
Happy reading guys. Stay for reading in my novel with me yeah guys.
Episode sebelumnya.....
"Eh..., sepertinya aku tidak bisa Stef. Nanti apa kata orang. Kalau aku nginap di apartemen kamu," ucap Cerin menolak dengan lembut tetapi dengan paksaan.
"Segitunyakah kamu gak mau dengan aku, Sayang?" tanya Stefan kepada Cerin yang seolah-olah Cerin membuat kesalahan.
Cerin berusaha sabar dengan tingkah Stefan. Dan mulai menarik nafasnya dengan berat sambil berkata dalam hatinya. "Sabar Cerin, sabar. Dia sudah nolongi kamu tadi siang."
"Hmm? Bagaimana, Sayang?" tanya Stefan dengan manjanya.
"Hanya sekali ini saja," ucap Cerin dengan pasrahnya.
••••••••••••••••••••
Waktu berjalan dengan cepat. Sekarang sudah ada 20 menit lebih Cerin dan Stefan menunggu pesanannya. Dan tak lama kemudian seseorang membunyikan bel apartemen Stefan.
"Ting nung... Ting nung..." Suara bel berbunyi secara berulang-ulang.
Cerin dan Stefan saling melihat satu sama lain. Dan langsung berbicara secara bersamaan. "Itu pasti pesanannya!"
"Eh?" ucap mereka bersamaan, dan sekarang mereka tertawa bersama-sama. "Hahahahaha!"
"Ya uda, aku buka pintu dulu ya, Stef," ucap Cerin sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Cerin membuka pintu dan tampak sosok seorang yang membawa sebuah box yang tak lain adalah pengantar pesanan yang mereka pesan.
"Oh terima kasih ya, Pak." Sambil memberikan uang bayaran untuk pesanan mereka.
"Oh iya sama-sama, Bu," ucap sih pengantar pesanan kepada Cerin.
Cerin yang mendengar namanya disebut dengan panggilan 'bu' merasa tak suka. "Maaf saya masih muda, Pak."
"Tapikan Ibu sudah menikah. Jadi gak masalah dong saya panggil dengan sebutan begitu," ucapnya sambil melihat Stefan yang berjalan ke arah Cerin.
Cerin tersadar dari apa yang dimaksud bapak tersebut. Dengan langsung ia menjelaskan atas kesalahpahaman yang telah dilihat bapak itu. "Pak, sebenarnya..."
"Sayang, kamu ini. Begitu saja kamu perpanjang. Ya uda, Pak. Makasih sudah antar makanannya. Istri saya memang suka begitu. Dia gak suka dipanggil ibu-ibu." Stefan yang tiba-tiba datang dan mengaku-ngaku adalah suami Cerin.
"Kamu!" ucap Cerin marah.
"Sssttt." Tangan Stefan menjulur ke mulut Cerin dengan jari telunjuk yang berdiri menempel di bibir Cerin. Tanda untuk menyuruh diam.
__ADS_1
Pengantar pesanan tersebut merasa canggung melihat tingkah Cerin dan Stefan yang mesra itu. Dan langsung berbicara untuk undur diri. "Oh baiklah. Maaf saya undur diri ya, Pak."
"Kamu apaan sih? Pakai acara ngaku-ngaku aku sebagai istri kamu lagi!" ucap Cerin marah.
"Ehhh, gitu aja marah. Ya uda, yuk makan. Aku uda lapar ni. Emang kamu mau lihat aku mati kelaparan," ucap Stefan berusaha melarikan pembicaraan.
"Ihhhh, kamu ya!" ucap Cerin yang merasa kesal.
Dan sekarang mereka makan tanpa ada sepatah kata. Sampai akhirnya mereka selesai makan.
"Sayang, kamu jadikan nginap di sini?" tanya Stefan yang masih belum percaya dengan keputusan Cerin tadi.
"Hmm, ya iya dong. Tadi kamu yang minta aku nginap. Ya kalau kamu mau aku gak nginap, alu malah tambah senang." Cerin yang sengaja menggoda Stefan.
"Eh jangan dong. Ya uda kamu mau gak nonton dulu bareng aku?" Tawar Stefan kepada Cerin.
"Gak ah aku mau tidur cepat. Tapi di mana kamarku Stef?" tanyanya dangan mata melihat ke seluruh arah yang mencari-cari sebuah kamar yang kosong.
"Kamu tidur denganku, Sayang," ucap Stefan dengan santainya.
"Apa kamu bilang? Aku gak mau. Di sinikan masih ada kamar lain." Cerin terkejut dengan perkataan yang dilontarkan oleh Stefan.
"Ya emang ada dua kamar lagi. Satu untuk kamar pembantu dan yang satu kamar kosong." Jelas Stefan.
"Lah? Emang kamu mau tidur di kamar yang masih kotor, berdebu, berantakan, dan apalagi banyak tikusnya?" ucap Stefan menakut-nakuti Cerin.
"Ah? Aku gak mau. Ya uda deh aku tidur di kamar pembantu aja." Cerin yang sekarang lebih memilih tidur di kamar pembantu.
"Tapi kamar pembantu sama seperti kamar kosong ituloh. Dan yang lebih parahnya, kamar tersebut sangat seram." Stefan yang berusaha agar Cerin memilih tidur di kamarnya.
"Lebih baik, aku pulang aja," ucap Cerin berbalik nenakut-nakuti Stefan.
"Eh jangan dong, Sayang. Memangnya kamu mau pulang ke apartemenmu di tengah malam begini?" tanya Stefan karena sekarang sudah pukul 22.14.
"Ah. Ya sudah deh. Aku pasrah. Aku uda mengantuk." Cerin yang pasrah pergi meninggalkan Stefan di tempat tersebut dan menuju ke arah kamar Stefan.
Tampak senyum bahagia Stefan melihat Cerin yang mau tidur di kamarnya itu. Dengan cepat ia mengejar Cerin. Berjalan di belakang Cerin.
Sebelum Cerin tidur ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya. Sedangkan Stefan sedari tadi mengikuti apa yang dilakukan oleh Cerin tersebut.
"Kamu gila ya? Ngikuti aku aja. Gak ada kerjaan lain memangnya?" tanya Cerin merasa risih melihat tingkah Stefan yang seperti bayangannya. Yang siap mengikutinya ke mana aja.
"Aku gila karena kamu, Sayang!" ucap Stefan yang membuat Cerin merasa jantungnya mau copot.
__ADS_1
"Ah seterah kamu, Stef. Aku mau tidur. Cape lihat tingkahmu yang selalu bergombal." Dengan cepat Cerin meninggalkan tempat tersebut karena ia merasa malu.
Sekarang Cerin telah berada di atas tempat tidur Stefan. Mulai merebahkan tubuhnya. Menarik selimut menutupi hampir semua tubuhnya. Hanya kepalanya saja yang tidak. Dan mulai menutup matanya yang lelah itu. Tidak beberapa lama kemudian, Stefan juga naik ke atas tempat tidur yang sama dengan Cerin. Seketika Cerin terkejut dari tidurnya. Membelalakkan matanya dan duduk di atas tempat tidur tersebut.
"Apaan sih kamu ini?" tanya Cerin merasa kesal dengan ulah Stefan tersebut.
"Ya aku mau tidurlah, Sayang. Memang mau apa lagi?" Stefan yang berpura-pura berlagak bodoh.
Cerin merasa semakin kesal dengan jawaban Stefan tersebut. "Kamu! Aku gak mau tidur seranjang denganmu Stef! Jadi tolong kamu tidur di tempat lain."
"Ya elah. Inikan kamar aku, Sayang. Jadi suka-suka aku dong mau tidur di mana aja," ucap Stefan yang semakin membuat Cerin merasa kesal.
"Kamu ini mau aku kasih pelajaran?" Tampak Cerin menunjukan giginya seperti hewan yang ingin menerkam seseorang.
"Aku gak perlu diajari kok, Sayang. Akukan uda besar. Jadi gak perlu. Hehehe!" jawab Stefan yang sangat senang menggoda Cerin tersebut.
"Kamu ya!" Kali ini Cerin benar-benar merasa kesal dan marah karena tidurnya diganggu oleh Stefan.
"Eh iya deh. Aku tidur di bawah aja," ucap Stefan yang merasa takut terhadap Cerin.
Dengan cepat Stefan mengambil selimut dan alas tidur kecil dari dalam lemarinya. Meletakkannya tepat berada di samping bawah tempat tidur yang ditiduri oleh Cerin.
Cerin tertawa di dalam hatinya dan merasa puas melihat hal tersebut. Dan akhirnya mereka pun tertidur lelap di tempat tidur mereka masing-masing.
•••••••••
Di sisi lain ada yang merasa cemas.
Eits bersambung dulu ya teman teman...
Jangan lupa selalu dukung AUTHORnya...
Karena dukungan dari kalian semua adalah motivasi buat sang Author...
Menurut kalian siapa yang sedang cemas ya? Komen aja jawaban kalian di bawah....
Penasaran dengan cerita selanjutnya?
Oleh karena itu....
*Tunggu episode selanjutnya ya....
#StayAtHome
__ADS_1
#WorkHome*