
pagi berlalu seperti biasa nya. annur sibuk dengan laptop nya, boy sibuk membolak balik dokumen dokumen di tangan nya. tidak ada pembicaraan pagi itu, hanya para karyawan yang berlalu kesana kemari sambil membawa dokumen. begitu pun ian dan hariri, mereka juga sibuk dengan komputer nya. mereka harus mempersiapkan proposal yang akan di bahas pada rapat jam 2.30 siang ini bersama anggota divisi mereka. ian berada di divisi marketing dan hariri berada di divisi hubungan masyarakat. mereka harus mempersiapkan yang terbaik agar tidak lagi di marahi oleh ketua divisi mereka karena mereka berdua adalah yang kerja nya paling lambat di divisi mereka.
hari ini rey akan menghadiri pengajian di mesjid fadillah yang berada di pusat kota pukul satu siang . ia bersama teman nya ayin dan rin akan pergi bersama ke pengajian itu. rey tidak membawa mobil, ia di jemput oleh rin. pukul 12.30 sehabis sholat, rey berganti pakaian untuk bersiap pergi. ia tidak ingin rin menunggu nya terlalu lama dan datang terlambat pada pengajian itu. rey menggunakan baju sederhana. ia menggunakan celana jeans biru dan baju kaos hitam lengam panjang dan ditutupi oleh jaket hoodie. ia berpakaian ala pakaian santai anak muda masa kini. tak berapa lama rin datang bersama ayin. ayin membawa anak nya ikut karena ia tak ingin menitipkan pada ibu nya karena ibu ayin sedang sakit. ayin keluar dari rumah dan masuk ke mobil. rin pun melajukan mobil nya dan langsung menuju masjid fadhilah. sesampainya disana, rin langsung mencari tempat untuk memarkir mobil nya. parkiran lumayan penuh karena diisi oleh banyak mobil, menandakan bahwa di mesjid telah banyak orang orang yang telah datang. setelah mendapat tempat parkir, mereka bertiga langsung turun. rey membantu ayin menggendong fahmi. anak ayin bernama fahmi.
"ayo nak kita masuk" kata rey pada fahmi sambil menggedong nya.
mereka berjalan menuju teras mesjid. rey melihat sebuah mobil yang tidak asing bagi nya. ia merasa sering sekali melihat mobil itu tapi tak tau kapan dan dimana. rey berlalu meninggalkan mobil itu tanpa memikirkan siapa pemilik nya atau dimana ia melihatnya.
sampai di teras mereka duduk melepaskan sepatu nya. tiba riba datang seorang laki laki tinggi dengan tubuh kekar. bahu laki laki itu lebar dan ia memiliki brewok di wajah nya. laki laki itu adalah gandu, mantan pacar rey sewaktu kuliah dulu dan pergi begitu saja meninggalkan rey disaat keadaan rey sedang terpuruk
"hai. rey" sapa gandu. rey masih belum sadar bahwa itu gandu karena perubahan fisik gandu sangat berbeda dari pada saat terakhir rey bertemu dengan nya.
"iya saya. anda siapa? tanya rey
"gandu?" kata ayin. rey diam, ia terkejut dengan kedatangan gandu
"iya, apa kabar?" tanya gandu pada ayin. mereka mengobrol layak nya orang yang sudah lama tidak bertemu
"kenapa kamu disini? tanya rey. suasana diantara mereka hening. rin dan ayin saling melirik.
__ADS_1
"aku baru pulang dari amerika kemaren. dan aku berinisiatif mengadakan pengajian disini." jawab gandu menjelaskan pada rey
"siapa nama anak mu?" tanya gandu lagi
"eh ini fahmi, anak nya ayin" jawab rey singkat
"oh" kata gandu. mereka masih merasa canggung. melihat itu, rin langsung mengajak mereka untuk masuk.
"ayo masuk, ntar keburu penuh" kata rin sambil menggandeng tangan ayin. rey mengikuti dari belakang dan meninggalkan gandu di teras itu. gandu melihat mereka masuk ke mesjid. gandu tersenyum, ia senang bisa melihat rey lagi. walaupun ia merasa bersalah karena dulu meninggalkan rey tanpa berkata apa apa.
"sudah jam satu tapi masih belum mulai" lata ayin. mereka duduk di bagian paling belakang diantara ibu ibu. rey sedikit melamun mengingat ia baru saja bertemu gandu setelah sekian lama.
"hei" kata rin sambil menepuk lutut rey yang sedang duduk bersila dan rey menatap rin
"mikirin boy atau mikirin gandu?" tanya rin menggoda rey
"apaan sih" jawab rey malu. rey selalu tidak bisa menyembunyikan perasaan. ekspresi selalu bisa di tebak.
"sudah, yang berlalu biarlah berlalu" kata ayin sambil mengelus punggung rey
__ADS_1
"aku cuma bingung aja. kenapa dia kembali setelah aku berusaha melupakan nya" kata rey
"kita kan tidak tau apa yang akan terjadi. nanti atau yang akan datang. kita hanya bisa pasrah" kata rin. setelah itu pengajian di mulai. ayin, rey dan rin berhenti berbicara dan fokus pada pengajian itu.
rey memperhatikan bagian paling depan. ia melihat gandu duduk di sebelah ustad yang akan mengisi acara pengajian itu. gandu terlihat memegang mikropon lalu berdiri membuka acara tersebut. gaya bicara dan gestur tubuh yang santai membuat gandu begitu terlihat keren. ia pun mengajak semua peserta yang ada di mesjid itu ber shalawat dan setelah itu pun ia mempersilahkan ustad itu untuk mengisi acara inti pengajian tersebut. gandu meletakkan mikropon di atas meja dan kembali duduk di kursi nya.
rey memperhatikan pembukaan acara itu dengan serius. ia sangat antusias, namun ia merasa heran dengan perubahan gandu. terlihat begitu sangat bagus membawakan acara itu seolah ia sudah sering menjadi pembuka acara di pengajian. rey kembali fokus mendengarkan pengajian itu dan tak lagi memikirkan gandu yang berada di depan sana. pengajian itu selesai tepat pukul 2.30. di tutup yang di pandu langsung oleh sang ustad. perlahan para peserta pengajian keluar dari mesjid menuju kendaraan mereka masing masing. ayin, rey, rin dan juga fahmi duduk di teras untuk memasang sepatu mereka. rey melihat seorang pemuda di dekat mereka yang sedang kebingungan mencari sendal nya. ia kesana kemari namun tidak menemukan sendal nya. walaupun mesjid fadillah itu besar, namun tetap saja ada yang akan kehilangan karena tidak ada keamanan khusus untuk menjaga sendal sendal di mesjid itu. saat rey sedang memasangkan sepatu fahmi. gandu datang dan menyapa mereka lagi.
"hai. sudah mau pulang?" tanya gandu kepada mereka namun memandang rey.
"iya nih" kata rin
"acara kamu bagus" puji ayin kepada gandu
"terimakasih banyak" ucap gandu tersenyum. ia melirik rey namun rey masih fokus memasangkan sepatu fahmi
"kapan kapan kita ngopi bareng ya. rey?" ajak gandu kepada mereka namun gandu hanya menyebut nama rey.
"boleh" kata rey sambil berdiri dan menggendong fahmi. ayin fan rin juga ikut berdiri setelah selesai memasang sepatu mereka. mereka pun berjalan menuju mobil, rey duduk di kursi belakang dan atin duduk di kursi depan menemani rin menyetir.
__ADS_1