
Happy reading guys. Stay for reading in my novel with me yeah guys.
Episode sebelumnya....
"Untuk apa pria ini membeli banyak pembalut? Udah lagi berbeda merk." kata pelayan kasir tersebut yang merasa kebingungan.
Sebenarnya Stefan merasa malu dan risih. Karena semua orang memperhatikan nya dengan pandangan bingung dan penuh penasaran. "Aduh.., kalau gak untuk kamu Cerin pasti aku gak akan pergi membelinya." kata Stefan dalam hati nya.
•••••
Sekarang Stefan telah selesai membayar di kasir mini market tersebut. Lalu dengan cepat ia keluar dari tempat itu. Menjauh dari pandangan orang yang merasa bingung terhadapnya. Stefan berjalan ke arah mobilnya yang tadi terparkir di depan mini market. Ia mengambil kunci mobil dari dalam sakunya. Dengan segera ia membuka pintu mobil tersebut. Segera ia masuk ke dalam mobilnya. Mengemudikannya dengan cepat balik ke apartemen miliknya.
Dilain tempat Cerin merasa kesal dan bingung. Tampak ia masih tetap terduduk di kursi meja makan yang ada di dalam apartemen Stefan itu.
"Ah..., sialan. Kenapa dia pergi dan tak kembali kembali dari tadi. Apa dia benar benar membiarkan aku seperti ini? Kemana sih dia?" kesal Cerin kepada Stefan yang tak kunjung balik ke apartemen setelah keluar beberapa menit tadi, sepertinya 30 menit lebih dia keluar.
Tiba tiba saja suara pintu terbuka dari depan. Suara langkah kaki berjalan cepat dan tibalah seseorang di depan Cerin. Orang itu tak asing lagi baginya. Yaitu Stefan.
__ADS_1
"Kamu?" tanya Cerin penuh tanya sambil melihati Stefan yang menenteng sebuah kantong plastik yang cukup besar.
Stefan yang melihat Cerin penuh tanya itu, segera memberikan kantong plastik yang ada di tangannya supaya Cerin tak kebingungan. "Nih ambil." kata Stefan singkat dengan raut wajah sedikit malu.
"Apaan ini ya?" tanya Cerin.
"Ya buka saja dong. Pakai tanya segala." jawab Stefan yang membuat Cerin langsung membuka kantong plastik tersebut.
Betapa terkejutnya Cerin melihat isi dari dalam kantong plastik tersebut. Di dalamnya ada beberapa pembalut yang berbeda merk. Ia terharu karena perbuatan Stefan itu.
"Kamu baik banget. Makasih ya Stef." kata Cerin yang merasa senang dan sedikit wajah merona.
"Oh gitu. Tapi tetap saja aku harus berterima kasih kepadamu. Tapi kenapa kau membeli terlalu banyak?" kata Cerin.
"Aku tidak tahu yang mana satu yang sering kamu gunakan." jawab Stefan.
Cerin yang mendengar itu pun tertawa. "Puff..!" tawanya.
__ADS_1
"Kenapa tertawa. Sudah sana cepet kamu ganti."kata Stefan yang merasa malu karena memberikan Cerin pembalut yang sangat banyak.
"Baiklah." kata Cerin segera pergi kembali ke kamar mandi.
Setibanya ia di kamar mandi. Segera ia langsung ingin memakai pembalut tersebut. Tiba tiba ia teringat bahwa Stefan hanya membelikannya pembalut. Cerin tidak memiliki pakaian dan celana dalam yang kering. Celananya tersebut tadi sudah kotor dan segera ia cuci. Sebenarnya mudah saja kalau mau celananya itu cepat kering, yaitu dengan cara mencucinya di mesin cuci. Tapi.., di apartemen Stefan tidak ada satupun mesin cuci atau mesin pengering lainnya.
"Aduh..., mati aku. Gak ada celana lagi. Gimana mau pakai pembalut kalau gini." kata Cerin yang merasa Cemas.
Cerin bingung dan cemas sampai sampai ia terlalu lama berada di kamar mandi. Kira kira sudah ada 30 menit lebih. Stefan yang merasa sedikit cemas karena Cerin belum keluar dari kamar mandi, segera ia menuju ke kamar mandi tersebut.
Stefan sekarang sudah berada di depan pintu kamar mandi. Ia mengetuk pintu itu sambil memanggil Cerin. "Tok tok tok." suara ketukan pintu yang diketuk. " Sayang kamu ada di dalamkan?" tanya Stefan ke arah kamar mandi tersebut.
Cerin yang mendengar Stefan mengetuk pintu sambil memanggilnya langsung merasa panik.
Bersambung dulu ya teman teman.
Jangan lupa selalu dukung AUTHORnya.
__ADS_1
Penasaran dengan cerita selanjutnya?
Tunggu episode selanjutnya ya! Jangan sampai ketinggalan....