
Untuk pertama kalinya , Airin melakukan perjalanan, setelah study beberapa bulan di Paris. Jarak tempuh Jakarta dan Paris bukanlah dekat, namun rasa rindunya tidak terbendung.
Begitulah ,perceraian selalu menyisakan problema, baik soal uang untuk memberarkan anak, soal uang kebutuhan anak, prioritas anak hanya ke sekian yang dilakukan pasangan.
Airin tahu, belum sepernuhnya yang terbaik sang mantan suami berikan pada anaknya. Karena jauh biaya buat isteri ke 2 nya ,lebih dari sang anak. Mulai dari tas ,pakaian, bukannya iri, namun Airin sedih ,prioritas sang suami menjadi berbeda, buat darah daging sendiri, perhitungan dan bukan yang terbaik yang bisa di berikan.
Jangankan materi, waktu saja tidak bisa dia berikan buat Hans buah hati mereka.
Se sayang apapun ibu tiri, tidak ada yang menandingi sayangnya seorang ibu kandung. Walau ada sebagian ibu yang tidak bertanggung jawab.
Hans banyakan di biarkan sendiri, mandiri, dari segi sarapan, makan siang ,semua dia lakukan di sekolah, tanpa di temani dan di tunggui sebelum bel. Jika Airin ada, maka satu hal yang Hans selalu katakan, meminta Airin menyiapkan bekal makan siangnya, dan membuatkan sarapan buatnya.Sarapan dari sekolah membuatnya muak, karena sering nya menu itu itu saja.
Dan begitu sampai di Jakarta, Airin langsung menghubungi handphone Hans dan mereka pun bertemu. Disebuah taman bermain, Hans di antar sang mantan suami.
Tubuh Hans lebih kurus, meninggi.
Pelukan Hans meluruhkan hati Airin, air mata Airin tidak terbendung.
Air mata itu mengalir begitu saja.
Tas sekolah, pakaian buatan Airin, beberapa buku cerita , Airin berikan buat sang anak. Hans duduk di pangkuan Airin menceritakan kesehariannya ,apa yang dia alami.
Airin masih ingat saat akses nya tertutup buat Hans, upaya apapun dia lakukan, namun isteri sang mantan selalu menghalanginya. Dan entah kenapa akses itu akhirnya terbuka.
Apakah mereka bertengkar hebat. atau ada persoalan ,entahlah. Karena Airin juga mengetahui dari guru sang anak, yaitu temannya sendiri, bahwa isteri sang mantan tidak pernah lagi mengantar anaknya, sibuk dengan pekerjaan dan kesuksesan.
__ADS_1
Hikmah di balik sebuah perkara.
" Mami..., Hans lapar, apa mami ada bawa bekal ?, Hans kangen masakan mami."
Airin tersenyum dan menunjukkan bekal bawaan nya. Dengan telaten , Airin menyuapi sang anak.
" Enak...., " sambil mengunyah mulut kecil Hans berceloteh.
Airin tersenyum.
" Kembalilah Rin....".
" Maksud kamu apa ?".
" Kamu lebih layak menjadi mami Hans."
" Maafffff...".
" Mengatakan maaf gampang , namun kata kata kamu itu bagaikan hunusan pisau . Merintih aku dalam siksaan berkepanjangan, minder dengan sekitarku ,termasuk anakku sendiri."
" Jika aku memperjuangkan hak asuh Hans, apa yang bisa kamu buat ?".
" Jangan Rin, aku hanya punya Hans saja saat ini."
" Aku juga demikian, hajya punya Hans."
__ADS_1
" Kamu dan isterimu sibuk kan, sampai Hans makan di sekolahan, beda dengan teman temannya. Dan aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi."
" Aku tidak bisa masak, terkadang saat jam makan siang, tidak bisa mengantarkan makanan pada Hans , Hans kelaparan."
" Papi macam apa kamu, berapa banyak anak buahmu, bisa anakmu kelaparan."
" Dan asal kamu tahu, aku tidak akan mengalah memperjuangkan anakku.Anakku kalian sudah sia siakan."
" Jadi kamu mau berebut hak asuh Hans ?".
" Ya".
" Kamu akan kalah Rin, mantan napi, gak layak besarkan anak kecil, gaji mu juga gak sebanding gaji isteri saya dan saya saat ini."
" Memang..,tetapi utangmu juga gak sebanding dengan pendapatanmu, hanya menunggu waktu , apartemen, mobil semua dalam daftar pelunasan utang," ujar Airin tersenyum mengejek.
Sang mantan syok dengan apa yang dia ketahui Airin.
🤣😅🤣😅🤣😅🤣
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment