
Seminggu telah berlalu, kali ini Cerin masuk sekolah dengan suasana hati yang tidak enak.
"Huh, ternyata waktu cepat berlalu. Hari ini sudah hari senin saja."
"Hai Cerin!" Menepuk pundak Cerin dari belakang, "kamu lagi apa, kok melamun?"
"Hah, kamu ni kageti aku saja!" ucap Cerin terkejut.
"Hehe, kamu sih melamun saja, jadinya aku kagetikan. Pertanyaanku belum dijawab ni?"
"Tidak ada apa-apa kok!" jawabnya.
"Ihh kamu nih, kitakan sudah temanan hampir tiga tahun ini, tapi masih rahasia rahasiaan ya!" ucap temannya kesal.
"Hmm...., eh aku boleh tanya sesuatu gak sama kamu?"
"Tentu saja boleh, kamukan sahabat aku. Memangnya kamu mau tanya apa?"
"Hmm, kalau seseorang mempunyai pacar, tapi gak di restui orang tua si cowo, apa yang harus dilakukan oleh sang cewe?" tanya Cerin kepada temannya itu.
"Kalau mereka benar-benar saling cinta, sang cewe akan tetap bertahan dan berusaha agar tetap di sisi sang pria," jelas temannya.
"Oh, jadi apa yang dimaksud dengan berusaha?" tanya Cerin lagi.
"Errr, berarti dia akan tetap berada di sisi sang pria dalam suka maupun duka, saling menolong dan melakukannya dengan tulus. Aku sih kurang tahu juga tentang ini," jelas temannya.
"Oh thank you ya sudah dijelasi ke aku!" ucap Cerin berterima kasih
"Eh tunggu, jangan-jangan yang kamu ceritakan itu kamu sendiri?!" tanyanya kepo.
"Errr..." Cerin bingung mau jawab apa.
"Hayoo jawab!"
"Ah mana ada!" ucap Cerin.
"Cih kamu berbohong,aku tahu kamu!"
"Hmm, ya tebakanmu benar," ucap Cerin mulai jujur.
"Asik ada info bagus ni. Aku yakin kamu pasti bisa kok. Eh ngomong-ngomong kamu dengan Stefan ya?" tanyanya kepo.
"Hmm ya!" Cerin merasa sedih.
"Yang sabar ya. Saran aku, kamu harus tetap berusaha saja!" ucap temannya menyemangati Cerin.
"Hmm, thanks ya Lily kamu memang sahabat terbaik aku di sini!" ucap Cerin tersenyum.
"Ya sama-ama dong!"
Lily adalah teman perempuan satu-satunya sekaligus sahabat Cerin yang ada di negara Perancis yaitu di sekolahnya. Dari pertama masuk mereka sudah akrab.
Lily orang yang paling dipercayai Cerin (kecuali Stefan) di sekolah itu.
Lily orangnya ramah, baik hati, penceria, mudah bergaul, apalagi orangnya cantik dan manis. Walaupun dia anak orang kaya tapi dia tidak pernah menunjukkan kekayaannya kepada orang-orang.
Berjumpa Dengan Dia:
__ADS_1
Setelah Cerin berbincang bincang dengan Lily, tanpa sadar Stefan sudah ada di situ dan mendengar perkataan mereka.
"Cerin akhirnya kamu sekolah!"
"Eh dia? Apakah dia mendengar perkataan kami?" ucap Cerin dalam hatinya.
"Errr, sebaiknya aku pergi. Aku yakin kamu pasti bisa Cerin, bye semoga berhasil!" Lily yang merasa nanti akan menjadi obat nyamuk langsung pergi.
"Apakah kamu masih menghindariku?" tanya Stefan kepada Cerin.
"Hmm, tidak kok," jawab Cerin singkat.
"Benarkah? Apakah si pak tua itu ada mengatakan sesuatu kepadamu?" tanya Stefan penasaran
"Siapa pak tua yang kamu bilang?" tanya Cerin bingung.
"Hmm, berarti benar-benar bukan dia," gumam Stefan.
"Siapa lagi yang kamu bilang dia?" tanya Cerin yang semakin merasa bingung.
"Begini, apakah ada seseorang yang mengatakan sesuatu kepadamu untuk menghindariku?" tanya Stefan.
"Hmm, kamu tak perlu tahu!"
"Eh marahkah? Berarti benar ada orang yang ingin memisahkan kita. Kalau kamu tidak memberitahukan, aku akan cari tahu sendiri," ucap Stefan.
"Jangan ikut campur!" ucap Cerin dingin.
"He, aku dengar perkataan kalian. Apa kamu tidak ingin mencoba?" rayu Stefan.
"Dasar gila!" Wajahnya mulai memerah seperti tomat.
"Kamu!" Wajahnya Cerin semakin memerah.
