
Aku menghabiskan beberapa hari setelah itu dengan Mamaku. Agak canggung sebetulnya memanggil dia dengan sebutan itu. Tapi aku belajar mengucapkannya. Satu hal yang menjadi berita gembira dari semua kejadian ini adalah, ternyata Mama tinggal di Jakarta dengan keluarga barunya. Jadinya aku yakin kalau aku akan berkunjung ke Ibukota itu bahkan sebelum aku lulus kuliah. Mama ingin aku bertemu dengan suami dan adik – adikku. Beberapa kali kami video call dan aku merasa senang. Rasanya aneh sekaligus menyenangkan, ada anak – anak kecil yang memanggilku kakak. Ketika Mama pulang kembali ke Jakarta, ada perasaan sedih bergelayut dalam hatiku. Mungkin ini adalah awal dari segala sesuatu yang indah dalam hidupku.
Mama dan Tante Nina juga pernah ketemu. Tepatnya Papa yang membuat mereka bertemu. Papa bilang kalau kami semua ingin hidup tenteram dan damai, kamu harus saling mengenal dengan baik. tante Nina dan Mama sama – sama permepuan dewasa, dan mereka tahu bahwa dalam hubungan itu, aku menjadi prioritas. Senang bukan, setelah lama sekali, banyak orang yang memperhatikanku.
Papa masih sering membawaku pergi ke Convetti. Sekarang lebih sering bukan hanya kami berdua, melainkan bertiga dengan Tante Nina. Pada akhirnya, aku mulai merasakan mempunya sebuah keluarga yang lengkap, yang utuh. Aku bersyukur karena beruntung. Tidak semua gadis yang hidup di negeri ini merasakan bagaimana indahnya rasa sayang seorang Mama. Dan aku punya dua Mama, tidak hanya satu. Tante Nina tidak mau ada istilah Mama tiri. Mama saja tanpa embel – embel yang lain dana Mamapun setuju. Sudah resmi, aku memang punya dua Mama.
Jell dan Trisakti sudah sangat update dengan apa yang terjadi dengan diriku. Kalau Aaron jemput di sekolah, mereka pasti minta ditraktir bakso atau mie ayam atau makanan yang enak – enak lainnya karena tahu hidupnya tidak akan berakhir hanya dengan mentraktir kami makan siang.
Keadaan Aaron sedikit demi sedikit membaik, Kak Kevin setuju supaya rehabilitasi Aaron dilakukan di Malang saja. Dua kali dalam setiap minggunya aku menemani dia menjalani terapi detox. Detoksinasi, mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya. Satu kali dalam satu bulan aku menemaninya periksa di salah satu rumah sakit besar di Surabaya. Aku bersyukur karena Kak Kevin menyetujui semua hal ini. Aaron bilang kalau motivasi dia sembuh adalah aku. Kalau jauh dari aku, dia gak akan pingin sembuh dan itu akan membuat dia menyerah. Kak Kevin juga akhirnya menyerah dengan kesungguhan hati Aaron.
Ketika mendengar itu, aku bayangkan Jell, Trisakti dan Imelda sama – sama bilang ‘cie … cie … cie …’ dalam kepalaku. Yah tidak apa – apalah kalau aku memang motivasinya buat sembuh. Lagian kalau jauh – jauh dari Aaron, aku juga nanti yang susah. Lagi – lagi suara ‘cie … cie … cie …’ itu muncul dalam kepalaku.
Hubunganku dan Aaron berjalan semakin erat. Begitu juga dengan hubunganku yang semakin membaik dengan Tante Nina. Aku harap, Papa cepat – cepat menikahinya. Mungkin saja kalau Papa cepat – cepat menikah, Bu Claudia dan tetangga – tetanggaku yang lain akan lebih menghormatiku.
Tentang Bu Claudia ini, aku pernah cerita ke Mama dan Tante Nina. Lalu mereka kompakan pura – pra belanja ke warung kelontong Bu Claudia bersamaku. Mereka dengan baik – baik memperkenalkan diri, satu Mamaku dan yang satu akan segera menjadi Mamaku juga. Setelah memperkenalkan diri pada Bu Claudia, kami bertiga langsung pulang dengan tersenyum meninggalkan Bu Claudia dengan mulut menganga. “May yakin, sebentar lagi aka nada kabar tentang Mama berdua di penjuru perumahan.”
