Bukan karena I hate Mondays syndrome, tapi memang ini adalah kegelisahan bertemu dengan seseorang.


Sampai sekarang, detik – detik menuju pertemuanku dengan Kevin setelah lebih dari dua puluh jam aku menunggu semakin mendekat. Aku kenakan jeansku yang berwarna hitam dengan t – shirt biru lengan tiga perempat. Warna biru membuatku tampil percaya diri dan kulitku tampak sedikit lebih terang.


“Bagaimana penampilanku Imelda ?”


“Kamu cantik May. Seperti bidadari,” Imelda berkata asal – asalan di balik aquariumnya. Bahkan melihatku saja tidak.  


“Jangan menggoda Imelda” kataku malu – malu.


Untuk bertemu Kevin aku harus tampil dengan baik sekaligus terlihat wajar dan tidak berlebihan. Tapi harus aku katakan sedikit rahasia pada kalian, hari ini aku memakai maskara! 


Follow me in instagram @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie

__ADS_1


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2