Matahari Menjadi Bintang

Matahari Menjadi Bintang
Jangan Lelah Jadi Papa May


__ADS_3

“Kamu sudah mengambil sebuah keputusan May. Aku kira kamu harus mempertanggungjawabkannya. Papa kamu tidak membesarkan kamu untk menjadi seorang pengecut bukan ?” kata Imelda ketika aku mulai berbicara pada dia tentang pembicaraanku dengan Kak Kevin. Rasanya cukup lama aku tidak ngobrol dengan Imelda. Dengan bagian dari diriku yang lain.


“Aku kira juga begitu,” aku berkata. Membuka – buka buku pelajaranku.


“May, apa kamu gak ingin ngobrol sama Papamu ?”


“Ngobrol bagaimana maksudmu?”


“Ngobrol tentang bulan yang sedang bersinar indah!” Imelda agak sewot, lalu berguling – guling di atas bantal seperti anak kecil yang lagi tantrum.


“Yah ngobrol tentang Aaron lah!” dia berkata setelah selesai tantrumnya.


“Ingin lah sebenarnya Imelda. Tapi aku tidak akan bisa membicarakannya terus terang. Aku ngertilah kalau gak aka nada orang tua yang mau anaknya pacaran sama junky. Mungkin hanya memberitahu dia kalau aku sekarang punya pacar …”


“Mengapa tidak kau katakan semuanya ? menurutku itu akan lebih baik …” Imelda menyilangkan ke dua kaki depannya. Duduk di atas bantal.


“Kalau Papa tahu pacarku adalah seorang pecandu narkoba. Sikap over protectnya akan kambuh. Dan akhirnya, aku tidak akan dapat ijin untuk pacaran. Kamu tahu khan, Aaron itu pacar pertamaku. Aku juga sayang banget sama dia. Aku harap sejalan dengan waktu, dia ngerti kalau dia gak butuh drugs, butuhnya Cuma aku dan cintaku,” aku senyum – senyum sendiri dengan ucapanku. Tapi memang cinta rasanya manis. Kalau aku ingat sata – saat aku bersama Aaron, pinginnya senyum aja. Rasanya aku ini orang yang berbeda, aku merasa menemukan tambatan jiwa.


“Memangnya kenapa sih May, kau harus punya ijin buat pacaran ?” kura – kura nakal itu membuyarkan lamunanku tentang Aaron, dan cinta kami berdua.


“Karena bagaimanapun juga aku punya hati Imelda. Bagian dari hatiku adalah milik Papa. Kalau Papa tidak suka dan tidak kasih ijin, hatiku pasti tidak akan merasa tenang. Papa itu orang yang sangat penting buat hidupku. Tapi sekarang, di umur segini, aku juga mengerti kalau ternyata ada sebagian dari hatiku yang menjadi milik orang lain. aku tidak mau kalau nantinya aku harus memilih antara Papa dan Aaron. Aku pasti akan memilih Papa dan meninggalkan Aaron, dan itu akan sangat menghancurkan hatiku.”


Imelda menghela nafas panjang, “aku mengerti hal itu,” Imelda merayap menjelajahi ranjangku.


Saat itu aku dengar sepeda motor Papa memasuki rumah.


“Ada di dalam May ?” teriak Papa dari ruang tamu.


“Iya Pa ….” Aku keluar menemui Papa yang bau keringat setelah perjalanan Surabaya – Malang.


“Kita makan di luar yuk !”


“Papa gak mau mandi dulu ?”

__ADS_1


“Tidak perlu deh May. Rasanya sudah lama sekali kita gak makan bareng di luar,”


Aku naik di sepeda motor Papa. Motor tua ini sudah Papa punya lama sekali. Meskipun Papa bisa beli baru, tapi Papa suka sekali dengan motor ini. Kata Papa, terlalu banyak kenangan dengan motor ini. Kalau Papa menjual motor ini, sama saja dengan melepaskan kenangan – kenangan itu. Aku akan bilang pada Aaron untuk tidak menjual motor besarnya juga. Motor itu telah berjasa mengantar kami berdua ke sana – kemari waktu pacaran. Mungkin inilah yang memang dikatakan jatuh cinta, segala sesuatunya selalu dihubung – hubungkan dengan orang yang kita cinta. Co cweeeeettttttt.