“Biarkan saja May. Kamu harus ingat, Bu Claudia bukan orang yang memberimu makan. kalau kamu sakit, pasti teman dan keluargamu yang merawat kamu. jadi pendapatnya tidak seharusnya mempengaruhi kamu,” ujar Mama.
__ADS_1
“Betul. Orang yang sula membicarakanmu adalah orang – orang yang ingin merasa lebih baik dengan dirinya sendiri. Orang – orang itu seharusnya dikasihani, bukan dibenci,” tambah Tante Nina.
Mereka benar. Aku harus lebih memfokuskan diri dengan mereka yang mencintaiku dan lebih berbelas kasih pada mereka yangtidak suka padaku.
Dua sahabatku, Trisakti dan Jell juga nampak tidak bermasalah. Hubunganku dengan mereka berjalan sangat baik. Masih banyak hal yang biasa kami ceritkan, dan kadang – kadang kami masih juga sering mendengar lelucon Jell yang rada – rada jorok. Mereka berdua tidak berubah, masih sama seperti dulu yang suka sekali memberikan kuliah umum padaku. Tapi sekarang, aku juga bisa menjadi salah satu pemateri dalam kuliah persahabatan kami. aku sekarang punya Mama, punya Papa dan sedikit pengalaman dengan narkoba, yang mereka tidak punya.
Aku masih sering melewatkan waktuku disini. Di dalam kamarku. Tempat paling nyaman di seluruh dunia. Yang selalu mau menahan beban berat badanku ketika aku terlelap. Yang mampu memberikan aku kehangatan ketika udara di luar sangat dingin. Dan memberiku perasaan nyaman ketika aku suntuk.
Juga tentu saja Imelda, kura – kura centil dan comel itu. Kami berdua masih sering ngobrol. Tapi akhir – akhir ini dia lebih banyak diam. Sibuk dengan urusannya sendiri. Sampai lama kelamaan aku yakin bahwa sebenarnya Imelda tidak pernah benar – benar berbicara kepadaku. Yang benar adalah aku berbicara kepada diriku sendiri. Persis seperti yang aku lakukan sewaktu aku kecil dulu. Ketika aku merasa kesepian karena Papa bekerja dan aku tidak punya Mama atau saudara. Aku berbicara dengan bonekaku, mobil mainanku dan gambar – gambar yang ada dalam majalahku. Tapi aku masih menyayangi Imelda. Apa adanya dia, salah satu sahabat sejatiku. Aku akan selalu membutuhkannya sungguhpun aku sekarang tidak merasa kesepian lagi karena orang – orang yang menyayangiku.
Bagaimana bisa ?
Itu pertanyaan yang bagus. Kalian masih ingat betapa aku berusaha membuat suaraku merdu ketika pertama kali aku menerima telpon dari Kak Kevin ? Atau kalian juga ingat waktu aku menampar Aaron ? Selain itu kalian pasti juga masih ingat bagaimana aku, Jell dan Trisakti main cebur – ceburran di dalam kolam ikan Nenek ? Dan bagaimana aku marah ketika Mama yang absen dalam sebagian besar hidupku kemudian tiba – tiba muncul di rumahku?
Kalau saja ada kamera yang sangat canggih dan mengabadikan semua potongan gambar itu, kalian akan menemukan bahwa sebetulnya hidup kalian adalah sebuah film yang indah. Menceritakan perjalanan hidup seorang anak manusia. Dan kalian bintangnya …
Jangan pernah berpikir bahwa hidup kalian biasa – biasa saja. Keluarkan memori di dalam otak kalian untuk mengingat – ingat betapa indahnya hidup kalian sebetulnya. Siapapun kalian, kalian adalah seorang bintang!
__ADS_1
Salam hangat,
Matahari
Saya ucapkan terima kasih - buat teman - teman yang sudah membaca kisah May dan Aaron ini. Apabila teman - teman - teman suka, mohon beri like dan vote. Author juga akan sangat bersyukur apabila teman - teman bersedia memberitahukan tentang kisah ini pada teman - teman yang lain.
Selain kisah 'Matahari menjadi Bintang' ada satu kisah juga yang saya tulis, 'Mainkan Gitarmu Sophie." Cerita ini berkisah tentang hidup Sophie, gadis yang suka bermain gitar dan menyanyi, yang tinggal di sebuah kedai kopi bernama Toebroek bersama Nenek dan Pamannya. Mohon berkenan untuk dilihat juga :-)
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1