
Hari rabu berikutnya aku sudah di rumah lagi. Kemarin malam Papa datang langsung ke rumah Nenek dan membawaku pulang. Aku kembali merasakan tempat paling nyaman di dunia ini. Nyaman karena aku bisa tidur tanpa khawatir kalau – kalau ada rudal nyasar ke kamarku. Nyaman karena aku juga tidak perlu khawatir aku harus tidur rata dengan tanah karena desingan peluru di atas kepalaku. Nyaman karena aku punya Papa yang menyayangiku dan nyaman karena kami punya rumah yang sangat nyaman.
Tapi aku membayangkan. Di tengah rasa nyamanku ini, di belahan bumi yang lain, di suatu daratan yang di pisahkan laut maha luas, ada cewek seumurku yang tidak bisa tenang belajar karena terjadi ledakan di sekitarnya. Atau anak – anak cowok yang tidak bisa leluasa bersepeda ke sana – ke mari karena di sekitar mereka banyak tertanam ranjau yang masih aktif. Juga berjuta – juta remaja lain seumurku yang tidak merasakan kenyamanan yang aku rasakan. Sering kalau sudah begitu, aku akan merasa sia – sia saja punya smartphone.
Toh … ketika aku sedang ketawa – ketiwi ketika ditelpon Jell misalnya, di belahan lain dunia ini banyak cewek yang menangis dan lapar. Apa gunanya aku punya HP model paling baru sekalipun kalau ternyata di sekitarku porak – poranda. Orang – orang sibuk memikirkan nyawa dan kasih sayang dari pada memikirkan baju apa yang akan dipakai Kim Kadarshian..
“Ga usaha terlalu mengada – ada deh May. Hidup itu harus kamu nikmati. Toh … kamu bisa berbuat apa dengan segala rasa bersalahmu yang berlebihan itu ?” sergah Jell ketika aku membicarakan hal ini. Jell memang benar. Dengan rasa bersalahku aku sama sekali tidak bisa melakukan apa - apa.
“Terus, aku harus ngapain dong ?”
“Pikir dirimu sendiri. Apa kamu mau hidup terlunta – lunta karena terus menerus mikirin orang lain ? Tidak khan….?! Dengan mulai memikirkan dirimu sendiri Matahari, kamu akan mengurangi satu orang menderita di muka bumi ini ….” Ucapan Jell sangat lancar menusuk hatiku. Tapi aku tahu kalau ucapan itu benar.
“Mungkin kamu terlalu banyak nonton Discovery Channel deh May …” Ujar Trisakti. “Kamu harus lebih banyak melihat tayangan lokal,” sambungnya.
“Ih tapi tayangan lokal yah gitu – gitu aja. Aku pernah nonton sinetron waktu makan di rumah makan padang. Masak orang jatuh dari sepeda aja dibuat lebay banget. Terus disyting dari berbagai macam sudut. Gak banget deh. Gak masuk akal. Lagian aku nonton discovery channel itu khan maunya sekalian sekalian belajar bahasa Inggris”
“Terus apa dengan begitu kamu lebih mengerti Negara lain dari pada negaramu sendiri gitu ?” Benar – benar pantas Trisakti jadi Miss Universe. Kalau saja dia lima belas centi meter lebih tinggi ….
“Yah gak lah Tri …”
“Gak gimana ? Kamu lebih tahu gajah Afrika yang hampir punah atau badak bercula dua di Rwanda yang tinggal beberapa ekor saja tanpa mau mengerti bagaimana nasib Way Kambas misalnya …” Trisakti menatapku tajam. Dia lebih idealist daripada aku. Dan terus terang, aku jadi malu.
“Kalian itu bisa stop ngomongin hewan langka dan berbagai macam penderitaan di dunia ini gak sih ? Masak mau menikmati hidup aja sulit sekali ?” Jell berkata kesal. Kami saat ini sedang berada di rumahku. Menikmati tempat yang paling nyaman di dunia sambil ditemani Imelda.
__ADS_1
“Boro – boro kalian memikirkan Negara lain. Negara kita aja sering dapat bom. Pikirkan diri kalian sendiri. Apa kalian akan tenang mikirin masa depan kalau situasi kayak gini terus ?”