Sepeda motor Papa menembus udara dingin kota Malang. Kami melewati jalan – jalan di kota yang banyak ditaburi lampu berbagai warna, toko – toko yang menggelar diskon dan pejalan kaki yang berjubel memenuhi trotoar. Kami pergi ke tempat favorit kami berdua. Convetti. Convetti ini tidak besar, kecil saja dan pengunjungnya tidak terlalu ramai. Tapi kami berdua sangat suka.


“Kamu pesan apa saja yang kamu suka,” Papa sedang berbaik hati. Jarang – jarang Papa bisa sebaik ini.


“Apa saja Pa? Nanti kalau May pesan banyak Papa bangkrut bagaimana?” aku berkelakar.


“Pesan apa saja nona kecil. Papa sedang senang hari ini,” Papa memandangku sambil tersenyum.


“Pasti ada sesuatu yang istimewa sampai Papa ajak May ke sini …” aku bertanya curiga. Jangan – jangan, Papa sudah menikah dengan Tante Nina tanpa sepengetahuanku.


“Bukan Papa, tapi kamu May,”


“Maksud Papa ?”


“Ada sesuatu yang istimewa dengan kamu sehingga Papa ajak kamu ke sini …”


“May ngaku. May sudah punya pacar …”


“Cowok yang kamu ceritakan tempo hari itu …”


“Iya,” aku tak sabar mendengar pendapat Papa.


“Kamu memang sudah beranjak dewasa May. Tidak terasa kamu sudah sebesar ini. Pasti banyak yang Papa lewatkan selama ini,” Papa memandangku teduh. Lama sekali Papa tidak memandangku seperti itu. Waktu aku kecil dulu sering sekali Papa pandang aku seperti itu. Tapi ketika kami sama – sama sibuk, sangat jarang kami punya waktu sama – sama.


“Sepertinya, dia cowok yang baik. Maksud Papa … setelah kamu gagal mendapatkan Kakaknya, Papa harap kamu tidak pacaran dengan dia hanya sebagai kompensasi …”


“Ih .. Papa. May khan pacaran gak mau main – main,”


“Betul May, pacaran gak main – main. Tapi kamu harus ingat kalau kamu masih sangat muda. Jangan terlalu berpikir bahwa dia adalah  satu – satunya cowok di dunia ini. Duniamu masih terbentang bebas untuk kamu jalani,”

__ADS_1


“Papa tidak marah khan ?”


“Untuk apa Papa marah. Toh pada kenyataannya Papa juga pacaran khan …” pesanan kami datang. Aku pesan ice cream dan salad. Sama seperti Papa.


“Papa tahu khan kalau sebenarnya masih sulit buat May untuk menerima Tante Nina. Tapi Papa juga harus tahu kalau May berusaha buat menerima dia….”


“Papa tahu May. Kamu anak yang baik. Papa tahu kamu akan berusaha mengerti Papa. Nina adalah orang yang baik. Papa sangat yakin dengan perasaan Papa,”


“May mengerti. Apakah itu juga berarti kalau Papa sudah melupakan ehm … Mama May ?” Papa berhenti sejenak dengan makanannya.


“Sulit buat mengatakannya. Mama kamu adalah seorang wanita yang istimewa. Tapi Papa rasa kami bertemu di saat yang salah. Kalau saja kami cukup dewasa dan lebih bijaksana, tidak akan seperti ini jadinya.” Papa menghela nafas sambil matanya menerawang.


“Papa tidak menyangka bahwa hari ini telah tiba. Putri kecil Papa sekarang sudah punya pacar,” Papa mengusap matanya.


“Papa sayang May ?”


“Tidak perlu Papa katakan itu,”


“May juga ingin Papa bahagia. Kalau memang Papa yakin, tidak usah menunggu terlalu lama kalau Papa ingin menikah dengan Tante Nina …”


“Papa masih menunggu saat yang tepat May,”


“Papa …”


“Yah … ?”


“Jangan lelah jadi Papa May yah ….” 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie

__ADS_1


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2