"Jangan takut, kita akan melewatinya secara bersama-sama," ucap Stefan.
"Hmm ya, terima kasih."
"Jangan sungkan, karena kamu adalah wanita satu-satunya yang sangat aku sayangi," ucap Stefan yang membuat Cerin merasa malu.
"He'emm, gombal ni terus terusan!"
"Hehehe," tawa Stefan.
*
Dalam beberapa hari ini Cerin dan Stefan kembali seperti dulu. Akrab satu sama lain dan tidak ada pertengkaran.
Suatu Hari:
Pada akhir pekan ini, mama tirinya Stefan datang bersama dengan seorang anak gadis menjumpai Cerin ke apartemen nya.
Sekarang ia telah sampai berada di depan pintu apartemen Cerin. Lalu ia membunyikan bel apartemen tersebut.
Dengan cepat Cerin yang ada di dalam, langsung membukakan pintu.
__ADS_1
"Eh tante, silakan masuk!"
"Tidak perlu, kita ke taman bawah sana saja. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu," ucap mama tiri Stefan datar.
"Hmm baiklah, Tante. Saya akan kunci pintu dulu," ucap Cerin menyetujui.
*
"Ada apa ya tante datang ke sini? Apa yang ingin ia bicarakan dengan saya? Eh tunggu, bukankah itu wanita yang mengaku-ngaku sebagai teman masa kecil Stefan. Untuk apa dia ke sini. Apa jangan-jangan ia bersama tante ini?" Cerin yang bertanya tanya di dalam hatinya.
........................................
"Hmm, sekarang sudah di taman. Apa yang ingin Tante bicarakan dengan saya?"
"Kamu sudah berapa lama mengenal Stefan?" tanya mama tiri Stefan dengan penuh selidik.
"Hmm, hampir tiga tahun, Tante. Memangnya kenapa ya, Tante menanyakan ini?" tanya Cerin bingung.
"Masih tidak tahu? Kalau begitu begini, Cecil sudah sejak dari kecil mengenal Stefan. Apa lagi keluarga kami sudah dari dulu bekerja sama dalam perusahaan. Kamu yang baru mengenal Stefan, tapi kenapa kamu yang mendapatkannya dari pada Cecil yang sudah lama mengenalnya?" tanya mama tiri Stefan yang kali ini membuat Cerin merasa canggung.
"Errr, itu Tuhan yang sudah mengatur, Tante. Dan berarti kami sudah berjodoh, Tante," ucap Cerin sedikit canggung.
"Kami ke sini bukan membahas tentang berjodoh atau tidak. Saya ke sini meminta kamu menjauhi Stefan, kalau bisa jangan pernah ketemu lagi dengannya. Saya telah menyiapkan uang satu juta dolar untukmu. Tinggalkan dia!" ucap mama tiri Stefan dengan kasar.
"Apa maksud, Tante? Apa alasan, Tante tidak merestui hubungan kami?" Cerin merasa terkejut dan sedih.
"Maksud saya kamu tidak pantas untuk menjadi menantu masa depan kami. Kamu hanya seorang aktris. Kami hanya menerima menantu dari anak pejabat saja. Dan orang yang pantas itu adalah Cecil!"
"Saya tidak akan menerima uang ini! Bagaimana pun, saya tidak akan meninggalkan Stefan!" ucap Cerin menolak.
"Ha kamu! Saya memberi kesempatan yang baik untukmu, tapi kamu menolaknya? Baiklah walaupun kau bersikeras tetap bertahan. Tetapi saya tidak akan membiarkan itu terjadi!" Pergi dari hadapan Cerin.
Cerin merasa sedih dan terdiam di bangku taman itu.
"Ah sudahlah, Cecil mari kita pergi dari sini. Kamu tenang saja, Stefan tidak akan diambil oleh wanita ****** itu. Dia akan tetap milikmu!" ucap Cerin menyemangati diri sendiri.
"Terimah kasih ya, Tante. Tante benar-benar yang terbaik bagi saya!" Memeluknya dari belakang.
"Hehehe akhirnya keinginanku terkabulkan juga! Ahahaha sedikit berguna," ucap Cecil dengan licik di dalam hatinya.
" Apa yang dimaksud dengan perkataan tante tadi ya?"
Cerin banyak berpikir . Apa yang dimaksud dengan perkataan tante itu.
Hai Teman-teman berjumpa lagi dengan saya.
Bersambung dulu ya teman-teman.
Jangan lupa selalu dukung AUTHORnya.
Karena dukungan dari kalian semua adalah motivasi buat sang Author.
Kalau bisa klik tombol favoritnya ya❤
Tolong dukungannya.
Salam manis dari author Ceria Desvany.
Tunggu episode selanjutnya ya.....🤗
__ADS_1