Aku dan Trisakti berdiam diri. Bingung memikirkan apa yang harus keluar dari mulut kami masing – masing. Pikiranku melayang ke rumah Nenek. Nenek yang hidup menyaksikan perang dan keganasannya. Nenek yang memang tampak kuat itu, dulu pernah bergaul dengan darah dan mengadapi minimnya obat – obatan. Masing – masing orang mengusahakan kebahagiannya sendiri. Aku pun juga begitu. Dengan menabung untuk membeli handphone misalnya.
“Kalian tahu gak ? Gara – gara banyak orang yang terlalu mau mikiran orang lain seperti kalian yang gak ada kerjaan itu, banyak orang bertengkar. Coba saja deh, kalau setiap orang mau mengurus dirinya lebih baik lagi dan tidak gatel ngurusin orang lain …. Dunia kalian yang aman dan damai itu akan terjadi ….”
Lagi – lagi aku tidak tahu harus ngomong apa di hadapan Jell. Jell ternyata lebih bijaksana dari yang aku duga. Tidak salah kami saling berteman sekarang.
“Sorry deh,” Trisakti membuka mulutnya. Dia memang sahabatku, tapi kalau urusan minta maaf dan aku yang diminta duluan … kayaknya itu sedikit sulit walaupun patut dicoba …
“Aku yang minta sorry Tri …” karena Trisakti sudah mulai duluan.
Kami terdiam lagi. Masing – masing enggan membuka mulutnya.
Aku mengerjap – ngerjapkan mataku berusaha memikirkan Aaron. “Ehm …. Gimana yah ? Kayaknya dia naksir aku deh …”
Kedua temanku itu langsung membelalakkan matanya. “Ayo cerita … cerita …” kami tiduran di kamarku dengan kipas angina menyala.
“Dia suka curhat – curhat gitu ke aku. Padahal aku gak minta. Itu tandanya cowok naksir atau adalah cewek yang keGRan?”
“Tidak diragukan lagi. Dia pasti naksir,” kata Jell.
“Tapi kamu naksir dia gak ?” Trisakti mulai mengeluarkan suaranya. Seperti biasa, suaranya terdengar lembut dan bijaksana.
__ADS_1
“Sepertinya sih begitu. Kalian pikir, apa artinya kalau cowok sudah mulai curhat – curhat masalah pribadi ke kalian terus suka WA malam-malam?”
“Awwwwwwwwww. Dia pasti naksir kamu.”
“Hati hati. Jangan terlalu yakin dulu. Ingat perasaanmu waktu pertama kali ketemu Kevin dulu May. Ada bedanya gak sama sekarang ?”
“Kak Kevin maksudmu Jell?”
“Ho oh,” Jell mengangguk.
Aku menimbang – nimbang. Pertama kali mendengar suara Kak Kevin, aku benar – benar terpesona. Suaranya berat tapi terkesan lincah, energik dan punya wibawa. Begitu juga kesan yang aku terima ketika pertama kali aku bertemu dengan dia. Makin lengkap saja alasanku untuk naksir dia. Sangat beda dengan Aaron. Kesan pertamaku sangat biasa sekali. Mungkin sebenarnya Aaron juga mempesona. Tapi saat itu, pesonanya sudah tertutup pesona Kak Kevin dan perilakunya yang seperti sampah.
Apalagi pertemuanku dengan dia pertama kali tidak berjalan dengan baik. Aku malah mulai belajar terpesona kepada dia ketika dia minta maaf. Mungkin agak tidak adil dengan Aaron karena seakan – akan aku menggunakan dia sebagai pelampiasan saja. betul juga kata Papa. Tidak dapat kakaknya, adiknyapun jadilah.
“Yah … banyak sih bedanya … aku suka Aaron lebih karena aku punya alasan …” memangnya perasaan suka membutuhkan alasan. Seperti aku sayang pada Papa. Tapi dengan alasan apa ? Rasanya aku tidak perlu alasan untuk sayang Papa. Aku sayang dia karena aku memang sayang dengan dia, terlepas dari segala hal yang dia lakukan untuk membuat aku hidup dengan baik selama ini.
“Alasan bagaimana maksud kamu ?” Trisakti seperti tidak mengerti. Masakan calon Miss Universe tidak mengerti ? Akupun tidak mengerti. Harus cepat – cepat membuat alasan supaya tidak terlihat bodoh. Meskipun dengan teman dekat, siapa sih yang pingin terlihat bodoh ?
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang